Senin, 19 Desember 2016

Cinta dalam Hati

       Sesorean ini bungsu saya, perempuan - 9 tahun, tak berhenti gelendotan di pangkuan. Semua perintilan yang dikerjakan selalu minta ditungguin. Mulai dari mandi, menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari, juga makan sore.
Setelah sholat maghrib berjamaah, gelondotan makin jadi. Dia mengelus pipi dan rambut saya. Dan tidak terima ketika saya bilang raut wajahnya seperti ayahnya. Dia bersikukuh menyebut seperti saya.. hehehe
Sambil memeluk berkali-kali dia berkata, "I love you, ibu, I miss you.."Ahhh delapan jam berjauhan karena dia harus sekolah membuat dia merindukan saya..
Dan saya jawab dengan, "I love you more, I miss you more, adek".
Dan saya hafal benar, nantinya, tak mau kalah dia akan menimpali dengan, “No, I love you much... much... much more. I miss you much... much.. much more". 
Sampai disini saya tak akan menjawab lagi agar dia merasa menang dan senang. Karena dalam hati pun saya merasa senang dengan kemesraan ini..

Malam hari, sambil belajar, dengan saya masih disampingnya, dia meminta agar rambutnya dikuncir. Saat ini dia sedang ingin memanjangkan rambutnya, dan sedikit terganggu ketika mengerjakan home work.
Sambil saya sisir tiba-tiba dia bertanya apakah sewaktu kecil mbah putri (ibu saya) juga sering menyisir rambut saya.
“Sure.” Saya mengangguk mengiyakan. 

Dia pun meminta saya berlama-lama menyisirnya. Padahal biasanya saya harus merayunya untuk sekedar menyisir. Terlahir menjadi satu-satunya perempuan diantara dua laki-laki membuat dia ikutan malas menyisir rambut seperti kakak-kakaknya.

Sambil menghirup wangi rambutnya ingatan saya seketika terlempar jauh ke masa kecil saya. Rasa nyaman ketika ibunda membantu menyisir rambut masih bisa saya rasakan sekarang. Ada sebersit rasa rindu dimanja.

Whatsapp terakhir beberapa jam yang lalu, ibu sedang berada di bandara Soekarno Hatta menuju Pekanbaru untuk menengok cicit yang baru lahir. Sendirian. Ya, di usia sepuhnya ibu masih berani travelling sendirian. Dari Surabaya ke kakak di Banten, Cikarang, ke sepupu di Kalimantan, mengunjungi saya di Kuala Lumpur. Gagah berani. 

Sebersit rindu ini telah menjelma menjadi samudera rindu. 

Tapi sayangnya, tak seperti anak-anak saya yang leluasa mengungkapkan rasa rindu, saya tumbuh dengan ketidakbiasaan menyatakan secara lisan rasa rindu, juga rasa sayang. Bahkan melalui tulisan. Sejak kecil rasa sayang, rindu hanya disimpan dan dirasakan saja. Tak hanya kepada orang tua, kepada kakak-kakak saya pun begitu. Demikian sebaliknya. 

Sewaktu saya sekolah di luar kota, di akhir bulan, ketika pulang ke rumah. Ya itulah berarti saya sedang rindu. Ketika orang tua menjenguk ke tempat kos saya, berarti mereka sedang rindu. Kami terbiasa menafsirkan sendiri. Tanpa ungkapan.
Bukan berarti hubungan kami tidak dekat. Kami bahagia dan akrab satu sama lain. Tapi... yaaah ini memang masalah kebiasaan saja. 

Entahlah, apa yang membuat kami enggan mengungkap perasaan. Mungkin ini tradisi, karena setahu saya, sedikit memanjat ke silsilah atas, keluarga ibu dan ayah saya juga tidak terbiasa mengungkapkan rasa ini. Seakan ada anggapan bahwa tanpa diungkapkan pun kita pasti tahu rasa saling  sayang ini.

Maka seperti sore tadi, ketika saya merasa senang karena mendengar anak saya mengungkap rasa rindu.  Sejatinya sayapun ingin mengungkap perasaan yang sama kepada ibu.
Saya ambil handphone, saya ketikkan kalimat pendek :
"Saya kangen, bu, saya sayang, bu".
Tapi apalah daya, ketidakbiasaan itu membuat jemari saya batal mengirim kalimat itu. 

Delete.

Dan menggantinya dengan,
“Hati-hati, bu", ketika ibu bilang sudah ada di dalam pesawat menjelang take off....

Robbighfirli wa liwaliyya war hamhuma kamaa rabbayaani saghira

Kuala Lumpur, 19 Desember 2016





Selasa, 22 November 2016

Balada Perpanjangan Paspor

     Sore tadi suami saya bilang akan renew paspor karena halaman kosong di paspor tinggal empat lembar lagi. Seketika ingatan saya terlempar ke belakang, enam bulan yang lalu....
            ****************

Sudah waktunya anak-anak saya memperpanjang paspor. Enam bulan lagi paspor mereka expired. Seperti pada saat paspor saya expired dua tahun lalu, kembali proses renewal ini saya lakukan di KBRI Kuala Lumpur. Gedung yang sama, step-step yang kurang lebih sama.

Bedanya, kalau waktu itu proses renewal hanya berlangsung 2-3 jam mulai dari isi form, pengambilan foto dan ambil hasil, kali ini harus 4 HARI dan perlu dua kali kehadiran.

Kehadiran pertama, kami -saya dan suami- berbagi tugas. Jam 7 pagi suami sudah berangkat untuk mengantri ambil nomor. Rencananya setelah dapat nomor antrian, suami akan ngantor dan saya akan meneruskan proses ini. Loket belum buka tapi antrian sudah mengular panjang diluar gedung. Setelah dua jam menunggu, akhirnya loket dibuka. Karena status anak-anak adalah student maka diperoleh priority number, 18,19 dan 20. Priority number ini adalah nomor yang dikhususkan atau dibedakan dari para tenaga kerja, KONON.

Kenapa saya bilang konon, karena kenyataannya setelah berkas ditumpuk dan diproses, berkas dicampur aduk bak gado-gado didalam sana. Dengan alasan sistem biometrik maka antrian jadi tak menentu dan tidak bisa diprediksi akan berapa lama nomor saya dipanggil.

Sebelumnya, dua tahun lalu pada saat perpanjangan paspor saya, nomor panggilan akan tertera di monitor kecil di atas masing-masing loket. Ada sekitar 25 loket berjejer seingat saya.
Dengan adanya monitor itu saya akan tahu berapa nomor lagi giliran saya. Kalau satu nomor membutuhkan waktu pelayanan 10-15 menit, tinggal dikalikan berapa lama saya akan mengantre. Yang artinya saya bisa memanfaatkan waktu tunggu untuk hal-hal yang lain. Mungkin pulang, atau nongkrong di kantin sambil memantau monitor (karena di kantin juga ada monitor serupa), atau sholat atau pipis.

Tapi entah kenapa kali ini monitor tidak difungsikan sebagaimana biasanya. Ibu-ibu penjaga kantin mengatakan memang beberapa bulan belakangan tanpa monitor-monitoran. Nomor antrian otomatis tak berfungsi karena petugas loket akan memanggil nama pemohon.
Nah.. Sayapun bingung, jadi buat apa ambil nomor antrian di front desk?

Jam demi jam berlalu, sudah pukul 11. Tadi, saya dan anak-anak belum sempat sarapan pagi. Tapi sekarang mau ninggalin antrian untuk pergi ke kantin jadi ragu, kuatir saat kami pergi, nama anak-anak saya dipanggil.. Saya pandangi kembali monitor kecil diatas loket, ya Allah, jaman sudah canggih, monitorpun tersedia, terus kenapa antrian ini balik lagi ke sistem jaman batu?
Karena kelaparan, anak sulung berangkat ke kantin untuk membeli makanan apapun yang bisa dibungkus agar bisa kami cemil di ruang tunggu, sambil tak lupa saya wanti-wanti belinya jangan terlalu lama.

Pukul 13 loket break selama satu jam.
Kami manfaatkan untuk sholat dan urusan toilet. 

Ketika loket kembali dibuka, pemohon mulai gelisah. Mereka berkerumun di setiap loket. Jenuh karena ketidak pastian kapan nama-nama mereka akan dipanggil. Iseng, saya pun mendekat ke loket dan tanya ke petugas posisi nomor antrian berapakah sekarang. 
"Tunggu saja sampai namanya dipanggil, bu" jawab petugas dengan entengnya.. Oh My, apa kabar priority number buat student tadi ya??

Akhirnya pukul 14.30 nama anak-anak saya dipanggil di sebuah loket, isi form, kemudian geser ke loket sebelahnya untuk difoto, bayar dan paspor baru bisa diambil tiga hari kemudian. Hari yang melelahkan...

Oh ya, pada saat antri, saya sempat ngobrol dengan seorang ibu pekerja kilang (red: pabrik) yang tinggal Port Dickson. Port Dickson berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Kuala Lumpur (KBRI). Ibu ini bercerita perlu biaya transportasi RM 140 jika naik taksi (RM 1 kurang lebih Rp 3200). Bisa lebih murah sih jika naik bus, tapi lama dan berganti beberapa bus dan dipastikan akan kesiangan sampai KBRI. Berangkatnya harus sebelum subuh jika tak ingin kehabisan nomor antrian. Kesiangan sedikit saja akibatnya tak kebagian nomor, artinya melayang sia-sia biaya transportasi. Nantinya, biaya serupa akan dikeluarkan pada saat pengambilan paspor.. Luruh hati saya mendengarnya, sambil membayangkan penghasilan dia sebagai pekerja kilang..

Tiga hari berlalu, ini adalah kehadiran kedua saya ke KBRI untuk ambil paspor. Sendiri saja, tanpa anak-anak. Tertulis di slip pengambilan paspor jam 14-16 sore. Slip saya tumpuk sesuai arahan petugas. By the way, saya baru ngeh ternyata di kwitansi pembayaran yang saya terima tertera biaya dalam satuan mata uang rupiah, bukan ringgit. Padahal kami membayar dengan ringgit. Ini akan mempersulit proses clam/reimbursement dari kantor suami. Saya sempat menanyakan ini ke salah satu loket. Dan dijawab bisa minta revisi/receipt baru di loket pengambilan paspor. Diam-diam saya berdoa semoga jawaban petugas sesuai kenyataan.

Tiga jam berlalu, barulah nama anak-anak saya dipanggil. Dan.. Terjadilah yang saya kuatirkan..
Ketika saya minta receipt baru petugas menjawab saya bisa minta di loket pembayaran semula, artinya loket pada saat pengambilan foto. Pergilah saya kesana. Saling tunjuk antar loket terjadi. Saya berhitung lima kali saya di ping pong antar loket..

Apalah saya ini, hanya manusia dengan kesabaran yang terbatas. Saya complain. Sampai kemudian seorang petugas mencoba mencari berkas slip pengambilan paspor saya. Sudah tenggelam jauh tertumpuk dibawah berkas pemohon-pemohon yang lain. Ketika saya mencoba menawarkan bantuan untuk mencari, petugas menjawab,
"Kalau mau membantu harusnya ibu bilang sejak tadi kalau ibu perlu kwitansi".
What...???
Lha saya sudah di ping pong lima kali bukankah itu berarti sudah bilang DARI TADI? Ok, mungkin petugasnya lelah. 
Saya hanya menjawab agar file di kwitansi di komputer -yang salah ketik- diperbaiki. Karena saya yakin sebelumnya pasti sudah ada yang complain tentang salah ketik ringgit menjadi rupiah ini.
Petugas menyarankan agar saya menulis keluhan dan memasukkan ke dalam  kotak saran. Saya meringis, tak yakin kotak saran akan dibaca. 
Akhirnya, dari tiga nama slip dan berkas anak-anak saya, hanya dua nama yang ketemu. Sambil meminta maaf petugas menawarkan agar saya meninggalkan nomor telpon sambil berjanji jika berkas dan slip ketemu, saya akan dihubungi.

Ah sudahlah.. Kali ini giliran saya yang sudah lelah. Sudah hampir maghrib. Saya hanya ingin pulang.

Dan berharap semoga kedepannya sistem dan pelayanan akan membaik..

Senin, 14 November 2016

Karena Emak Tak Boleh Sakit

Pernahkah anda melihat sebuah meme perbedaan tentang ayah yang sakit dibandingkan ibu yang sakit?
Di meme tersebut digambarkan ketika ayah sakit, ayah akan berbaring di tempat tidur sambil tangan memegang remote control mantengin televisi. Sementara ibu dengan sigap menyediakan makanan hangat untuk ayah.
Tapi ketika giliran ibu yang sakit, digambarkan ibu tetap memasak sambil mengasuh dua anak...
Sekilas menerjemahkan gambar, akan tersirat pesan, mau sakit mau sehat, ibu tetap wajib menyelesaikan pekerjaan rumah, ngurus anak, juga suami.

Saat ini saya bukan sedang sakit. Alhamdulillah saya sehat dan dalam kondisi baik. Hanya dua bulan terakhir bahu saya sedikit mengalami gangguan yang menyebabkan gerakan lengan menjadi terhambat, kurang leluasa digerakkan ke atas dan ke belakang. Dan sekarang sedang terapi untuk penyembuhan.
Bukan masalah besar karena saya masih bisa beraktifitas normal. Hanya saja sementara ini saya tidak bisa nge gym.

Tapi memang benar, sebisa mungkin saya menjaga diri, sekuat tenaga dengan segala upaya dan doa, agar saya tidak sakit. Karena tugas harian saya yang utama adalah mengantar jemput sekolah tiga anak saya. Disini memang ada bus sekolah, tapi saya memilih mengantar sendiri. Banyak keuntungan yang saya dapat dari sini. Selain lebih hemat, yang paling utama adalah saat-saat di dalam mobil adalah quality time kami.
 
Pagi hari, berangkat sekolah kami akan bersama-sama membaca Al-Ma'surat dari panduan aplikasi yang saya unduh di smartphone. Ada anak yang terkantuk tidur ayam memang, tapi justru dalam keadaan setengah sadar itulah saya yakin otak mereka akan terisi oleh bacaan dzikir pagi hari.
Pulang sekolah tak kalah serunya. Kejadian di sekolah yang masih hangat akan diceritakan dengan riang atau sedih atau kadang datar-datar saja. Sambil sesekali mengomentari kendaraan lain yang kami temui di sepanjang perjalanan pulang. Semuanya menyenangkan. 

Alasan lain bahwa sebisa mungkin saya tidak boleh sakit, karena urusan perdapuran bisa terhambat. Disini beli lauk tak semudah di tanah air, yang jika kita tidak masak tinggal menunggu abang-abang yang lewat di depan rumah. Atau yang lebih kekinian, tinggal pencet aplikasi ojek online untuk pesan makanan sesuai selera.

Usaha untuk tidak sakit ini akan semakin keras ketika suami sedang dinas luar. Ada urusan mendampingi belajar, bikinin latihan soal, project, homework dan perintilan lainnya yang tidak bisa berbagi tugas dengan suami.

Rasanya bukan saya saja yang mengalami hal-hal seperti ini, banyak para emak yang merasakannya.

Karena saya susah disiplin makan sehat, usaha saya adalah olah raga yang merupakan salah satu cara untuk menjaga kondisi tubuh untuk tetap prima dan gak gampang sakit (meski kadang kalau rasa malas sedang datang, susah amat untuk melakukannya). Karena mau emak, mau bapak, mau anak, sehat itu penting, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA : "Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah".





Jumat, 11 November 2016

Perpisahan, Until We Meet Again...

Malaysia. 
Di negara ini jumlah WNI sangat besar. Yang pernah saya dengar,  sekitar tiga juta orang. Tersebar di beberapa sektor yaitu TKI yang terbagi menjadi beberapa jenis pekerjaan antara lain pekerja domestik (rumah tangga, hotel dan apartemen), kilang (perkebunan kelapa sawit atau pabrik).
Ada juga kalangan mahasiswa, dosen, ekspatriat atau tenaga ahli. 

Salah satu perusahaan yang banyak menyerap ekspatriat Indonesia adalah Petronas, perusahaan minyak pelat merah milik pemerintah. Banyak sekali WNI disini, dengan sebaran level jabatan yang bervariasi.
Selain di Petronas, masih ada beberapa perusahaan minyak atau kontraktor minyak yang juga mempekerjakan ekspatriat dari Indonesia.
Saking banyaknya, di lingkungan saya berkegiatan, persentase terbanyak ya ibu-ibu para istri karyawan minyak ini. Banyak diantaranya sudah tinggal belasan tahun di negara ini. Bahkan sudah memiliki properti. 

Sampai kemudian harga minyak dunia mulai mengalami kemerosotan. Perlahan turun poin demi poin. Beberapa kebijakan dari perusahaan mulai diberlakukan. Mulai dari pemotongan gaji, tunjangan yang ditinjau ulang, sampai pemotongan jam kerja.  Puncaknya di awal tahun 2015 lalu, mulai terjadi pemutusan hubungan kerja  terhadap karyawan. Saya menjadi saksi mata dampak merosotnya harga minyak ini. Gelombang PHK terjadi beberapa tahap, semua orang was-was apakah akan mendapat 'surat cinta' dari perusahaan. Dampak domino mulai terjadi, tidak hanya karyawan minyak, dosen level profesor pun mulai ditinjau ulang kontrak kerjanya oleh pihak universitas karena subsidi pemerintah untuk penelitian di perguruan tinggi dipangkas. Satu demi satu teman-teman saya mulai kembali ke tanah air.

Di Malaysia (baca : Kuala Lumpur, karena saya tinggal disini) bagi yang aktif banyak sekali aktifitas yang bisa diikuti. Sejak hari Senin sampai Jumat selalu ada kajian, kelas, pelatihan dan kegiatan lainnya. Kegiatan yang padat menyebabkan pertemuan yang intens diantara kami, yang tentunya telah menumbuhkan ikatan pertemanan. Dengan maraknya PHK, kabar kepindahan teman adalah kabar yang paling tidak kami harapkan. Perpisahan biru yang tidak kami inginkan. Memindahkan sekolah anak termasuk salah satu pemicu stres tersendiri. Birokrasi di Indonesia yang terkenal njelimet tentu saja bikin keribetan tersendiri bagi teman-teman yang akan kembali ke tanah air. Sampai-sampai kami membuat sesi pertemuan khusus untuk membahas prosedur pindah sekolah ke Indonesia, dengan mendatangkan pembicara pakar pendidikan.

Tinggal di perantauan seperti ini memang hal yang lumrah teman datang dan pergi silih berganti. Tapi selama ini kalaupun ada kepergian, perpisahan, itu karena kepindahan tugas. Entah kembali ke tanah air, atau pindah ke negara yang lain. 
Dan tentunya kepulangan karena pemutusan kontrak kerja bukanlah perpisahan yang diharapkan.

Juga ketika saya berempati dengan kesedihan anak bungsu saya ketika pulang sekolah bercerita dengan ekspresi sedih bahwa best friendnya harus kembali ke negaranya karena hal yang sama. Meninggalkan souvenir seuntai kalung dengan liontin hati yang terbelah. Sebelah dibawa sang teman, sebelah lagi ditinggalkan untuk bungsu saya. Bungsu berusia sembilan tahun ini berucap bahwa dia berharap suatu saat kelak akan bertemu lagi dengan sang teman. Kecil kemungkinan memang, mengingat sang teman kembali ke negara belahan benua eropa sana. Tapi bisikan penuh harap bocah yang belum punya dosa ini, mudah tentunya bagi Allah untuk meluluskannya, suatu saat nanti...

Kini, satu setengah tahun berlalu, harga minyak dunia belum menunjukkan geliat yang menggembirakan. Seminggu yang lalu masih ada saja teman yang pindah untuk pulang ke tanah air. Kabarnya bulan depan beberapa teman juga sudah mengagendakan acara perpisahan dengan tema yang sama. Masih dengan kesedihan yang sama. 

Akhirnya, beberapa kali saya membaca ulang tulisan ini, saya belum bisa menemukan paragraf penutup, seperti hati saya yang enggan menutup dari beragam kisah perpisahan ini. 










Senin, 24 Oktober 2016

Patah Hati

Patah hati adalah perasaan hati yang sakit, sedih, dendam, rindu, benci yang bercampur aduk. Porak poranda. Dan biasanya, jika orang menyebut patah hati, nyambungnya pasti karena putus cinta sepasang kekasih. 
Sok tahu.. ya memang saya tahu.. kan saya pernah muda juga :)

Padahal patah hati tak melulu berurusan cinta dengan kekasih. Ya, memang.. pada saat masih muda, saya akan mendefinisikan demikian, tapi setelah menjadi emak-emak, saya mengartikannya dengan sudut pandang yang berbeda. Memang masih ada urusannya dengan cinta sih, tapi sekarang cintanya beralih ke keluarga, terutama anak.

Versi emak, patah hati terhebat saya adalah ketika saya harus marah kepada anak. Marah karena perbuatan yang mengecewakan atau diluar koridor agama.
Suatu ketika saya mengalami kekecewaan bertubi-tubi kepada salah seorang anak. Hasil ujiannya dibawah target yang dibuat sendiri. Segores kecewa terbetik dihati. Karena saya tahu anak ini punya potensi. Hanya saja belajarnya kurang serius. Bukan bermaksud denial, tapi kenyataannya di beberapa kesempatan jika dia serius dia bisa memperoleh nilai A*, pada saat SD juga seringkali menduduki peringkat big three. Dalam hal ini, saya masih bisa bertahan untuk tidak marah mengumbar kata. Tak berselang lama saya kecewa lagi dengan hal-hal lain seperti grafik ibadah yang menurun drastis juga akhlak yang mulai terkontaminasi lingkungan. Disini kemarahan saya meluap. Tahu sendiri kan emak-emak jika marah pasti akan merembet kemana-mana. Dan setelahnya saya akan merasa patah hati yang teramat dalam. Kecewa kenapa harus marah, berduka karena merasa gagal sebagai orang tua, menyesal mengapa saya harus menyakiti hatinya.

Padahal jika dipikir-pikir marah mengumbar kata ke anak itu sama sekali tidak efektif. Dalam keadaan dimarahi bisa dipastikan anak akan sedih, tegang, khawatir. Dalam keadaan demikian gelombang otak ada pada kondisi  beta dan hanya mampu menyerap 20% dari segala informasi atau suara yang didengar. Sia-sia bukan kita ngomong panjang kali lebar?

Atau pernah kejadian di jam sekolah tiba-tiba anak saya yang lain, texting saya, mengirim message (padahal selama ini dia hanya texting pada saat hometime, karena peraturan menggunakan hp di jam sekolah dilarang). Isinya dia diserang temannya dengan kekerasan.
Kekerasan?  Seketika saya yang sedang berada disuatu ruangan untuk suatu acara, beranjak keluar untuk menelpon anak saya. Tidak ada respon. Telpon dimatikan rupanya. Message bertubi-tubi juga tidak dibaca. 
Saya patah hati.. lutut lemas dan pikiran kosong, membayangkan kekerasan seperti apa yang dialaminya.
Beruntung saya berhasil menghubungi salah satu gurunya dan mengirimkan screenshoot texting anak saya.
Masalah menjadi jelas, karena sesungguhnya teman anak saya hanya bercanda yang kelewatan. Anak saya merasa terganggu dan berniat menggertak akan melaporkan ke saya. Tapi ternyata jarinya tanpa sengaja menyentuh tombol send, sehingga terkirimlah message itu ke saya.
Nah, ketika merasakan lutut lemas tadi, saya merasakan hati yang patah membayangkan sebuah peristiwa kekerasan yang akan membekas di psikologisnya. Alhamdulillah, keadaannya demikian, dan semoga tidak akan pernah terjadi.

Ah.. patah hati di fase usia yang berbeda ternyata memiliki rasa dan sensasi yang berbeda pula...




    Sabtu, 24 September 2016

    Time Will Heal The Wounds

    Segala kejadian yang tidak menyenangkan, kadang akan berbuah luka dihati. Disakiti masa lalu atau kemalangan yang menimpa akan membuat goresan luka yang kadang berbuntut trauma.

    Ketika gigi -depan atas- anak kedua saya putus karena temannya bercanda kelewatan, hati saya langsung tercabik karena itu bukan lagi gigi susu, melainkan gigi dewasa yang tidak bisa tumbuh/digantikan lagi kecuali melalui sambungan gigi palsu, hati saya perih.
    Hati yang tercabik membayangnyan treatment yang berkesinambungan per-enam bulan selama empat tahun karena ada syaraf gigi yang harus disembuhkan dahulu sebelum pemasangan gigi aksesoris.
    Hati yang tercabik setiap menghiburnya yang mulai bosan saat harus mengunjungi dokter gigi.
    Hati yang tercabik karena beberapa profesi di masa depannya, yang mengharuskan dia bergigi lengkap akan terhambat.
    Alhamdulillah anak saya adalah anak yang riang sehingga keriangannya membantu mengurangi cabikan hati saya. 
    Dan seiring waktu berjalan, meski belum sepenuhnya selesai urusan gigi itu, hati saya mulai tertata, meski kadang2 masih terasa nyesss kalau ingat kejadian tersebut.

    Ketika rumah seorang kerabat dibobol maling, saya menyaksikan rasa traumanya yang melebihi rasa sedih kehilangan beberapa barang berharga. Hanya keyakinan dan rasa memiliki Allah yang Maha Segalanya sehingga dia legowo mengikhlaskan kejadian itu. Tapi rasa trauma tak semudah itu dilegowokan.. 
    Ketika kita merasa tempat yang paling aman,  tempat yang nyaman setelah penat beraktifitas diluar rumah sepanjang hari sudah dijamah orang yang sangat tidak diharapkan, tentu membekaskan ketakutan dan trauma tersendiri..
    Inilah yang disebut sebagai kerugian immateriil Sangat panjang dan berat untuk menyembuhkannya, pun tidak seratus persen sembuh.

    Demikian juga dengan yang dialami oleh seorang teman tentang penjambretan di dalam mobil yang sedang dikendarainya. Tak usahlah bicara tentang harta yang hilang, karena jika Allah berkehendak, sungguh mudah bagiNya untuk mengganti dengan yang lebih. 
    Tetapi rasa trauma yang dirasakan teman inilah yang tak semudah itu untuk dihapuskan. Setiap kali melewati tempat kejadian perkara, ada rasa lemas lunglai teringat lagi kejadian itu. Setiap kali ada pengendara motor yang berboncengan tampak melalui kaca spion, tangannya menjadi dingin, karena pelaku yang menjambretnya berboncengan motor. Belum lagi ada rentetan panjang birokrasi mengurus segala dokumen semisal KTP dan SIM yang harus diperoleh kembali.

    Dalam versi yang sedikit ringan, kadang-kadang dalam pergaulan kita mengalami awkward moment gara-gara salah ucap kepada lawan bicara yang berujung rasa malu atau bahkan sakit hati. Sampai-sampai kita enggan bertemu kembali satu sama lain.

    Alhamdulillah, sunnatullah, Allah memberi sifat lupa pada diri manusia. Sehingga perlahan, seiring berjalannya waktu, segala rasa malu, sakit hati atau kenangan pahit akan terlupakan. Mungkin tidak benar-benar zero, kecuali kita amnesia yaaa... Tapi setidaknya nyeseknya berkurang. Semakin kita ikhlas menerima setiap kepahitan, semakin cepat juga proses healing. Karena time will heal the wounds.



    Minggu, 18 September 2016

    Sebaiknya Berdoa itu Spesifik

    Saya adalah penggemar acara Stand up comedy. Bagi saya komika (sebutan bagi pelakon stand up comedy, red) adalah orang-orang cerdas dan pemberani. Menurut saya, materi yang disajikan secara monolog tentu merupakan pertaruhan nyali tersendiri.
    Lucukah? Atau garingkah? 
    Berbeda dengan comedy secara grup, jika garing dan tidak berhasil membuat penonton tertawa, rasa malu akan ditanggung bersama. Tapi jika perseorangan dan monolog, grogi ditanggung sendiri, malu pun ditanggung sendiri (tapi sisi baiknya, honor akan dinikmati sendiri hehehe).

    Hari itu saya menonton sebuah acara grand final kompetisi stand up comedy yang diselenggarakan sebuah televisi swasta.  Saya tersenyum sendiri dan diam-diam mengangguk setuju dengan materi salah satu komika.
    Si komika berkata bahwa selama berada di karantina ketika mengikuti kompetisi tak bosan dia berdoa agar masuk final.

    Allah mengabulkan.
    Dia masuk final.
    Tapi bukan sebagai finalis, melainkan sebagai pengisi acara di grand final tersebut, berstand-up untuk memeriahkan acara saja. Semacam bintang tamu.
    Nah, kan...
    Itu sebabnya, sebaiknya berdoa itu spesifik, disebutkan secara jelas apa keinginan kita.

    Saya tersenyum karena saya sering mengalaminya. Kejadian terakhir adalah ketika terbentur pada salah satu kepentingan sekolah anak yang membuat saya berucap kepada suami,
    "Kalau memang kita harus LDR-an juga gapapa lah". 
    (Dalam artian saya siap jika bersama anak-anak harus tinggal di Jakarta,  sementara suami tetap di Kuala Lumpur). Tapi keterangan dalam kurung ini tidak saya ucapkan, hanya tersimpan dalam hati.
    Bukan doa memang. Tapi bukankah ucapan adalah doa? Oleh sebab itulah kita dianjurkan untuk berucap yang baik-baik saja, kan?

    Allah mengabulkan.
    Selang tiga bulan dari ucapan saya tersebut, suami ternyata harus menyelesaikan sebuah project di Jakarta. Sementara anak-anak sudah terlanjur memulai tahun ajaran baru di Kuala Lumpur dan too late kalau harus mencari dan mengurus pindah sekolah ke Jakarta. Mengingat ribetnya birokrasi pindah sekolah di tanah air.
    Jadilah selama beberapa bulan kami LDR-an, dalam versi yang berbeda.. :)
    Versi terbalik dari ucapan saya...
    Lagi-lagi, itu sebabnya, berdoa itu sebaiknya harus spesifik...

    Lain lagi dengan kejadian yang dialami seorang teman, sebut saja si A. Seringkali A berharap dan berdoa untuk bisa tinggal bersama ibunya. Menemani Ibunya yang sudah sepuh dan tinggal sendirian di kampung.
    Sayang sekali, karena doa yang kurang spesifik, Allahpun mengabulkan dengan versi yang terbalik.
    A memang akhirnya tinggal bersama ibunya, menemani ibunya. Tapi bukan mengajak si ibu tinggal bersama A, melainkan A yang pindah kembali menumpang ke rumah si ibu, karena A baru saja terkena musibah kehilangan pekerjaan dan memutuskan pulang kampung.

    Kemarin pagi, dengan riang gembira anak saya pergi memancing bersama ayahnya. Akhirnya terkabul juga keinginannya pergi memancing setelah beberapa week-end selalu tertunda cuaca, entah terlalu panas atau malah hujan (karena cuaca Kuala Lumpur beberapa minggu terakhir memang sedang tak menentu). 
    Apakah dia berhasil mendapatkan ikan sepulang memancing? 
    Tidak, hehehhe... 
    Karena doanya juga kurang spesifik. Dia hanya memohon cuaca bagus agar bisa memancing. Rasanya doanya perlu ditambah agar berhasil mendapat ikan :)

    Memamg ada juga sih yang tidak setuju dengan pendapat saya ini,
    "Allah kan Maha Tahu, tentu tanpa diuraikan secara detail Dia mengerti apa yang kita mau, apa yang ada di hati".

    Totally agree...

    Tapi akan lebih oke kalau kita menyebutkan secara detail apa keinginan kita. Bukan permintaan yang diucapkan secara rapel dan garis besarnya saja. 
    Bukankah doa adalah wujud dari pernyataan bahwa diri ini lemah, wujud dari kepasrahan diri yang tanpa campur tanganNya adalah sehelai bulu ringan yang mudah terhembus angin?

    Beberapa kali saya merasakan ketika merunutkan doa secara detail, dengan kepasrahan yang mendalam, hati saya akan bergetar. Bervibrasi. Yang seperti ini biasanya saya akan merasa lebih plong sesudahnya, dibanding jika sedang terburu-buru dengan doa yang diucapkan ringan dan sambil lalu..

    Karena dengan doa, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
    "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi perintahKu, dan beriman kepadaKu agar mereka mendapat petunjuk". 
    (Al-Baqarah : 186)

    Kuala Lumpur,
    Sore hari,
    Segelas teh peppermint,
    Dan mendung yang mulai menggayut...



    Rabu, 03 Agustus 2016

    Sahabat Banyak Orang

    Ini era internet. Meskipun tinggal di negara sebelah, saya masih bisa mengikuti info dari tanah air via portal berita online atau tv channel berbasis internet.

    Dua malam yang lalu saya terkejut membaca berita seorang penyanyi Indonesia, Mike Mohede, berpulang dalam tidurnya, di usia muda. Dicurigai karena serangan jantung.

    Saya bukan penggemar berat dia. Saya hanya tahu dia pernah mengikuti ajang pencarian bakat menyanyi di televisi beberapa tahun yang lalu. Saya tahu dia bersuara indah dan nggak pasaran. Tapi saya tak ingat bahwa dia adalah pemenang di acara tersebut. Bahkan setelah usai acara tersebut, saya juga tak tahu perkembangan karir dan lagu-lagunya.

    Hanya saja, ketika beberapa temannya menyatakan dia adalah orang baik (bahkan ada yang menyebutkan teramat baik), membuat saya penasaran dan browsing untuk mencari tahu lebih banyak tentang dia. Hasilnya, makin banyak lagi teman-temannya yang menyatakan dia orang baik. Dan hebatnya, semua teman dengan rela hati mengaku sebagai sahabatnya yang merasa kehilangan mendalam. Rumah duka dan pemakaman yang dibanjiri pelayat cukup mengaminkan testimoni bahwa dia adalah sahabat banyak orang.
    Saya browsing lebih jauh, dan mulai kagum membaca beragam komentar kebaikan dari orang-orang di lingkarannya,

    Seketika saya bercermin terhadap diri saya sendiri...

    Jika saya dipanggilNya, siapakah yang akan menangisi saya? Selain keluarga saya, rasanya cukup ge-er jika saya menyebutkan orang lain akan merasa kehilangan saya. Saya hanyalah manusia yang teramat biasa. Berkiprah hanya untuk keluarga. Dengan domisili yang kerap berpindah dan tidak mengakar di satu tempat.

    Saya bukan siapa-siapa, yang jika di suatu tempat saya tidak hadir, bahkan sekeliling saya tidak akan mencari saya. Mungkin kadang diingat, tapi lebih sering dilupakan.

    Saya hanyalah seseorang yang melakukan something that's not so special untuk sesama. 

    Sahabat banyak orang? 
    Rasanya terlalu jauh untuk bermimpi. Mimpi saya hanyalah, kelak jika saya dipanggilNya, semoga saja Allah menghendaki saya berada di suatu tempat yang baik sehingga banyak jamaah yang mensholatkan saya. 
    Beberapa kali ke tanah suci saya berdoa agar jika saatnya tiba, semoga saya dipanggilNya di sana, indahnya jika dishalatkan di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dengan jumlah jamaah yang tak pernah surut. 

    Tapi siapalah saya hingga berani bermimpi seperti itu. Jika itu terlalu tinggi, mungkin cukuplah Allah memperkenankan akhir hidup saya disholatkan oleh banyak jamaah, dimanapun tempatnya.

    Semoga ya Allah, itupun tak terlalu tinggi bagi seorang penuh dosa seperti saya.

    "Rabbi faatirossamaawati wal ardhi
    Anta waliyyu fiddunya wal akhiroti
    Tawaffani muslimau wa alkhiqnii bissholihin"
    (Ya Tuhanku Pencipta langit dan bumi
    Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat
    Wafatkankah aku dalam keadaan islam
    Dan gabunglanlah aku dalam golongan orang-orang yang sholeh) - QS. Yusuf :101

    Sabtu, 25 Juni 2016

    Baper di Tengah Rintik Hujan

    Tadinya saya menggunakan kata 'mellow' pada judul diatas, tapi kayanya istilah itu sudah kalah femes dibanding kata 'baper'. Ya sudah, kita gunakan saja istilah baper ini.

    Kenapa mendung dan hujan bagi sebagian orang identik dengan baper? Saya sudah searching tentang hal ini, tetapi sependek pencarian saya, belum ketemu juga apa relevansinya. Juga secara ilmiah, apakah ada sinyal-sinyal khusus yang dikirimkan oleh tetes-tetes air hujan, juga bebunyiannya melalui perantara audio visual yang membuat syaraf otak memerintahkan kita untuk membuka memori-memori masa lalu untuk hadir kembali dan memaksa kita hanyut terbawa perasaan. Makin deras hujannya, makin dahsyat bapernya #aish...😀
    Bulan-bulan ini sedang musim hujan di Kuala Lumpur. Saya sedang di dalam mobil, di school parking area, dalam rangka menjemput anak sekolah. Sengaja saya datang lebih awal untuk mengindari antrean masuk yang panjang di gerbang sekolah di jam pulang belajar. Hari mulai hujan. Ringan saja. 

    Dimulai dari memikirkan mau masak apa untuk buka puasa nanti, berganti memikirkan sulitnya cari lauk pauk siap saji yang memenuhi selera Indonesia di Kuala Lumpur ini, berganti lagi membayangkan pengen beli apa jika masih tinggal di Jakarta. 
    Bak slide film, berganti lagi memikirkan kangennya saya pada makanan Surabaya, kota dimana saya berasal, menghabiskan masa kecil dan masa remaja. Nah, jika sudah begini, pasti peluang terbesar adalah terbawa perasaan mengingat yang lalu-lalu. 

    Hujan makin deras, dan saya tersentak. Meruginya saya. Waktu yang terbuang percuma harusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca buku yang saya selipkan sebagai bekal teman menunggu. 
    Atau harusnya bisa digunakan untuk membaca artikel-artikel pendek meskipun hanya melalui media online. 
    Juga saya lirik Mushaf di jok belakang yang harusnya bisa saya tilawahkan entah berapa lembar. Tidak kalah penting disaat hujan deras begini, adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa : "Allahumma shoyyiban naafi'an (Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat)"
    Dan ketika terdengar suara petir :
    "Subhanalladzi yusabbikhur ro'du bi hamdihi wal malaaikatu min khiifatih (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memujiNya karena rasa takut kepadaNya)"
    Atau doa-doa pribadi yang ingin kita panjatkan kepadaNya..

    Bel sekolah berbunyi, bergegas saya meraih payung untuk menjemput anak saya di gate kantin sekolah, meeting point orang tua dan murid, berlari kecil sambil menggumamkan doa yang terlambat saya lantunkan.



    Ah... Meruginya saya...

    Selasa, 14 Juni 2016

    KEHILANGAN...

    Kehilangan adalah kata yang mempunyai makna tersirat akan sebuah kesedihan. Siapapun orangnya tak akan suka mengalami peristiwa ini. Kata dasarnya saja -HILANG- sudah mengandung arti yang tidak menyenangkan. Apalagi jika ditambah dengan awalan dan akhiran ke-an. Ketidaksengajaan atas hilangnya sesuatu.

    Beberapa kali saya mengalami kehilangan. Tapi ada beberapa kehilangan yang membekas dihati saya yang menimbulkan kesedihan setiap kali saya tanpa sadar teringat kembali.
    Diantaranya, kehilangan kucing peliharaan adalah kejadian pertama yang saya alami pada masa kecil. Kucing kesayangan saya yang masih kitten secara tiba-tiba lenyap tak ada jejak. Saya mencari kesana kemari. Mengitari setiap sudut rumah. Sedih. Mama kucingpun tak kalah sedih. Hingga setelah beberapa hari tercium bau tidak sedap dari plafon rumah. Dan ya, kucing lucu saya tergeletak disana, sudah tak bernyawa. Saya tak habis mengerti, dengan bagaimana cara dia memanjat kesana.

    Kehilangan ayah merupakan kehilangan yang sangat susah saya ungkapkan dengan kata-kata. Di usia sepuhnya, 75 tahun, ayah dipanggil kembali oleh Sang Pemilik setelah mengalami sakit komplikasi mulai dari pankreas, empedu yang terpaksa dibuang dan prostat yang malfungsi. Sempat dirawat di rumah sakit beberapa bulan, justru ayah berpulang setelah keluar dari rumah sakit dan merayakan Iedul Fitri bersama kami. Euforia berkumpul anak dan cucu yang diselingi kue-kue lebaran membuat ayah melupakan pantangan makanan dan mencicip kue-kue lebaran itu. Dan... Ya, beliau kembali drop dan kembali dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari di ruang ICU, ayah tak tertolong lagi. 

    Saya berada di Jakarta dan ayah dirawat di sebuah RS di Cilegon, ketika ibu mengabarkan ayah telah berpulang. Ada sesuatu yang tercabut dari hati saya dan menyisakan ruang kosong, luas tak berdinding yang dingin dan tak berwarna. Sampai sekarang ruang kosong itu kembali hadir ketika saya sedang merindukan ayah atau diantara doa-doa tengah malam saya.

    Ada juga perasaan kehilangan bercampur amarah ketika rumah saya dibobol maling di siang bolong. Hanya beberapa jam saya pergi, ke sebuah mall untuk membeli perlengkapan haji adik mama mertua. Dan ketika pulang saya lihat pagar dan pintu rumah sudah terbuka tanpa ada kerusakan. Ketika laporan ke polisi tak membuahkan hasil apapun, akhirnya kemarahan berganti menjadi kepasrahan, tawakal dan rasa syukur tiada henti : bawa Allah SWT sangat menyayangi kami.

    Masih tentang kehilangan..
    Dan tiba-tiba saya terpikir untuk menulis ini selepas percakapan di personal message dengan sahabat lama masa sekolah dahulu. Tentang sebuah perasaan yang sama-sama kami rasakan akan kerinduan masa sekolah dan segala perintilannya. Tawa, riang-canda serta tangis. Benci dan juga rindu. Yang kami sadari kini telah jauh dan semakin jauh...
    Ada rasa kehilangan disana. Kehilangan yang berbeda. Kehilangan akan sesuatu yang sejatinya belum sepenuhnya menghilang karena disana bagian dari masa lalu itu masih ada. Ingin kembali merengkuh, tapi segala kesoksibukan dan ego telah menghempaskan lengan yang terkembang... 


    Dan kemudian luruh kembali...

    Rabu, 25 Mei 2016

    Program Kejar Paket

    Fenomena UN mulai SD hingga SMA, di bulan-bulan ini sedang berlangsung. Malahan jenjang SMA sudah pengumuman kelulusan. Ritmenya selalu sama, setelah euforia ketegangan UN terlewati, menanti ketegangan pengumuman kelulusan. Menyusul kemudian ketegangan : setelah ini akan melanjutkan sekolah kemanakah?

    Saya sudah lupa rasanya ketegangan-ketegangan seperti ini karena jaman saya dulu masih jaman EBTANAS 😀.
    Tapi saya ikut merasakan ketegangan itu ketika anak saya akan menjalani UN. Ketegangan yang mungkin melebihi si pelaku UN. Apalagi ditambah dengan drama-drama dari pihak sekolah semacam istighosah atau permintaan maaf siswa kepada orang tua yang dilakukan secara massal, menularkan aura menangis bersama, sampai orang tua dihadirkan ke sekolah khusus untuk mensukseskan acara ini.

    Ok, by the way saya sedang tidak dalam topik menulis tentang UN. Ini sudah kebijakan pemerintah yang meskipun banyak praktisi pendidikan yang mengkritisi, toh tetap saja UN berlangsung dengan lagu yang sama setiap tahun. 

    Yang ini sih tentang ujian kejar paket A, B dan C.

    Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita disebuah portal berita online tentang seorang publik figur yang sedang dibully fans nya karena mengikuti ujian kejar paket C. Macam-macam anggapan dari masyarakat mulai dari dianggap gak lulus dan ikut ujian susulan versi paket C, dianggep anak bodoh, dianggep cari gampangnya biar lulus dan segambreng anggapan negatif lainnya.

    Sampai kasihan saya dibuatnya.

    Rupanya terbuka luasnya informasi dan berita belum diikuti dengan tingginya  minat baca kita. Jika kita terbiasa mencari tahu lebih dalam suatu topik sebelum berpendapat mungkin pendapat kita akan lebih berisi.

    Sejatinya Ujian kejar paket bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang terlambat sekolah, atau kesempatan kedua bagi peserta ujian yang tidak lulus, atau beberapa anggapan negatif lainnya.

    Ujian kejar paket bisa ditempuh bagi mereka yang mengikuti program homeschooling (nah, kalau disebut kata homeschooling mayoritas dari kita 
    masih beranggapan negatif juga nih : kurang pinter lah, artis sok sibuk lah, dan lain sebagainya ---> mungkin karena pada dasarnya berasumsi negatif itu lebih memuaskan ego ya dibanding dengan yang positif-positif).

    Homeschooling biasanya menjadi pilihan untuk anak-anak yang ingin fokus ke pelajaran inti yang diminati saja, yang ingin digali lebih dalam sehingga waktu belajar lebih maksimal.
    Atau untuk atlet yang jam belajarnya sering bentrok dengan jadwal pertandingan sehingga bisa memanage waktu belajar lebih baik.
    Atau anak-anak yang mengikuti orang tuanya bekerja di luar negeri. Jika masa kerja di luar negeri telah berakhir dan harus kembali ke tanah air bertepatan dengan tahun terakhir jenjang pendidikan, kelas 3 SMA misalnya, homeschooling adalah salah satu pilihan. 
    Ini dialami oleh seorang teman karena SMA yang dituju menolak menerima siswa pindahan kelas 3 dengan alasan sudah terlambat untuk mendaftarkan ke diknas menjadi peserta UN. Tentunya menjadi poin keuntungan bagi si teman, karena dia bisa geber belajar materi SMA lebih fokus ke mata pelajaran UN dan SBMPTN.

    Kembali ke topik kejar paket. Ujian kejar paket adalah pilihan yang diambil oleh anak-anak kami yang bersekolah di luar negeri dengan kurikulum selain diknas, jika akan kembali dan bersekolah di Indonesia.

    Ada dua pilihan mendapatkan ijazah sebelum melanjutkan sekolah ke Indonesia. Penyetaraan ijazah atau mengikuti ujian kejar paket.

    Penyetaraan ijazah ini lebih simple. Kita tinggal scan semua rapor, hasil ujian kelulusan dan leaving certivicate yang diperoleh dari sekolah di asal ke Kementerian Pendidikan Nasional, secara online. Setelah mengikuti proses demi proses, pada saat yang ditentukan selembar kertas berisi keterangan bahwa si murid telah menyelesaikan pendidikan setara SD atau SMP atau SMA telah siap kita ambil dari kantor kementerian, sambil membawa semua dokumen asli untuk verifikasi.
    Anak saya menempuh jalur ini setelah selesai  ujian Chambridge Primary Checkpoint (setingkat SD) tahun 2015 lalu. Sebagai pegangan jika sewaktu-waktu kami kembali ke Indonesia ijazah penyetaraan sudah siap ditangan.
     
    Sayangnya sekolah di Indonesia berbeda pendapat tentang ijazah penyetaraan ini, beberapa sekolah tetap saklek maunya hanya menerima siswa yang punya ijazah versi diknas. Sayapun tidak mengerti kenapa ada dualisme peraturan seperti ini di kalangan sekolah. 
    Mau tidak mau, jika sekolah menghendaki ijazah diknas, ya siswa harus ikut ujian kejar paket, masa iya mau mengulang jenjang pendidikan kembali. Balik SD? Balik SMP atau SMA? Pasti tidak ya 😄.
    Ujian kejar paket ini dilaksanakan di Sekolah Indonesia di luar negeri. Otomatis siswa harus belajar mandiri materi-materinya karena perbedaan kurikulum.
    Lebih berat memang, karena selain mengikuti ujian versi sekolah lain, dalam waktu yang berdekatan juga mengikuti UN versi diknas. Belajar dobel. Misalnya selain mengincar nilai A straight di sekolah internasional, siswa juga mengincar nilai kelulusan UN. 
    Seorang teman yang tugasnya telah selesai dan harus kembali ke tanah air, mengikutkan anaknya ke program kejar paket ini karena sekolah incaran di tanah air hanya menerima ijazah versi diknas. Jangan ragukan kualitas kelulusannya. Karena tingkat kesulitan dan variasi model soal sama persis dengan ujian UN biasa.

    Nah, semoga sedikit tulisan ini bisa mengubah anggapan bahwa ujian kejar paket bukanlah hal yang identik dengan hal-hal negatif.




    Sabtu, 21 Mei 2016

    Here, Around Kuala Lumpur

    Time flies, empat tahun sudah saya menetap di kota ini. Pusat bisnis Malaysia. Tinggal di sebuah apartemen adalah hal yang baru buat saya dan keluarga. Dulu, semasa tinggal di Jakarta, jauh dari angan saya. Tak terbayang rasanya saya harus berbagi lift dengan orang lain (selain di area publik seperti di mall atau rumah sakit). Berbagi koridor atau berbagi parking area pun tak pernah terlintas. Tinggal di apartemen, saya bayangkan saya tak akan memiliki halaman rumah. Padahal rumah saya di Jakarta pun tak memiliki halaman. Hari gini, jarang sekali kan melihat rumah di perkotaan yang ada halaman depan atau belakang. Teras iya, carport iya. Tapi halaman? Hanya sekian kecil persen yang memilikinya. Sesuatu yang mewah menurut saya. Tapi perlahan disini saya mulai terbiasa. Ada untungnya tinggal di lantai 20. Bebas lalat, nyamuk dan kecoak. Jika jadwal mingguan fogging anti nyamuk demam berdarah sedang berlangsung, aroma fogging tidak terhirup sampai ke lantai rumah saya.

    Apartemen ini berada sekitar 10 menit perjalanan dari Twin Tower, icon Malaysia yang melegenda itu. Cukup strategis. Lokasinya yang berhadapan dengan station LRT menambah kemudahan mobilitas kami. 

    Banyak hal-hal baru saya dapatkan dari living society disini, yang tentunya sebagai pendatang, harus kami adaptasi. Tentunya yang baik-baik lah yang kami adaptasi. Karena pesan ibu saya kemanapun kami merantau : dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

    Beruntung meskipun Malaysia adalah negara asing, tapi jarak yang hanya sepelemparan batu dari negara kita membuat banyak kesamaan yang kadang saya merasa saya tidak tinggal di luar negeri. Ditambah lagi, negara kita dan negara ini adalah serumpun, mempunyai akar yang sama dalam lingkaran Nusantara yang dicetuskan sejak jaman Majapahit dahulu (bahkan ada yang menyebutkan sejak jaman Kertanegara sekitar setengah abad sebelum Majapahit).

    Makanan dan jajanan adalah salah satu dari beberapa kesamaan. Rendang, kue lapis, kari adalah beberapa diantaranya yang rasanya sama persis. Makanan lain biasanya punya rasa yang sama tetapi nama yang berbeda. Seperti kue kelepon, disini disebut kue malaka. Bukan masalah besar dalam hal makanan jika kita berlibur kesini.

    Sebagai muslim, saya merasakan banyak kemudahan di negara ini, makanan berlabel halal resmi pemerintah (Jakim- Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) mudah saya temui disini. Kemudahan melaksanakan sholat juga tak diragukan lagi meskipun kita sedang berada di area publik. Di terminal, stasiun LRT, bandara, sampai mall, semuanya tersedia dalam kondisi layak dan berpendingin ruangan. Terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan, tempat wudhu pun tertutup. Tak heran Malaysia masuk dalam daftar salah satu negara yang ramah untuk turis muslim. 

    Ada kesan tersendiri bagi saya dalam kehidupan sosial di negara ini. Untuk suku Melayu, tidak ada budaya bersalaman/ berjabat tangan dengan lawan jenis. Saya tidak pernah bertanya mengapa, tapi dugaan saya karena mayoritas para Melayu disini beragama Islam, yang notabene melarang lawan jenis bersentuhan. Dan itu mereka patuhi. Berkenalan atau bertemu lawan jenis, hanya menganggukkan kepala atau tersenyum.
    Begitu saja.
    Berbeda dengan kita di Indonesia, jika kita tidak berkenan bersalaman dengan lawan jenis, kita masih berbasa basi dengan menangkupkan  tangan di dada. Itupun masih dualisme, tidak bersalaman di lingkungan silaturahim atau taklim tapi bersalaman di lingkungan kantor atau teman lama... Hehehe...

    Seperti halnya di Indonesia, ada budaya cium pipi sesama wanita disini. Kiri- kanan- kiri. Atau kanan- kiri- kanan.
    Ya, tiga kali. 
    Dan itu sudah pula kami adaptasi. Pertama kali memang agak kikuk karena terbiasa cipika cipiki dua kali. Biasanya yang ketiga sering saya lewatkan alias cipika teman terabaikan tak bersambut. Tapi lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan ritual tiga kali ini. Bahkan kadang jika mudik ke tanah air kebiasaan ini ikut terbawa, dan gantian cipika ketiga saya yang tak bersambut huehehehe...

    Memang Allah SWT menciptakan manusia dalam beragam suku dan bangsa. Hanya dengan membandingkan hal-hal kecil seperti ini saja sudah membuat kita merasa kaya. Kaya ragam budaya. Agar bisa mempelajari dan saling mengambil hal-hal positif didalamnya.




    Minggu, 08 Mei 2016

    Lingkunganmu, Karaktermu...

    Seringkali kita mendengar ungkapan bijak yang bunyinya: 
    "Berkumpullah dengan orang-orang baik agar kau pun menjadi baik" .
    Atau,
    "Jika kau ingin tahu siapa dirimu, lihatlah dengan siapa dirimu berteman".

    Karakter seseorang berubah-ubah. Berkembang sesuai perkembangan usia. Pada masa kanak-kanak karakter terbentuk dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga. Nilai dan kebiasaan yang berlaku di sebuah keluarga akan tertanam dan mewarnai perilaku si anak.
    Itu sebabnya sangat penting mewarnai rumah dengan karakter positif untuk tumbuh kembang anak-anak. Agama dan akhlak adalah poin penting sebagai pondasi dalam pembentukan karakter. Maka adalah wajib bagi orang tua memberi contoh dengan akhlak dalam mendidik, karena anak hanya perlu contoh, bukan sekedar omongan.

    Semakin bertambah usia, karakter seseorang akan terbentuk, selain dari keluarga, juga dari lingkungan. Bahkan akan ada satu titik dimana dalam 24 jam anak akan lebih sering berinteraksi dengan lingkungannya dibanding dengan keluarga. Jika karakter bekal dari rumah kurang kuat, sekalinya bertemu dengan lingkungan yang kurang baik, bubar sudah semuanya... Naudzubillah.

    Ga usah jauh-jauh lingkungan deh (yang jelas-jelas berinteraksi setiap hari --teman di sekolah, geng, tetangga atau apalah) kejadian yang suatu saat tiba-tiba terjadi disuatu tempat kadang langsung mempengaruhi karakter kita kok. Contoh yang sering kita lihat, di transportasi publik seperti LRT atau monorel, jelas tertulis pada stiker disitu bahwa kursi itu untuk manula, wanita hamil atau disable. Eh, malah diduduki pemuda usia mahasiswa atau orang kantoran usia muda. Sementara orang yang berhak atas kursi itu malah berdiri berpegangan erat di tiang-tiang LRT.. Biasanya yang seperti itu nular banget. Melihat satu dua orang usia muda duduk di kursi yang bukan haknya, maka yang lain akan mengikuti. Meski kadang Alhamdulillah sih, ada yang nyadar dan berdiri mempersilakan kursi kembali untuk yang berhak.

    Yang pernah saya alami, salah satu kejadian, di jalan raya ketika tiba-tiba saya diklason kendaraan lain yang tak sabar ingin memotong jalan (disini klakson itu sensitif banget, orang jarang menggunakan klakson tanpa alasan yang sangat kuat, macet sekalipun. Makanya ketika seseorang diklakson tanpa alasan yang jelas, itu bikin tersinggung berat) entah kenapa saya tergoda untuk membalas klakson. Bahkan ingin mengklakson mobil lain sekedar untuk pelampiasan kesal. Dan setelah itu saya menyesal..

    Kontradiksi dengan kejadian diatas, pernah saya alami juga. Salah satunya di Masjidil Haram, jika masuk waktu sholat tiba, pastilah susah mencari celah kosong untuk sholat. Diantara berjuta manusia dan watak yang berbeda, kadang sulit untuk meminta mereka bergeser sedikit untuk sekedar saya nyelip diantaranya. Nah, ketika ada seseorang yang berbaik hati melambaikan tangan memanggil untuk berbagi tempat, meski berhimpitan, rasanya seperti mendapat oase di gurun tandus. Dan setelahnya, saya terdorong untuk selalu bergeser membagi shaf untuk orang lain, meski berhimpitan juga. 

    Kejadian selintas seperti ini saja bisa merubah perilaku kita, bisa dibayangkan jika berulang setiap hari, di orang-orang yang secara reguler kita berinteraksi. Betapa perlahan kita akan terbawa pengaruhmya.



    Atau, pernah dengar kan ada ucapan, jika seseorang ingin beli rumah baru : "Cari rumah yang cocok itu susah, karena beli rumah tak hanya beli rumahnya, tapi juga lingkungannya. Satu paket.


    Jadi memilih  lingkungan itu penting karena kebaikan Itu menular, sebagaimana kejelekan pun menular...

    Minggu, 01 Mei 2016

    Kolom Komentar di Media Sosial

    Media sosial tumbuh subur sekarang ini. Bak jamur bermunculan di musim hujan. Seiring pesatnya tren internet dan smart phone. Segala macam brand mulai facebook, twitter, instagram, path dan masih buanyak lagi. Setiap tahun ada saja brand baru yang meluncur.

    Banyak manfaatnya, diantaranya kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama tak ada kabar berita, saling sapa dan tahu kegiatan mereka, keluarga mereka dari postingan atau status yang mereka buat di media sosial.
    Sanak famili yang tinggal berjauhan juga bisa saling berkirim kabar melalui sarana ini.

    Namanya juga media sosial, media untuk berinteraksi sesama, tentunya tersedia pula sarana untuk merespon postingan kita. Tersedia berupa-ragam emoticon atau kolom komentar sebagai penyemarak suasana. Bahkan portal berita online pun belakangan menyediakan kolom komentar di bagian bawah setelah paragraf penutup setiap judul berita.

    Yang namanya berita online bisa dipastikan beritanya pendek-pendek dan singkat. Nah dari kolom komentarlah biasanya saya bisa membaca info-info tambahan dari para komentator, entah berupa link penunjang berita atau pendapat pribadi plus data yang kadang ulasannya lebih berbobot dari berita online itu sendiri.

    Saya suka yang beginian.

    Tapi belakangan saya justru lebih banyak terganggu dengan kolom komentar ini. Terutama jika beritanya bermuatan agama. Komentar SARA seringkali bertebaran. Binatang yang harusnya anteng di kandang-kandangpun berhamburan keluar. 
    Malah seringnya komentar dan isi berita sama sekali ga nyambung.
    Atau, jika topik berita adalah tentang profil tertentu, entah artis atau politisi, komentar yang membanjir adalah tentang aib pribadi profil tersebut. Tak jarang ibunya ikut dimaki-maki dianggap tak bisa mendidik anak. 
    Seringkali yang saya baca, sesama komentator saling berantem adu kata dan argumentasi karena pendapat yang berbeda. Lagi-lagi kata-kata tak patut yang dengan mudahnya diketikkan dengan gemulai jari. Pendidikan dibawa-bawa, segala atribut keagamaan seperti kerudung diungkit-ungkit. Hujatan merajalela. Saling balas, balapan tajam-tajaman lidah (via ketikan jari)

    Mengerikan...

    Sebegitu ganaskah kepribadian bangsa yang DAHULU dikenal sopan santun ini? 

    Kadang saya lihat si pemilik komentar pedas ini masih berwajah imut seusia anak sulung saya atau keponakan saya.
    Di instagram, pernah karena penasaran saya intip si pemilik account, tak satu pun postingan tampak disana, tanpa profil picture pula, dan dikunci. Jadi, untuk apa membuat account? Hanya untuk menghujat?

    Tak heran jika ada publik figur yang mempolisikan orang yang menghujat di kolom komentar, karena komentar yang keterlaluan.
    Beberapa kali saya baca komentator ini berargumen,
    "Kalau ga mau dikomentarin ya jangan bikin account". 
    Atau,
    "Resiko publik figur ya harus mau dikomentarin".
    Juga,
    "Jaga perilaku kalau ga mau dikomentarin pedes".

    Serem...

    Rupanya mereka lupa mana yang namanya berkomentar dan mana yang menghujat.
    Mereka lupa bahwa apa yang mereka tulis di internet akan terekam seumur hidup mereka, karena internet adalah perekam jejak terbaik sejauh ini.
    Mereka lupa bahwa suatu saat jauh di masa depan, anak cucu mereka juga bisa membaca seperti apa perilaku mereka di masa lalu...

    Saya tidak tahu, apakah ini dampak dari meluasnya pengguna internet dan media sosial? Bak pisau bermata dua, semua hal pasti ada sisi positif dan negatifnya. Kalau saya sih terbantu sekali dengan kemudahan internet. Saya bisa membantu tugas-tugas sekolah anak dengan browsing. Worksheet segala mata pelajaran dan variasi tingkatan sekolah bisa dengan mudah saya temukan. Hal mahal yang tidak saya temukan di jaman rekiplik saya sekolah dulu.

    Maka, jika dalam pemanfaatan internet dan media sosial yang dipilih adalah negatifnya, digunakan untuk adu omong dan menghujat, betapa sayangnya...
    Mungkin diperlukan semacam pembekalan untuk masyarakat tentang pemanfaatan internet. 
    Jika selama ini yang bergaung kuat hanya bahaya pornografi dari internet, perlu ditambahkan juga tentang perlunya berkomentar bijak dan santun di media sosial.
    Agar stigma yang melekat bahwa kita bangsa yang santun tak hanya menjadi slogan. Tak hanya menjadi kenangan, bahwa dahulu, sekarang dan yang akan datang kita tetap menjadi bangsa yang santun.

    Bangsa? Kejauhan kali...
    Jadi akan saya mulai dari keluarga kecil saya dulu...



    Kamis, 21 April 2016

    Diam

    Ingin berbagi,
    Hanya itu sesungguhnya,
    Tapi ketika hanya bunyi jangkrik
    Sengau ditelingamu
    maka diamlah
    Karena itulah yang terbaik

    Ingin menyapa,
    Hanya itu sejatinya
    Tapi ketika hanya desau angin lalu 
    Hembus meliputimu,
    Maka sudahilah
    Karena itulah yang terbaik

    Ingin merindu,
    Hanya itu sebenarnya,
    Tapi ketika senyap sendu 
    Menampar ruangmu
    Maka menepilah
    Karena itulah yang terbaik

    (Obrolan kita malam tadi, tentang silaturahim yang sirna, tergerus fenomena media sosial yang seringkali hanya menampilkan status semu)






    Sabtu, 16 April 2016

    Pedestrian yang Hilang

    Tepat setelah acara Meeting The Parents yang agendanya membagi report card, saya dan keluarga terbang ke Jakarta. Libur sekolah seminggu ini saya manfaatkan untuk menyelesaikan beberapa urusan di tanah air yang selama ini sudah saya jadwalkan. Juga untuk melepas rindu kuliner yang tidak bisa dibohongi, bahwa diantara negara-negara lain, kuliner Indonesia adalah juaranya.

    Tidak seperti mudik-mudik biasanya, kali ini tidak ada rencana ke luar kota sama sekali, mungkin hanya menengok ibu saya yang sedang berada disuatu kota sebelah Jakarta yang sedang diamanahi menjaga cucu keponakan. Itu artinya one week full saya akan 'menikmati' kota tempat saya berKTP ini dengan 'senikmat-nikmat'nya ;)
    Kenapa saya bertanda kutip? Karena jujur, Jakarta hanya bisa dinikmati dalam keterpaksaan hahaha...

    Menit-menit pertama keluar dari bandara Soekarno Hatta saja, saya sudah disapa oleh sopir taksi ilegal. Semula saya kege-eran ketika ada bapak-bapak tersenyum dan menganggukkan kepala. Keramahan anak bangsa yang tidak ada tandingannya, batin saya. Ternyata setelah senyum saya balas, bapak itu menghampiri dan menawarkan taksi... O-ow...

    Di menit yang bersamaan saya puyeng dengan asap rokok yang melayang-layang menjajah kebebebasan pemeluk aliran udara sehat. Bahkan tepat dibawah tiang-tiang besar berstiker gambar rokok dicoret, mereka dengan santai dan sok gagah menyemburkan asap kemana-mana seolah ada kebanggaan tersendiri bisa menghina dina stiker itu.
    Oh... C'mon, kalian akan lebih gagah jika kalian merokok di tempat umum tanpa menghembuskan asapnya. Ambillah paket hemat dengan merokok sambil menelan sekalian asapnya...

    Menit selanjutnya, saya sudah disambut dengan kemacetan yang fffiuuuhhh entahlah apalah. Dua jam kami habiskan waktu dari bandara ke Jakarta Timur, tempat tinggal saya. Dari ngobrol dan bercandaan ringan dengan anak-anak sampai ngobrol garing dan ngobrol bete. Diselingi juga pemandangan mobil yang saling serobot, tak bisa lurus jalan disatu lajur. Dan, mobil berstiker pers yang menyalahgunakan sirine polisi/ambulan untuk mengecoh kendaraan lain untuk meminta jalan. Sudahlah... Terlalu mainstream membahas macet Jakarta dan segala macam perilaku pengendaranya yang entah kapan akan insyaf dan beradab.

    Dan hari ini adalah hari kedua saya disini, kembali ke topik kuliner, list makan malam hari ini adalah nasi goreng di abang-abang yang mangkal dekat sebuah pasar inpres, yang bagi kami rasanya seringkali membuat kami rindu jika sedang berada jauh dari tanah air. Saya parkir motor di dekat si abang. Dan sambil menunggu pesanan nasi goreng bungkus, saya melipir ke toko sekitar untuk mencari gunting karena dua anak saya membawa project liburan yang harus selesai dan dikumpulkan ketika kembali masuk sekolah. 

    Saya baru sadar ternyata susah sekali jalan dari toko ke toko. Pedestrian menghilang. Kios-kios tenda berdiri mengambil hak pejalan kaki. Otomatis pejalan kaki bergeser lebih ke tengah merambah aspal. Hasilnya... Ya diklaksonin motor lah... Kadang malah dapat bonus dipelototin. Lah terus aku kudu piye...


    Let me introduce you, this is Jakarta :')

    Minggu, 10 April 2016

    Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina

    Judulnya memang lebay sih.. Saya belum pernah sekolah ke China. Belum pula mengirim anak untuk belajar ke sana. Hehehe...

    Di era yang serba kompetitif ini, mencari sekolah untuk anak memang gampang-gampang susah. Kalau dahuluuuuu (huruf u nya banyak saking lamanya) mencari sekolah pilihannya tak sebanyak sekarang. Di kota kecil tempat saya lahir, sejak SD sampai SMA hanya ada sekolah negeri dan beberapa sekolah swasta yang cuma ada tiga jenis yaitu Muhammadiyah, Al Ma'arif (dikelola oleh ormas NU) dan sekolah Kristen. Biaya sekolah swasta masih dalam jangkauan rakyat tingkat ekonomi rata-rata. Tak harus orang kaya.

    Jaman berangsur berubah. Ketika saya berganti peran menjadi seorang ibu, menjadi tugas saya untuk mencari sekolah pilihan. Beragam sekolah yang sangat banyak terkadang justru membingungkan. Sejak awal tahun 2000an mulai menjamur sekolah berbasis Islam Terpadu. Juga sekolah-sekolah islam lainnya. Jam belajar pun lebih panjang. Full day. Seven to three.

    Tidak mudah mencari sekolah. Perlu browsing, referensi teman dan survey untuk menemukan yang sesuai. Saya tidak menyebut yang terbaik. Karena ukuran baik tidaknya sekolahan itu relatif. Tergantung perspektif dan kebutuhan. Sekolah A bisa jadi baik untuk si A karena target utamanya adalah goal PTN, tentu belum cocok untuk si B karena targetnya hafalan Quran dan lancar berbahasa arab. Atau si C yang targetnya ingin melanjutkan ke luar negeri dalam jaringan Cambridge.

    Tapi yang pasti, salah satu dan yang utama dalam survey sekolah adalah tentang biaya, tuition fee ( terurama jika sekolah swasta ). Sekolah mahal identik dengan fasilitas yang bagus. Baik fasilitas sarana belajar mengajar maupun fasilitas ekstra kurikuler. Dengan biaya yang tinggi kesejahtaraan pengajar cenderung terpenuhi sehingga pengajar lebih fokus mentransfer ilmunya tanpa memikirkan pendapatan sampingan... Meski kadang ada juga pengajar yang passionnya adalah mengajar, tanpa peduli berapa nominal yang dia dapatkan. Jaman saya duluuuuu (lagi-lagi huruf 'u' nya banyak) bapak ibu guru saya banyak yang seperti ini. Mengajar adalah ibadah jariyah. Beberapa guru di sekolah anak saya juga seperti ini. Mengajar adalah passion. Bahkan ada guru si bungsu di International Islamic School Malaysia ini yang hampir setiap pertemuan menyediakan hadiah-hadiah lucu untuk memotivasi siswa. Ada juga yang dengan sistem token. Nilai full mark akan diganjar token. Token-token yang terkumpul akan ditukar hadiah pada saat tertentu. Sampai saya seringkali bertanya dalam hati berapa ringgit beliau sedekahkan untuk menggembirakan hati anak-anak ini.

    Pertimbangan selanjutnya adalah tentang mutu.
    Ya, sekolah bermutu seringkali dihubungkan dengan sekolah mahal. Tapi beberapa sekolah bermutu (biasanya disubsidi perintah atau donatur) mematok biaya terjangkau bahkan gratis (fullschoolarship). Salah satunya adalah Smart Ekselensia Indonesia. Sekolah ini gratis dengan program akselerasi 5 tahun SMP dan SMA, yang diperuntukkan bagi anak-anak Indonesia berpotensi tapi terbatas dalam hal ekonomi.

    Faktor lainnya adalah tingkat bullying di sekolah. Saya termasuk orangtua yang menyelipkan pertanyaan ke pihak sekolah (atau cari bocoran ke teman/kerabat) tentang ada tidaknya kasus bullying di sekolah incaran. Saya bukan korban bullying di masa sekolah. Juga bukan pelaku. Tapi saya sedikit banyak tahu dampak bullying terhadap perkembangan psikologis korban. Maka saya akan coret sekolah sekeren apapun jika ada tradisi senior-junior yang menjurus ke arah bullying.

    Selanjutnya masalah jarak. 
    Ketika masih tinggal di Jakarta, jarak dari rumah ke sekolah masuk dalam pertimbangan pencarian sekolah. Karena jakarta macetnya sudah dalam taraf 'ga sopan', makanya saya cari yang tidak jauh-jauh amat. Tujuan saya adalah agar waktu dan energi anak tidak habis dalam perjalanan. Agar masih ada waktu untuk bermain dan mengulang pelajaran di rumah.
    Tapi berbeda dengan di Kuala Lumpur ini. Jalanan yang tidak se macet parah Jakarta membuat saya lebih leluasa untuk memilih sekolah. Jarak bukan hal krusial karena waktu tempuh bisa diprediksi. Saya pilih sekolah internasional karena saya ingin anak saya ada nilai plus dalam sosialisasi. Juga bahasa tentunya. Berbaur dengan masyarakat internasional saya harapkan mereka akan lebih melek akan kuasa Allah menciptakan makhluknya berbangsa-bangsa dengan tradisi dan karakter yang beragam.
    Diantara beberapa pilihan sekolah internasional disini, tetap saya pilih yang islami. Karena saya pernah merasakan sendiri manfaatnya punya basic agama sejak dini. Meskipun masa SMA dan kuliah saya di sekolah negeri, tetapi masa SD dan SMP saya tuntaskan di sekolah islam, sekolah Muhammadiyah. Tidak membuat saya jago-jago amat dalam hal agama sih, tapi minimal saya tak nyaman meninggalkan sholat. Amalan yang nantinya akan pertama kali dimintai pertanggungjawabannya di Hari Akhir. Atau minimal saya bisa menjawab jika anak-anak bertanya satu dua hal tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama. 

    Sayangnya masih ada beberapa anggapan yang menyatakan bahwa sekolah berbasis agama muridnya nakal-nakal (sama halnya anggapan bahwa sekolah boarding/pesantren adalah sekolah buangan untuk anak nakal --seperti yang pernah saya tulis dalam postingan sebelumnya yang berjudul "Masuk Pesantren, Apa Salahku, Ibu?". Ironisnya anggapan seperti ini justru datang dari orang-orang yang seagama dengan saya. Dan orang yang berpendidikan pula. Seakan ada anggapan terselubung bahwa sekolah berbasis agama adalah semacam bengkel, untuk mereparasi anak-anak nakal. Sedihnya....
    Padahal anak nakal sih dimana-mana ada. Karena tingkat kenakalan tidak masuk dalam materi test penerimaan siswa baru.. Hehehe.. 



    Jadi bagi saya, jika ada yang bertanya atau meminta pendapat sekolah mana yang bagus, tentunya akan saya jawab tergantung, karena bagus tidaknya sekolahan itu relatif. Tergantung perspektif dan kebutuhan.  

    Sabtu, 05 Maret 2016

    GPS, Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan

    Sebagai pengguna jalan aktif, menguasai rute adalah keharusan. Termasuk estimasi waktu, berapa lama akan sampai tujuan jika jalanan lancar dan di titik-titik mana akan ada kemacetan. Atau kemanakah harus mencari jalur alternatif jika jalur utama ada kejadian yang tidak diharapkan, seperti jalan ditutup karena ada perbaikan atau kecelakaan atau cleaning area karena pejabat VIP akan melintas.

    Dulu di Jakarta, jika bepergian, tugas saya adalah duduk manis di kursi co-driver. Mengingatkan harus belok ke kiri atau ke kanan kepada suami yang kadang sering lupa arah jalur terpendek untuk menuju ke suatu tujuan. Jika akan ke lokasi yang sama sekali asing, beberapa saat sebelum berangkat, tugas saya adalah membuka dan menandai halaman buku peta seukuran A4 (atau folio ya?) karya pak Gunther W. Holtorf. Buku tebal berisi peta Jakarta dan Jabodetabek berwarna biru-kuning dengan sampul bergambar tugu Monas. Sepanjang perjalanan buku ini akan berada dipangkuan saya sebagai penunjuk arah kepada suami saya. Navigator gitu pura-puranya...

    Sayangnya, meski ada keunggulannya (misalnya bisa dibentangkan untuk acuan luas wilayah secara visual) peta tradisional seperti ini kadang menimbulkan kebingungan jika tiba-tiba jalanan sedang ada hambatan dan kita harus memutuskan untuk ambil jalan alternatif. Juga, peta ini tidak memberi petunjuk kepada kita berapa lama perkiraan waktu tempuh, apakah jalan di depan akan macet, ada kecelakaan dan sebagainya. Jadi... kita jalan saja. Yang akan terjadi.. terjadilah..

    Tapi, Alhamdulillah... thanks to technology.. jaman sekarang sudah ada peta berbasis Global Positioning System (GPS), sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan sinyal satelit. Sinyal ini akan menentukan letak benda, kecepatan benda (jika benda itu bergerak), arah, dan waktu.

    Maka saya tak lagi memangku buku besar ratusan halaman milik Om Gunther. Tak lagi menandai halaman berapa lokasi yang akan saya tuju. Tak lagi mengarahkan telunjuk ke ruas demi ruas jalan yang tertera dalam buku. Maafkan saya Om, bukannya habis manis sepah dibuang. Bukannya saya tak lagi setia padamu. Tapi karena arah jaman menuntut saya memilih untuk yang lebih praktis. Memang cinta harus berpaling...

    Beralihlah saya melabuhkan cinta ke GPS bawaan produsen mobil yang saya kendarai, yang sudah terinstall dan bisa saya lihat melalui monitor kecil disebelah kemudi. Awal mula menggunakan GPS ini saya terkagum-kagum karena merasa banyak kemudahan dibanding peta tradisional. Sampai kemudian saya merasa  terganggu karena mbak-mbak pemandunya berisik minta ampun. Instruksi "Turn left" atau "Turn right" diucapkan berkali-kali seakan ada kekuatiran saya akan membangkang titahnya hahaha... Belum lagi jika saya akan melintasi outlet merk mobil ini. Dia akan bilang : 
    "Blablabla (dia menyebut merk mobil) outlet in 200 meters".
    Belum lagi ternyata dia tak mampu mencari rute terpendek. Atau bahkan tak mampu mencari lokasi yang saya maksud karena direktori si dia memakai nama yang berbeda dengan pencarian saya. Misalnya saya mengetik "Taman Layang-layang" di menu ‘Umum’ tak pernah ketemu karena dia menyimpan di menu ‘Yellow Page’. Atau Ampang Puteri Hospital, tak pernah ketemu karena dia menyimpan di menu ‘office’.
    Lagi-lagi saya mulai ingin berpaling...

    Rasa lelah mulai hadir ketika mengantar anak study group ke rumah temannya, si mbak memberi arah yang tak disangka-sangka. Betul, saya diarahkan ke alamat yang dituju, tapi bukan pintu gerbang apartemen yang saya temui, melainkan tembok belakang apartemen yang buntu dan menjulang tinggi sambil berkata "This is your final destination".
    Maksud lo, saya harus manjat?
    Ah.. hati kami tak sama, rasa kami tak sama. Mungkin hubungan ini harus disudahi..

    Kemudian saya bertemu dan berkenalan dengan pengganti Om GPS bawaan produsen monil ini. Om Waze namanya. Dengan sekali sentuh ujung jari, selesai sudah proses install aplikasi ini di ponsel saya. Tampak lebih mudah dan menyenangkan. Saya bisa memilih profil saya. Memilih icon sesuai mood, memilih tampilan gambar dan warna mobil, mendapat poin jika report kejadian di jalan raya, sampai mendapat hadiah permen jika sudah melalui kilometer tertentu. Ada petunjuk jika jalanan macet bahkan ada petunjuk jika didepan ada pak polisi. Seperti layaknya game saja.
    Saya senang, anak-anak pun senang karena bisa utak-atik tampilan.

    Dan kemudian.. terjadi lagi...
    Si Om Waze ini paling suka ngajakin masuk tol. Mungkin dia males repot kasih petunjuk kiri kanan. Inginnya lurus-lurus saja. Saya masih memakluminya. Toh jika tidak dituruti dia akan recalculate alternatif rute yang lain. Meski kadang maksa banget untuk mmengambil u-turn dan balik masuk tol yang tadi.
    Ulah lain yang aneh adalah doi sering memberi rute yang berbeda pada saat pulang. Pergi lewat jalan A, eh pulang diajak lewat jalan B, yang kadang malah berputar. Yang ini juga seringkali tidak saya turuti. Saya tinggal mencontek saja jalan pada saat keberangkatan tadi. Biasanya masih hafal, asal jangan ribet-ribet amat.
    Nah yang kebangetan pernah di negara lain, sebagai seorang foreigner, dialah andalan utama. Contohnya ketika mencari Big Budha di Phuket, entah apa yang ada di pikirannya, doi malah mengarahkan saya ke sebuah perumahan eksklusif. Tentu saja security guard kebingungan pas saya menyebutkan dimana Big Budha..
    Atau pada saat mencari suatu arena permainan anak-anak, eh malah diantar ke sasana Muaythai (mungkin si om tahu saya ingin langsing). Juga ketika mencari halal food resto, dia berputar-putar tak tentu arah. Aahh dia mengkhianati saya.

    Ternyata dia tak mampu menjaga kepercayaan yang terlanjur saya beri. Saya terlalu percaya padanya.. Memang harusnya saya hanya percaya kepada Allah SWT saja.. :)



    Note :
    Tapi entah mengapa  aplikasi Waze masih anteng di ponsel saya. Saya masih membukanya ketika membutuhkan.
    Entah mengapa saya masih setia padanya meski cinta yang terlanjur saya jatuhkan ternyata bertepuk sebelah tangan.

    Selasa, 09 Februari 2016

    Toleransi Itu, Rasanya.....

      Lahir dan tinggal di Indonesia sungguh menyenangkan. Negara yang mengakui lima agama sebagai dasar keyakinan warganya, membebaskan warganya beribadah dengan leluasa yang hidup berdampingan dengan rukun.
         Sebagai pemeluk agama Islam, dimana Islam adalah agama mayoritas warga negara ini, saya menemukan banyak keleluasaan untuk menjalankan ajaran agama saya. Masjid ada dimana-mana, sehingga dalam perjalanan mudik lebaran yang macet pun kami tidak kuatir susah mencari tempat sholat. Di mall, meskipun biasanya nyempil di parkiran, sumpek dan panas (jauh banget dibanding penampilan mall nya yang megah), tetap disediakan musholla. Di tempat rekreasi, meski biasanya penampilannya sangat "sederhana" juga ada musholla. Di stasiun, di terminal juga ada (tapi jangan tanyakan tentang kondisinya... tetep minimalis dan rada jorki.. hehehe..)
         Ketika pindah ke Malaysia, tidak ada perubahan suasana sama sekali untuk menjalankan syariat agama kami. Islam sebagai agama mayoritas warganya, membuat kami tak mengalami kesulitan menemukan tempat sholat di semua area publik. Dengan kondisi musholla yang jauh lebih layak daripada di negara sendiri. Jangankan di mall atau tempat rekreasi, bahkan di terminal atau stasiun LRT pun mushollanya berpendingin ruangan. Tempat sholat dan tempat wudhu tertutup dan terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan.. singkatnya, tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat karena tempat sholat tersebar dimana-mana... dan oh ya.. sama seperti di Indonesia, mengenakan hijab bukan sesuatu yang dipandang aneh disini, karena Malaysian moslem pun banyak yang berbusana muslim. Makanan halal? Tentunya tak susah juga untuk menemukannya.
         Petualangan dan bertukar peran menjadi minoritas baru saya rasakan ketika berkunjung ke Hongkong. Sadar bahwa makanan halal akan terbatas mendapatkannya, sebelum berangkat  saya browsing terlebih dahulu alamat-alamat resto halal. Berbekal hasil browsingan kami akan menyesuaikan rute perjalanan sepanjang hari akan berdekatan dengan resto yang mana saja, jadi pas alarm perut berbunyi kami sudah punya bayangan akan menuju kemana. Demikian juga untuk sarapan, jika biasanya saya mengambil paket sarapan di hotel, kali ini saya skip dan mempersiapkan bekal sarapan sendiri. Ini juga saya lakukan ketika berada di negara lain semisal Singapore, Cambodia juga Thailand. Agak ribet, tak semuanya berjalan mulus, tapi menjadi petualangan yang menyenangkan sekaligus pendidikan untuk anak-anak kami bahwa sesulit apapun, asupan halal adalah keharusan. No excuse. 
         Tidak semua berjalan mulus? Ya. Suatu ketika, berbekal informasi hasil browsing, saya sudah mengantongi nama resto halal di bandara Phuket. Santai saja saya dan suami merencanakan akan makan siang disana. Perut mulai lapar, cari kiri.. cari kanan, kami temukan resto tersebut. Dengan riang kami melangkahkan kaki sambil menanyakan menu... tapi, ya Salaam.. mbak-mbak penjaga sama sekali tidak mengerti bahasa inggris, sama sekali tidak berminat untuk berkode-kodean dan terkesan hopeless ketika kami mencoba mengajak berkomunikasi dengan bahasa tarzan.. ahhh.. kami gagal makan dan hanya nyemil snack oat dan coklat-coklat bawaan dari Malaysia hahaha...
         Atau, pernah juga kami sudah berputar-putar mengikuti petunjuk aplikasi waze menuju resto halal yang alamatnya sudah saya simpan rapi, bersemangat empat lima membayangkan akan berpetualang lidah mencoba makanan setempat. Ternyata oh ternyata si om waze gagal mengenali alamat tersebut, eh..malah mengantarkan kami ke alamat entahlah apalah.. disini lagi-lagi mari kita mainkan popmie bekal dari rumah huhuhu...
         Tapi ada pengalaman yang mengharukan tentang pencarian makanan halal ini. Sesuatu yang mengharukan ini bernama toleransi.
         Ketika berada di Langkawi, salah satu bagian dari Malaysia yang berbatasan dengan Thailand, saya pede sekali menghampiri sebuah resto yang gerbangnya di dominasi warna merah, pede karena Langkawi ini masih wilayah Malaysia, dimana makanan halal merata di semua sudut kota. Biasanya di Malaysia ini logo halal dipajang di meja kasir atau dinding pintu masuk resto. Tapi kali ini baru melangkahkan kaki mendekati pintu masuk saya sudah dihadang pegawai laki-laki yang memberitahukan bahwa ini bukan resto halal untuk muslim... ah hal kecil tapi sungguh besar bagi kami.. Terima kasih.. :)
         Di Disneyland Hongkong, karena sadar akan seharian main disana, kami pun mengantongi dua nama resto halal sekaligus. Tahitian Terrace dan Explorer's Club Resto, untuk makan siang dan makan malam hehehehe.. tapi namanya bermain di area seperti ini, pasti ada gerai-gerai makanan yang aromanya mengundang rasa lapar sebelum waktu makan tiba. Anak kedua bersama si bungsu tergoda menghampiri penjual chicken bites, popcorn dan es krim. Melihat si bungsu berkerudung, spontan mbak penjual dengan ramah mengingatkan bahwa popcorn dan es krim itu might be.. bisa jadi mengandung bahan yang tidak halal, pun dengan chicken bites nya.. duh mbak.. baik sekali anda.. Anda begitu peduli dan faham bahwa bagi kami haram itu tidak hanya makanan yang mengandung babi. Tapi juga komposisi dalam popcorn dan es krim yang diragukan, juga ayam yang tidak disembelih sesuai aturan islam pun bisa berubah menjadi haram... Terima kasih mbak.. ini hal kecil bagi anda, tapi sungguh berarti bagi kami...
         Juga ketika jarum jam beranjak sore hari, sudah kami niatkan bahwa hari itu kami akan melaksanakan sholat jama' ta'khir. Menggabungkan dan memendekkan sholat dhuhur dan ashar ketika waktu ashar tiba. Kesana kemari kami mencari prayer area. Membaca semua papan petunjuk. Jika kami tak terlalu sulit menemukan musholla kecil (nan nyaman) di salah satu sudut Universal Studio Singapore, rupanya tidak demikian dengan Disneyland Hongkong ini. Sampai berkeringat kami mencari dan bertanya sana sini. Hanya gelengan kepala jawaban yang kami terima. Sempat juga terlintas untuk menggelar sajadah di pojokan. Tapi rupanya suami punya inisiatif untuk bertanya ke resepsionis di front office. MasyaAllah indahnya... mereka bukan muslim, mereka tak menjalankan sholat tapi mereka mempersilakan kami menempati private room rapi jali wangi yang terkunci. Membuka kuncinya, menunjukkan kamar mandi terdekat (yang sesungguhnya bukan untuk umum), dan mempersilakan kami menggunakan private room as long as we need.. 
         Sambil selonjoran antri sholat  -karena bergantian sajadah yang hanya satu kami selipkan dalam backpack selama kami bepergian- saya berpetuah kepada anak-anak tentang bahagianya mendapat bantuan disaat kita membutuhkan, disaat kita menjadi minoritas. 
    Maka jika sudah kembali ke Malaysia atau Indonesia, atau dimanapun tempatnya, ketika posisi kita adalah sebagai mayoritas jangan pernah ragu atau berhitung untuk mengulurkan bantuan kepada siapapun.. siapapun.. "Jika kita pernah merasa sebahagia ini ketika mendapatkan bantuan, bayangkan mereka juga akan sebahagia ini ketika mendapatkan bantuan serupa"..

    Toleransi itu, rasanya ... sebahagia ini...

    Kamis, 28 Januari 2016

    Smile, and The Universe will Smile Back to You....

         Apa yang akan kita alami dalam satu hari biasanya ditentukan di pagi hari. Bagaimana suasana hati kita sewaktu bangun tidur. Jika bangun tidur sudah merasa hari bakalan panjang, hectic, uring-uringan sudah dipastikan seharian akan tersandung-sandung pula dan sandungan itu terasa menjengkelkan. Tetapi jika pagi hari merasa ringan, bangun tidur dengan hirupan nafas sepenuh dada, naaah... seharian insya Allah akan merasa menyenangkan. Jika ada sandungan-sandungan kecil pun, akan terasa sebagai polisi tidur di jalanan komplek yang piece of cake untuk dilewati.
         Saya pernah di suatu pagi bangun dengan mood yang buruk. Dunia cuma selebar kotak lift saja rasanya. Sempit. Sumpek. Semua yang saya lihat tampak menjengkelkan. Kesalahan kecil yang dilakukan anak saya pun cukup bisa membuat saya menegurnya panjang pendek. Bukan cuma satu anak. Tiga-tiganya. Bahkan kucing-kucing saya pun tak luput dari teguran saya. Pandangan tak bersahabat saya... padahal kucingnya peduli juga belum tentu... haha..
         Dan suatu hari saya melihat sebuah karikatur bertuliskan " Smile, It's sunnah". Tidak ada yang istimewa sebenarnya, karena saya sering mendengarnya. Bahkan salah satu Hadist Riwayat at Tirmidzi menyebutkan "Senyummu untuk saudara (sesama muslim) adalah sedekah". Saya pun sering menasehatkan kalimat serupa jika anak-anak, kakak beradik sedang berantem saling cemberutan. 
    "Tak perlu mengeluarkan uang atau barang untuk bersedekah, cukup tersenyum atau minimal bermuka cerah untuk orang di hadapan kalian". Omongan yang tak melulu berhasil membuat yang berantem langsung baikan.. tapi setidaknya bisa mereda.
         Kembali ke bahasan awal, senyum di pagi hari juga bisa menjadi mood booster saya untuk aktifitas sepanjang hari. Memberikan senyum buat anak-anak selain membahagiakan mereka, sesungguhnya juga membahagiakan saya. Maka dengan itu, melangkah lebih jauh dari rumah pun lebih mudah untuk tersenyum kepada orang lain. Contohnya ketika bertemu seseorang di lift condominiun atau bertemu seseorang di basement parking area. Tak selalunya saya mengenal mereka, tapi menyadari mereka adalah sesama penghuni di condo yang sama, menyempatkan tersenyum tulus dan mendapatkan jawaban senyum yang sama adalah hal yang dapat meringankan langkah saya..
         Tetapi sayapun punya pengalaman pahit tentang senyum. Menjelang ujian skripsi saya harus menyampaikan surat undangan satu demi satu ke ruang dosen pembimbing dan dosen penguji saya kapan dan dimana sidang saya akan berlangsung. Lima orang. Ada juga naskah skripsi selain undangan. Rupanya ada salah satu dosen penguji yang ingin memberikan pertanyaaan-pertanyaan pemanasan buat saya. Saya jawab semua pertanyaan dengan wajah tersenyum.. aha... rupanya dosen tersebut tidak berkenan dengan ekspresi senyum saya.
    "Besok kalau sudah ujian betulan, jangan jawab pertanyaan penguji sambil tersenyum. Tidak akan menambah nilai dan tampak tidak serius !"... ooh... baiklah, pak...
    Sampai kemudian di hari H, dua dosen pembimbing saya, yang selama berbulan-bulan sebelumnya sudah hafal dengan tingkah polah saya, di sela-sela ujian mulai heran.
    "Kamu nervous sekali, ayo santai dikit biar jawabnya juga lebih enak. Senyum dulu... nah gitu kan enak.. kalo jawabnya sambil senyum kan yang nanya juga enak melihatnya". Ooh... baiklah pak.... hehehe... 
         Tapi memang senyum kita sesungguhnya merupakan energi yang sangat kuat untuk memancarkan aura positif disekitar kita. Kalo boleh saya iseng berhitung, dari sekian senyum yang saya lemparkan ke sekitar hampir semuanya berbalas. Kalaupun ada satu dua yang tak berbalas, saya anggap dia sedang terburu-buru dan tidak fokus.
          Maka seperti yang saya sebutkan di awal-awal tulisan, jika niat awal kita tersenyum itu ingin bersikap sopan dan menyenangkan orang lain, ketika orang tersebut membalas senyum kita, kitalah sesungguhnya yang bahagia. Nah sejatinya senyum kita adalah untuk kebahagiaan kita sendiri, kan... 
    So, let's start the day with bislllah and then... smile, and the universe will smile back to you

    Minggu, 17 Januari 2016

    Let's Be Friends. If They Can Do it, Then We Can, too

          Judul itu saya ambil dari caption cuplikan video tentang seekor anjing penumpang sebuah kapal pesiar yang kemudian tercebur ke dalam samudra lepas. Tertinggal jauh, mati-matian si anjing berenang menuju ke arah kapal pesiar. Ngos-ngosan dan tentu tak terkejar. Tiba-tiba seekor lumba-lumba menghampiri dan mendekatkan punggungnya kepada si anjing. Menawarkan tumpangan. Tanpa menunggu lama si anjing sudah nangkring di punggungnya dan meluncurlah lumba-lumba dengan laju mengejar kapal pesiar. Adegan yang bikin meleleh adalah ketika sesampainya di kapal anjing dadah-dadahan dengan lumba-lumba itu. Pernyataan terima kasih yang dalam seakang terlukis di ekspresi si anjing....bagi saya, yang teramat sangat suka dengan tontonan atau bacaan bertema pertemanan, sepenggal cerita ini sangat membekas dihati.
         Tontonan atau bacaan favorit saya memang tidak masuk dalam klasifikasi genre film apapun. Bukan drama, bukan horor, action, komedi ataupun thriller. Simpel saja. Yang penting tema cerita tentang pertemanan, ya saya suka, baik itu cuma berdua apalagi rame-rame. Serial Friends, 5 cm, Negeri Lima Menara, Laskar Pelangi adalah beberapa contoh saja. Keharuan dalam cerita-cerita seperti itu lebih nendang bagi saya dibanding love story. Ada juga cerita yang saya suka : tema pertemanan seekor anjing dan tuannya. Setiap sore si anjing selalu pergi ke sebuah stasiun kereta untuk menjemput tuannya sepulang kerja. Ketika suatu hari si Tuan meninggal dunia, bagai ingin menafikan, si anjing tetap setia menunggu di stasiun kereta. Menunggu berhari-hari, bertahun-tahun karena si tuan tak kunjung turun dari kereta. Cerita ini merontokkan hati saya. Ga sekedar meleleh.. tapi rontok!
         Mungkin dari selera bacaan dan tontonan saya ini mempengaruhi cara pandang saya terhadap pertemanan. Saya termasuk dalam kategori orang yang susah move on dalam pertemanan. Terlebih pertemanan di masa lalu. Jika dulunya ada sekumpulan teman yang guyub dan akrab, kemudian setelah sama-sama dewasa jadi merenggang, saya juga lah termasuk orang yang paling mellow menyesalinya. Karena ini pula, atas nama keguyuban masa lalu, saya lebih mudah memaklumi jika ada luput-luputnya omongan. Dan saya juga yang paling 'dalem' jika ada yang tanpa sebab tiba-tiba menjauh tanpa aba-aba.
         Hingga suatu saat saya bertemu kembali dengan salah seorang teman club kegiatan luar sekolah masa SMP-SMA via facebook. Di awal keberadaan facebook dulu, saya termasuk aktif bikin status dan saling memberikan komen dengan teman, meski sejak empat tahun terakhir saya bukan lagi pengguna aktif. Hanya sesekali saya sign in jika ada perlu atau janjian sama teman untuk memanfaatkan facebook free call. Itu makanya ketika teman lama ini mengirimkan message, baru tiga bulan kemudian message ini terbaca oleh saya. 
         Gembira tentu.... obrolan berlanjut via whatsapp karena kami sama-sama pengguna facebook yang pasif. Dari bertemu seorang teman saja, beranak pinak kami saling bertukar nomor telpon teman-teman yang lain. Saling mengirim foto-foto lama dimana kami masih pada imut dan menertawakan bersama. Menyenangkan..
         Dari sini kemudian saya bertemu pula dengan salah seorang senior club tersebut. Saling menanyakan kabar, jumlah anak dan sekarang bertempat tinggal dimana adalah sapaan standar di awal percakapan. Texting yang terkesan biasa saja tiba-tiba terhenti ketika saya jawab sekarang tinggal di Malaysia. Saya tak ambil pusing.  Mungkin beliau sedang sibuk hingga tak melanjutkan obrolan.
         Selang satu-dua minggu kemudian kembali saya sapa senior ini. Dibaca sih, tapi tak kunjung ada jawaban. Ya sudahlah. Lama. Saya sudah melupakannya. Sampai tiba-tiba suatu saat beliau yang terlebih dahulu menyapa. Setelah bla.. bla.. bla.. basa-basi pembuka percakapan, beliau berujar telah salah menyangka saya menjadi pekerja domestik di Malaysia. Itu makanya percakapan di whatsapp terhenti begitu saja dan tak ingin menjawab semua sapaan saya. Hingga kemudian kembali dia menyapa saya setelah seorang teman yang lain tak sengaja bercerita tentang saya dan mematahkan sangkaan dia.
            What? Saya belum mudeng dengan apa yang dibicarakan sang senior.. belum bisa meraba kemana arah pembicaraannya. Sampai kemudian saya ngeh.. oh rupanya ada yang punya anggapan "beda" dengan profesi pekerja domestik sampai tak ingin menjawab message. Rupanya ada yang mengklasifikasikan profesi A dan profesi B dalam pertemanan. Ooh...Mengapa harus membedakan? Ini hanya pertemanan. Hanya saling sapa dalam message.. kenapa dibikin ribet. Rasanya friendship seperti dalam video anjing dan lumba-lumba, yang tak pandang siapa dia siapa saya, sangat menyenangkan. Tak perduli kedua hewan itu berbeda species. Atau pertemanan antara anjing dan tuannya yang terbawa sampai mati. Hewan dan manusia yang bisa hidup berdampingan...
         Kemudian saya mulai merenung, mungkin ini cermin bagi saya, agar saya pun meraba diri. Seperti apakah saya di mata teman-teman saya. Dimanakah saya memposisikan diri saya dalam pertemanan. Apakah saya tipe teman yang menyebalkan? Sotoy? Songong? Tentu orang lain yang bisa menilai. Dan tentunya hati nurani. Karena setiap kejadian adalah pelajaran berharga. Bagi saya. Juga minimal untuk saya bekalkan kepada anak-anak saya..