Hari ini, adalah hari terakhir UAS, atau PAS, atau final exam, atau entah apalah namanya.. Rasanya setiap sekolah punya istilah sendiri untuk menyebutnya, atau tergantung kementerian pendidikan bagaimana menyebutnya. Biasanya ganti jajaran kementerian, ganti pula istilahnya. Seperti halnya dulu sistem catur wulan, ganti ke sistem semester. Ada pula istilah SMA diganti SMU, kemudian kembali lagi ke SMA.. hahaha entahlah, hanya untuk hal remeh temeh seperti ini pasti sudah menghabiskan anggaran milyaran. Biaya rapat, pengesahan, ganti kop surat, ganti stempel surat.. bla.. bla.. bla..
Mbuh wis... saya jadi oot kan..
Ok, dan urutan setelah UAS pastilah terima raport. Hari dimana saya berbahagia karena di hall sekolah banyak bazaar makanan dadakan, jadi hari itu saya tak perlu turun ke dapur memikirkan mau masak apa hehehe...
Hehe oot lagi dah.
Jadi begini, kilas baliknya adalah, ini tahun ke dua kami sekeluarga balik ke Indonesia, setelah beberapa lama tinggal di negara sebelah, mengikuti suami berdinas.
Sungguh, saya lupa bahwa di Indonesia ini budayanya adalah tiap rapotan, orang tua selalu (lebih banyak yang ‘iya’ daripada yang ‘tidak’) menjinjing bingkisan sebagai tanda terima kasih untuk guru/wali kelas. Setiap kali mau rapotan ritual saya adalah belanja untuk wali kelas anak-anak saya. Tidak ada paksaan, suka rela karena sudah tradisi dan orang tua lain pun melakukannya.
Nah, karena lupa tadi, saya jadi tampak aneh diantara ortu-ortu yang lain, karena tidak menjinjing sesuatu. Kejadian tahun lalu, dua kali rapot sisipan dan satu kali rapot semesteran saya lupa mempersiapkannya dan seketika langsung meluncur ke hall sekolah utk membeli sesuatu.
Saat rapotan kenaikan kelas, saya mengalarm kalender jauh-jauh hari agar ingat membeli souvenir .. hehe memang agak parah, sekian masa meninggalkan tradisi ini membuat saya nge-blank..
Saya mau nulis apa sih, kenapa alurnya kemana-mana begini 😁😁
Oh ok,
Saya hanya ingin bercerita, ketika tinggal di negara lain, sungguh tidak ada tradisi membawa hadiah untuk guru ketika hari rapotan tiba. Rapotan disana juga empat kali dalam setahun, karena satu tahun akademik terdiri dari empat term. Rapotan tidak dilaksanakan di kelas masing-masing anak, melainkan di multipurpose hall.
Tujuannya untuk mempermudah orang tua untuk bertemu kepala sekolah dan guru-guru mata pelajaran (karena semua guru memang hadir, dan duduk di kursi yang ada identitas/namanya) untuk berkonsultasi jika ada ketidak-puasan nilai atau bertanya apapun.
Di ruang luas dan terbuka seperti itu tentunya tidak lazim jika ada acara bagi-bagi tanda terima kasih dari siswa untuk guru. Tentu bisa mengundang lirikan penuh tanda tanya.
Lalu bagaimana jika siswa ingin mempersembahkan sesuatu untuk guru? Ada saatnya yang disebut Teachers’ day. Hari dimana guru mendapatkan reward dari siswa. Tidak melulu berupa barang. Bisa saja berbentuk sekuntum bunga, seikat bunga, surat cinta, atau sekedar disamperi untuk memberikan big hug dan ucapan thank you. Biasanya di event itu MC akan memanggil guru satu persatu ke atas panggung. Guru favorit akan mendapatkan tepuk tangan bergemuruh. Ketika turun panggung siswa menyambut dengan bunga demi bunga. Atau di meja si guru sudah bertumpuk hadiah. Mug, pulpen, frame, lukisan, syal dan semacamnya. Tidak jor-joran brand, melainkan lebih ke ekspresi perasaan. Semua guru akan mendapatkan hadiah. Yang membedakan, biasanya di meja guru favorit lebih penuh hadiah dibanding guru biasa. Dan rasanya gemuruh applause, bunga atau surat cinta ini akan memacu semangat guru untuk menjadi guru favorit.
Biasanya acara ini akan digabungkan dengan tema Children’s day, sehingga guru pun mempersiapkan hadiah atau goody bag untuk siswa. Bedanya, tidak ada children favorit disini, semua sama.
Saya yang pernah menghadiri acara itu, langsung ikutan trenyuh dalam euforia saling berbagi ini.
Sementara itu, dari sudut pandang yang berbeda, disini, setidaknya di beberapa sekolah tempat anak saya pernah belajar, tanda terima kasih untuk guru diserahkan saat rapotan dan begitu masif. Biasanya guru akan menyimpan kado-kado itu di bawah meja, sekitar kakinya.
Salah? Tidak sih, sejauh tidak ada larangan dari pihak sekolah. Kan orang tua juga ikhlas memberi.
Hanya sering kali saya melihat, guru yang menerima kado ini hanya sebatas wali kelas, guru mata pelajaran sering terlupakan. Sampai-sampai pada saat pulang sekolah, wali kelas kesulitan mengangkut barang-barang ini. Kemudian meminta tolong OB, padahal OB tak kebagian apapun. Bahkan abang ojek online pun menyerah mengangkut. Sampai pak bajaj lah yang menyambutnya.
Dan ini terjadi empat kali dalam setahun karena ada moment rapotan sebanyak empat kali.
Memang ada kepala sekolah mengeluarkan kebijakan kado dari murid harus dikumpulkan di ruang guru, untuk kemudian dibagi rata ke semua guru dan OB. Tapi yang tampak oleh saya, hanya cake dan makanan yang diberlakukan seperti itu, selebihnya, kado berupa barang tetap menjadi hak mutlak orang pertama penerima kado.
Ah sudahlah.. saya nulis apa sih.. sebuah kegelisahan hati saja ini mah.. sungguh saya tak ingin merubah apapun tentang tradisi ini, kuatirnya malah dikira menghalangi rizki sesama..
Hanya timbul sebersit harapan, atau bisa disebut khusnudhon, siapa tahu setelah si guru membawa pulang kado-kado ini, besoknya, setelah dipilih-pilih berdasarkan peringkat suka-tidak suka, perlu-tidak diperlukan ;) akan ada yang kembali ke sekolah untuk dibagi ke rekan kerja, atau OB yang membantu mengangkatnya....
Semoga 😉😉
Jakarta, 15 Desember 2018