Minggu, 23 Agustus 2015

Nurul Fikri Boarding School (1)..BELAJARLAH NAK...

     Di wall facebook saya ramai di penuhi  status-status penuh kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang tahun ini merupakan tahun pertamanya masuk ke sekolah berlatar boarding. Sekolah yang dilengkapi dengan asrama sehingga murid tidak harus pulang ke rumah selepas jam belajar.
     Kerinduan semacam ini, sungguh pernah saya rasakan.. I can feel it, I know it sooo well.. Itu makanya kembali saya cari tulisan saya tentang ini di file-file lama. Tulisan yang pada awalnya saya buat untuk meramaikan sekumpulan tulisan senada dari para orang tua murid Nurul Fikri Boarding school Serang, menjelang kelulusan putra-putra kami, sebagai semacam... katakanlah Buku Tahunan, yang diprakarsa oleh MOCO, salah satu sosmed yang berbasis kegiatan membaca.

     Berikut tulisan saya


Dari Pondok Bambu Menuju Cinangka



**Komputer menyala à Buka website NFBS à Klik pendaftaran online .. dengan ucapan basmalah,  jadilah kami mendaftarkan Zaidan, si anak sulung di sekolah ini**


            Hari-hari setelah pengumuman ananda diterima adalah hari-hari dengan semangat baru. Menjahit baju seragam, berbelanja semua keperluan untuk di asrama. Memberi nama barang-barang pribadi agar tidak tertukar dengan santri lain adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sejumlah nasehat-nasehat pendek tak lupa kami selipkan sebagai pembekalan hidup berdampingan dengan teman-teman baru  dengan latar belakang yang berbeda, dimana mereka akan berinteraksi sejak bangun tidur sampai kembali beranjak tidur, pastilah akan jauh lebih kompleks dibanding pertemanan di sekolah biasa.

Dan hari keberangkatan pun tiba. Satu persatu mulai dari koper, container plastik, ember, buku dan semua barang yang wajib dibawa mulai ditata rapi di mobil. Diiringi perasaan yang susah diungkapkan, sungguh campur aduk. Antara khawatir seperti apa lingkungannya kelak, senang karena satu jenjang pendidikan mulai ditapaki, sedih melepas anak jauh dari dekapan, dan entah perasaan apalagi. Sempat melirik ananda sekilas, mencoba mencari tahu apakah yang tersembunyi dihatinya.. hhmm sepertinya dia fine-fine saja. Ok, saya pun mulai mencoba menekan semua perasaan sedih, tak ingin menularkan aura biru kepadanya.

            Pukul 9 pagi. Suasana asrama belum ramai betul. Asrama Usman Bin Affan namanya. Menuju ke kamar yang telah ditentukan, dengan susunan tempat tidur bersusun, ananda memilih tempat tidur yang diatas. Beberapa santri baru yang lebih dahulu hadir tampak mulai membuka dan menata baju kedalam lemari yang telah disediakan. Bersalaman dengan beberapa bunda membuat saya merasa bahwa saya tak sendirian melepas ananda. ... ahh.. sayapun menghela nafas panjang ...betapa susahnya menepis sepi yang tiba-tiba menghampiri, padahal perpisahanpun pun belum terjadi..

            Tapi sosok Wali Asrama itu, ustadz Kholisul Ibad namanya, cukup menentramkan saya. Disebuah ruangan kami, para orang tua santri baru dan wali asrama berkumpul. Saling berkenalan dan membahas beberapa tata tertib di asrama. Beragam ekspresi orang tua sengaja saya amati. Sekedar mencari teman, adakah yang berperasaan campur aduk seperti saya. Diujung sana, seorang bapak berkemeja putih tak henti menyusut hidungnya dengan selembar saputangan. Di sebelahnya dua orang bapak berjabat tangan, berbincang pelan dan melempar senyum. Di dekat jendela, seorang ibu berwajah gelisah meremas tangan untuk yang kesekian kalinya. Berdekatan dengannya, duduk seorang ibu yang sibuk mencatat penjelasan dari wali asrama. Beragam bahasa tubuh pun cukup mewakili apa yang tersimpan dalam dada.

Mencoba mengakhiri penjelajahan mata, saya bersalaman dengan ibu disebelah saya. Bertukar sedikit cerita, kemudian mencoba fokus kepada apa yang dipaparkan wali asrama. Sungguh tak ada yang nyangkut dikepala saya, selain pengumuman bahwa selama masa adaptasi orang tua boleh menjenguk santri seminggu sekali. Pengumuman yang seakan hembusan angin sejuk pengobat rindu yang sudah terbayang disudut kalbu.

            Sesi pertemuan telah berakhir. Mulai terdengar tangisan disana-sini dari beberapa santri baru, tak ingin orangtuanya pergi. Kamipun harus berpamitan dengan ananda. Menguatkan hati.. menguatkan hati.. menguatkan hati.. hanya itu yang saya lakukan. Saya tak ingin tampak bersedih dihadapan ananda. Tapi.. kenapa tak ada kata-kata yang mampu saya ucapkan. Hanya janji bahwa minggu depan kami akan datang kembali...Alhamdulillah, meski ada kilatan sedih dimata ananda, saya tak melihat dia meneteskan air mata. Dan itu adalah semangat baru bagi kami untuk saling merelakan.

            Tapi rupanya perjuangan sesungguhnya untuk saling merelakan bermula dari minggu ke minggu berikutnya, ketika kami mengunjunginya. Air mata ananda selalu mewarnai menit-menit terakhir kunjungan. Berpesan agar tak lupa berkunjung minggu depan ataupun sengaja mengulur-ulur waktu agar kami tak pulang. Hal ini sempat membuat saya goyah antara berjuang atau menyerah. Terlebih ketika selang dua bulan kemudian, ketika menjelang lebaran sekolah diliburkan, merasakan kembali indahnya berkumpul dirumah. Mendengar kembali keributan-keributan kecil kakak-beradik. Sungguh keputusan yang sulit untuk diambil.

            Lagi-lagi sikap wali asrama yang kebapakan lah yang menguatkan saya  (Terima kasih ustadz Kholis). Kami –saya dan ananda- harus sama-sama belajar mendewasakan diri dengan situasi baru ini. Terlebih ananda tidak ada masalah dengan teman-teman barunya. Tidak ada masalah dengan guru-gurunya. Tidak ada kejadian yang mengganggu. Jadi saya anggap ini hanyalah masalah hati. Hati yang belum rela untuk saling berjauhan. Jika kuncinya hanyalah hati maka kemana lagi saya akan mengadu selain kepada Sang Pemilik Hati, Sang Maha Pembolak-balik Hati, untuk menguatkan hati saya mengantar ananda menuntut ilmu.

Semoga, nak, perjuangan kita tiga tahun saling berjauhan adalah langkah awal menempa hidupmu menuju arah yang lebih baik..


Kuala Lumpur , 23 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar