Kerinduan semacam ini, sungguh pernah saya rasakan.. I can feel it, I know it sooo well.. Itu makanya kembali saya cari tulisan saya tentang ini di file-file lama. Tulisan yang pada awalnya saya buat untuk meramaikan sekumpulan tulisan senada dari para orang tua murid Nurul Fikri Boarding school Serang, menjelang kelulusan putra-putra kami, sebagai semacam... katakanlah Buku Tahunan, yang diprakarsa oleh MOCO, salah satu sosmed yang berbasis kegiatan membaca.
Berikut tulisan saya
Dari Pondok Bambu Menuju Cinangka
**Komputer menyala à
Buka website NFBS à
Klik pendaftaran online .. dengan ucapan basmalah, jadilah kami mendaftarkan Zaidan, si anak
sulung di sekolah ini**
Hari-hari setelah pengumuman ananda diterima adalah hari-hari
dengan semangat baru. Menjahit baju seragam, berbelanja semua keperluan untuk
di asrama. Memberi nama barang-barang pribadi agar tidak tertukar dengan santri
lain adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sejumlah nasehat-nasehat pendek
tak lupa kami selipkan sebagai pembekalan hidup berdampingan dengan teman-teman
baru dengan latar belakang yang berbeda,
dimana mereka akan berinteraksi sejak bangun tidur sampai kembali beranjak
tidur, pastilah akan jauh lebih kompleks dibanding pertemanan di sekolah biasa.
Dan
hari keberangkatan pun tiba. Satu persatu mulai dari koper, container plastik,
ember, buku dan semua barang yang wajib dibawa mulai ditata rapi di mobil. Diiringi
perasaan yang susah diungkapkan, sungguh campur aduk. Antara khawatir seperti
apa lingkungannya kelak, senang karena satu jenjang pendidikan mulai ditapaki,
sedih melepas anak jauh dari dekapan, dan entah perasaan apalagi. Sempat
melirik ananda sekilas, mencoba mencari tahu apakah yang tersembunyi
dihatinya.. hhmm sepertinya dia fine-fine saja. Ok, saya pun mulai mencoba
menekan semua perasaan sedih, tak ingin menularkan aura biru kepadanya.
Pukul 9
pagi. Suasana asrama belum ramai betul. Asrama Usman Bin Affan namanya. Menuju
ke kamar yang telah ditentukan, dengan susunan tempat tidur bersusun, ananda
memilih tempat tidur yang diatas. Beberapa santri baru yang lebih dahulu hadir
tampak mulai membuka dan menata baju kedalam lemari yang telah disediakan.
Bersalaman dengan beberapa bunda membuat saya merasa bahwa saya tak sendirian
melepas ananda. ... ahh.. sayapun menghela nafas panjang ...betapa susahnya
menepis sepi yang tiba-tiba menghampiri, padahal perpisahanpun pun belum
terjadi..
Tapi
sosok Wali Asrama itu, ustadz Kholisul Ibad namanya, cukup menentramkan saya.
Disebuah ruangan kami, para orang tua santri baru dan wali asrama berkumpul.
Saling berkenalan dan membahas beberapa tata tertib di asrama. Beragam ekspresi
orang tua sengaja saya amati. Sekedar mencari teman, adakah yang berperasaan
campur aduk seperti saya. Diujung sana, seorang bapak berkemeja putih tak henti
menyusut hidungnya dengan selembar saputangan. Di sebelahnya dua orang bapak
berjabat tangan, berbincang pelan dan melempar senyum. Di dekat jendela,
seorang ibu berwajah gelisah meremas tangan untuk yang kesekian kalinya.
Berdekatan dengannya, duduk seorang ibu yang sibuk mencatat penjelasan dari
wali asrama. Beragam bahasa tubuh pun cukup mewakili apa yang tersimpan dalam
dada.
Mencoba mengakhiri
penjelajahan mata, saya bersalaman dengan ibu disebelah saya. Bertukar sedikit
cerita, kemudian mencoba fokus kepada apa yang dipaparkan wali asrama. Sungguh
tak ada yang nyangkut dikepala saya, selain pengumuman bahwa selama masa
adaptasi orang tua boleh menjenguk santri seminggu sekali. Pengumuman yang
seakan hembusan angin sejuk pengobat rindu yang sudah terbayang disudut kalbu.
Sesi
pertemuan telah berakhir. Mulai terdengar tangisan disana-sini dari beberapa
santri baru, tak ingin orangtuanya pergi. Kamipun harus berpamitan dengan
ananda. Menguatkan hati.. menguatkan hati.. menguatkan hati.. hanya itu yang
saya lakukan. Saya tak ingin tampak bersedih dihadapan ananda. Tapi.. kenapa
tak ada kata-kata yang mampu saya ucapkan. Hanya janji bahwa minggu depan kami
akan datang kembali...Alhamdulillah, meski ada kilatan sedih dimata ananda,
saya tak melihat dia meneteskan air mata. Dan itu adalah semangat baru bagi
kami untuk saling merelakan.
Tapi
rupanya perjuangan sesungguhnya untuk saling merelakan bermula dari minggu ke
minggu berikutnya, ketika kami mengunjunginya. Air mata ananda selalu mewarnai
menit-menit terakhir kunjungan. Berpesan agar tak lupa berkunjung minggu depan
ataupun sengaja mengulur-ulur waktu agar kami tak pulang. Hal ini sempat
membuat saya goyah antara berjuang atau menyerah. Terlebih ketika selang dua
bulan kemudian, ketika menjelang lebaran sekolah diliburkan, merasakan kembali
indahnya berkumpul dirumah. Mendengar kembali keributan-keributan kecil kakak-beradik.
Sungguh keputusan yang sulit untuk diambil.
Lagi-lagi
sikap wali asrama yang kebapakan lah yang menguatkan saya (Terima kasih ustadz Kholis). Kami –saya dan
ananda- harus sama-sama belajar mendewasakan diri dengan situasi baru ini.
Terlebih ananda tidak ada masalah dengan teman-teman barunya. Tidak ada masalah
dengan guru-gurunya. Tidak ada kejadian yang mengganggu. Jadi saya anggap ini
hanyalah masalah hati. Hati yang belum rela untuk saling berjauhan. Jika
kuncinya hanyalah hati maka kemana lagi saya akan mengadu selain kepada Sang
Pemilik Hati, Sang Maha Pembolak-balik Hati, untuk menguatkan hati saya
mengantar ananda menuntut ilmu.
Semoga, nak, perjuangan kita tiga tahun saling berjauhan
adalah langkah awal menempa hidupmu menuju arah yang lebih baik..
Kuala Lumpur , 23 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar