Sabtu, 05 Maret 2016

GPS, Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan

Sebagai pengguna jalan aktif, menguasai rute adalah keharusan. Termasuk estimasi waktu, berapa lama akan sampai tujuan jika jalanan lancar dan di titik-titik mana akan ada kemacetan. Atau kemanakah harus mencari jalur alternatif jika jalur utama ada kejadian yang tidak diharapkan, seperti jalan ditutup karena ada perbaikan atau kecelakaan atau cleaning area karena pejabat VIP akan melintas.

Dulu di Jakarta, jika bepergian, tugas saya adalah duduk manis di kursi co-driver. Mengingatkan harus belok ke kiri atau ke kanan kepada suami yang kadang sering lupa arah jalur terpendek untuk menuju ke suatu tujuan. Jika akan ke lokasi yang sama sekali asing, beberapa saat sebelum berangkat, tugas saya adalah membuka dan menandai halaman buku peta seukuran A4 (atau folio ya?) karya pak Gunther W. Holtorf. Buku tebal berisi peta Jakarta dan Jabodetabek berwarna biru-kuning dengan sampul bergambar tugu Monas. Sepanjang perjalanan buku ini akan berada dipangkuan saya sebagai penunjuk arah kepada suami saya. Navigator gitu pura-puranya...

Sayangnya, meski ada keunggulannya (misalnya bisa dibentangkan untuk acuan luas wilayah secara visual) peta tradisional seperti ini kadang menimbulkan kebingungan jika tiba-tiba jalanan sedang ada hambatan dan kita harus memutuskan untuk ambil jalan alternatif. Juga, peta ini tidak memberi petunjuk kepada kita berapa lama perkiraan waktu tempuh, apakah jalan di depan akan macet, ada kecelakaan dan sebagainya. Jadi... kita jalan saja. Yang akan terjadi.. terjadilah..

Tapi, Alhamdulillah... thanks to technology.. jaman sekarang sudah ada peta berbasis Global Positioning System (GPS), sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan sinyal satelit. Sinyal ini akan menentukan letak benda, kecepatan benda (jika benda itu bergerak), arah, dan waktu.

Maka saya tak lagi memangku buku besar ratusan halaman milik Om Gunther. Tak lagi menandai halaman berapa lokasi yang akan saya tuju. Tak lagi mengarahkan telunjuk ke ruas demi ruas jalan yang tertera dalam buku. Maafkan saya Om, bukannya habis manis sepah dibuang. Bukannya saya tak lagi setia padamu. Tapi karena arah jaman menuntut saya memilih untuk yang lebih praktis. Memang cinta harus berpaling...

Beralihlah saya melabuhkan cinta ke GPS bawaan produsen mobil yang saya kendarai, yang sudah terinstall dan bisa saya lihat melalui monitor kecil disebelah kemudi. Awal mula menggunakan GPS ini saya terkagum-kagum karena merasa banyak kemudahan dibanding peta tradisional. Sampai kemudian saya merasa  terganggu karena mbak-mbak pemandunya berisik minta ampun. Instruksi "Turn left" atau "Turn right" diucapkan berkali-kali seakan ada kekuatiran saya akan membangkang titahnya hahaha... Belum lagi jika saya akan melintasi outlet merk mobil ini. Dia akan bilang : 
"Blablabla (dia menyebut merk mobil) outlet in 200 meters".
Belum lagi ternyata dia tak mampu mencari rute terpendek. Atau bahkan tak mampu mencari lokasi yang saya maksud karena direktori si dia memakai nama yang berbeda dengan pencarian saya. Misalnya saya mengetik "Taman Layang-layang" di menu ‘Umum’ tak pernah ketemu karena dia menyimpan di menu ‘Yellow Page’. Atau Ampang Puteri Hospital, tak pernah ketemu karena dia menyimpan di menu ‘office’.
Lagi-lagi saya mulai ingin berpaling...

Rasa lelah mulai hadir ketika mengantar anak study group ke rumah temannya, si mbak memberi arah yang tak disangka-sangka. Betul, saya diarahkan ke alamat yang dituju, tapi bukan pintu gerbang apartemen yang saya temui, melainkan tembok belakang apartemen yang buntu dan menjulang tinggi sambil berkata "This is your final destination".
Maksud lo, saya harus manjat?
Ah.. hati kami tak sama, rasa kami tak sama. Mungkin hubungan ini harus disudahi..

Kemudian saya bertemu dan berkenalan dengan pengganti Om GPS bawaan produsen monil ini. Om Waze namanya. Dengan sekali sentuh ujung jari, selesai sudah proses install aplikasi ini di ponsel saya. Tampak lebih mudah dan menyenangkan. Saya bisa memilih profil saya. Memilih icon sesuai mood, memilih tampilan gambar dan warna mobil, mendapat poin jika report kejadian di jalan raya, sampai mendapat hadiah permen jika sudah melalui kilometer tertentu. Ada petunjuk jika jalanan macet bahkan ada petunjuk jika didepan ada pak polisi. Seperti layaknya game saja.
Saya senang, anak-anak pun senang karena bisa utak-atik tampilan.

Dan kemudian.. terjadi lagi...
Si Om Waze ini paling suka ngajakin masuk tol. Mungkin dia males repot kasih petunjuk kiri kanan. Inginnya lurus-lurus saja. Saya masih memakluminya. Toh jika tidak dituruti dia akan recalculate alternatif rute yang lain. Meski kadang maksa banget untuk mmengambil u-turn dan balik masuk tol yang tadi.
Ulah lain yang aneh adalah doi sering memberi rute yang berbeda pada saat pulang. Pergi lewat jalan A, eh pulang diajak lewat jalan B, yang kadang malah berputar. Yang ini juga seringkali tidak saya turuti. Saya tinggal mencontek saja jalan pada saat keberangkatan tadi. Biasanya masih hafal, asal jangan ribet-ribet amat.
Nah yang kebangetan pernah di negara lain, sebagai seorang foreigner, dialah andalan utama. Contohnya ketika mencari Big Budha di Phuket, entah apa yang ada di pikirannya, doi malah mengarahkan saya ke sebuah perumahan eksklusif. Tentu saja security guard kebingungan pas saya menyebutkan dimana Big Budha..
Atau pada saat mencari suatu arena permainan anak-anak, eh malah diantar ke sasana Muaythai (mungkin si om tahu saya ingin langsing). Juga ketika mencari halal food resto, dia berputar-putar tak tentu arah. Aahh dia mengkhianati saya.

Ternyata dia tak mampu menjaga kepercayaan yang terlanjur saya beri. Saya terlalu percaya padanya.. Memang harusnya saya hanya percaya kepada Allah SWT saja.. :)



Note :
Tapi entah mengapa  aplikasi Waze masih anteng di ponsel saya. Saya masih membukanya ketika membutuhkan.
Entah mengapa saya masih setia padanya meski cinta yang terlanjur saya jatuhkan ternyata bertepuk sebelah tangan.