Fenomena UN mulai SD hingga SMA, di bulan-bulan ini sedang berlangsung. Malahan jenjang SMA sudah pengumuman kelulusan. Ritmenya selalu sama, setelah euforia ketegangan UN terlewati, menanti ketegangan pengumuman kelulusan. Menyusul kemudian ketegangan : setelah ini akan melanjutkan sekolah kemanakah?
Saya sudah lupa rasanya ketegangan-ketegangan seperti ini karena jaman saya dulu masih jaman EBTANAS 😀.
Tapi saya ikut merasakan ketegangan itu ketika anak saya akan menjalani UN. Ketegangan yang mungkin melebihi si pelaku UN. Apalagi ditambah dengan drama-drama dari pihak sekolah semacam istighosah atau permintaan maaf siswa kepada orang tua yang dilakukan secara massal, menularkan aura menangis bersama, sampai orang tua dihadirkan ke sekolah khusus untuk mensukseskan acara ini.
Ok, by the way saya sedang tidak dalam topik menulis tentang UN. Ini sudah kebijakan pemerintah yang meskipun banyak praktisi pendidikan yang mengkritisi, toh tetap saja UN berlangsung dengan lagu yang sama setiap tahun.
Yang ini sih tentang ujian kejar paket A, B dan C.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita disebuah portal berita online tentang seorang publik figur yang sedang dibully fans nya karena mengikuti ujian kejar paket C. Macam-macam anggapan dari masyarakat mulai dari dianggap gak lulus dan ikut ujian susulan versi paket C, dianggep anak bodoh, dianggep cari gampangnya biar lulus dan segambreng anggapan negatif lainnya.
Sampai kasihan saya dibuatnya.
Rupanya terbuka luasnya informasi dan berita belum diikuti dengan tingginya minat baca kita. Jika kita terbiasa mencari tahu lebih dalam suatu topik sebelum berpendapat mungkin pendapat kita akan lebih berisi.
Sejatinya Ujian kejar paket bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang terlambat sekolah, atau kesempatan kedua bagi peserta ujian yang tidak lulus, atau beberapa anggapan negatif lainnya.
Ujian kejar paket bisa ditempuh bagi mereka yang mengikuti program homeschooling (nah, kalau disebut kata homeschooling mayoritas dari kita
masih beranggapan negatif juga nih : kurang pinter lah, artis sok sibuk lah, dan lain sebagainya ---> mungkin karena pada dasarnya berasumsi negatif itu lebih memuaskan ego ya dibanding dengan yang positif-positif).
Homeschooling biasanya menjadi pilihan untuk anak-anak yang ingin fokus ke pelajaran inti yang diminati saja, yang ingin digali lebih dalam sehingga waktu belajar lebih maksimal.
Atau untuk atlet yang jam belajarnya sering bentrok dengan jadwal pertandingan sehingga bisa memanage waktu belajar lebih baik.
Atau anak-anak yang mengikuti orang tuanya bekerja di luar negeri. Jika masa kerja di luar negeri telah berakhir dan harus kembali ke tanah air bertepatan dengan tahun terakhir jenjang pendidikan, kelas 3 SMA misalnya, homeschooling adalah salah satu pilihan.
Ini dialami oleh seorang teman karena SMA yang dituju menolak menerima siswa pindahan kelas 3 dengan alasan sudah terlambat untuk mendaftarkan ke diknas menjadi peserta UN. Tentunya menjadi poin keuntungan bagi si teman, karena dia bisa geber belajar materi SMA lebih fokus ke mata pelajaran UN dan SBMPTN.
Kembali ke topik kejar paket. Ujian kejar paket adalah pilihan yang diambil oleh anak-anak kami yang bersekolah di luar negeri dengan kurikulum selain diknas, jika akan kembali dan bersekolah di Indonesia.
Ada dua pilihan mendapatkan ijazah sebelum melanjutkan sekolah ke Indonesia. Penyetaraan ijazah atau mengikuti ujian kejar paket.
Penyetaraan ijazah ini lebih simple. Kita tinggal scan semua rapor, hasil ujian kelulusan dan leaving certivicate yang diperoleh dari sekolah di asal ke Kementerian Pendidikan Nasional, secara online. Setelah mengikuti proses demi proses, pada saat yang ditentukan selembar kertas berisi keterangan bahwa si murid telah menyelesaikan pendidikan setara SD atau SMP atau SMA telah siap kita ambil dari kantor kementerian, sambil membawa semua dokumen asli untuk verifikasi.
Anak saya menempuh jalur ini setelah selesai ujian Chambridge Primary Checkpoint (setingkat SD) tahun 2015 lalu. Sebagai pegangan jika sewaktu-waktu kami kembali ke Indonesia ijazah penyetaraan sudah siap ditangan.
Sayangnya sekolah di Indonesia berbeda pendapat tentang ijazah penyetaraan ini, beberapa sekolah tetap saklek maunya hanya menerima siswa yang punya ijazah versi diknas. Sayapun tidak mengerti kenapa ada dualisme peraturan seperti ini di kalangan sekolah.
Mau tidak mau, jika sekolah menghendaki ijazah diknas, ya siswa harus ikut ujian kejar paket, masa iya mau mengulang jenjang pendidikan kembali. Balik SD? Balik SMP atau SMA? Pasti tidak ya 😄.
Ujian kejar paket ini dilaksanakan di Sekolah Indonesia di luar negeri. Otomatis siswa harus belajar mandiri materi-materinya karena perbedaan kurikulum.
Lebih berat memang, karena selain mengikuti ujian versi sekolah lain, dalam waktu yang berdekatan juga mengikuti UN versi diknas. Belajar dobel. Misalnya selain mengincar nilai A straight di sekolah internasional, siswa juga mengincar nilai kelulusan UN.
Seorang teman yang tugasnya telah selesai dan harus kembali ke tanah air, mengikutkan anaknya ke program kejar paket ini karena sekolah incaran di tanah air hanya menerima ijazah versi diknas. Jangan ragukan kualitas kelulusannya. Karena tingkat kesulitan dan variasi model soal sama persis dengan ujian UN biasa.
Nah, semoga sedikit tulisan ini bisa mengubah anggapan bahwa ujian kejar paket bukanlah hal yang identik dengan hal-hal negatif.