Rabu, 25 Mei 2016

Program Kejar Paket

Fenomena UN mulai SD hingga SMA, di bulan-bulan ini sedang berlangsung. Malahan jenjang SMA sudah pengumuman kelulusan. Ritmenya selalu sama, setelah euforia ketegangan UN terlewati, menanti ketegangan pengumuman kelulusan. Menyusul kemudian ketegangan : setelah ini akan melanjutkan sekolah kemanakah?

Saya sudah lupa rasanya ketegangan-ketegangan seperti ini karena jaman saya dulu masih jaman EBTANAS 😀.
Tapi saya ikut merasakan ketegangan itu ketika anak saya akan menjalani UN. Ketegangan yang mungkin melebihi si pelaku UN. Apalagi ditambah dengan drama-drama dari pihak sekolah semacam istighosah atau permintaan maaf siswa kepada orang tua yang dilakukan secara massal, menularkan aura menangis bersama, sampai orang tua dihadirkan ke sekolah khusus untuk mensukseskan acara ini.

Ok, by the way saya sedang tidak dalam topik menulis tentang UN. Ini sudah kebijakan pemerintah yang meskipun banyak praktisi pendidikan yang mengkritisi, toh tetap saja UN berlangsung dengan lagu yang sama setiap tahun. 

Yang ini sih tentang ujian kejar paket A, B dan C.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita disebuah portal berita online tentang seorang publik figur yang sedang dibully fans nya karena mengikuti ujian kejar paket C. Macam-macam anggapan dari masyarakat mulai dari dianggap gak lulus dan ikut ujian susulan versi paket C, dianggep anak bodoh, dianggep cari gampangnya biar lulus dan segambreng anggapan negatif lainnya.

Sampai kasihan saya dibuatnya.

Rupanya terbuka luasnya informasi dan berita belum diikuti dengan tingginya  minat baca kita. Jika kita terbiasa mencari tahu lebih dalam suatu topik sebelum berpendapat mungkin pendapat kita akan lebih berisi.

Sejatinya Ujian kejar paket bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang terlambat sekolah, atau kesempatan kedua bagi peserta ujian yang tidak lulus, atau beberapa anggapan negatif lainnya.

Ujian kejar paket bisa ditempuh bagi mereka yang mengikuti program homeschooling (nah, kalau disebut kata homeschooling mayoritas dari kita 
masih beranggapan negatif juga nih : kurang pinter lah, artis sok sibuk lah, dan lain sebagainya ---> mungkin karena pada dasarnya berasumsi negatif itu lebih memuaskan ego ya dibanding dengan yang positif-positif).

Homeschooling biasanya menjadi pilihan untuk anak-anak yang ingin fokus ke pelajaran inti yang diminati saja, yang ingin digali lebih dalam sehingga waktu belajar lebih maksimal.
Atau untuk atlet yang jam belajarnya sering bentrok dengan jadwal pertandingan sehingga bisa memanage waktu belajar lebih baik.
Atau anak-anak yang mengikuti orang tuanya bekerja di luar negeri. Jika masa kerja di luar negeri telah berakhir dan harus kembali ke tanah air bertepatan dengan tahun terakhir jenjang pendidikan, kelas 3 SMA misalnya, homeschooling adalah salah satu pilihan. 
Ini dialami oleh seorang teman karena SMA yang dituju menolak menerima siswa pindahan kelas 3 dengan alasan sudah terlambat untuk mendaftarkan ke diknas menjadi peserta UN. Tentunya menjadi poin keuntungan bagi si teman, karena dia bisa geber belajar materi SMA lebih fokus ke mata pelajaran UN dan SBMPTN.

Kembali ke topik kejar paket. Ujian kejar paket adalah pilihan yang diambil oleh anak-anak kami yang bersekolah di luar negeri dengan kurikulum selain diknas, jika akan kembali dan bersekolah di Indonesia.

Ada dua pilihan mendapatkan ijazah sebelum melanjutkan sekolah ke Indonesia. Penyetaraan ijazah atau mengikuti ujian kejar paket.

Penyetaraan ijazah ini lebih simple. Kita tinggal scan semua rapor, hasil ujian kelulusan dan leaving certivicate yang diperoleh dari sekolah di asal ke Kementerian Pendidikan Nasional, secara online. Setelah mengikuti proses demi proses, pada saat yang ditentukan selembar kertas berisi keterangan bahwa si murid telah menyelesaikan pendidikan setara SD atau SMP atau SMA telah siap kita ambil dari kantor kementerian, sambil membawa semua dokumen asli untuk verifikasi.
Anak saya menempuh jalur ini setelah selesai  ujian Chambridge Primary Checkpoint (setingkat SD) tahun 2015 lalu. Sebagai pegangan jika sewaktu-waktu kami kembali ke Indonesia ijazah penyetaraan sudah siap ditangan.
 
Sayangnya sekolah di Indonesia berbeda pendapat tentang ijazah penyetaraan ini, beberapa sekolah tetap saklek maunya hanya menerima siswa yang punya ijazah versi diknas. Sayapun tidak mengerti kenapa ada dualisme peraturan seperti ini di kalangan sekolah. 
Mau tidak mau, jika sekolah menghendaki ijazah diknas, ya siswa harus ikut ujian kejar paket, masa iya mau mengulang jenjang pendidikan kembali. Balik SD? Balik SMP atau SMA? Pasti tidak ya 😄.
Ujian kejar paket ini dilaksanakan di Sekolah Indonesia di luar negeri. Otomatis siswa harus belajar mandiri materi-materinya karena perbedaan kurikulum.
Lebih berat memang, karena selain mengikuti ujian versi sekolah lain, dalam waktu yang berdekatan juga mengikuti UN versi diknas. Belajar dobel. Misalnya selain mengincar nilai A straight di sekolah internasional, siswa juga mengincar nilai kelulusan UN. 
Seorang teman yang tugasnya telah selesai dan harus kembali ke tanah air, mengikutkan anaknya ke program kejar paket ini karena sekolah incaran di tanah air hanya menerima ijazah versi diknas. Jangan ragukan kualitas kelulusannya. Karena tingkat kesulitan dan variasi model soal sama persis dengan ujian UN biasa.

Nah, semoga sedikit tulisan ini bisa mengubah anggapan bahwa ujian kejar paket bukanlah hal yang identik dengan hal-hal negatif.




Sabtu, 21 Mei 2016

Here, Around Kuala Lumpur

Time flies, empat tahun sudah saya menetap di kota ini. Pusat bisnis Malaysia. Tinggal di sebuah apartemen adalah hal yang baru buat saya dan keluarga. Dulu, semasa tinggal di Jakarta, jauh dari angan saya. Tak terbayang rasanya saya harus berbagi lift dengan orang lain (selain di area publik seperti di mall atau rumah sakit). Berbagi koridor atau berbagi parking area pun tak pernah terlintas. Tinggal di apartemen, saya bayangkan saya tak akan memiliki halaman rumah. Padahal rumah saya di Jakarta pun tak memiliki halaman. Hari gini, jarang sekali kan melihat rumah di perkotaan yang ada halaman depan atau belakang. Teras iya, carport iya. Tapi halaman? Hanya sekian kecil persen yang memilikinya. Sesuatu yang mewah menurut saya. Tapi perlahan disini saya mulai terbiasa. Ada untungnya tinggal di lantai 20. Bebas lalat, nyamuk dan kecoak. Jika jadwal mingguan fogging anti nyamuk demam berdarah sedang berlangsung, aroma fogging tidak terhirup sampai ke lantai rumah saya.

Apartemen ini berada sekitar 10 menit perjalanan dari Twin Tower, icon Malaysia yang melegenda itu. Cukup strategis. Lokasinya yang berhadapan dengan station LRT menambah kemudahan mobilitas kami. 

Banyak hal-hal baru saya dapatkan dari living society disini, yang tentunya sebagai pendatang, harus kami adaptasi. Tentunya yang baik-baik lah yang kami adaptasi. Karena pesan ibu saya kemanapun kami merantau : dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Beruntung meskipun Malaysia adalah negara asing, tapi jarak yang hanya sepelemparan batu dari negara kita membuat banyak kesamaan yang kadang saya merasa saya tidak tinggal di luar negeri. Ditambah lagi, negara kita dan negara ini adalah serumpun, mempunyai akar yang sama dalam lingkaran Nusantara yang dicetuskan sejak jaman Majapahit dahulu (bahkan ada yang menyebutkan sejak jaman Kertanegara sekitar setengah abad sebelum Majapahit).

Makanan dan jajanan adalah salah satu dari beberapa kesamaan. Rendang, kue lapis, kari adalah beberapa diantaranya yang rasanya sama persis. Makanan lain biasanya punya rasa yang sama tetapi nama yang berbeda. Seperti kue kelepon, disini disebut kue malaka. Bukan masalah besar dalam hal makanan jika kita berlibur kesini.

Sebagai muslim, saya merasakan banyak kemudahan di negara ini, makanan berlabel halal resmi pemerintah (Jakim- Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) mudah saya temui disini. Kemudahan melaksanakan sholat juga tak diragukan lagi meskipun kita sedang berada di area publik. Di terminal, stasiun LRT, bandara, sampai mall, semuanya tersedia dalam kondisi layak dan berpendingin ruangan. Terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan, tempat wudhu pun tertutup. Tak heran Malaysia masuk dalam daftar salah satu negara yang ramah untuk turis muslim. 

Ada kesan tersendiri bagi saya dalam kehidupan sosial di negara ini. Untuk suku Melayu, tidak ada budaya bersalaman/ berjabat tangan dengan lawan jenis. Saya tidak pernah bertanya mengapa, tapi dugaan saya karena mayoritas para Melayu disini beragama Islam, yang notabene melarang lawan jenis bersentuhan. Dan itu mereka patuhi. Berkenalan atau bertemu lawan jenis, hanya menganggukkan kepala atau tersenyum.
Begitu saja.
Berbeda dengan kita di Indonesia, jika kita tidak berkenan bersalaman dengan lawan jenis, kita masih berbasa basi dengan menangkupkan  tangan di dada. Itupun masih dualisme, tidak bersalaman di lingkungan silaturahim atau taklim tapi bersalaman di lingkungan kantor atau teman lama... Hehehe...

Seperti halnya di Indonesia, ada budaya cium pipi sesama wanita disini. Kiri- kanan- kiri. Atau kanan- kiri- kanan.
Ya, tiga kali. 
Dan itu sudah pula kami adaptasi. Pertama kali memang agak kikuk karena terbiasa cipika cipiki dua kali. Biasanya yang ketiga sering saya lewatkan alias cipika teman terabaikan tak bersambut. Tapi lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan ritual tiga kali ini. Bahkan kadang jika mudik ke tanah air kebiasaan ini ikut terbawa, dan gantian cipika ketiga saya yang tak bersambut huehehehe...

Memang Allah SWT menciptakan manusia dalam beragam suku dan bangsa. Hanya dengan membandingkan hal-hal kecil seperti ini saja sudah membuat kita merasa kaya. Kaya ragam budaya. Agar bisa mempelajari dan saling mengambil hal-hal positif didalamnya.




Minggu, 08 Mei 2016

Lingkunganmu, Karaktermu...

Seringkali kita mendengar ungkapan bijak yang bunyinya: 
"Berkumpullah dengan orang-orang baik agar kau pun menjadi baik" .
Atau,
"Jika kau ingin tahu siapa dirimu, lihatlah dengan siapa dirimu berteman".

Karakter seseorang berubah-ubah. Berkembang sesuai perkembangan usia. Pada masa kanak-kanak karakter terbentuk dari lingkaran terdekat, yaitu keluarga. Nilai dan kebiasaan yang berlaku di sebuah keluarga akan tertanam dan mewarnai perilaku si anak.
Itu sebabnya sangat penting mewarnai rumah dengan karakter positif untuk tumbuh kembang anak-anak. Agama dan akhlak adalah poin penting sebagai pondasi dalam pembentukan karakter. Maka adalah wajib bagi orang tua memberi contoh dengan akhlak dalam mendidik, karena anak hanya perlu contoh, bukan sekedar omongan.

Semakin bertambah usia, karakter seseorang akan terbentuk, selain dari keluarga, juga dari lingkungan. Bahkan akan ada satu titik dimana dalam 24 jam anak akan lebih sering berinteraksi dengan lingkungannya dibanding dengan keluarga. Jika karakter bekal dari rumah kurang kuat, sekalinya bertemu dengan lingkungan yang kurang baik, bubar sudah semuanya... Naudzubillah.

Ga usah jauh-jauh lingkungan deh (yang jelas-jelas berinteraksi setiap hari --teman di sekolah, geng, tetangga atau apalah) kejadian yang suatu saat tiba-tiba terjadi disuatu tempat kadang langsung mempengaruhi karakter kita kok. Contoh yang sering kita lihat, di transportasi publik seperti LRT atau monorel, jelas tertulis pada stiker disitu bahwa kursi itu untuk manula, wanita hamil atau disable. Eh, malah diduduki pemuda usia mahasiswa atau orang kantoran usia muda. Sementara orang yang berhak atas kursi itu malah berdiri berpegangan erat di tiang-tiang LRT.. Biasanya yang seperti itu nular banget. Melihat satu dua orang usia muda duduk di kursi yang bukan haknya, maka yang lain akan mengikuti. Meski kadang Alhamdulillah sih, ada yang nyadar dan berdiri mempersilakan kursi kembali untuk yang berhak.

Yang pernah saya alami, salah satu kejadian, di jalan raya ketika tiba-tiba saya diklason kendaraan lain yang tak sabar ingin memotong jalan (disini klakson itu sensitif banget, orang jarang menggunakan klakson tanpa alasan yang sangat kuat, macet sekalipun. Makanya ketika seseorang diklakson tanpa alasan yang jelas, itu bikin tersinggung berat) entah kenapa saya tergoda untuk membalas klakson. Bahkan ingin mengklakson mobil lain sekedar untuk pelampiasan kesal. Dan setelah itu saya menyesal..

Kontradiksi dengan kejadian diatas, pernah saya alami juga. Salah satunya di Masjidil Haram, jika masuk waktu sholat tiba, pastilah susah mencari celah kosong untuk sholat. Diantara berjuta manusia dan watak yang berbeda, kadang sulit untuk meminta mereka bergeser sedikit untuk sekedar saya nyelip diantaranya. Nah, ketika ada seseorang yang berbaik hati melambaikan tangan memanggil untuk berbagi tempat, meski berhimpitan, rasanya seperti mendapat oase di gurun tandus. Dan setelahnya, saya terdorong untuk selalu bergeser membagi shaf untuk orang lain, meski berhimpitan juga. 

Kejadian selintas seperti ini saja bisa merubah perilaku kita, bisa dibayangkan jika berulang setiap hari, di orang-orang yang secara reguler kita berinteraksi. Betapa perlahan kita akan terbawa pengaruhmya.



Atau, pernah dengar kan ada ucapan, jika seseorang ingin beli rumah baru : "Cari rumah yang cocok itu susah, karena beli rumah tak hanya beli rumahnya, tapi juga lingkungannya. Satu paket.


Jadi memilih  lingkungan itu penting karena kebaikan Itu menular, sebagaimana kejelekan pun menular...

Minggu, 01 Mei 2016

Kolom Komentar di Media Sosial

Media sosial tumbuh subur sekarang ini. Bak jamur bermunculan di musim hujan. Seiring pesatnya tren internet dan smart phone. Segala macam brand mulai facebook, twitter, instagram, path dan masih buanyak lagi. Setiap tahun ada saja brand baru yang meluncur.

Banyak manfaatnya, diantaranya kita bisa bertemu teman-teman lama yang sudah lama tak ada kabar berita, saling sapa dan tahu kegiatan mereka, keluarga mereka dari postingan atau status yang mereka buat di media sosial.
Sanak famili yang tinggal berjauhan juga bisa saling berkirim kabar melalui sarana ini.

Namanya juga media sosial, media untuk berinteraksi sesama, tentunya tersedia pula sarana untuk merespon postingan kita. Tersedia berupa-ragam emoticon atau kolom komentar sebagai penyemarak suasana. Bahkan portal berita online pun belakangan menyediakan kolom komentar di bagian bawah setelah paragraf penutup setiap judul berita.

Yang namanya berita online bisa dipastikan beritanya pendek-pendek dan singkat. Nah dari kolom komentarlah biasanya saya bisa membaca info-info tambahan dari para komentator, entah berupa link penunjang berita atau pendapat pribadi plus data yang kadang ulasannya lebih berbobot dari berita online itu sendiri.

Saya suka yang beginian.

Tapi belakangan saya justru lebih banyak terganggu dengan kolom komentar ini. Terutama jika beritanya bermuatan agama. Komentar SARA seringkali bertebaran. Binatang yang harusnya anteng di kandang-kandangpun berhamburan keluar. 
Malah seringnya komentar dan isi berita sama sekali ga nyambung.
Atau, jika topik berita adalah tentang profil tertentu, entah artis atau politisi, komentar yang membanjir adalah tentang aib pribadi profil tersebut. Tak jarang ibunya ikut dimaki-maki dianggap tak bisa mendidik anak. 
Seringkali yang saya baca, sesama komentator saling berantem adu kata dan argumentasi karena pendapat yang berbeda. Lagi-lagi kata-kata tak patut yang dengan mudahnya diketikkan dengan gemulai jari. Pendidikan dibawa-bawa, segala atribut keagamaan seperti kerudung diungkit-ungkit. Hujatan merajalela. Saling balas, balapan tajam-tajaman lidah (via ketikan jari)

Mengerikan...

Sebegitu ganaskah kepribadian bangsa yang DAHULU dikenal sopan santun ini? 

Kadang saya lihat si pemilik komentar pedas ini masih berwajah imut seusia anak sulung saya atau keponakan saya.
Di instagram, pernah karena penasaran saya intip si pemilik account, tak satu pun postingan tampak disana, tanpa profil picture pula, dan dikunci. Jadi, untuk apa membuat account? Hanya untuk menghujat?

Tak heran jika ada publik figur yang mempolisikan orang yang menghujat di kolom komentar, karena komentar yang keterlaluan.
Beberapa kali saya baca komentator ini berargumen,
"Kalau ga mau dikomentarin ya jangan bikin account". 
Atau,
"Resiko publik figur ya harus mau dikomentarin".
Juga,
"Jaga perilaku kalau ga mau dikomentarin pedes".

Serem...

Rupanya mereka lupa mana yang namanya berkomentar dan mana yang menghujat.
Mereka lupa bahwa apa yang mereka tulis di internet akan terekam seumur hidup mereka, karena internet adalah perekam jejak terbaik sejauh ini.
Mereka lupa bahwa suatu saat jauh di masa depan, anak cucu mereka juga bisa membaca seperti apa perilaku mereka di masa lalu...

Saya tidak tahu, apakah ini dampak dari meluasnya pengguna internet dan media sosial? Bak pisau bermata dua, semua hal pasti ada sisi positif dan negatifnya. Kalau saya sih terbantu sekali dengan kemudahan internet. Saya bisa membantu tugas-tugas sekolah anak dengan browsing. Worksheet segala mata pelajaran dan variasi tingkatan sekolah bisa dengan mudah saya temukan. Hal mahal yang tidak saya temukan di jaman rekiplik saya sekolah dulu.

Maka, jika dalam pemanfaatan internet dan media sosial yang dipilih adalah negatifnya, digunakan untuk adu omong dan menghujat, betapa sayangnya...
Mungkin diperlukan semacam pembekalan untuk masyarakat tentang pemanfaatan internet. 
Jika selama ini yang bergaung kuat hanya bahaya pornografi dari internet, perlu ditambahkan juga tentang perlunya berkomentar bijak dan santun di media sosial.
Agar stigma yang melekat bahwa kita bangsa yang santun tak hanya menjadi slogan. Tak hanya menjadi kenangan, bahwa dahulu, sekarang dan yang akan datang kita tetap menjadi bangsa yang santun.

Bangsa? Kejauhan kali...
Jadi akan saya mulai dari keluarga kecil saya dulu...