Minggu, 12 Maret 2017

The Power of Emak-emak

Apa sih arti kata Emak.

Sebagai orang Jawa, saya familiar sekali dengan sebutan ini. "Emak" adalah sinonim dari kata "Ibu". Ibu kandung, atau seseorang yang dituakan atau dianggap ibu.
Ibu saya memanggil ibunya atau nenek saya dengan panggilan Emak. Ayah saya memanggil ibunya juga dengan panggilan Emak. Saat itu, rasanya tak hanya ibu dan ayah saya yang mememanggil emak kepada orang tua perempuannya. Hampir semua tetangga atau kerabat seumuran ibu-ayah saya melakukannya. Sayapun ikut terbawa memanggil nenek dari pihak ibu dengan panggilan Emak. Emak Maimunah.

Emak itu perempuan luhur. Setidaknya itu yang saya dapati dalam diri nenek saya ini. Emak juga perempuan lugu yang bersahaja. Tipikal perempuan patuh terhadap suami atau datuk saya, sekaligus pejuang tangguh berpartner dengan datuk untuk mencari nafkah membesarkan lima anaknya. Dalam memori saya, saya menyimpan keagungan kata emak ini serupa mantra ketenangan karena emak selalu tenang dan tak pernah mengeluh. Emak hafal betul bagaimana meladeni masing-masing cucu dengan bermacam karakter. Bahkan sampai di kemudian hari, Jika ada orang menyebut kata "emak", seringkali saya teringat emak almarhumah...
"Allahumghfirlaha warhamha wa afiha wa'fuanha"

Kemudian, di masa ini  panggilan emak sudah mulai ditinggalkan dan berganti dengan sebutan ibu, bunda, mama, mommy dan sejenisnya. Meskipun dalam ranah pergaulan sebutan emak masih dipakai dalam ungkapan yang bernada keakraban sesama teman. 
Misalnya :
"Maaf ya, saya terlambat, maklum emak-emak rempong, baru bisa berangkat setelah urusan rumah kelar".
Atau,
"Dasar emak-emak baper, semua dipikirin, take your time lah...".
Dan kalimat-kalimat sejenis.

Tapi belakangan ini, kata "emak" mempunyai konotasi yang berbeda. Tetap mempuyai arti yang sama yaitu ibu, tapi bukan lagi ibu yang luhur dan agung, melainkan konotasi negatif sebagi ibu-ibu yang punya perilaku tidak pantas. Konotasi sumbang.
Sebagi seorang ibu, rasanya saya malu dengan fenomena ungkapan "The Power of Emak-emak".  Tersirat nada mengejek dan mencibir di dalamnya. 
Sering kan ada candaan sinis yang menyindir seorang ibu yang menyalakan lampu sein motor kiri tapi beloknya ke kanan?
"Sein kiri, beloknya ke kanan. Kalo ditegur, marah.. dasar the power of emak-emak".
Juga,
"Ketemu emak-emak naik motor matik aja udah serem, lah ini melawan arah pula. Kelar hidup lo"
Foto-fotonya pun bertebaran di media sosial, lengkap dengan memenya. Tinggal browsing saja di google, akan keluar hasil beragam meme dan berita. Saya sendiri pernah berpapasan dengan ibu yang membonceng anaknya di jok belakang, sementara di stang motornya menggelantung banyak tas plastik belanjaan, dan membunyikan klakson terus menerus. Nah kan saya bingung maksudnya apa.
Sedihnya, dengan maraknya ungkapan ini, menjadi semacam permakluman bagi para emak ini untuk melakukan hal yang sama. Seperti ada kebanggaan tersendiri dengan arogansi ini.

Terbukti makin kesini, ungkapan the power of emak-emak tak hanya menyangkut kesembronoan mengemudi di jalan raya. Beberapa waktu yang lalu beredar luas video seorang ibu yang marah-marah dan melakukan aksi fisik kepada polisi di jalan raya hanya karena merasa jalannya terhalang polisi yang mencoba mengatur lalu lintas.

Yang masih hangat, baru kemarin saya melihat video ibu-ibu yang marah-marah kepada satuan pengaman di salah satu kantor pegadaian. Sampai lepas sepatu segala dan memukulkan sepatunya ke pak satpam yang tampak sabar dan hanya menangkis. Entah apa duduk permasalahannya. 
Di rangkaian video sejenis, ada juga ibu yang teriak-teriak di meja customer service di sebuah perkantoran PLN. Tak jelas apa yang diucapkan. Sedih saya melihatnya.

Image seorang ibu bijaksana yang mengayomi anak dan mensejahterakan keluarga lenyap begitu saja.
Jika di tempat umum dan kepada orang lain dia bisa semarah itu, saya tak berani membayangkan seperti apa di rumah. 
Bukankah ada ungkapan "Al ummu madrasatul ula", ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya?. Teladan baik tak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga contoh perilaku.

Saya tahu emak-emak  seperti itu hanya oknum. 
Segelintir saja dibanding sekian banyak ibu yang tetap bersahaja, yang menjanjikan surga di telapak kaki untuk anak-anaknya. Yang berpendidikan tinggi semata untuk membentuk generasi penerus rabbani. 

Semoga saja di era internet yang menjanjikan informasi terbuka lebar, konotasi negatif "The Power of Emak-emak" ini tidak malah menginspirasi gadis-gadis belasan tahun untuk melakukan hal yang sama. Tidak menginspirasi emak-emak galau untuk menempatkan powernya di sisi yang salah. Untuk mencari permakluman di hal-hal negatif.

Dan semoga pula di era internet ini membuat orang berpikir panjang sebelum bertindak gegabah, karena media sosial demikian mudahnya menyebarkan kabar. Sekalinya tersebar di internet, akan tercatat seumur hidup, bahkan akan dibaca anak-cucu. 
Karena kakek google tak pernah lupa.



Kuala Lumpur, 12 Maret 2017

Sabtu, 11 Maret 2017

Pets Are Family

Ketika kelas lima Sekolah Dasar, ada teman yang menawarkan seekor anak kucing untuk saya adopsi, karena induk kucing yang dia miliki melahirkan banyak anak kucing. Ibu saya setuju, ketika saya meminta ijin. Jadilah resmi hari itu saya punya teman bermain.

Namanya Catty.

Waktu itu saya belum ngerti jenis-jenis kucing. Justru belakangan ini, di era internet, setelah baca beberapa artikel, melihat ciri fisiknya, baru saya tahu,  ada darah siamese mengalir di tubuhnya, kawin campur dengan kucing kampung. Ya, kucing saya indo hahaha.. kalah kasta deh saya...

Sebagai anak bungsu dengan jarak yang cukup jauh dengan dua orang kakak, saya cukup terhibur dan merasa punya teman. Sayangnya  si Catty ini, rupanya kurang menjaga pergaulan, sehingga dia hamil tanpa suami 😛.. inilah awal terjadinya kucing saya beranak pinak, bahkan ada satu masa saya mempunyai tujuh ekor kucing sekaligus. Sering juga  diwarnai masa-masa hilang-lahir-mati silih berganti.

Waktu itu belum kondang makanan kucing kemasan seperti saat ini, jadi kucing-kucing itu makan nasi yang dicampur ikan/pindang kukus. Tetapi meskipun dokter hewan dan vaksinasi masih belum mudah ditemui, kucing-kucing saya tetap terjadwal vaksinasi satu tahun sekali. Ini karena setiap tahun di komplek perumahan saya ada program dokter hewan keliling kampung, untuk mensosialisasikan pentingnya vaksinasi  hewan peliharaan, mencegah rabies dan penyakit lainnya.
Jadilah tanpa harus membayar mahal (karena ini program dari pemerintah kota, maka kami hanya membayar biaya administrasi saja), kucing-kucing saya rutin vaksinasi, lengkap dengan medical record card nya.

Masing-masing kucing punya kebiasaan unik. Boni, suka cuci muka di bawah air kran. Meski dia kemudian berakhir mengenaskan, menderita stress berat setelah hilang dan baru tiga bulan kemudian ditemukan ibu saya di pasar tradisional. Atau Sydney, yang selalu mengikuti ibu saya ke masjid setiap subuh, setia menunggu di teras masjid ketika ibu sholat, dan kembali menguntit pulang ketika sholat usai, hehehe.. kucing sholihah..

Ketika ayah dan ibu saya pergi haji, kakak-kakak saya sudah hidup terpisah di luar daerah dengan keluarganya, dan saya tinggal di luar kota untuk sekolah, ibu saya khusus mendatangkan seorang pesuruh agar sehari tiga kali datang memberi makan para kucing ini.
Segitunya... lagi-lagi saya kalah set..

Nah, sekitar duapuluh-tahunan bersama kucing, akhirnya siklus ini terhenti dengan sendirinya karena saya menikah dan harus pindah ke luar Jawa. Ketika kucing terakhir hilang, ya sudah, tidak ada niatan untuk mengadopsi kucing baru lagi...
Bukan tidak ada keinginan, tapi memang setelah saya berkeluarga, tidak memungkinkan untuk hidup bersama kucing. Kami yang masih berpindah-pindah tempat dan anak-anak yang masih kecil membuat tak terpikir untuk mengadopsi mereka.

Dunia perkucingan kembali menggelitik saya tiga tahun terakhir ini. Seekor baby cat persia kami bawa pulang dari sebuah petshop. Lucu pasti.. Sayangnya selang dua minggu menjadi bagian dari keluarga kami, dia-Bolt, menghilang. Kecil kemungkinan dia menyelinap dari balkon apartemen dan melipir turun ke lantai lainnya, karena akses turun satu-satunya hanya lift. Mana mungkin Bolt menekan tombol pintu lift. Dugaan terbesar adalah dia terpeleset jatuh ke bawah. Meskipun ketika anak saya mencarinya, tak menemukan tanda-tanda kucing jatuh.

Kadung ketagihan, saya mengunjungi web petfinder.my dan mendapatkan anak kucing lucu, jenis domestik tabby. Plus pemberian dadakan dari seorang teman, seekor american short hair, jadilah kembali kucing saya beranak pinak. Total menjadi 5 ekor. Hahaha... Lebih banyak daripada jumlah anak saya. 
Hanya sayangnya kali ini tetangga apartemen saya keberatan dengan keberadaan kucing-kucing ini. Dengan berat hati tiga diantaranya, saya iklankan melalui web yang sama seperti ketika saya mendapatkan mereka. Butuh waktu untuk mendapatkan keluarga  baru yang saya klik dan yang klik juga dengan kucing-kucing saya.

Pada masa "butuh waktu" ini, tetangga saya kembali complain. Saya tidak ingin masuk sebagai kategori manusia yang mengganggu ketentraman tetangganya.  Membuat saya hopeless dan mengambil jalan pintas memindahkan dua anak kucing ke basement, dimana mobil saya diparkir. 
Ini adalah pengalaman kami yang paling menyedihkan selama mempunyai kucing. 

Jam sepuluh pagi, saya bawa dua anak kucing yang sudah selesai masa menyusu. Saya lepaskan di bawah mobil saya dan memberikan bekal makanan. Harapan saya, dia aman berada disana, dan kami bisa menengok serta mengirim makanan setiap jam makan. Sesekali rencananya, akan kami bawa main ke rumah kami.
Berat rasanya. Ketika saya tinggalkan, saya didera perasaan bersalah yang sangat besar. Mereka hanya mengeong pasrah.

Tapi... sore harinya, saat menjemput anak-anak sekolah, sambil membawakan makanan baru, saya tak menemukan mereka. Antara cemas dan lega. Cemas akan keselamatan mereka dan lega berharap ada yang mengadopsi. Dan malam itu, saya tidur sambil bermimpi tentang kucing-kucing yang berlarian main kesana-kemari.

Sampai kemudian keesokan harinya, pagi-pagi sebelum mengantar anak-anak sekolah tiba-tiba saya melihat mereka kembali. Di kolong mobil saya, tak sedikitpun menjamah makanan yang saya tinggalkan semalam. Berlompatan masuk ketika saya membuka pintu mobil. Mengeong memohon.
Saya keluarkan mereka dan kami berlalu. Saya merasa menjadi Raja Tega sedunia

Setelah mengantar anak-anak sekolah, saya terhenyak melihat mereka. Menunggu di slot parking area saya. Mengeong pedih. Hati saya langsung luruh..
"Ok, kids.. Let's go home..".  Saya gendong keduanya dan membawa pulang. Terserahlah tentang complain tetangga. Nanti akan saya pikirkan jalan keluar yang lebih "hewani", sambil saya menggendong mereka, saya bisikkan :
"Kids, nanti.. ketika yaumil hisab tiba, tolong jadilah saksi tentang hari ini, bahwa kami telah memperlakukan kalian dengan baik, dan semoga ini bisa menambah timbangan amal kami...".

Ketika saya menulis ini, kucing saya tinggal dua ekor. Jantan. Tiga yang lain telah berbahagia menemukan keluarga barunya. Ini saya ketahui setelah mendapatkan kiriman foto mereka. 
Sayapun sedang mencari informasi bagaimana cara membawa kucing pindah negara, just in case kami pulang kembali ke Jakarta, sangat berharap mereka turut serta, karena mereka tak sekedar peliharaan, tapi mereka adalah keluarga.

Kuala Lumpur, 11 Maret 2017

(Ini adalah penyelesaian terlama dari sebuah judul. Sejak berencana menulis tentang kucing, sekitar dua minggu baru tulisan selesai. Karena panjangnya masa bersama kucing, dan masing-masing kucing punya kisah. Sehingga bingung mana yang akan ditulis, takut nggak adil hehehehe...)