Apa sih arti kata Emak.
Sebagai orang Jawa, saya familiar sekali dengan sebutan ini. "Emak" adalah sinonim dari kata "Ibu". Ibu kandung, atau seseorang yang dituakan atau dianggap ibu.
Ibu saya memanggil ibunya atau nenek saya dengan panggilan Emak. Ayah saya memanggil ibunya juga dengan panggilan Emak. Saat itu, rasanya tak hanya ibu dan ayah saya yang mememanggil emak kepada orang tua perempuannya. Hampir semua tetangga atau kerabat seumuran ibu-ayah saya melakukannya. Sayapun ikut terbawa memanggil nenek dari pihak ibu dengan panggilan Emak. Emak Maimunah.
Emak itu perempuan luhur. Setidaknya itu yang saya dapati dalam diri nenek saya ini. Emak juga perempuan lugu yang bersahaja. Tipikal perempuan patuh terhadap suami atau datuk saya, sekaligus pejuang tangguh berpartner dengan datuk untuk mencari nafkah membesarkan lima anaknya. Dalam memori saya, saya menyimpan keagungan kata emak ini serupa mantra ketenangan karena emak selalu tenang dan tak pernah mengeluh. Emak hafal betul bagaimana meladeni masing-masing cucu dengan bermacam karakter. Bahkan sampai di kemudian hari, Jika ada orang menyebut kata "emak", seringkali saya teringat emak almarhumah...
"Allahumghfirlaha warhamha wa afiha wa'fuanha"
Kemudian, di masa ini panggilan emak sudah mulai ditinggalkan dan berganti dengan sebutan ibu, bunda, mama, mommy dan sejenisnya. Meskipun dalam ranah pergaulan sebutan emak masih dipakai dalam ungkapan yang bernada keakraban sesama teman.
Misalnya :
"Maaf ya, saya terlambat, maklum emak-emak rempong, baru bisa berangkat setelah urusan rumah kelar".
Atau,
"Dasar emak-emak baper, semua dipikirin, take your time lah...".
Dan kalimat-kalimat sejenis.
Tapi belakangan ini, kata "emak" mempunyai konotasi yang berbeda. Tetap mempuyai arti yang sama yaitu ibu, tapi bukan lagi ibu yang luhur dan agung, melainkan konotasi negatif sebagi ibu-ibu yang punya perilaku tidak pantas. Konotasi sumbang.
Sebagi seorang ibu, rasanya saya malu dengan fenomena ungkapan "The Power of Emak-emak". Tersirat nada mengejek dan mencibir di dalamnya.
Sering kan ada candaan sinis yang menyindir seorang ibu yang menyalakan lampu sein motor kiri tapi beloknya ke kanan?
"Sein kiri, beloknya ke kanan. Kalo ditegur, marah.. dasar the power of emak-emak".
Juga,
"Ketemu emak-emak naik motor matik aja udah serem, lah ini melawan arah pula. Kelar hidup lo"
Foto-fotonya pun bertebaran di media sosial, lengkap dengan memenya. Tinggal browsing saja di google, akan keluar hasil beragam meme dan berita. Saya sendiri pernah berpapasan dengan ibu yang membonceng anaknya di jok belakang, sementara di stang motornya menggelantung banyak tas plastik belanjaan, dan membunyikan klakson terus menerus. Nah kan saya bingung maksudnya apa.
Sedihnya, dengan maraknya ungkapan ini, menjadi semacam permakluman bagi para emak ini untuk melakukan hal yang sama. Seperti ada kebanggaan tersendiri dengan arogansi ini.
Terbukti makin kesini, ungkapan the power of emak-emak tak hanya menyangkut kesembronoan mengemudi di jalan raya. Beberapa waktu yang lalu beredar luas video seorang ibu yang marah-marah dan melakukan aksi fisik kepada polisi di jalan raya hanya karena merasa jalannya terhalang polisi yang mencoba mengatur lalu lintas.
Yang masih hangat, baru kemarin saya melihat video ibu-ibu yang marah-marah kepada satuan pengaman di salah satu kantor pegadaian. Sampai lepas sepatu segala dan memukulkan sepatunya ke pak satpam yang tampak sabar dan hanya menangkis. Entah apa duduk permasalahannya.
Di rangkaian video sejenis, ada juga ibu yang teriak-teriak di meja customer service di sebuah perkantoran PLN. Tak jelas apa yang diucapkan. Sedih saya melihatnya.
Image seorang ibu bijaksana yang mengayomi anak dan mensejahterakan keluarga lenyap begitu saja.
Jika di tempat umum dan kepada orang lain dia bisa semarah itu, saya tak berani membayangkan seperti apa di rumah.
Bukankah ada ungkapan "Al ummu madrasatul ula", ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya?. Teladan baik tak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga contoh perilaku.
Bukankah ada ungkapan "Al ummu madrasatul ula", ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya?. Teladan baik tak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga contoh perilaku.
Saya tahu emak-emak seperti itu hanya oknum.
Segelintir saja dibanding sekian banyak ibu yang tetap bersahaja, yang menjanjikan surga di telapak kaki untuk anak-anaknya. Yang berpendidikan tinggi semata untuk membentuk generasi penerus rabbani.
Semoga saja di era internet yang menjanjikan informasi terbuka lebar, konotasi negatif "The Power of Emak-emak" ini tidak malah menginspirasi gadis-gadis belasan tahun untuk melakukan hal yang sama. Tidak menginspirasi emak-emak galau untuk menempatkan powernya di sisi yang salah. Untuk mencari permakluman di hal-hal negatif.
Dan semoga pula di era internet ini membuat orang berpikir panjang sebelum bertindak gegabah, karena media sosial demikian mudahnya menyebarkan kabar. Sekalinya tersebar di internet, akan tercatat seumur hidup, bahkan akan dibaca anak-cucu.
Karena kakek google tak pernah lupa.
Kuala Lumpur, 12 Maret 2017