Selepas sholat maghrib adalah keharusan bagi kami untuk mengaji. Agar jangan sampai ada kesalahan membaca, ibu mengajar dengan disiplin yang keras. Seringkali saya sampai menangis dibuatnya. Bukannya ibu mereda, tapi malah nada suara ibu semakin meninggi. Dan saya hafal betul apa yang diucapkannya : "Jangan pernah ada air mata yang menetes diatas Al-quranmu".
Kadang untuk mengulur waktu sengaja saya berhenti membaca dengan alasan kehausan kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Tapi lama-lama rupanya ibu hafal dengan trik ini dan sebelum mengaji saya diharuskan untuk menyiapkan minum terlebih dahulu. Meletakkan di meja tempat saya mengaji, agar saya tak perlu riwa-riwi lagi.
Kerasnya cara ibu mengajar membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Kami bertiga khatam quran pertama kali pada kisaran umur enam atau tujuh tahun. Setelah khatam ngaji selesai? Tidak juga. Target ngaji harian tetap sama beratnya. Ibu lebih sabar dalam mengajar? Hmmm... juga tidak, karena kalau ada bacaan yang salah justru ibu lebih suka mengajak berteka-teki, hanya dengen berdehem menandakan ada yang salah tanpa memberitahu letak kesalahan. Jadilah saya mencari-cari sendiri apa kesalahan saya. Ya, ibu saya memang bukan penghafal Al-Quran tapi karena seringnya mengaji biasanya ibu merasa janggal jika mendengar panjang pendek bacaan yang kurang tepat atau salah baca fathah kasroh dhommah. Pada masa itu saya menganggap ibu sakti sekali.
Saya tamat Sekolah Dasar dari SD Muhammadiyah. Ada pelajaran menghafal Juz Amma disana. Sama seperti anak-anak sekolah masa kini. Hanya bedanya saya dan teman-teman harus menghafal bersama artinya. Setornya maju ke depan kelas, berdiri disamping meja guru dan mengucap keras-keras. Lulus SD, dari An-Nas sampai An-Naba kelar sudah.
Sayangnya pelajaran menghafal ini tidak berlanjut di bangku SMP. Pada masa itu saya sama sekali tak faham bahwa Al-Quran itu tak hanya dibaca, melainkan juga dihafal. Karena tidak ada pelajaran menghafal, ya saya tidak berusaha menambah hafalan. Jadilah hafalan saya mentok di Juz Amma. Bahkan karena tidak pernah murojaah, beberapa surat panjang, byar pet di ingatan saya.
Hhhmmm.. panjang juga ya cerita pembuka saya... ok masuk ke inti cerita..
Sampailah saya memasuki masa kuliah.
Sekolah di luar kota mengharuskan saya untuk ngekos. Saya tinggal di Surabaya sementara kampus berada di Malang Jawa Timur, Universitas Brawijaya. Suatu sore, masih di semester pertama, di kamar kos yang sunyi sepi .. saya lupa tetangga kamar kos saya sedang pada kemana. Mungkin kuliah sore. Saya sedang duduk di meja belajar. Pengennya sih belajar, meski kenyataannya bercampur antara melamun merindukan teman-teman SMA (maklum, baru lepas SMA sehingga masih terkenang) dan merindukan ibu beserta masakannya. Tiba-tiba saya mendengar berisik suara di sudut kiri meja belajar. Saya melirik tumpukan buku di hadapan. Suara bersumber dari benda di belakang tumpukan buku. Seperti kenal suara itu.. saya berdiri dan melongok.. itu celengan tanah liat saya. Berisi uang yang lebih banyak koinnya daripada uang kertasnya. Lebih sering dicongkel dari pada diisi. Ya Allah.. ternyata celengan saya bergoyang dan suara berisik itu bersumber dari koin gemerincing. Jantung saya berdegup dan keringat dingin mulai muncul di dahi...
Hantu celengan? Tuyul? Ngepet? Mau curi koin anak kos? Tega amat...
Bergegas saya keluar kamar ingin mencari teman.. tapi di luar sepi sekali.. sementara suara itu tak kunjung henti. Baiklah.. kalau itu memang maunya. Kembali saya hampiri celengan itu. Saya raih. Mendekatkan mulut ke lubang koin, saya melafalkan semua doa yang saya bisa. Membaca semua surat Al-Quran yang saya tahu. Tapi apalah daya saya hanya tahu Juz Amma. Banyak megap-megap pula.
Goncangan tak berhenti. Saya mulai putus asa. "Dia" tak takut pada saya. Kemudian saya ingat Ayat Kursi. Salah satu Ayat Al-Quran yang banyak mempunyai fadhilah dan sebagai perlindungan diri. Ikhtiar terakhir ini sih sepertinya. Tapi, tak hafal ayat itu.... Menyesalnya saya.
Segera saya ambil Al-Quran. Membukanya dan membaca Ayat Kursi keras-keras di lubang celengan. Beberapa kali. Arrgghh... suara itu tak berhenti juga. Atau mungkin "dia" tahu bacaan saya kurang meresap dihati. Mungkin saya harus menghafalnya agar bacaan bisa lebih khusu'.
Baiklah... Try me.... saya jabanin. Dan mulailah saya komat kamit buka tutup Al-Quran untuk menghafal. Urgensi yang dikombinasikan dengan ketakutan membuat saya melakukan dengan ekspres. 5 atau 10 menit, dan saya langsung praktekkan di lubang celengan itu. Kali ini sambil memiringkan posisi celengan, lubang menghadap ke arah meja. Gemerincing makin keras. "Rasakan akibatnya, panas kan...aku akan mempertahankan koin-koin modal tanggal tua ini dengan segala upaya" batin saya berujar. Tiba-tiba ada kilatan sorot mata dari dalam lubang. Keberanian saya perlahan memudar. Saya jiper. Marahkah "dia"? Oh.. dia sepertinya ingin keluar dari lubang..
Sedetik, dua detik, tiga de...
Allahu Akbar...seekor cicak pucat pasi perlahan merayap keluar... antara lega dan lemas saya memandangnya. Mungkin dia pucat karena keberisikan saya teriakin doa-doa dan Ayat Kursi. Pastinya suara saya di dalam sana bergema memantul-mantul. Pasi karena pusing celengan berkali-kali saya guncang. Dan dengan posisi celengan yang saya miringkan mempermudahnya untuk keluar dari perangkap...
Andai sedari tadi saya miringkan posisi celengan itu.. mungkin drama ini tidak akan berkepanjangan. Tapi.. tentu ada hikmah di balik semua peristiwa bukan? Hikmahnya saya jadi hafal Ayat Kursi hehehe... mungkin itu cara Allah mengajarkan saya untuk mulai kembali menghafal... Alhamdulillah alaa kulli hal..
Kuala Lumpur, 14 Desember 2015