Kamis, 24 Desember 2015

Misteri Suara dalam Celengan

     Saya terlahir sebagai generasi sebelum belajar membaca Al-Quran menggunakan metode iqra' mewabah. Tapi bukan berarti saya buta huruf AL-Quran. Terlahir dari keluarga taat beragama, dimana kakek dan orang tua saya teguh berpegang pada sendi-sendi Islam. Belajar mengaji adalah keharusan bagi saya dan kedua kakak saya. Tanpa memanggil guru, karena ibu saya pandai mengaji. Pun almarhum ayah saya. Bahkan di masa pensiunnya ayah menghabiskan lebih banyak waktunya untuk mengaji. Masa itu belum ada program one day one juz, tapi sepertinya ayah bisa khatam satu bulan dua kali. 
     Selepas sholat maghrib adalah keharusan bagi kami untuk mengaji. Agar jangan sampai ada kesalahan membaca, ibu mengajar dengan disiplin yang keras. Seringkali saya sampai menangis dibuatnya. Bukannya ibu mereda, tapi malah nada suara ibu semakin meninggi. Dan saya hafal betul apa yang diucapkannya : "Jangan pernah ada air mata yang menetes diatas Al-quranmu".
Kadang untuk mengulur waktu sengaja saya berhenti membaca dengan alasan kehausan kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Tapi lama-lama rupanya ibu hafal dengan trik ini dan sebelum mengaji saya diharuskan untuk menyiapkan minum terlebih dahulu. Meletakkan di meja tempat saya mengaji, agar saya tak perlu riwa-riwi lagi.
      Kerasnya cara ibu mengajar membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Kami bertiga khatam quran pertama kali pada kisaran umur enam atau tujuh tahun. Setelah khatam ngaji selesai? Tidak juga. Target ngaji harian tetap sama beratnya. Ibu lebih sabar dalam mengajar? Hmmm... juga tidak, karena kalau ada bacaan yang salah justru ibu lebih suka mengajak berteka-teki, hanya dengen berdehem menandakan ada yang salah tanpa memberitahu letak kesalahan. Jadilah saya mencari-cari sendiri apa kesalahan saya. Ya, ibu saya memang bukan penghafal Al-Quran tapi karena seringnya mengaji biasanya ibu merasa janggal jika mendengar panjang pendek bacaan yang kurang tepat atau salah baca fathah kasroh dhommah. Pada masa itu saya menganggap ibu sakti sekali.
     Saya tamat Sekolah Dasar dari SD Muhammadiyah. Ada pelajaran menghafal Juz Amma disana. Sama seperti anak-anak sekolah masa kini. Hanya bedanya saya dan teman-teman harus menghafal bersama artinya. Setornya maju ke depan kelas, berdiri disamping meja guru dan mengucap keras-keras. Lulus SD, dari An-Nas sampai An-Naba kelar sudah.
     Sayangnya pelajaran menghafal ini tidak berlanjut di bangku SMP. Pada masa itu saya sama sekali tak faham bahwa Al-Quran itu tak hanya dibaca, melainkan juga dihafal. Karena tidak ada pelajaran menghafal, ya saya tidak berusaha menambah hafalan. Jadilah hafalan saya mentok di Juz Amma. Bahkan karena tidak pernah murojaah, beberapa surat panjang, byar pet di ingatan saya.

     Hhhmmm.. panjang juga ya cerita pembuka saya... ok masuk ke inti cerita..

     Sampailah saya memasuki masa kuliah. 
Sekolah di luar kota mengharuskan saya untuk ngekos. Saya tinggal di Surabaya sementara kampus berada di Malang Jawa Timur, Universitas Brawijaya. Suatu sore, masih di semester pertama, di kamar kos yang sunyi sepi .. saya lupa tetangga kamar kos saya sedang pada kemana. Mungkin kuliah sore. Saya sedang duduk di meja belajar. Pengennya sih belajar, meski kenyataannya bercampur antara melamun merindukan teman-teman SMA (maklum, baru lepas SMA sehingga masih terkenang) dan merindukan ibu beserta masakannya. Tiba-tiba saya mendengar berisik suara di sudut kiri meja belajar. Saya melirik tumpukan buku di hadapan. Suara bersumber dari benda di belakang tumpukan buku. Seperti kenal suara itu.. saya berdiri dan melongok.. itu celengan tanah liat saya. Berisi uang yang lebih banyak koinnya daripada uang kertasnya. Lebih sering dicongkel dari pada diisi. Ya Allah.. ternyata celengan saya bergoyang dan suara berisik itu bersumber dari koin gemerincing. Jantung saya berdegup dan keringat dingin mulai muncul di dahi... 
Hantu celengan? Tuyul? Ngepet? Mau curi koin anak kos? Tega amat...
     Bergegas saya keluar kamar ingin mencari teman.. tapi di luar sepi sekali.. sementara suara itu tak kunjung henti. Baiklah.. kalau itu memang maunya. Kembali saya hampiri celengan itu. Saya raih. Mendekatkan mulut ke lubang koin,  saya melafalkan semua doa yang saya bisa. Membaca semua surat Al-Quran yang saya tahu. Tapi apalah daya saya hanya tahu Juz Amma. Banyak megap-megap pula. 
Goncangan tak berhenti. Saya mulai putus asa. "Dia" tak takut pada saya. Kemudian saya ingat Ayat Kursi. Salah satu Ayat Al-Quran yang banyak mempunyai fadhilah dan sebagai perlindungan diri. Ikhtiar terakhir ini sih sepertinya. Tapi,  tak hafal ayat itu.... Menyesalnya saya.
     Segera saya ambil Al-Quran. Membukanya dan membaca Ayat Kursi keras-keras di lubang celengan. Beberapa kali. Arrgghh... suara itu tak berhenti juga. Atau mungkin "dia" tahu bacaan saya kurang meresap dihati. Mungkin saya harus menghafalnya agar bacaan bisa lebih khusu'. 
Baiklah... Try me.... saya jabanin. Dan mulailah saya komat kamit buka tutup Al-Quran untuk menghafal. Urgensi yang dikombinasikan dengan ketakutan membuat saya melakukan dengan ekspres. 5 atau 10 menit, dan saya langsung praktekkan di lubang celengan itu. Kali ini sambil memiringkan posisi celengan, lubang menghadap ke arah meja. Gemerincing makin keras. "Rasakan akibatnya, panas kan...aku akan mempertahankan koin-koin modal tanggal tua ini dengan segala upaya" batin saya berujar. Tiba-tiba ada kilatan sorot mata dari dalam lubang. Keberanian saya perlahan memudar. Saya jiper. Marahkah "dia"? Oh.. dia sepertinya ingin keluar dari lubang..
Sedetik, dua detik, tiga de... 
Allahu Akbar...seekor cicak pucat pasi perlahan merayap keluar... antara lega dan lemas saya memandangnya. Mungkin dia pucat karena keberisikan saya teriakin doa-doa dan Ayat Kursi. Pastinya suara saya di dalam sana bergema memantul-mantul. Pasi karena pusing celengan berkali-kali saya guncang. Dan dengan posisi celengan yang saya miringkan mempermudahnya untuk keluar dari perangkap... 
    Andai sedari tadi saya miringkan posisi celengan itu.. mungkin drama ini tidak akan berkepanjangan. Tapi.. tentu ada hikmah di balik semua peristiwa bukan? Hikmahnya saya jadi hafal Ayat Kursi hehehe... mungkin itu cara Allah mengajarkan saya untuk mulai kembali menghafal... Alhamdulillah alaa kulli hal..

Kuala Lumpur, 14 Desember 2015
     

Minggu, 06 Desember 2015

Drive.... Drive.... Drive part 2 (Bikin SIM di Negara Orang)

      Menetep di Kuala Lumpur, sesungguhnya kami tidak terlalu memerlukan kendaraan pribadi. Tidak seperti di Jakarta, disini sarana transportasi publik lebih nyaman. Ada taksi yang siap dipanggil via telpon. Jika ingin yang lebih murah meriah ada bus rapid KL seharga RM 1 atau RM2 -tergantung jarak tempuh- yang cukup bersih dan sudah dilengkapi penyejuk udara. Atau LRT yang setia melintas, yang waktu tempuh dan waktu kedatangannya lebih terpercaya dan bisa diprediksi. Untuk keperluan anak-anak, pihak sekolah pun telah menyiapkan bus sekolah.
     Sampai kemudian, dengan alasan tidak ingin berkutat hanya di Kuala Lumpur dan ingin menjelajahi wilayah-wilayah yang lain, mulailah kami tergoda untuk memiliki kendaraan pribadi, yang tentunya akan lebih leluasa dibanding dengan transportasi publik. Agar kendaraan manfaatnya lebih maksimal saya pun menghentikan bus school untuk anak-anak dan berencana menyopiri mereka. Lebih hemat waktu dan biaya tentunya.

     Masalahnya saya tidak bisa menyetir. Ups....

     Mulailah saya browsing sekolah memandu (red=sekolah mengemudi). Membandingkan lembaga yang satu dengan yang lain, yang lokasinya tidak jauh dari rumah dan tentu biayanya paling ringan. Kisarannya antara RM 800 sampai RM 1600 ( RM 1 kurang lebih Rp 3.300). Biaya ini masih akan bertambah pada saat ujian teori dan ujian praktek, yang jika gagal atau tidak lulus harus membayar lagi jika ingin ikut ujian ulang. Saya menjatuhkan pilihan ke lembaga yang paling murah. 
     Tapi kemudian timbul keraguan. Saya tidak pandai berbahasa Melayu. Lalu bagaimana saya harus berkomunikasi dengan pengajar atau tutor? Bagaimana saya mengikuti kelas? Meskipun Indonesia dan Malaysia serumpun, banyak kosa kata yang sama, tapi pengucapannya sungguh  berbeda. Pada masa itu malah saya sama sekali tidak pede  bertelpon ria dengan warga Malaysia. Untuk memahami pembicaraan, saya perlu bertatap muka dan memperhatikan gerak bibir mereka. Itupun seringkali salah. Apalagi via telpon yang bagi saya semua bebunyian tampak sama dan sulit meraba artinya. Lingkungan sosialisasi saya yang masih saja berkutat dengan sesama WNI, juga lingkungan sekolah anak saya yang internasional berbasis Bahasa Inggris mendukung leletnya perkembangan kemampuan saya berbahasa Melayu... oh...oh...
     Akhirnya setelah maju mundur sebulan lamanya, dengan berbekal basmalah saya memberanikan diri mendaftar di lembaga tersebut. Hanya cukup dengan menyerahkan copy paspor, copy visa, pas foto dan uang pembayaran saya langsung ikut masuk kelas hari itu juga. Masuk kelas untuk mendalami materi ini adalah syarat pertama yang wajib diikuti. Selama enam jam saya harus mendengarkan pemateri. Sebuah buku yang berjudul Kurikulum Pendidikan Memandu -KPP (memandu = mengemudi) dibagikan. Materinya adalah tentang pengenalan rambu-rambu, sopan santun dan etika terhadap sesama pengguna jalan, bagaimana mengemudi yang aman, tindakan sederhana jika kendaraan bermasalah secara tiba-tiba.
     Buku ini sangat membantu saya untuk memahami apa yang disampaikan cikgu (red=guru). Saya bisa mengulang membaca materi perlahan-lahan dirumah. Karena meskipun memilih tempat duduk di deretan terdepan selama di kelas, memandang dengan seksama gerak bibir cikgu, dengan minimnya kemampuan berbahasa Melayu saya, tetap saja banyak hal-hal yang terlewatkan. 
     Materi yang paling berkesan bagi saya adalah sopan santun dan etika terhadap sesama pengemudi. Hal yang sangat jarang saya temui di rimba raya lalu lintas di Jakarta. Seperti yang pernah saya tulis di cerita sebelumnya (Drive...Drive....Drive...).
     Syarat wajib kedua setelah kelas KPP adalah mengikuti ujian komputer, minimal tiga hari setelah kelas KPP. Harus membayar RM 27 untuk pendaftaran tes ini. Setelah sebuah monitor kecil yang memuat nomor urut saya menyala, saya memasuki ruang ujian.  Ruang ujian yang luas dan senyap membuat saya sedikit gentar.  Ada banyak meja komputer dengan jarak lebar-lebar didalamnya. Sudah ada peserta-peserta ujian yang nomor urutnya sebelum saya sedang mengerjakan soal. Saya pilih sebuah komputer kosong. Bismillah... saya mulai mengetik data-data pribadi saya. Kemudian mulai fokus dengan soal-soal. Hal-hal yang diujikan adalah tes buta warna, rambu-rambu dan materi yang ada di buku KPP. Ada 45 soal yang diberikan. Bentuknya multiple choice yang harus dijawab saat itu juga, yang hasilnya, lulus tidaknya, bisa dilihat setelah kita menjawab soal terakhir. Saya sempat salah faham pada saat itu. Karena hanya 45 menit waktu untuk ujian ini, dan tak ingin kehabisan waktu, saya bergegas menjawab semua soal. Rencananya jika masih ada waktu tersisa saya akan periksa kembali jawaban-jawabannya. Tapi... oh tapi... ternyata begitu saya menjawab soal no 45 yang merupakan pertanyaan terakhir, komputer langsung close dan ada pemberitahuan silakan ambil hasil ujian di front office.. nah lho... hanya 12 menit sekian detik waktu yang saya pergunakan... mungkin jika tidak lulus front office akan menganggap : ini orang belagu amat, udah buru-buru ngerjain.. eh, gagal pula.... Tapi, Alhamdulillah nilai saya 42/45. Yang artinya saya lulus. Batas minimal nilai lulus, agak lupa saya, sepertinya 40/45... Dan saya pulang dengan riang gembira, sudah dua tahap saya jalani.
     Tahap ketiga adalah semacam kelas perbengkelan. 6 jam saya harus hadir. Menyimak tentang radiator, busi, aki, roda, ban dan sebangsanya. Hal-hal yang sangat asing bagi saya. Karena selama ini, saya tidak tahu menahu dengan yang begituan. Itu urusan suami.. hehe.. Bagian yang serius saya simak terutama tentang mengisi bahan bakar. Disini di semua SPBU kita mengisi sendiri kendaraan kita. Swalayan. Bayar di kasir, dan isi sendiri. Juga swalayan perihal isi angin ban. Karena disini tidak ada abang-abang pompa ban atau tambal ban yang jika di tanah air dengan mudahnya kita jumpai di pinggir jalan.  Enam jam berlalu. Kelas selesai. Dan saya berhak memperoleh Lesen L kartu kecil seukuran kartu pelajar, dilaminating yang memuat identitas saya. Artinya saya boleh menyetir mobil. Mobil khusus jenis kancil yang di bodynya juga ada tulisan L atau Learning. Peraturannya saya harus didampingi seorang cikgu. Tidak boleh sendiri dan tidak boleh bawa penumpang. Wajib mengikuti minimal delapan jam pertemuan yang dibagi per dua jam/hari. Jika dirasa kurang pede boleh menambah jam tapi tentunya harus nambah pula bayarnya hehehe...
     Lesen L ini mempunyai masa kadaluarsa juga sehingga mau tidak mau sebelum masa kaduarsa habis kita harus mendaftar ujian praktek jalan raya. Jika tidak, kita diwajibkan ikut prosedur dari awal yaitu kelas KPP. Ogah banget bukan...:)
     Sepuluh jam latihan yang saya butuhkan untuk kemudian dipaksa cigku ikut ujian praktek. Kenapa saya merasa dipaksa, karena sesungguhnya saya merasa grogi tak henti-henti. Ujian praktek ini ada dua tahap, internal yaitu dengan penguji dari lembaga sekolah mengemudi tersebut. Jika lulus, berlanjut ujian dengan bapak JPJ (JPJ ini semacam polisi khusus jalan raya). Materi yang diujikan adalah praktek di sirkuit naik turun bukit, berhenti tepat di tanjakan, parkir mundur berbelok, dan belokan tiga penjuru (semacam u-turn diarea yang sempit). Setelah itu ujian mengemudi di jalan raya. Biaya yang dibayarkan sekitar RM 85.
     Setelah lulus ujian praktek internal, saya dijadwalkan untuk ujian praktek dengan pak JPJ. Pagi hari saya sudah bersiap dalam antrian pengambilan nomor ujian. Pas tiba giliran, saya mengambil mobil secara acak tanpa ada kesempatan adaptasi seberapa dalam gas, kopling dan remnya. Jika selama ini saya terbiasa mengemudi mobil cikgu dengan setelan yang sudah saya hafal, kali ini saya dibuat tergagap-gagap. Seorang bapak JPJ duduk dikursi penumpang di sebelah kiri saya. Dengan papan nilai ditangan, berkacamata hitam, diam seribu bahasa sungguh membuat saya berkeringat dingin. Ada 20 kriteria penilaian di ujian ini. Sebelum mobil dijalankan terlebih dahulu harus set kursi senyaman mungkin, pasang sabuk pengaman, cek 3 kaca spion. Itu adalah tiga hal awal yang masuk penilaian. Saya mulai mengendara dengan hati-hati. Melewati ruas demi ruas  jalan raya. Cuaca yang panas ditambah rasa grogi tidak teratasi oleh pendingin udara dalam mobil. Finally... sampailah saya di garis finish. Si bapak mencoretkan tanda tangannya sebagai goresan terakhir di kertas nilai saya sambil menyapa dengan suara yang ternyata cukup ramah. Menanyakan darimana saya berasal dan berpesan agar saya tidak grogi di tahapan tes selanjutnya. Saya terima kertas nilai dari tangannya, melirik nilai yang diberikan.... 18/20. Kesalahan saya ada adalah kurang smooth memindahkan gear dan menginjak kopling.. meski bukan nilai fullmark, tapi tetap Alhamdulillah :)
     Sampailah saya pada ujian praktek di surkuit. Kembali menaiki mobil berbeda tanpa sempat adaptasi dengan rem, gas dan kopling... kali ini saya mengendarai sendiri tanpa bapak JPJ ada disamping saya. Mereka memantau dari pos-pos penilaian. Semuanya tampak indah sampai akhirnya nasib baik saya berakhir di ujian tanjakan. Sebetulnya mobil bisa mulus berhenti tepat di puncak tanjakan. Spion sudah lurus sejajar dengan tiang yang ditentukan. Roda depan pun sudah masuk di garis yang ditentukan. Saya operasikan gear dalam posisi netral dan hand break full. Tangan saya lambaikan ke penguji penanda saya sudah on position. Penguji mengangguk memberi tanda oke. Malangnya ketika saya bersiap melaju menuruni bukit, posisi kopling dan gas kurang berimbang sehingga mobil saya menggelinding ke belakang. Seketika saya menoleh ke penguji dan penguji menyilangkan kedua tangan tanda gagal. What....? Secepat itu...? Setelah apa yang telah saya lalui...? oh Allah.. saya merasa menjadi manusia paling malang sedunia. Berjalan gontai ke arah pos penguji untuk mengambil berkas saya, saya menoleh ke arah sirkuit, saya tidak sendirian. Beberapa orang sesama peserta ujian juga melakukan kesalahan yang sama... juga ketika masuk ke main office untuk menyerahkan berkas, saya berjumpa lebih banyak lagi peserta gugur dengan beragam kasus.. langkah saya mulai ringan. Ya.. saya tidak sendiri... heheheheh..
     Petugas main office bertanya apakah saya berencana mengajukan ujian ulang (tentunya harus membayar lagi). Saya menjawab tidak dalam waktu dekat ini. Karena saya harus menyembuhkan luka hati saya terlebih dahulu... hahahhaha...

Kamis, 19 November 2015

Drive.... Drive..... Drive....

     Semenjak pindah dan menetap di Kuala Lumpur saya punya ritme harian mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Tiga Anak bersekolah ditempat yang sama memudahkan saya menunaikan tugas ini. Sebetulnya ada sih school bus, tapi jika harus membayar 600 ringgit ( RM 1 kurang lebih Rp 3.300)  per bulan mending uangnya saya tabung untuk membeli smartphone keluaran baru..  hihiihi.. bukan, bukan itu alasannya. 
Tiga anak dengan grade yang berbeda dan aktifitas berbeda kadang jam pulang sekolahnya berbeda pula. Dan school bus hanya menunggu penumpang sampai jam tertentu saja. Jika lewat dari jam yang telah ditentukan, ya bablas.. ujung-ujungnya tetap saya juga yang harus jemput. Lha dari pada udah bayar penuh tapi saya tetap harus jemput mending saya handle sendiri aja mereka.. (nah.. tetep alasannya tak beranjak dari ringgit kan huhuhu...)
     Kami berangkat dari rumah pukul 7.20. Dengan jarak tempuh kurang lebih 30 km rumah-sekolah-rumah dan sore hari menjemput mereka kembali dengan jarak yang sama, cukuplah membuat otot betis saya terlatih tanpa harus workout di gym hehehe... Perjalanan ke sekolah adalah rute melawan arus para pekerja kantoran. Cukuplah saya tempuh dalam waktu 20 menitan. Tapi pas balik lagi ke rumah, saya harus berjibaku menembus padatnya lalu lintas karena searah dengan pusat kota. Kalo sedang apes bisa 50 menitan saya mainan gas rem-gas rem. Itu makanya sebelum berangkat sebisa mungkin saya membatasi asupan cairan yg masuk ke tubuh saya. Pagi hari, setengah gelas perasan jeruk lemon cukuplah sudah. Jika lebih dari itu, sangat tidak nyaman  ditengah macetnya lalu lintas kita menahan pipis dalam mobil.. hahaha...
     Diluar office hour, mengemudi di Kuala Lumpur cukup menyenangkan. Ini jika saya bandingkan dengan Jakarta tentunya. Ruas jalan yang lebih lebar adalah salah satu faktor yang memudahkan. Satu ruas jalan bisa terdiri atas dua atau tiga lajur, bahkan bisa empat atau lima lajur di jalan tol.
     Kalau boleh membandingkan, saya selalu deg-deg plas setiap kali melintasi jalanan Jakarta. Meski duduk di kursi penumpang rasanya mata ikutan jelalatan seakan dua mata yang dimiliki suami sebagai driver masih kurang sehingga saya harus menjadi asistennya ikut komentar "Awas kiri".. "Awas motor mau potong jalan".. dan berbagai kata awas lainnya. Masuk ke jalan raya ibaratnya kita siap memasuki medan pertempuran memperebutkan jalan. Siapa yang berani mepet, siapa yang berani potong, dialah yang menang... ah sudahlah.. kalo dijabarkan semrawutnya lalu lintas Jakarta, bisa panjang kali lebar saya menuliskannya.
     Seperti yang saya tulis diatas, disini, bukan tak ada macet, adaaaaa..... belakangan malah ada pake banget. Tahun 2014-2015 ini kemacetan di jam berangkat dan pulang kantor mulai di tahap macet yang tidak sopan. Dampak dari kemacetan ini, pengendara mobil mulai beralih menjadi pengendara motor. Otomatis motor mulai merajalela. Kalau pada awal kedatangan saya, pertengahan 2012, pemotor hanya satu dua, sebatas penghantar makanan delivery, tukang pos dan profesi sejenis. Sampai-sampai saya yang sewaktu masih di Jakarta suka bermotor ria, sedikit jiper dan terancam kehilangan kesenangan bermotor. Saya pun menduga jangan-jangan disini dilarang menggunakan motor, karena saking jarangnya melihat motor. Tapi sekarang mulai tampak seliweran ibu-ibu belanja ke supermarket  bermotor. Anak-anak diantar orang tuanya ke sekolah menggunakan motor. Dan... sayangnya para pemotor disini mulai menjadi follower pemotor Jakarta. Perilakunya enggak banget.. Mulai dari abai lampu merah sampai meliuk-liuk kiri kanan dengan kecepatan tinggi...ahh, sudahlah.. tak perlu ditulis tentang yang ini. Tidak ada menariknya..
       Mending saya menulis tentang ruas jalan yang lebar, yang membuat kendaraan lebih leluasa melaju. Bahkan dalam kemacetan, jika ada ambulance atau kendaraan emergency melintas meminta jalan, mobil-mobil tinggal sedikit menepi kekiri atau ke kanan, maka ambulance bisa melintas disela-sela mobil yang macet tadi.  
      Ada satu perilaku pengemudi yang menarik saya amati bahkan saya ikuti. Yaitu sopan-santun berkendara. Disini suara klakson hampir tidak terdengar. Orang tidak mengobral klakson hanya untuk meminta jalan, tersinggung dipotong jalan atau pelampiasan uneg-uneg yang lain. Cikgu (red : guru) belajar menyetir saya (yes, saya sempat mengikuti sekolah mengendarai mobil disini) bahkan memberi wejangan bahwa jika kita sedang ujian mendapatkan SIM, jika pada saat praktek jalan raya ada mobil yang mengklakson kita, nilai ujian kita akan jatuh, karena itu berarti cara kita mengendara mobil tidak save bagi orang lain. Terbukti orang lain complain mengklakson.
      Marka jalan benar-benar dipatuhi. Jalanan terbagi menjadi beberapa lajur dan di lajur-lajur itulah kendaraan akan melaju. Tidak ada yang melewati marka jalan. Pun ketika kemacetan melanda, mobil akan teratur di lajur masing-masing. Sabar, antri tanpa klakson. Tidak saling serobot berpindah ke kiri ke kanan seperti layaknya oportunis mencari celah jalur kosong. Tidak ada emosi jiwa. Capek kaki karena mainan rem-gas tidak secapek emosi jiwa bukan.. hihihi 
     Sopan santun lainnya adalah kebiasaan melambaikan tangan tanda terima kasih atau tanda permintaan maaf. Ketika saya ingin berpindah jalur, tentunya saya akan menyalakan lampu sign ... nah jika mobil di sebelah saya melambatkan lajunya untuk memberi saya jalan, maka disitulah saya akan melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih. Juga ketika saya tiba-tiba harus memotong jalan mobil lain karena suatu sebab penting (tentunya bukan sebab yang dibuat-buat ya...) maka saya akan melambaikan tangan tanda permintaan maaf. Pemandangan seperti ini setiap hari saya temui. 
     Dasar saya suka ngelamun... yang ginian pun saya lamunkan andai juga terjadi di Jakarta.. tentu stres menembus kemacetan sedikit berkurang jika dibarengi dengan toleransi dan sopan santun berkendara. Yaa.. siapa tahu ya... suatu saat nanti...

Rabu, 28 Oktober 2015

"Masuk Pesantren, Apa Salahku, Ibu?"

     Di salah satu group sosmed, ada postingan lagu yang dibawakan seorang gadis belia. Dengan diiringi petikan gitar dan nada-nada sederhana dia menyanyikan lagu yang liriknya antara lain, kurang lebih :

" Apakah aku bukan anakmu, ibu, yang boleh tinggal dan belajar di rumah "
"Aku berjanji akan tetap menjadi sholehah dengan tetap belajar di rumah"
" Di boarding tidak ada internet dan tv, makan-mandi harus ngantri"

     Dengan suara bening, disana ada nada curhat yang dikemas dengan canda.
Hehehe..saya mendengarkannya sambil merasa geli dan sedikit terbawa perasaan, tertawa tapi dengan hati yang lembab, karena anak sulung saya juga pernah bersekolah di boarding school, sekolah berasrama seperti pesantren tetapi manajemen, sistem pendidikan dan kurikulumnya lebih ringan. Materi agama tidak sekental di pesantren. Nurul Fikri Boarding School namanya. Berlokasi di Serang Banten. Mendengarkan lagu itu membuat saya benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh santri penyanyi itu. Curhat yang dilandasi kerinduan kumpul keluarga, banyaknya hafalan al-Quran, tidak leluasa internetan, antri makan dan mandi. Curhat yang sifatnya sentimentil... hehehe...
     Baiklah, sedikit saya akan menulis seperti apa boarding school, sebatas yang saya tahu saja, yaitu di sekolah anak saya. Di sekolah ini kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dari Diknas. Sama seperti sekolah negeri dan swasta lainnya. Buku yang digunakan pun sama. Hanya saja diluar jam sekolah murid disibukkan dengan kegiatan dan muatan lain. Karena sekolah ini adalah sekolah Islam, maka kegiatan lainnya tentulah kegiatan yang islami. Menghafal Quran adalah keutamaan. Selain sholat wajib 5 waktu yang harus didirikan di masjid. Pengajian dan pembinaan dalam kelompok-kelompok kecil juga dilakukan. Beragam ekstra kurikuler mulai robotik, astronomi hingga berbagai cabang olah raga juga difasilitasi. Hampir tidak ada waktu luang. Online di sosmed? Game? Lupakan saja. Hanya bisa dilakukan di hari Minggu jam 10 pagi sampai sebelum adzan Ashar berkumandang. Selebihnya laptop dan jaringan internet hanya sah jika ada tugas sekolah. Handphone boleh digunakan di hari-hari tertentu dan jam-jam tertentu ketika orang tua ingin melepas rindu dengan bertelepon. Televisi? Tentu saja big no. Yang ada juga koran  :D
     Saya, selaku orang tua merasa sreg menitipkan anak di lingkungan seperti ini. Andai... andai saja pada masa saya dulu sudah menjamur sekolah boarding, sayapun mau bersekolah di lingkungan ini.
     Hanya sayangnya, sesuai dengan lirik curol santri tadi, di kalangan masyarakat banyak yang masih punya anggapan bahwa pesantren maupun sekolah berasrama adalah sekolah tempat anak-anak nakal. Tempat anak-anak yang orang tuanya sudah tak sanggup untuk mendidik dan mengasuh. Entah karena sering tawuran, drug, alkohol atau segala macam yang berbau akhlak minus.
     Saya sendiri sempat ngobrol dengan seorang teman yang awalnya sih nanya-nanya biaya dan sistem belajar di Nurul Fikri. Lama-lama keluar satu-persatu keluhannya tentang anaknya usia SMP yang sedang bersekolah disuatu sekolah swasta reguler, yang sedang mencari jati diri dan rupa-rupanya sedikit salah menentukan arah. Kemudian mulailah ada nada-nada ancaman kepada sang anak jika tak memperbaiki sikap akan dikirim ke pesantren atau sekolah berasrama karena orang tua sudah tak sanggup menghadapi..
     Nah....
     Akhirnya saya tahu mungkin dari sinilah awal mula timbul anggapan dari anak dan masyarakat bahwa pesantren adalah tempat buangan anak-anak nakal. Atau anak-anak yang tidak diterima di sekolah favorit. Sebagian juga menganggap pesantren itu  kampungan, kaum sarungan, kuno dan semua yang kurang indah didengar.
     Mungkin benar adanya ya..mungkin dulu memang seperti itu. Tapi....kondisi sekarang berbeda, pesantren dan boarding bukan tempat buangan untuk anak-anak nakal. Di Nurul Fikri Serang, di tahun anak saya masuk, persaingannya berat lho untuk bisa sekolah disitu. Atau lihatlah Pesantren Modern Gontor, persaingan masuknya lumayan ketat. Boarding school yang lain juga tak kalah hebat. Anak2 pintar berebut porsi untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah boarding yang prestasinya sudah terbukti. Tes masuk dilakukan jauh sebelum sekolah-sekolah negeri yang favorit sekalipun buka pendaftaran. Bahkan sebelum kelulusan. Orang tua pun tak segan membayar biaya yang tidak murah demi anaknya mendapatkan pendidikan paralel antara ilmu dunia dan bekal akhirat. 
     Saya sendiri memutuskan mengirim sulung saya ke sekolah berasrama ini karena begitu khawatir dengan kondisi jakarta yang sarat lingkungan yang mengkhawatirkan. Tawuran dimana-mana tanpa pilih-pilih siapa lawannya. Belum lagi narkoba dengan bermacam bentuk siap mengancam. Pergaulan lawan jenis anak usia baru gede sungguh menakutkan. Beda jauuuhhh dibanding angkatan saya. 
     Parameter sekolah yang baik versi saya adalah sekolah yang bisa meluluskan siswa nya dengan akhlak yang baik dan mampu bersaing dengan sekolah lain. Bicara mampu bersaing ini tentu tidak jauh urusannya dengan nilai (ini mau tidak mau, karena ukuran keberhasilan sistem pendidikan kita masih berpatokan pada angka dan nilai). Sekolah yang oke adalah sekolah yang bisa meluluskan siswanya dengan nilai oke pula tanpa bantuan bimbel diluar sekolah, semua pembelajaran murni dari dan oleh guru. Sekolah yang siswanya bisa tembus PTN tanpa bantuan bimbel diluar sekolah. Dan hebatnya kebanyakan sekolah boarding/pesantren mampu melakukannya. Karena sering kali saya dengar ketika seorang anak lulus dengan nilai yang bagus dan diterima di sekolah favorit, pertanyaan pertama yang terdengar adalah : "Ikut bimbel dimana?".  Sayapun sempat ragu dengan kesiapan anak saya menjelang kelulusan, tanpa bimbel, bisakah? Dan kemudian ketika hari kelulusan tiba, keraguan saya tidak terbukti. Semua siswa di sekolah anak saya lulus dengan nilai-nilai yang alhamdulillah... :)
     Maka tidak berlebihan rasanya jika saya berharap jangan ada lagi anggapan yang salah tentang pesantren dan boarding school. Pesantren dan boarding school adalah tempat untuk menuntut ilmu sama seperti sekolah-sekolah yang lain, seperti sekolah reguler, sekolah full day maupun homeschooling.

Jumat, 09 Oktober 2015

Sungguh... Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (4)

     Delapan jam perjalanan darat dari Mekkah ke Madinah saya lalui dengan hati yang patah. Benar-benar tak rela meninggalkan Ka'bah. Serasa kehilangan saat-saat privat saya bersamaNya ketika tawaf. Saya belum bisa menemukan arti ziarah ke Nabawi. Untuk apa? Saya tak mengerti. Cukuplah bagi saya di  alHaram. Saya tak ingin kemana-mana. Saya terlanjur jatuh cinta dengan masjid ini. Dengan semua ibadah di masjid ini.
      Seperti yang saya tulis di awal cerita, saya berangkat ke tanah suci hanya berbekal buku dari Departemen Agama yang saya baca sambil membayangkan sesuatu yang abstrak. Juga manasik dari KBIH yang penjelasannya lebih ke arah ibadah praktek. Khususnya inti ibadah haji yang ditekankan pada saat wukuf. Saya mencari sendiri gambar-gambar yang menjelaskan keadaan disana yang hanyalah berupa foto-foto standar (Ka'bah dan Masjidil Haram era lalu sebelum renovasi). Esensial kunjungan ke Nabawi tidak saya hayati malah mungkin kurang saya fahami. Maka begitu saya terlanjur felt in love dengan Masjidil Haram, ketika harus berpaling ke Nabawi, saya merasa patah... 
     Sesampainya di penginapan yang jaraknya sekitar 800 meter dari Masjid Nabawi, kami langsung dikejar jadwal Arbain, sholat 40 waktu berturut-turut berjama'ah di masjid Nabawi tanpa terputus. Memang ini bukan termasuk rukun haji. Bukan pula keharusan. Tapi mengingat sholat di masjid ini 1000 kali lebih utama dibanding sholat di tempat lain, sayang rasanya untuk ditinggalkan.
     Saya yang tadinya menjalani dengan hati yang hampa, mulai merasakan ada yang adem memasuki masjid ini. Belum jatuh cinta, tapi lumayanlah, sudah mulai ga terpaksa-terpaksa amat. Disini suasana lebih syahdu dan tenang dibanding dengan di masjidil Haram. Berkeliling menikmati kemegahan dan modern bangunan membuat saya membayangkan seperti apa bentuknya pada saat Rasulullah masih hidup dahulu. Payung-payungnya yang siap mengembang menutup -dengan energi listrik- disesuaikan dengan cuaca atau pergantian siang dan malam membuat kesenangan tersendiri memandanginya.
     Ketika saya menuju sisi halaman yang lain, menuju tempat yang disebutkan menghadap makam Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar asSiddiq dan Umar Bin Khattab, membacakan doa-doa ziarah, kembali saya membayangkan seperti apakah sosok Rasulullah yang begitu memikirkan umatnya sehingga disaat-saat terakhirnya masih menyebut ummatii.. ummatii.. ummatii.. karena besarnya kasih sayang beliau kepada kami, umatnya. Seperti apakah sosok Abu Bakar yang merupakan as sabiqunal awwalun, sahabat golongan pertama yang mengimani Allah dan RasulNya, ikhlas menemani semua perjuangan Rasulullah, dan khalifah pertama dari khulafaur rasyidin. Seperti apakah Umar bin Khatab, si singa padang pasir, khalifah kedua yang sering menyertai peperangan, yang dikisahkan karena pembelaannya yang tinggi terhadap islam bahkan setan pun akan lari menjauh jika berpapasan dengannya... manusia-manusia pilihan yang mendapat kemuliaan dimakamkan berdampingan dengan makam Rasulullah.
     Ketika berziarah ke Raudhah, taman surga, tempat dikabulkannya doa, dimana didalamnya terdapat makam Rasulullah,  padatnya dan ramainya antrian membuat saya berfikir : Kami, manusia-manusia akhir zaman yang belum pernah bertemu muka dengan Lelaki Agung itu, berbondong-bondong sepanjang tahun, 24 jam berziarah.. ya, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk meluahkan rasa. Selain bersalawat atas Sang Junjungan . Disini.. hati saya mulai merindu. Hati yang tadinya hampa, patah.. perlahan berubah menjadi rindu. Ketika tiba giliran rombongan kami memasuki karpet hijau penanda bahwa kami telah menginjak area Raudhah, saya celingukan sambil mulut masih bersalawat, dimanakah makam itu. Sampai kemudian saya tersadar bahwa seharusnya saya sholat dan berdoa karena waktu yang diberikan tak banyak, bergiliran dengan rombongan lain. Meski ramai, sedikit terdorong dari belakang, tapi saya bisa menuntaskan ibadah dan doa tanpa dihalau oleh petugas. Alhamdulillah.. (tapi sejujurnya meski mulai mengharu biru, ini belum rasa cinta yang sesungguhnya. Saya merasakan jatuh cinta dengab Nabawi, seperti jatuh cinta dengan masjidil Haram Mekah, justru pada kunjungan ke dua tahun 2011, disaat umroh, saat itu saya tak kuasa menghentikan tangis ketika memanjatkan doa ziarah disisi makam Rasullah dan kedua sahabatnya. Cinta yang makin dalam pada kunjungan tahun-tahun berikutnya).
     Hari-hari berlalu di Madinah. Jarak 800 meter yang saya lalui dari penginapan ke masjid, dikalikan dua jika pulang pergi, dikalikan lima jika sholat lima waktu mulai menguras energi saya. Tapi lagi-lagi saya menikmatinya. Saya anggap perjalanan pulang pergi dari dan ke masjid dimana kiri dan kanan sepanjang jalan trotoar penuh dengan pedagang kaki lima, sebagai window shopping. Meskipun dari hari ke hari dagangan yang saya lihat hanya itu-itu saja. Saya tak perduli.. tetap saya nikmati. Kedai-kedai makanan dengan menu berjudul sok Indonesia meski rasanya sangat jauh dibawah ekspektasi saya yang sudah merindukan selera Indonesia membuat saya sama sekali tidak melirik untuk membelinya. Terikan promosi pedagang tasbih pun saya jadikan hiburan hingga tak terasa tempat tujuan sudah di depan mata. Bahkan ketika di sebuah sore menjelang waktu ashar, ketika berangkat ke masjid hujan dan badai pasir melanda Madinah. Saya dan suami berjalan bergegas diantara pasir yang beterbangan menerpa wajah. Diiringi koper-koper pajangan beterbangan tertiup badai, dari toko-toko pinggir jalan. Berapa kecepatan angin sehingga koper sebesar itu bisa terbang! Sejenak kami tertegun untuk kemudian sibuk menghindar sana sini agar tak tertabrak koper... itupun kami nikmati.. :D
     Hingga akhirnya hari itupun tiba. Hari kepulangan kami ke tanah air setelah 42 hari kami tinggal di kedua tanah suci ini. Setelah tiga hari sebelumnya petugas penimbang koper datang ke penginapan untuk menimbang koper-koper kami agar tidak melebihi berat yang telah ditentukan pihak maskapai, yaitu 32 kg. Hanya rasa rindu keluarga yang membuat saya ingin pulang. Jika tidak memikirkan keluarga, mungkin saya tak punya keinginan untuk pulang... kecuali jika uang telah habis tentunya hehehe...
     Dan tak seperti pejalanan berangkat, selama penerbangan pulang ini terasa begitu panjang dan menjemukan. Seperti naik keong rasanya. Ada ruang hati yang hampa. Setiap waktu sholat datang, serasa saya ingin lompat kembali ke masjid. 
Belum juga saya menginjakkan kaki di tanah air.. tapi saya mulai merindukan kembali ke tanah suci.. Undanglah kami kembali ke rumahMu ya Allah.. kembali dan kembali...

Rabu, 30 September 2015

Sungguh.. Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (3)

     Hari-hari di Mekkah sepulang dari Mina berjalan seperti biasa, seperti sebelum armina. Saya lebih santai. Lebih menambah speed target-target ibadah. Jika sebelum armina saya lebih hati-hati menjaga stamina tubuh dan makanan karena kuatir ambruk saat wukuf. Sekarang mulai teledor. Itu makanya suara sempat hilang karena mulai berkuliner bersama suami, terutama menjelajahi jus buah yang warna dan penampilannya melambai-lambai untuk dicoba. Hanya suara yang hilang, alhamdulillah. Sehingga rutinitas ke alHaram berjalan normal. 
     Tak dipungkiri, saya betah disini. Sayangnya datang berita sedih dari ibu saya yang membuat konsentrasi ibadah saya buyar sebuyar-buyarnya. Anak bungsu saya, Nisrina (waktu itu berumur 2 tahun) masuk rumah sakit. Dehidrasi. Malas makan dan minum. Mungkin karena mulai rindu orangtuanya yang membuat dia malas makan-minum. Saya ingin pulang. Andai pesawat bisa di stop semudah menyetop angkot. Andai pesawat bisa dilambai semudah kita melambai ojek....
     Doa demi doa mewarnai hari-hari saya dan suami. Teman-teman serombonganpun mendoakan kesembuhan Nisrina. Di tawaf putaran ke tujuh doa dilantunkan oleh ketua rombongan dan kami aminkan. Tangis saya pecah. Antara terharu atas perhatian mereka dan keinginan memeluk anak.
      Hati saya tak menentu menunggu kabar baik dari ibu. Di pelupuk mata hanya ada wajah anak saya. Handphone pun selalu saya pandangi dengan cemas. Kuatir ada kabar buruk datang. Komunikasi dengan data belum seluas sekarang. Belum ada bbm, whatsapp ataupun line. Semuanya hanya mengandalkan sms dan phone call. Ketika saatnya bertelpon pun anak saya hanya mau mendengar suara saya. Tak hendak menjawab.  Sembilan hari bukan waktu yang pendek untuk batita dehidrasi yang dirawat di rumah sakit. Sembilan hari bukan waktu yang singkat untuk seorang ibu yang berada jauh dari anaknya yang sedang sakit. Sampai akhirnya Alhamdulillah... Nisrina boleh pulang ke rumah. Sujud syukur kaminkepadaMu ya Allah...
     Kesembuhan ini tak lepas dari kekuatan doa. Banyak tempat yang menjanjikan doa-doa makbul disini. Multazam, belakang Maqam Ibrahim, setelah tawaf, Hijr Ismail adalah beberapa yang diantaranya. Itu pula yang membuat teman-teman dan kerabat, sebelum kami berangkat ke tanah suci, pada menitipkan doa untuk dibacakan di tempat-tempat multazam tersebut. Waktu itu sengaja saya tulis di buku satu persatu nama dan doa mereka. Agar tak ada yang terlewatkan ketika saya membacakan doa. Ini terinspirasi ketika kanak-kanak, ibu saya berkunjung ke seorang teman yang akan berhaji. Ibu saya menitip doa  agar bisa berhaji dan teman ibu saya ini mencatatnya. Untuk ukuran perekonomian ayah-ibu saya saat itu, pergi haji hanyalah mimpi yang begitu jauu....h. Dan titipan doa yang dicatat ini melambungkan semangat tersendiri untuk ibu saya. Demikian kuatnya keinginan ibu saya untuk berhaji, waktu itu setiap ada teman yang akan berhaji ibu selalu berkunjung dan menitip doa. Titipan yang dijawab dengan jawaban "Insya Allah, nanti didoakan", atau jawaban "Semuanya pada waktunya akan berangkat haji". Tak salah memang, tapi dengan mencatatnya maka orang yang titip akan lebih bersemangat dan yang dititipin akan berusaha menunaikan amanah dengan lebih baik. That's why.. kenangan masa kecil itu saya simpan di kepala, bahwa suatu saat nanti, jika Allah memberi kesempatan saya untuk berhaji, akan saya catat satu demi satu, saya bacakan di tempat-tempat mustajabah satu demi satu. 
     Dan berbicara tentang tempat mustajabah disini, sungguh, jangan pernah sedikitpun meragukan. Jangankan doa-doa serius yang ingin dipanjatkan. Omongan yang tak seriuspun dalam hitungan waktu yang singkat akan menjadi kenyataan. Dua hal yang saya ingat dan tersenyum sendiri setiap mengenangnya. Suatu pagi sepulang dari alHaram sambil berjalan kaki saya rasan-rasan sama suami kenapa disini ga ada kucing. Ini pertanyaan tidak penting memang. Tapi bagi saya si pemerhati kucing ini, pertanyaan itu terlontar begitu saja. Dan.... sekejap, esoknya hampir setiap hari saya selalu bertemu kucing. Di Masjid depan penginapan, di jalanan, di gerbang alHaram.. dimana-mana, bahkan ada yang menguntit saya atau menggosokkan badannya di kaki saya.. hehehe..
     Tak belajar dari pengalaman pertama, kembali saya berbincang dengan suami bahwa di Mekkah ini, terutama musim haji adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin semua bangsa di dunia. Tapi mengapa saya belum pernah berjumpa bangsa Tiongkok dan Jepang. MasyaAllah.. kembali Allah menunjukkan kuasanya... setelah ucapan itu setiap hari saya bertemu mereka. Di putaran tawaf, di shaf-shaf shalat, di toko-toko makanan.. (oh ya, setelah armina kami memang lebih sering jajan dibanding makanan jatah dari pemerintah. Selain bosan dengan menunya, rasanya belum lengkap kalau tidak mencoba kuliner negara ini). Sampai saya hafal sangat gaya berbusana mereka. Cara mereka berkerudung dan baris berbaris jika tawaf berombongan.. hahaha.. di tempat suci ini rasanya saya harus menyudahi omongan-omongan yang tak perlu. Kuatirnya jika yang keluar dari mulut saya adalah omongan jelek dan Allah mengabulkannya.. Naudzubillaahi min dzalik..
     Tapi... sudah waktunya kami berkemas meninggalkan Mekkah untuk beranjak ke Madinah, masjid Nabawi, menziarahi masjid dan makam Rasulullah SAW. 32 hari telah kami lalui di Mekkah. Sungguh sedih ketika harus mengemas koper. Meninggalkan area favorit saya yaitu lintasan tawaf. Lantai yang saya selalu merasa adem jika bersimpuh diatasnya sambil memandangi Ka'bah setelah sholat sunnah ba'da tawaf di belakang Maqam Ibrahim. Sebersit pertanyaan konyol melintas di kepala saya.. kenapa harus ke Madinah. Kenapa tidak disini saja... tawaf wada' saya jalani sambil menangis. Tak rela berpisah.. berharap sangat untuk kembali..

**bersambung**

Jumat, 25 September 2015

Sungguh... Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (2)

  Saat yang dinantikan pun datang, puncak ibadah haji. "Alhajju arafah" haji adalah arafah. Ba'da ashar kami sudah rapi berada dalam bus. Hujan deras diiringi sesekali kilat berkelabat. Saat-saat mustajabah untuk berdoa. Saya hanya berdoa memohon kelancaran dan kesehatan menjalani inti ibadah haji ini. Masih mengambang seperti apa Arafah, Muzdalifah dan Mina (armina) nantinya. Karena pada saat manasik haji tidak dibahas secara visual tentang hal ini. Sebenarnya saya bisa mencari tahu suasana armina melalui internet. Tetapi tahun itu google dan youtube belum se booming sekarang. Saya memanfaatkan internet baru sebatas facebook dan email.. ya.. lagi-lagi ndeso sekali saya hehehe...
     Bus belum bergerak. Lumayan lama kami berada di bus. Tidak jelas, menunggu hujan reda atau menunggu kabar aliran lalu lintas menuju Arafah sedikit longgar. Karena pada saat-saat seperti ini lalu lintas begitu padat karena seluruh jamaah calon haji berbondong-bondong menuju arah yang sama. Kami bertalbiyah.
     Diwarnai kejadian bus nyasar karena sopir tak tahu jalan, disebelah mana tenda regu kami berada, adalah hikmah tersendiri. Kami tak basah kuyup di dalam tenda.. Alhamdulillah.. Karena pada saat sopir sibuk mencari arah, rupanya tenda kami tempias oleh air hujan yang begitu deras. Bahkan air menggenangi karpet-karpet alas tenda. Sebelum berangkat ke tanah suci, mengingat saya suka sesak nafas ketika menghirup debu, ibu saya menasehatkan untuk membawa alas kain karena karpet tenda yang disediakan biasanya kotor berdebu. Tapi dengan kondisi karpet yang kuyup seperti ini, alas kain pun pasti ikutan kuyup... lagi-lagi alhamdulillah teman se rombongan membawa tikar plastik. Jadilah saya ikutan nebeng di tikar yang sambung menyambung itu.
     Malam itu, udara sejuk selepas hujan sangat membantu kami. Tidak kepanasan dan tidak dinyamukin. Malam semakin larut dan suasana semakin syahdu. Di beberapa sudut tenda terdengar suara mengaji dengan penerangan senter, juga jamaah yang sholat tahajud dengan sujud-sujud yang panjang.
    Menjelang khutbah wukuf kami duduk bersaf-saf, merasakan kedekatan dengan sang Khaliq. Kedekatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Merasa malu dan berkecil hati siapalah saya ini sehingga disaat seperti ini Allah yang Maha Agung membanggakan kami kepada para malaikatNya. Siapalah saya ini yang jika bukan karenaNya tidaklah mungkin berada disini. Shalat dzuhur dan ashar yang berjamaah yang dilaksanakan secara jamak terasa begitu istimewa. Isak tangis tertahan mulai terdengar disana sini.
Hawa panas siang hari tak lagi terasa ketika kami bersama mengumandangkan talbiyah dan zikir sepanjang siang sampai menjelang maghrib. Hanya airmata. Hanya permohonan ampun. Tubuh saya bergetar, mata saya terasa berat untuk dibuka. Sembab (Nantinya saya menyadari sembabnya mata ketika melihat foto-foto dokumentasi. Sore hari, ketika prosesi wukuf berakhir, acara foto-foto mah tetep lah ya... hehehe). Menjelang maghrib kami keluar tenda, berdoa menghantarkan sejumlah permohonan. Saya sempat blank disitu. Apa lagi yang harus saya pinta. Semua kenikmatan telah Allah berikan tanpa perhitungan. Tak kuasa mulut saya berucap kecuali permohonan ampun dan ucapan syukur. Saya blank, hanya ingin waktu terhenti, hanya ingin suasana ini tidak cepat berlalu. Sampai kemudian ketika saya kembali tersadar bahwa ini adalah saat-saat mustajabah terkabulnya doa, saya menambahkan segala doa kebaikan untuk keluarga saya, anak-anak dan orang tua.
     Menjelang maghrib, pengumuman mulai terdengar agar kami berkemas bersiap memasuki bus. Perjalanan menuju Muzdalifah memakan waktu antara 2-3 jam karena padatnya lalu lintas. Padahal jarak Arafah-Muzdalifah hanya sekitar 9 km. Dari jendela bus saya melihat rombongan jamaah haji dari negara lain yang berjalan kaki. Ya, di situasi seperti ini berjalan kaki tentunya lebih cepat daripada berkendaraan yang sering kali terhenti mengantri. Ketika kami sampai Muzdalifah, tampak jamaah bergerombol sana sini mengumpulkan kerikil-kerikil kecil yang akan kami gunakan untuk melontar jumroh di Mina nanti. Dari negara manapun, perlengkapan kami sami sama : kantong kerikil dan senter hehehe...
     Setelah jamak qashar maghrib dan isya' beralaskan tikar, beratapkan langit saya terdiam. Badan mulai lelah. Memandangi sekitar. Lautan manusia berkain putih, lelah, tak wangi. Dengan kepasrahan tingkat tinggi hanya kepada Sang Pemberi Kehidupan.
     Lewat tengah malam, bus tumpangan maktab kami telah menunggu. Bergiliran. Pertanda kami bersiap bergerak ke Mina. Tidak menunggu fajar. Karena bisa dibayangkan jika semua jamaah bergerak ke Mina diwaktu yang sama pasti lalu lintas tak akan bergerak saking padatnya. 
     Marathon kami melanjutkan jumroh aqobah sesaat setelah meletakkan tas dan perbekalan di tenda. Saya sedikit demam. Badan melayang terasa ringan seolah tak menapak bumi. Gamang, mampukah saya berjalan kaki ke area jamarat yang kabarnya mencapai 2-3 km dari tenda kami. Jarak itu dikalikan dua untuk kembali ke tenda penginapan. Beriringan diantara lautan manusia yang semuanya juga pastilah dalam kondisi lelah. Bismillah.. Hanya berbekal doa memohon kekuatan "Laa khaula wa laa quwwata illa billah" dan "Khasbunallaahu wa ni'mal wakiil", makan beberapa biji kurma dan minum air zam-zam saya membulatkan tekad untuk melangkahkan kaki di waktu menjelang subuh itu. Tidak saya keluhkan dropnya stamina saya ke siapapun karena saya sadar betul kami semua sedang lelah. Suami yang menunggu di depan tenda saya (kami berada di tenda yang terpisah antara rombongan laki-laki dan perempuan) untuk bersama ke jamarat membuat semangat saya mulai terpompa. Setengah perjalanan, Alhamdulillah badan saya mulai segar kembali. Melewati jalanan dimana tenda-tenda di kiri kanan kami berdiri, tenda-tenda jamaah negara lain dengan lambaian bendera yang beraneka ragam, melewati terowongan Muaisim yang panjang, blower-blower yang besar agar sirkulasi udara dalam terowongan tidak pengap. Saya menikmatinya. Finally.. alhamdulillah jumroh aqabah akhirnya bisa saya jalani dengan lancar.
     Selama di Mina, di siang dan malam hari saya sempatkan jalan-jalan diseputaran maktab, melihat pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mulai dari batu akik, kerudung sampai souvenir hiasan meja. Warung-warung dadakan penjual buah dan popmie juga bermunculan. Hajatan tahunan haji ini dimanfaatkan betul oleh penduduk Mina untuk menjemput rizki. Jika di hari-hari biasa Mina adalah daerah yang sepi, maka di momen-momen seperti ini Mina menjadi ramai dan hidup. Lagi-lagi saya menikmati pengalaman ini. Saya abaikan pengalaman panjangnya antrean toilet yang membuat saya galau jika ingin minum karena tak mau terlalu sering berurusan dengan toilet. Saya abaikan catering yang menunya dibawah standar yang membuat selera makan saya turun di limit terendah. Saya abaikan gunungan sampah di pojok-pojok kawasan maktab yang membuat saya menahan nafas setiap kali melewatinya. Meski saya sempat membahasnya dengan suami. Membandingkan dengan maktab negara lain, tapi saya anggap itu bahan diskusi yang membuka wawasan kami. Hingga akhirnya habislah masa tinggal di Mina ketika kami harus bergerak kembali ke Mekkah karena rombongan saya memilih mengikuti nafar awal, artinya kami tinggal di Mina hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah. 
     Semua hal yang saya nikmati selama rangkaian perjalanan haji sejenak terhenti di momen ini... huhuhu... didalam bus, perjalanan kembali ke kota Mekkah, diantara parahnya kemacetan lalu lintas. Bus kami benar-benar terhenti tak bergerak. Dan saya mual. Perpaduan antara sopir bus yang rem-gas-rem-gas dan kondisi fisik yang kembali lelah membuat perut saya teraduk-aduk. Semerbak bau balsem mulai bermunculan dari beberapa arah tempat duduk. Makin membuat saya tersiksa. Ya sudahlah... saya tambahin saja bebauan itu dengan minyak kayu putih yang saya bawa... heheheh... sekalian deh...kali ini saya beneran tidak menikmati. Dan ketika Masjidil Haram telah tampak, saya dan suami memilih turun dari bus. Beberapa teman seusia (waktu itu tergolong usia muda) mengikuti. Di jalanan itu kami hafal betul arah mana yang harus dituju untuk sampai ke penginapan di Mekkah. Mungkin berjalan kaki akan lebih cepat sampai tujuan daripada duduk mual di bus yang entah kapan akan bergerak maju....

**bersambung**

(Cerita ini saya tulis ketika kembali terjadi tragedi di musim haji tahun 2015 ini. Hitungan sementara 750 jiwa syahid karena berdesakan menuju lokasi jamarat. Ini musibah ke dua setelah crane yang tumbang di pelataran Masjidil Haram. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihi wa'fuanhum.. Kematian yang indah..
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah.. irji'ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah. Fadkhuli fii ibadii wadkhulii jannatii -al Fajr 27-30)

Minggu, 20 September 2015

Sungguh.. romantisme bersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang


     Membaca sebuah harian, satu demi satu kelompok terbang haji mulai meninggalkan tanah air. Dengan niat, tujuan dan hati yang sama : panggilan Allah SWT untuk menjadi tamuNya.
     Hati saya selalu biru terharu setiap kali musim haji tiba. Terlebih jika ada keluarga dan teman yang berangkat. Bercanpur antara gembira, envy dan bernostalgia. Membuka lembar demi lembar memori  yang tersimpan rapi. Tak ingin menghapusnya.
     Saya berhaji bersama suami tahun 2009. Meski beberapa kali Allah memberi kesempatan untuk kembali berumrah di tahun-tahun berikutnya, pengalaman berhaji ini tetap menjadi yang teristimewa. Karena itulah kunjungan pertama. Umrah pertama dan haji pertama (pengennya sih nulis semoga akan ada haji-haji berikutnya.. tapi sungkan sama yang sedang waiting list).
     Karena masuk gelombang ke 2, kami langsung menuju Mekkah. Cuaca mulai dingin, tak lagi ekstrem panas seperti bulan-bulan sebelumnya. Mirip-miriplah dengan cuaca Jakarta. Kecuali kelembaban udara yg lebih kering dan jam biologis yang berselisih 4 jam lebih lambat daripada Waktu Indonesia Bagian Barat. Saya membutuhkan waktu 2-3 hari untuk penyesuaian ritme harian tubuh.
     Sembilan jam perjalanan pesawat tak terlalu saya rasakan. Tertutup oleh antusiasme dan keingintahuan yang tinggi seperti apa Mekah, seperti apa Kabah. Pikiran saya melayang timbul tenggelam antara tak sabar untuk mendarat dan galau meninggalkan 3 anak dibawah umur dirumah bersama ibu dan mertua.
      Beberapa saat menjelang miqot (kami miqot selagi masih di pesawat tepatnya di Qarn al Manazil sekitar 90km sebelum memasuki kota Mekah) saya lebih deg-degan. Sampai akhirnya ketua kloter mengumumkan untuk mengucapkan talbiyah tanda kami telah meniatkan melaksanakan umroh dimana telah berlaku syarat dan larangan-larangan umroh, disitu saya merasakan getaran yang blm pernah saya rasakan sebelumnya. Bergetarnya bibir melafadzkan "Labbaik Allahumma Labbaik dan  bergetarnya hati hingga air mata yang tak tertahankan. Jiwa saya melayang seakan berada disuatu tempat yang jauh. Tapi begitu indah...
                                ****
     Proses imigrasi memakan waktu yang panjang dan menjemukan. Antrean panjang, sesekali adegan serobot dan teriakan petugas menambah rasa lelah yang mulai saya rasakan. Rasa lelah yang membuat saya mulai blank. Hingga akhirnya saya berada dipenginapan. 
     Penginapan saya di kawasan Ma'abdah. Karena saya berangkat dengan haji reguler, sekamar kami rame-rame berlima. Ke empat teman sekamar saya sudah memiliki cucu. Kamar saya berada di lantai 4. Dikemudian hari, jika ngantri lift terasa lama, saya akan naik turun menggunakan tangga saja. Jarak antara penginapan dan masjidil haram sekitar 2km. Tersedia bus antar jemput pulang pergi penginapan-alHaram untuk 5 waktu sholat. Hanya saja, jika selesai waktu sholat saya dan suami masih ingin thawaf sunnah, tentu saja bus sudah bye-bye.. ditinggalin.. dan tentu kami harus siap jalan kaki sejauh 2km utk kembali ke penginapan. Capek.. tapi nyatanya setiap pagi saya tetap aja memilih tinggal lebih lama di masjid dan pulang jalan kaki.. :)

  -----Rasa-rasanya judul ini bakalan menjadi postingan yang panjang... cerita saya belum beranjak berpindah hari.....:* ----

    Hanya beberapa jam di penginapan, kami segera ke alHaram. Bersegera menunaikan umrah pertama. Saya celingukan mencari dimana Ka'bah. (Sebenarnya sejak bus yang saya tumpangi dari bandara menuju Mekah sudah memasuki kota Mekah, saya dengan ndesonya sudah tolah toleh di jendela, mencari Ka'bah. Khayalan katro saya membayangkan seakan Ka'bah itu menjulang seperti Monas atau Tugu Pahlawan di Surabaya hehe..). Kemudian celingukan saya berhenti di satu titik ditengah pusaran arus manusia yang begitu rapat dan ritmik. Khusuk dan syahdu... Allahu akbar... terima kasih Alhamdulillah telah Kau beri kesempatan hamba untuk menyaksikan langsung kiblat kami.. lambang persatuan kami...
     Putaran demi putaran tawaf saya jalani dengan derai air mata yang saya tak bisa menjelaskan tangisan apakah gerangan. Menghayati doa demi doa, lambaian tangan dan kecupan sepenuh jiwa ke arah sudut dimana hajar aswad berada... (sampai detik ini, bagi saya jika berada di Mekah, thawaf adalah ibadah favorit saya. Setiap langkah, melewati Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Multazam, rukun yamani, rukun iraqi.. semua saya resapi keindahannya.. tapi tidak bagi ketiga anak saya. Ibadah favorit mereka adalah sa'i. Karena bisa lari-larian diantara 2 lampu hijau hehehe).
     Umroh pertama telah kami jalani dengan lancar.. Alhamdulillah..
Hari-hari selanjutnya saya lalui dengan ritme yang sama. Jam 2 dini hari ngantri kamar mandi persiapan ke alHaram. Jam 3 berangkat. Jam 10 pagi balik ke penginapan. Duhur-ashar sholat berjamaah di masjid di seberang penginapan. Sore jam 4.30 berangkat ke alHaram untuk sholat maghrib dan isya. Ba'da isya kembali ke penginapan. Rutinitas yang sama tidak membuat saya bosan. Satu-satunya yang membuat saya bosan hanya menu catering yang hanya itu-itu saja. Yang meskipun oleh pihak catering dimasak ala-ala Indonesia, hehheh.. tetap saja rasanya tak sama.  Saya rindu kuliner tanah air :D

**bersambung**

Selasa, 15 September 2015

Koncoan Yuuuk part 2 (Manusia Selalu Berubah)


    Tulisan ini masih tentang tema pertemanan. Ya, memang pertemanan selalu menarik untuk dijalani.. (atau dibahas?). Dengan berteman maka hidup akan penuh dengan warna. Karakter orang-orang yang berinteraksi dengan kita akan mewarnai hari-hari kita. Dengan latar belakang sosial atau budaya yang berbeda, tentu setiap kejadian dan aneka cara pandang menyikapi kejadian tersebut akan sangat menginspirasi.
     Membaca sebuah buku yang sedang happening dari seorang penulis ternama tentang seekor koala yang sejenak bermigrasi meninggalkan habitatnya, untuk kemudian kembali. Hanya sayangnya habitat dan komunitasnya sudah berubah ketika ia kembali. Hutan menjadi gersang karena pepohonan ditebang.. dan dia termangu melihat segala perubahan itu. Tempat tinggalnya tak lagi sama...
      Saya membaca dengan sepenuh perasaan paragraf itu. Menghayati dengan hati yang basah dan berdesir. Merasakan kehilangan yang sama.
     .........................

     Facebook adalah media sosial pertama yang saya ikuti. Menyenangkn tak terkira bertemu teman-teman lama satu demi satu, setelah lamaaaa tak bertemu, bahkan tak berkabar. Saling menyapa dan saling bercanda mengingat kisah-kisah lucu masa lalu, itu sesuatu yang mewah.
     Nah setelah sosmed mulai mewabah trend reuni dan copy darat pun ikutan mewabah. Postingan kabar dan gambar dari sekedar ketemuan kelompok-kelompok kecil di rumah makan sampai reuni besar-besaran per angkatan menghiasi wall saya. Membuat kami, saya dan teman-teman sekolah terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
     Beberapa reuni berakhir menyenangkan. Seakan kita tetap muda, tetap remaja-remaja khas dengan badung-badung wajarnya (hehehe.. apa pula tuh badung-badung wajar. Tapi iya loh, remaja sekarang badungnya menakutkan. Ga semua sih.. yang berprestasi juga banyak, tapi yang kriminal tak kalah banyak).
     Tapi sedihnya ada reuni yang berakhir hambar. Sebenarnya hambarnya reuni ini sudah terbaca dari hambarnya situasi group di sosial media. Jika group2 lain ramai dengan memori masa sekolah, mengenang pengajar, aktifitas, kekonyolan masa lalu, sharing motivasi, maka group ini seperti hidup segan mati tak mau. Jika ada postingan hampir selalu tak ada yang menanggapi.
     Di acara reuni itu, riang setelah salaman dan saling sapa rindu beberapa saat kemudian berganti suasana dengan kekakuan. Masing-masing memegang gadget dan sibuk mnggerakkan jari jemari untuk melayari dunia lain. Bisu. Beruntung acara di panggung utama cukup bisa membunuh kekakuan dan kebisuan. Menjembatani kami untuk kembali saling lempar celetukan.
     Sepulang dari reuni, yang terbawa hanya foto dan catatan di kepala : "Ya, kita telah reuni". Group sosial media tetap sepi. Postingan dari volunteer yang ingin menghangatkan suasana tetap tak bersambut. 
     Padahal duluuuu keakraban pernah terjalin. Melewati masa sekolah bersama, bercanda bersama, belajar bersama. Kadang juga bolos bersama. Keadaan selepas reuni menampar kesadaran saya betapa seiring bertambahnya usia manusia berangsur berubah. Sesorang yang dulu kita kenal dekat sekarang begitu jauh dan asing. Mungkin memang benar ada ungkapan "People change". Tapi alangkah terkejutnya kita ketika perubahan itu tak seperti yang kita harapkan. Yaaah... mungkin mereka memang berubah. Atau justru saya yang berubah. Atau justru saya yang tidak bisa memahami perubahan manusia.. entahlah..
     That's why ketika saya membaca buku tentang koala tadi, maka saya membacanya dengan sepenuh perasaan. Tak cukup sekali membacanya. Saya ulang dan ulang lagi..Karena sayapun pernah merasakan kehilangan yang serupa. Ketika kembali memijakkan kaki di suatu tempat dan lingkungan yang dulu saya anggap rumah, rumah itu tak lagi sama...

Minggu, 06 September 2015

Koncoan Yuuk

     Sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia selalu membutuhkan lingkungan dan pertemanan. Sejak kecil hingga dewasa sosialisasi dengan sesama adalah keharusan. Sejak dalam kandungan, janin berteman dengan detak jantung ibunda, dan juga elusan dan bisikan ayah bunda. Ketika lahir pertemanan bertambah ke saudara, kakek-nenek, om-tante dan para sepupu. Semakin bertambah umur, semakin meluas pertemanan. Teman sekolah, teman ekskul, teman satu kompleks, teman kerja, teman arisan, teman masa kecil...
       Kadang malah pertemanan ini meningkat statusnya menjadi persahabatan bahkan persaudaraan. Mungkin karena faktor kecocokan atau persamaan pengalaman hidup yang menyebabkannya.
       Tapi kadangkala pertemanan ini merenggang, juga karena beberapa faktor : tersinggung, dikhianati rahasia curcol yang bocor kemana-mana (ibu-ibu banget nih bahasanya), nemu teman baru sehingga melupakan teman lama, kasih tak sampai atau sayang tak berbalas (ehhh..apa sih..)
      Teringat percakapan dengan seorang teman yang bercerita bahwa dia adalah tipe orang yang mendewakan persahabatan dan dengan gampangnya menjatuhkan status 'sahabat' kepada orang yang hari ini baru saja ngobrol sedikit lebih dekat daripada obrolan kemarin-kemarin. Kepada orang yang hari ini kebetulan bercanda lebih riuh daripada kemarin-kemarin. Kepada orang yang pasangannya berteman dekat dengan pasangannya (bahasa apa ini.. pake kata 'nya' kok berderetan). Mungkin... ini mungkin sih... teman saya ini, stok rasa persahabatannya seluas samudera.
     Tidak dipungkiri memang sharing dengan teman ini sangat menyenangkan. Wawasannya luas dan empatinya tinggi. Bisa masuk ke percakapan  lintas usia dan sense of humor yang lumayan tinggi. Bagi saya agak susah berkata tidak berteman dengannya.
     Makanya saya sedikit heran ketika dia mengeluhkan tentang susahnya mendapatkan sahabat. Sekalinya dia menjatuhkan vonis 'sahabat' ke seseorang ternyata orang tersebut sama sekali tidak menganggapnya sahabat. Diremove dari friend list sosmed, text message yang tidak direply sama sekali, ditinggalkan tanpa diikutsertakan dalam suatu kegiatan, tidak di tag di foto yg diupload di sosmed (padahal serombongan orang lain, pada foto yang sama, pada di tag),  atau pura-pura tidak dikenali oleh seseorang yang baru kemarin meminta bantuan adalah beberapa contoh yang dikeluhkan (dan syukur alhamdulillah teman ini tidak keberatan ceritanya saya tulis, jadi saya tidak masuk dalam kategori pembocor cerita, bukan..hihi)
     Dan saya.... saya bisa apa? Saya ini hanya ibu-ibu beranak tiga penarik bajaj antar jemput anak sekolah. Bisa memberi solusi apa sih untuk keluhan yang membutuhkan keahlian tinggi untuk memberikan solusi.
     Palingan hanya rasa simpati karena pada satu dua kasus saya juga mengalaminya.
     Palingan hanya bisa menghibur :  mungkin lebih enteng bagi kita untuk berteman, bergaul tanpa melibatkan predikat apapun ke sesama. Sebutan 'sahabat', 'saudara beda ibu', 'teman seperti saudara' , ‘saudara ketemu gede’, hanyalah predikat yang membebani sebuah relationship. Akan membuat ekspektasi yang lebih tinggi untuk sebuah relationship. Akan menuntut sesuatu yang lebih istimewa dibanding lainnya. Akan mempersempit lingkungan pergaulan karena merasa yang ini sahabat yang itu bukan. Cukuplah persahabatan hanya dirasakan dalam hati. Tanpa disebutkan, apalagi diucapkan/diisyaratkan didepan teman-teman lain bahwa 'ini sahabatku' karena akan menimbulkan kecemburuan sosial bagi teman lain yang belum dianggap sahabat. 
     Sebuah pertemanan akan lebih bermakna ketika kita bisa membantu sesama disaat mereka membutuhkannya. Lebih berarti ketika dukungan datang disaat kita membutuhkan. Tak peduli dari siapa. Lebih berharga ketika kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
     Karena bagi saya.. sekali lagi bagi saya.. persahabatan bukan untuk disematkan dengan kata-kata. Bagi saya persahabatan hanya bisa dirasakan dalam hati. As simple as that.

Kuala Lumpur, 6 September 2015

Selasa, 25 Agustus 2015

Prasangka

     Ini peristiwa yang sudah lama terjadi, lama disimpen dan mulai terlupakan. Hanya berbentuk draft coretan di buku, yang pengen ditulis lengkap, tapi malas melulu..
Tentang prasangka  hati yang didahulukan sebelum melihat kenyataan. Padahal kenyataan itu, asal mau bersabar, akan datang hanya dalam hitungan menit.

DON'T JUDGE THE BOOK BY  ITS COVER

Ini ungkapan lama yang sebetulnya sudah dihafal diluar kepala, lengkap dengan artinya, lengkap dengan maknanya. Kurang apa coba..
Tapi entahlah, untuk menerapkan di kehidupan sehari-hari, rada-rada sulit ya.. untuk saya sih..

Hingga di suatu sore..

     Antrean panjang menuju gerbang sekolah anak-anak yang mengular phyton, adalah perjuangan yang yuhuiii untuk dilalui. Lokasi sekolah yang tepat di pertigaan ujung lampu merah menambah parah antrian. Kuala Lumpur yang pengendaranya lebih beradab dan sopan dibanding pengendara di Jakarta pun, di antrian ini seringkali adu serobot antar sesama. Pengabaian detik-detik pertama saat lampu lalu lintas berubah dari warna kuning ke warna merah adalah pemandangan yang lumrah, mengingat kebanyakan dari para pengantar anak sekolah ini akan langsung tancap gas menuju tempat kerja masing-masing. Belum lagi jika berbarengan dengan turun hujan, semua mobil berlomba memasuki area sekolah, parkir sedekat mungkin dengan drop point yang  bercanopy untuk  menghindari badan basah kuyup. Keadaan ini sama saja, pagi hari saat mengantar ataupun sore hari saat menjemput.

     Sore itu, hiruk pikuk ritual menembus kemacetan gerbang sekolah telah terlewati. Baru sekian ratus meter beranjak dari gerbang sekolah, di Traffict light gerbang masuk International Islamic University Malaysia yang sedang menyala merah, saya melihat motor dengan lampu sign kanan yang menyala tik tok tik tok melaju dari belakang mobil saya, melewati saya, kemudian berhenti di sisi kiri depan saya.
     Saya dengan rasa lelah dan sisa stamina aktifitas hari itu, spontan berujar kepada anak-anak : 'Tuh.. lihat, pasti dia mau menerobos lampu merah ". Saking seringnya melihat pemotor abai terhadap lampu merah... sedetik, dua, tiga,...si pemotor anteng di tempatnya dengan lampu sign yang masih ber-tik tok.  Lampu beralih warna menjadi hijau, barulah dia beranjak pelan maju, berbarengan dengan melajunya mobil saya.
...Upss... saya salah menilai....
    Perlahan dia mendahului mobil saya. Tampak dari arah pandang saya dia memegang stang motor hanya dengan satu tangan. Tangan kirinya melayang ke sisi kiri kepala. Lagi-lagi saya saya berujar kepada anak-anak : "Pasti dia lagi handphonan".
     Seksama kami memperhatikan. "Enggak tuh, bu,..elus-elus helm deh dia ". Kata salah seorang anak saya, Ziyan, yang memang paling banyak mengomentari apa saja dibanding dua saudaranya.
..Eh... kembali saya salah menilai. Mulai agak menyesal.
     Kami terus melaju, melupakan dua tuduhan yang keliru. Kami tengah berbincang santai hingga di suatu jembatan tiba-tiba pemotor melambat dan menepi ke kiri... dan saya kembali berkomentar :"Ngapain tuh minggir-minggir berhenti di jembatan, ngalangin jalan kendaraan di belakangnya..".
     Dan.. ahh.. tampak disitu ada motor lain yang mogok. Pengendara dan seseorang yang dibonceng sedang mengotai-atik mesin motornya. Rupanya pemotor yang tiga kali saya komentarin (dan tiga-tiganya salah semua) menepi karena ingin menawarkan bantuan. Nah !!
     Kali ini saya menyesal sekali... contoh terburuk didepan ketiga anak saya. Ketiga anak saya mentertawakan saya. Sambil menetralisir rasa bersalah saya hanya mampu berucap : " Maaf ya, Pak...", yang tentu manalah didengar oleh si bapak pemotor..
     Moral of the story : You Know lah... heheh kalo udah terlanjur malu, tentu susah untuk membuat clossing sebuah cerita,,

Nurul Fikri Boarding School (3) : WANITA SHOLEHAH

     Masih tentang tulisan yang tercecer dan ingin disisipkan disini

Wanita Sholehah



BBM group Wanita sholehah NF ini dibuat sejak tahun pertama anak-anak bersekolah di NF. Saya lupa, dulu, apa alasan group ini dibuat. Karena sebetulnya sudah ada BBM group masing-masing asrama, sejak kelas 7 sampai kelas 9. Mungkin..mungkin  alasannya untuk memudahkan sesama bunda agar saling mengenal meskipun secara fisik jarang atau bahkan belum pernah berjumpa.

Pada masa-masa awal, group ini lebih sering sepi tak ada percakapan. Sesekali hanya ada postingan-postingan copas dari group lain yang disambut dengan gambar jempol, senyum, gabungan jempol dan senyum. Itu saja. Garing ? Iya, hehehe 

Tapi seiring berjalannya waktu, percakapan demi percakapan mulai mengalir. Topik seputar anak-anak, pelajaran dan beragam kisah di asrama rupanya menjadi magnet yang kuat untuk saling bersahutan. Bertukar keluh kesah yang dikemas canda jika rindu ananda mulai melanda adalah hal yang paling sering terjadi. Satu hal yang tentunya akan canggung dilakukan di group asrama, dimana disitu ada wali asrama dan para bapak, jaim tentu J

Bagi sebagian orang tua yang tinggal jauh diluar jabodetabek (termasuk saya ketika di tahun ke dua harus meninggalkan Jakarta berpinda ke Kuala Lumpur, sedangkan Nufimart- minimart internal di dalam kawasan sekolah- belum ada pelayanan by phone) group ini juga menjadi andalan sarana penitipan belanjaan untuk logistik ananda jika ada salah satu bunda akan menjenguk anaknya. Dipelopori oleh ibu ketua (Terima kasih bu Vera) , akhirnya kebiasaan membuka jasa penitipan menular ke para bunda yang lain. Indahnya jika yang menular adalah hal-hal yang positif...

Saat-saat group ramai bunyi tang-ting-tung tak berhenti biasanya jika ada foto yang diposting ortu yang berkunjung ke asrama. Foto-foto anak-anak yang sedang tengkurep berlaptop ria, sedang makan bareng, sedang ada kegiatan sekolah. Komentar-komentar usil ikut mewarnai postingan foto demi foto. Seakan kami telah saling mengenal lama sebelumnya.

Komunikasi di group ini pula yang memudahkan berkoordinasi untuk mendukung kegiatan anak-anak jika ada perjalanan keluar sekolah. Study tour, Kunjungan ilmiah, Islamic Book Fair, nonton bareng Negeri Lima Menara. Lengkap dengan konsumsinya. Sayangnya kebijakan BBM group hanya berkapasitas 30 member. Andai bisa memuat lebih tentu akan makin riuh.

Sependek pengalaman saya di perkumpulan orang tua murid, belum pernah saya menemukan ikatan sedalam ini dengan sesama walimurid yang lain. Bukan hanya hubungan sesama bunda di dunia per-bbm-an, perhatian para bunda terhadap anak-anak pun demikian tulus. Mereka memperlakukan senganggap anak sendiri kepada semua teman seasrama anak-anak mereka.
Ketika di suatu masa, hampir seisi asrama kompakan demam, seorang bunda datang membawakan pil cacing pereda demam. Bukan hanya untuk putranya, tapi untuk semua anak yang sakit. Memeriksa satu demi satu dahi anak-anak. Membawakan telur rebus untuk menambah daya tahan tubuh anak-anak seisi asrama. Di lain kesempatan seorang bunda membawa bubur. Atau tekwan. Atau buah hasil kebun. Atau rendang. Dan aneka macam makanan. Rasanya tiada hari kunjungan tanpa buah tangan orang tua. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari dimana makanan dari dapur pesantren menjadi makanan yang tidak ditunggu-tunggu, kalah bersaing dengan makanan dari para orang tua yang sedang berkunjung.  Dan...membuat saya membayangkan betapa enaknya jadi santri J

Namun disetiap perjumpaan tentu ada perpisahan. Seiring dengan selesainya masa SMP putra-putra kami, tentunya intensitas dan frekwensi komunikasi group ini akan semakin berkurang, bahkan mungkin dibubarkan.Tapi untuk group ini, jika boleh berharap, semoga tak ada perpisahan . Selepas kelas 9, meskipun kita tak lagi dalam wadah yang sama, semoga silaturahim ini tetap terjaga.
Khusus untuk Zaidan, anakku, kenanglah nak, selain ibumu ini, diluar sana banyak bunda-bunda lain yang pada suatu kurun waktu turut memperhatikanmu, menjagamu, mendoakanmu. Selipkan mereka dalam untaian doa-doamu.

JazakunnAllah khairon katsir para Bunda. Salam hormat dan ukhuwah.


Yusfiana Alfi

Kuala Lumpur, 28 Maret 2014

Minggu, 23 Agustus 2015

Nurul Fikri Boarding School (2) ..KAMI TITIP ANANDA, USTADZ...

     Tulisan yang ini, masih seputaran tentang anak yang meninba ilmu di Boarding School. SMPI Nurul Fikri Boarding School Serang. Kenapa Cinangka, yaa... karena sekolah ini terletak di desa Cinangka hehhe...
     Terselip di file-file lama, rasanya mending saya posting disini deh. Karena komputer saya yang sudah udzur makin kesini makin sering ngadat. Jadi daripada tulisan ini tersimpan sedih, kadang bisa dibuka dengan cepat dan cuma loading gak jelas juntrungan mending saya simpan disini saja.

     Ya sudah deh.. langsung copy paste aja

Kami Titip Ananda, Ustadz....



Ketika membuka email, mata saya terpaku pada menu. Ada draft email yang belum saya selesaikan. Berencana mengirimkan ke milis nfbs “Mari Bercerita Tentang Anak” tapi karena ini dan itu, tulisan ini terbengkalai dan tak terselesaikan. Maka jadilah saya sertakan disini.


Liburan telah usai. Saatnya mengantarkan ananda kembali ke asrama Talhah Bin Ubaidillah. Ini tahun ke 2 ananda menuntut ilmu di Nurul Fikri. Sudah Napak kalau orang bilang. Sudah menemukan pola hidup di asrama, menemukan teman-teman yang klik, menyiasati kebosanan dengan kegiatan yang menggembirakan. Alhamdulillah.

Berbincang dengan wali asrama, face to face, adalah hal langka bagi kami, karena jarangnya kami menjenguk ananda. Karena faktor jarak, waktu dan tentunya biaya. Sejak kami pindah ke Kuala Lumpur  ritual  dwi mingguan menikmati perjalanan Jakarta-Cinangka tak lagi bisa kami lakukan.

Sama langkanya dengan menikmati perjalanan dengan pemandangan damainya pedesaan melalui Ciomas-Padarincang sambil sesekali membeli hasil bumi penduduk yang dijual di pinggir jalan. Atau melintasi Cilegon-Anyer memandang sesaknya kawasan pabrik yang berdebu kemudian berganti kawasan pantai yang indah sambil sesekali membicarakan jalanan yang rusak yang belum juga diperbaiki pemerintah setempat. Menembus kemacetan, panas terik atau cuaca hujan.

Pagi itu ustadz Ruslik bercerita tentang anak-anak. Bagaimana tingkah polah mereka di usia remaja, usia peralihan ini. Segera terbayang dibenak saya, yang selama ini , dirumah, sering memutar otak menghadapi tiga anak berbeda umur dan sifat. Cukup menantang. Lha ini langsung sekaligus menghadapi lebih dari 30 anak usia peralihan dengan watak dan latar belakang yang berbeda-beda.. terbayang pusingnya.

Tapi sepertinya ustadz Ruslik menghadapi dengan enjoy.  Mewadahi mereka yang mempunyai segala macam minat yang beragam. Ada club futsal “broken lamp” bagi yang suka bermain bola sepak (Dinamakan Broken Lamp, karena seringnya anak-anak main bola di dalam asrama, in door gitu, dan memecahkan lampu ruangan haha) . Mengajak sparring partner bagi yang galau agar galaunya bisa disalurkan ke hal-hal yang tidak merugikan diri sendiri atau teman. Membiarkan mereka perang blau di kolam renang.  Membiarkan mereka main petak umpet bak kanak-kanak di gedung baru yang sedang dibangun.  Menyiasati santri yang sering merasa ga enak badan ketika jam sekolah, tetapi segera sembuh ketika jam main basket tiba J. Memanggilkan tukang cukur rambut untuk cukur rame-rame di asrama. Mengambil gambar santri satu demi satu sekedar untuk memuaskan hati kami –para ibu- yang suka rindu tak tahu waktu...

Ah..terima kasih ustadz.

Setelah mengantar ananda ke asrama, kami langsung menuju bandara untuk pulang. Hari sudah sore. Sambil menunggu waktu check in, iseng kami menuju musholla di terminal F. Tak disangka bertemu ustadz Agung yang sedang selonjoran dilantai  ditemani sang anak. Rupanya ustadz Agung sedang menunggu rombongan dari Makasar yang karena satu hal, pesawat delay beberapa jam dan terlambat mendarat di Soekarno Hatta. Ada raut letih disana. Tapi ketika ngobrol, yang tertangkap oleh telingan saya hanyalah nada suara penuh permakluman. Tidak marah dan tidak jengkel... eh jengkel mungkin ada, tapi tak tertangkap oleh kami.. 

Langsung sekelebat ingatan saya berlompatan ke kejadian sebelumnya. Ketika di awal liburan ananda akan pulang ke Kuala Lumpur, menumpang travel sekolah dari NF menuju Soekarno-Hatta. Suami saya sudah menunggu disana. Serah terima santri berikut barang bawaanpun terjadi. Ustadz Agung menyerahkan ananda ke suami. Karena penerbangan kembali ke KL masih sore nanti sedangkan saat itu hari masih pagi, jadilah ananda dan suami jalan-jalan dulu ke sebuah mall di Jakarta Barat. Sampai tiba-tiba ananda tersadar bahwa tas berikut laptopnya tertukar dengan salah seorang temannya, yang kebetulan tasnya mirip sekali.  Bergegas ananda kembali ke bandara (tapi se-bergegas-bergegasnya, jarak Jakarta Barat dan Cengkareng dengan segala kemacetannya tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar). Dan... ustadz Agung masih disana menunggu transaksi penukaran tas dan laptop ke pemilik sesungguhnya, sambil menunggu anak-anak yang lain satu demi satu check in dan boarding ke pesawat masing-masing dengan tujuan yang berbeda-beda, jam  penerbangan yang berbeda-beda. Sungguh.. jarak cengkareng-Cinangka bukan jarak yang dekat, terbayang pukul berapakah ustadz Agung akan sampai kembali di rumahnya. Pastilah telah jauh larut. Padahal sebelumnya berangkat dari Cinangka menuju Cengkareng dipagi buta, bahkan adzan Subuh pun belum berkumandang.

Ah... Terima kasih Ustadz..

Rasanya ucapan terima kasih tak jua cukup untuk apa telah mereka, para ustadz berikan. Maka ijinkan saya berucap : Semoga Allah membalas kebaikan para ustadz/ah dengan kebaikan berlipat ganda. Kebaikan untuk ustadz/ah dan keluarga. Kebaikan di dunia dan di akhirat.


Kuala Lumpur, 24 Maret 2014

Nurul Fikri Boarding School (1)..BELAJARLAH NAK...

     Di wall facebook saya ramai di penuhi  status-status penuh kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang tahun ini merupakan tahun pertamanya masuk ke sekolah berlatar boarding. Sekolah yang dilengkapi dengan asrama sehingga murid tidak harus pulang ke rumah selepas jam belajar.
     Kerinduan semacam ini, sungguh pernah saya rasakan.. I can feel it, I know it sooo well.. Itu makanya kembali saya cari tulisan saya tentang ini di file-file lama. Tulisan yang pada awalnya saya buat untuk meramaikan sekumpulan tulisan senada dari para orang tua murid Nurul Fikri Boarding school Serang, menjelang kelulusan putra-putra kami, sebagai semacam... katakanlah Buku Tahunan, yang diprakarsa oleh MOCO, salah satu sosmed yang berbasis kegiatan membaca.

     Berikut tulisan saya


Dari Pondok Bambu Menuju Cinangka



**Komputer menyala à Buka website NFBS à Klik pendaftaran online .. dengan ucapan basmalah,  jadilah kami mendaftarkan Zaidan, si anak sulung di sekolah ini**


            Hari-hari setelah pengumuman ananda diterima adalah hari-hari dengan semangat baru. Menjahit baju seragam, berbelanja semua keperluan untuk di asrama. Memberi nama barang-barang pribadi agar tidak tertukar dengan santri lain adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sejumlah nasehat-nasehat pendek tak lupa kami selipkan sebagai pembekalan hidup berdampingan dengan teman-teman baru  dengan latar belakang yang berbeda, dimana mereka akan berinteraksi sejak bangun tidur sampai kembali beranjak tidur, pastilah akan jauh lebih kompleks dibanding pertemanan di sekolah biasa.

Dan hari keberangkatan pun tiba. Satu persatu mulai dari koper, container plastik, ember, buku dan semua barang yang wajib dibawa mulai ditata rapi di mobil. Diiringi perasaan yang susah diungkapkan, sungguh campur aduk. Antara khawatir seperti apa lingkungannya kelak, senang karena satu jenjang pendidikan mulai ditapaki, sedih melepas anak jauh dari dekapan, dan entah perasaan apalagi. Sempat melirik ananda sekilas, mencoba mencari tahu apakah yang tersembunyi dihatinya.. hhmm sepertinya dia fine-fine saja. Ok, saya pun mulai mencoba menekan semua perasaan sedih, tak ingin menularkan aura biru kepadanya.

            Pukul 9 pagi. Suasana asrama belum ramai betul. Asrama Usman Bin Affan namanya. Menuju ke kamar yang telah ditentukan, dengan susunan tempat tidur bersusun, ananda memilih tempat tidur yang diatas. Beberapa santri baru yang lebih dahulu hadir tampak mulai membuka dan menata baju kedalam lemari yang telah disediakan. Bersalaman dengan beberapa bunda membuat saya merasa bahwa saya tak sendirian melepas ananda. ... ahh.. sayapun menghela nafas panjang ...betapa susahnya menepis sepi yang tiba-tiba menghampiri, padahal perpisahanpun pun belum terjadi..

            Tapi sosok Wali Asrama itu, ustadz Kholisul Ibad namanya, cukup menentramkan saya. Disebuah ruangan kami, para orang tua santri baru dan wali asrama berkumpul. Saling berkenalan dan membahas beberapa tata tertib di asrama. Beragam ekspresi orang tua sengaja saya amati. Sekedar mencari teman, adakah yang berperasaan campur aduk seperti saya. Diujung sana, seorang bapak berkemeja putih tak henti menyusut hidungnya dengan selembar saputangan. Di sebelahnya dua orang bapak berjabat tangan, berbincang pelan dan melempar senyum. Di dekat jendela, seorang ibu berwajah gelisah meremas tangan untuk yang kesekian kalinya. Berdekatan dengannya, duduk seorang ibu yang sibuk mencatat penjelasan dari wali asrama. Beragam bahasa tubuh pun cukup mewakili apa yang tersimpan dalam dada.

Mencoba mengakhiri penjelajahan mata, saya bersalaman dengan ibu disebelah saya. Bertukar sedikit cerita, kemudian mencoba fokus kepada apa yang dipaparkan wali asrama. Sungguh tak ada yang nyangkut dikepala saya, selain pengumuman bahwa selama masa adaptasi orang tua boleh menjenguk santri seminggu sekali. Pengumuman yang seakan hembusan angin sejuk pengobat rindu yang sudah terbayang disudut kalbu.

            Sesi pertemuan telah berakhir. Mulai terdengar tangisan disana-sini dari beberapa santri baru, tak ingin orangtuanya pergi. Kamipun harus berpamitan dengan ananda. Menguatkan hati.. menguatkan hati.. menguatkan hati.. hanya itu yang saya lakukan. Saya tak ingin tampak bersedih dihadapan ananda. Tapi.. kenapa tak ada kata-kata yang mampu saya ucapkan. Hanya janji bahwa minggu depan kami akan datang kembali...Alhamdulillah, meski ada kilatan sedih dimata ananda, saya tak melihat dia meneteskan air mata. Dan itu adalah semangat baru bagi kami untuk saling merelakan.

            Tapi rupanya perjuangan sesungguhnya untuk saling merelakan bermula dari minggu ke minggu berikutnya, ketika kami mengunjunginya. Air mata ananda selalu mewarnai menit-menit terakhir kunjungan. Berpesan agar tak lupa berkunjung minggu depan ataupun sengaja mengulur-ulur waktu agar kami tak pulang. Hal ini sempat membuat saya goyah antara berjuang atau menyerah. Terlebih ketika selang dua bulan kemudian, ketika menjelang lebaran sekolah diliburkan, merasakan kembali indahnya berkumpul dirumah. Mendengar kembali keributan-keributan kecil kakak-beradik. Sungguh keputusan yang sulit untuk diambil.

            Lagi-lagi sikap wali asrama yang kebapakan lah yang menguatkan saya  (Terima kasih ustadz Kholis). Kami –saya dan ananda- harus sama-sama belajar mendewasakan diri dengan situasi baru ini. Terlebih ananda tidak ada masalah dengan teman-teman barunya. Tidak ada masalah dengan guru-gurunya. Tidak ada kejadian yang mengganggu. Jadi saya anggap ini hanyalah masalah hati. Hati yang belum rela untuk saling berjauhan. Jika kuncinya hanyalah hati maka kemana lagi saya akan mengadu selain kepada Sang Pemilik Hati, Sang Maha Pembolak-balik Hati, untuk menguatkan hati saya mengantar ananda menuntut ilmu.

Semoga, nak, perjuangan kita tiga tahun saling berjauhan adalah langkah awal menempa hidupmu menuju arah yang lebih baik..


Kuala Lumpur , 23 Maret 2014