Selasa, 18 November 2025

SAYA PATAH HATI

Saya ini orang rumahan. Banget. Saking bangetnya, saya minus dengan segala macam hang out dan kumpul2. 'Kureng' kata anak jaman sekarang. Kumpul sih, tapi perlu lokomotif untuk menarik saya. Semacam undangan atau alasan untuk hadir. Jika tiba2 saya harus datang nongol duluan, mungkin inisiatif saya tumpul.

Hidup saya monoton, hanya sebatas rumah, anak dan suami. Serta beberapa kegiatan sosial dan keagamaan.

Teman? Limited pakai very. Sahabat? Dulu pernah punya, tapi beberapa sudah mendahului berpulang, beberapa lagi menjadi asing dan beberapa yang tersisa memudar terluka. Sedangkan  kelemahan saya adalah susah membuka persahabatan baru. Mungkin karena tidak ingin kecewa yang berulang. Atau justru takut akan drama2 yang justru menoreh dada.

Nah. beberapa bulan belakangan, anak bungsu saya, yang selama 18 tahun ngintilin saya dan agak saya kekepin ('agak' artinya saya bebaskan untuk ikut lomba apapun, ekskul apapun, hang out kemanapun, bahkan sleep over di rumah temannya atau camp, tapi tetap under control), harus kos karena kuliah di kota yang berbeda.

Bukan tiba-tiba, karena sejak awal merancang cita-cita, dia sudah mention beberapa kampus di luar kota. Artinya sudah disounding jauh-jauh hari. Tidak ada satu universitaspun di dalam kota yang dilirik, kecuali swasta sebagai cadangan.

Maka, saya tenang2 saja, legowo merestui. Mempersiapkan segala perlengkapan, nasehat2 intermezzo, dan survey awalan tentang kota-kota tersebut.

Tapi, ternyata itu adalah legowo semu. Entahlah, ketika hari itu tiba, terasa ada yang kosong di hati saya, hidup saya. Saya yang biasanya direpotkan dengan menyiapkan bekal, mengantar-jemput, memenuhi permintaan2 khusus, komplen dengan belanja dadakan bahan tugas, mengajari, memberi support dan masukan beberapa hal, tiba2 hilang.

Jika kesibukan berkurang, saya bisa menyiasati dengan pengganti lain. Total fokus di trading yang sudah saya tekuni jaman pandemi covid misalnya. Juga wacana menuntut ilmu lainnya.

Namun, yang tidak bisa disiasati adalah ada kamar yang kosong, yang jika penghuninya lalai bebersih, memantik kultum dari mulut saya. Ada rak sepatu yang longgar, karena beberapa pasang sudah berpindah tempat. Ada 'ghibah' random yang terhenti karena 'ghibah' via texting tak seseru duduk atau rebahan berdampingan. Singkatnya, ada hati yang hening.

Saya tahu, saya tak sendiri, banyak orang tua lain merasakan hal yang sama. Pasti begini juga yang dirasakan ibu saya ketika melepas saya kuliah di luar kota.

Kemudian, hiburan terbesar saya adalah menghibur diri sendiri. Memahamkan diri bahwa inilah fase kehidupan. Mencoba memantik rasa syukur, Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan sejauh ini melewati tahap demi tahap. Dan saya berdoa kiranya Allah mengizinkan tahap2 selanjutnya, saya bisa mengalaminya dalam lingkup rahmat dan ridhoNya.

Jakarta, 3 November 2025

Ditulis dalam perjalanan pulang selepas menegok si bungsu 

(BERUSAHA) MENGIKUTI TREND

Bulan Ramadhan memasuki pertengahan fase ketika tiba-tiba saya teringat belum planning akan lebaran bersama siapa. Bersama keluarga saya, atau bersama keluarga suami, atau kami kami saja, di rumah kami sendiri.

Penekanan 'lebaran bersama siapa' disini adalah hari pertamanya. Sholat Ied nya. Jika bersama keluarga saya, maka hari ke3, kami akan bergerak ke keluarga suami, propinsi sebelah. Demikian sebaliknya. Jika bersama keluarga suami, maka hari ke5 atau pekan depannya baru beranjak ke keluarga saya. Bagaimana jika di rumah kami sendiri? Selepas Sholat Ied dan makan ketupat, barulah mudik dengan alur sesuai kesepakatan. 

Dua puluh tujuh tahun menjalani lebaran dengan tiga pilihan seperti ini, perlu strategi agar bisa ketemu semua keluarga besar. Duluuuuu, saya dan kakak-kakak punya kesepakatan  tak tertulis, berselang seling setiap tahun. Jika tahun ini bersama keluarga kami, maka tahun depan bersama keluarga pasangan kami alias ke mertua. Ada plus minusnya sih, plusnya kami bisa berkumpul lengkap, anak-anak kami bisa saling bermain bersama antar sepupu. Dalam hiruk pikuk rumah yang tak seberapa luas, kamar mandi yang hanya satu bergantian untuk banyak orang, beranteman antar sepupu, itu adalah kebahagiaan tersendiri. Minusnya, orang tua saya akan merayakan lebaran berdua saja jika tahun depan giliran kami berlebaran di keluarga mertua. sepi tentunya, lengang dan kelabu. 

(Kini, di masa anak-anak saya sudah beranjak dewasa seperti ini, saya mulai bisa meraba seperti apa rasanya).

Dulu, lebaran saya diwarnai dengan mengunjungi tetua, mengunjungi tempat rekreasi dan hunting kuliner dengan cara konvoi kendaraan. Itu adalah keseruan tersendiri. Nyasar satu nyasar semua hahaha... Pernah suatu masa kami pernah konvoi juga di sepanjang jalur mudik menuju kampung halaman. Antri kamar mandi, gantian mesin cuci dan bergiliran jemur di spot yang terbatas masih berkelebat samar di benak saya. Kenapa samar? Karena setelah ayahanda berpulang suasana lebaran tidak lagi sama. rumah masa lalu saya tak lagi menjadi destinasi mudik. Kini tempat kumpul lebih sering beralih ke rumah kakak tertua saya. Tak lagi ada konvoi atau hunting kuliner. Tapi keseruannya tetap ada, dengan hadirnya cucu2 ponakan yang makin meramaikan jumlah keluarga besar. Dunia berputar, keseruan berganti rupa. 

Tapi, ada yang tak berubah.

Berfoto bersama.

Jika dulu hanya tiga-empat generasi, sekarang pohon keluarga sudah bercabang menjadi empat-lima generasi. Frame kamera lebih penuh. Lebih effort dalam pengaturan posisi, siapa duduk, siapa berdiri dan siapa bersila. Tentunya usia mempengaruhi posisi hahaha.

Tetap ada perubahan sih, mau tidak mau, namanya juga hidup.

Jika dulu foto keluarga hanya dicetak dan dimasukkan album foto, pigura atau disimpan dalam komputer, sekarang trendnya adalah diposting di sosial media. Sampai disini masih positif, karena dari sosmed kita bisa melihat dan menyapa kerabat jauh yang tak bisa berjabat jangan. Ikut berbahagia atas kebahagiann mereka. Tapi di sisi lain, yang namanya di foto diposting di sosial media, tentunya dipilih yang bagus-bagus. Angle paling bagus, tertawa paling manis dan semua yang oke-oke. Termasuk faktor pendukung supaya enak dilihat yaitu baju yang seragam. 

Nah, ini masalah saya. Hanya di saya lho yaaa.. tidak melebar ke orang lain. Jadi no offense ya..

Saya nih, paling jarang, bahkan tidak pernah punya baju couple. Tidak pernah punya baju seragam keluarga. Event apapun, di kamera selalu baju warna warni sesuai karakter dan kesukaan kami saja. Mentok-mentoknya di dress code warna saja, semisal warna terang atau warna gelap. Kecuali jika ada pembagian seragam di acara kawinan. Atau ada event fun run, ada kaos pembagian dari panitia. Nah, baru tuh kami seragaman. 

Semenjak ada sosmed, saya mulai mikirin baju apa yang pantas kami dipakai pas kumpul keluarga besar.

Kalau kumpulnya pas ada momen nikahan, itu enak, biasanya keluarga inti ada pembagian seragam, jadi saya tak pusing pikir dress code, haha.. tapi jika momennya lebaran, euh.. harus berpikir, tahun lalu baju warna A sudah, tahun ini warna apa ya... Parahnya lagi, tak satupun anggota keluarga saya ambil pusing dengan seragaman ini. Jadilah saya seorang diri yang jumpalitan. Merasa terbebani. Terlebih jika bertemu keluarga-keluarga lain yang selalu apik berseragam. Merasa kebanting berfoto bersama. kemudian diam-diam dalam hati bertekad, lebaran depan akan lebih prepare dalam berbusana. 

Tapi, apakah tahun depannya saya dan keluarga tampil senada seirama? Tentu tidak, tetap meriah dengan style masing-masing, dan kembali kebanting dibanding keluarga lain. Sampai detik ini hahaha


Jakarta, 18 November 2025

Rabu, 23 Juli 2025

Sortir

Entah kenapa, saya ini hobi sekali dengan yang namanya sortir menyortir barang, kertas, baju, dan segala hal yang berpotensi menggangu pemandangan.

Gudang, itu sasaran yang paling potensial sebetulnya untuk disortir. Sayangnya saya alergi debu dan pengap. Males sekali kalau gara2 bongkar gudang, kemudian malemnya jadi kumat mengi ngik..ngik..

Lemari baju, adalah sasaran yang juga menarik untuk disortir. Saya punya prinsip, one in one out. Jika beli 1 baju, keluar 1 baju untuk didonasikan. Meski kadang, kalau sayang dan ada nilai historisnya, prinsip ini akan saya langgar. Kadang juga, di kemudian hari, 3-5 tahun berlalu, ketika trend mode berulang, saya menyesali kenapa baju itu terlanjur dipinggirkan. Kini, ketika ibu saya makin menua, yang tak memungkinkan untuk menjahit dan berkreasi, baju2 jahitan ibu saya pertahankan untuk memori dan history. 

Sasaran berikutnya adalah lemari buku. Sebetulnya buku itu menarik untuk dikoleksi. Saya mengoleksi lengkap beberap penulis favorit, seperti Andrea Hirata dan beberapa lagi. Buku2 anak2 saya juga beberapa ada yang dikoleksi berseri. Sampai kemudian saya patah arang ketika rumah saya kebanjiran dan buku2 banyak yang rusak. Ada 4 karung besar yang saya buang karena rusak parah. Sisanya saya pertahankan, susah payah dijemur dan di hair dryer. Meski keriting dan menguning, ya sudahlah.. 


Timbunan mainan juga menjadi sasaran yang empuk untuk dibereskan. Ketika anak saya beranjak usia meninggalkan mainan tersebut, gercep saya pinggirkan. Tapi seminggu yang lalu, ada penyesalan dalam hati ketika anak bungsu saya mempertanyakan kenapa boneka angry bird beragam karakter dan lengkap itu tidak saya pertahankan. Padahal sekarang sudah susah dicari.. iya, ya.. (tak ingin menyesali terlalu dalam, saya mencari kambing hitam: gudang saya sempit, tidak memungkinkan menyimpan semua-mua haha).


Dapur juga menarik untuk disortir. Kecuali pecah belah antik pemberian nenek dan ibu, saya hobi bebersih perabotan. Piring-gelas hadiah detergen setelah terkumpul biasanya ikut didonasikan di event ramadhan. Terakhir kemarin panci presto besar, saya sumbangkan ke teman yang baru merintis membuka catering kecil2an. Tapi, belakangan saya sedikit menahan diri. Rasanya saya perlu mempertimbangkan untuk menyimpan perabot dapur sebagai bekal berumah tangga anak2 saya yang mulai dewasa, mengingat harga barang dapur dewasa ini mihil sekali. 

Laci meja belajar anak-anak, sangat mengundang uluran tangan saya. Beragam kertas print out gagal, bekas draft tulisan batal, hasil ulangan tahun lalu, bekas bungkus kado dilipat acak, casing hp bekas... duh, itu satisfaying banget kalau dibereskan. Tapi, semenjak mereka dewasa, saya keras menahan tangan untuk tidak terlalu ringan.


Terakhir, hand bag. Saya paling tidak betah menyimpan kertas2 kecil dalam hand bag. Receipt belanja, kertas ATM, itu sangat mengganggu mata dan pikiran. Setiap hari, menjelang tidur, merapikan tas adalah rutinas saya. Meluruskan uang2 kembalian berderet sesuai nominal. Satu arah, gambar kepala luruh arah yang sama adalah kelegaan tersendiri bagi saya. Itu makanya saya paling gemas lihat tas kerja suami, aneka slip belanja, slip hang out, lunch meeting saling silang, tumpang tindih. Kadang dilipat, kadang diremas. Kertas2 itu diperlakukan secara tidak hormat. Sangat kontras dengan nominal gaul sosialnya yang "ngeri" itu. (Kontras juga dengan jajan saya yang sebatas gorengan, atau somay. Paling banter Ramen2 dan udon2 itu 😂)

Oke, next, sebaiknya part mana yang bisa dijamah untuk sortir menyortir ini?

Kamis, 13 Februari 2025

MAKANAN HALAL ITU TAK SEKEDAR NO PORK

 Saya sedang membaca artikel di sebuah portal berita tentang sebuah keluarga publik figur yang membagikan kebersamaan mereka, entah merayakan apa, sambil minum wine yang mereka klaim sebagai minuman wine halal. Bentuk botolnya menyerupai botol wine betulan yang saya sering lihat di toko-toko duty free yang ada di bandara. Atau botol yang saya lihat di film-film barat yang sering dijadikan latar tempat.

Keluarga tersebut menyatakan bahwa, meski zero alkohol, tapi rasanya sama dengan rasa wine betulan. Aman. Halal. Gitu katanya.

Selang beberapa hari, saya kembali membaca ulasan edukasi yang mengkonter klaim keluarga tersebut. Bahwa meskipun zero alkohol, tapi wine tiruan tersebut tidak bisa dihukumi halal. Merujuk ke aturan penamaan produk yang dilarang sama atau mirip dengan produk haram, andaipun jika bahannya halal.

Itu makanya lembaga terkait tidak bisa mengeluarkan serifikat halal untuk produk-produk seperti ini. Bahkan jika makanan tersebut 100% berbahan halal dan diproses dengan suci, atau makanan yang bentuknya tidak meyerupai makanan harampun, tetap tidak bisa berertifikat halal, jika makanan tersebut dinamai dengan  nama-nama yang tidak baik. tidak toyyib.

Kemudian ingatan saya terlempar ke belakang, ketika saya mengikuti program liburan bersama travel yang membranding diri sebagai travel islami. Slogan sholat terjaga dan menjamin makanan halal selama travelling, membuat saya tertarik untuk bergabung, mengingat negara yang saya kunjungi adalah negara dengan komunitas muslim sebagai minoritas. Yang tentunya saya akan kesulitan menemukan makanan halal. Maka dengan join travel, saya pikir setidaknya masalah makanan halal sudah terpecahkan.

Tapi, ekspektasi saya runtuh ketika di hari pertama, hotel kami tidak menyediakan sarapan halal yang spesifik. Pemahaman pihak hotel, no pork-no lard, adalah boleh dimakan untuk muslim. Sesederhana itu. Padahal saya lihat panci mie rebus digunakan bergantian antara topping B2, topping ayam dan seafood. Begitupun juga sosis B2 dan sosis sapi, berada dalam nampan terpisah tapi cara mengambilnya menggunakan capit yang sama. Gorengan spring roll sayuran yang bisa jadi minyak gorengannya bergatian dengan gorengan non halal yang lain. 

Dan ini berkelanjutan, dari seminggu perjalanan, hanya dua kali kami mengunjungi restoran  bersertifikat halal dari pemerintah setempat. Selebihnya, adalah rumah makan yang, iya sih, tidak meyediakan B2. Tapi apakah ayamnya disembelih sesuai syariat? Apakah minyak gorengnya betulan halal, mengingat minyak gorengpun ada titik kritisnya? Belum lagi di suatu destinasi, kami diarahkan untuk makan secara buffet, all you can eat, yang lagi-lagi jajaran makanan berdampingan rapat antara yang halal dan tidak. 

Perut yang tadinya lapar, mendadak ciut menerima kenyataan makanan lezat yang ditata menarik, yang aromanya sungguh menggoda itu, tak leluasa kami nikmati. 

Tidak salah sih. Kesalahan tidak bisa diarahkan ke pihak hotel, atau restoran. Karena sebagai non muslim, menurut anggapan mereka, mereka sudah menyediakan yang tidak mengandung B2, sebagai pilihan buat orang-orang yang tidak memakannya. Lepas dari persoalan, bahwa halal-haram tak sesimpel itu, itu diluar pemahaman mereka.

Tapi ini jadi pelajaran penting buat saya. Ternyata travel yang melabeli diri sebagai travel islami, bukan jaminan bahwa team managementnya adalah orang-orang yang mengerti syariat agama. Pelajaran penting buat saya, agar di lain kesempatan, jika bergabung dengan travel tour, hal pertama yang harus saya tanyakan adalah tentang ketersediaan makanan halal. Yang benar-benar halal. 

Jakarta, 13 Februari 2025

Rabu, 12 Februari 2025

MEMBANGUN LEBIH MUDAH DARIPADA MEMELIHARA

 Suatu Sabtu saya menemani anak saya untuk mengerjakan tugas membuat video mata pelajaran PAI. Tujuannya adalah Islamic Center di Jakarta Utara.

Nama gedung ini sebetulnya adalah Pusat Pengkajian dan Pengambangan Islam Jakarta. Masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Islamic Center Jakarta Utara. 

Berdiri di atas lahan seluas 109.435 meter persegi, awalnya lokasi ini adalah lokalisasi perempuan malam yang tumbuh subur dari tahun ke tahun. Tentunya ini kontradiktif sekali dengan tradisi penduduk setempat yang masih kental berbudaya timur dan memegang erat ajaran agama.

Menurut sumber yang saya baca, inisiasi gedung ini dimulai di tahun 2001, masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Sebelum pembangunan, diperlukan kunjungan ke beberapa negara untuk studi banding, yaitu Mesir, Iran, Inggris, dan Perancis. Tentu kunjungan ini tak sia-sia, karena setelahnya Jakarta Islamic Center berdiri megah dan indah.

Selain masjid, terdapat beberapa bangunan lainnya yang berdiri di area ini. Diantaranya ada ruangan serbaguna, perpustakaan, gedung kajian islam dan MUI, dan beberapa bangunan lain yang dihubungkan oleh koridor memanjang, dengan lantai bagus, lengkap dengan kanopinya. Ruangan terbuka juga tersedia. Multifungsi. Selain digunakan untuk parkir jika pengunjung banyak, bisa juga digunakan untuk kegiatan outdoor. 

Pagi itu saya melihat beberapa kumpulan anak sekolah yang sedang latihan pencak silat. Ada juga yang sedang latihan senam berkelompok. Beberapa sedang mengemas perlengkapan memanah. Bocah-bocah sekitar juga tampak berlarian petak umpet disana. Juga grup ibu-ibu yang tampak membuka cemilan bekal mereka. Bapak penjaga sendal masjid yang ramah, menjelaskan di hari libur, anak-anak sekolah memang banyak memanfaatkan ruang terbuka tersebut. Tidak ada syarat atau tarif, bebas saja. Yang penting izin.  

Ada yang tidak lazim di sini. Di koridor yang saya lewati, banyak orang-orang yang rebahan, tidur. Tidur betulan, bukan tidur-tiduran. Beberapa saya lihat, seperti homeless. Mungkin karena ubinnya bersih dan adem. tapi ini mengganggu pemandangan. Dan mennganggu pengunjung yang lewat, terpaksa harus melangkahi, berjingkat menghindari kaki-kaki yang malang melintang.

Sebetulnya, saya ingin berkeliling. sayangnya tak bisa. Banyak bagian bangunan yang dibatasi tali rafia membentang dan tempelan kertas pengumuman agar pengunjung tidak melintas karena bangunan rawan ambruk. Dari tali pembatas, saya memanjangkan leher mengamati. Tampak anak tangga menuju ke lantai atas, keramiknya sudah copot-copot, berdebu. Di sampingnya ada eskalator terbengkalai yang saya yakin sudah tidak lagi berfungsi. Beberapa bagian tampak kusam dan berkarat. Di sampingnya lagi, ada laluan melandai untuk pengunjung berkursi roda. Tak sedap pula dipandang mata. Iseng saya berbisik ke anak saya, kalau malam sepertinya tempat ini bisa buat syuting uji nyali, heheh..

Azan Duhur berkumandang. 

Saya menuju masjid. Tapi kabarnya ini hanya tempat sholat sementara, yang sebetulnya adalah multifunction room. Beberapa tahun yang lalu, masjid di Islamic Center ini terbakar, maka area sholat dipindahkan kesini. Jadi area masjid sesungguhnya, tak lagi digunakan untuk sementara. Entah sementaranya berapa lama, karena ini sudah berbilang tahun. Belum ada tanda-tanda renovasi. Terkait dana? Entahlah, mungkin juga terkait niat dan prioritas.

Karpet masjid bersih dan tercium wangi. Untuk penderita asthma seperti saya, hidung dan paru-paru saya mudah sekali mendeteksi debu. Jika setelahnya saya bersin-bersin, ngap atau bahkan kambuh klepek-klepek, berarti debuan parah.. haha.

Jamaah sholat Duhur kali ini, ibu-ibunya hanya bertiga, plus anak saya. Kemudian bertambah sekumpulan ABG yang tadinya pencak silat masuk bergabung. Sayangnya anak-anak ini sholatnya ngasal. Beberapa diantaranya masuk shaf sholat, tapi tidak berjamaah alias sholat sendiri. Seandainya ada yang menertibkan pasti indah sekali.

Oh ya, ada untungnya saya sudah berbekal wudhu sejak dari rumah, karena tempat wudhu di sini tercemar bau tak sedap dari toilet. Toiletnya? Huh, setelah saya longok, dua diantara jejeran toilet tersebut, mampet. Yang lain, Lagi-lagi huh, baunya menyiksa hidung. Saya mengurungkan menggunakan toilet.

Beranjak ke perpustakaan. 

Ealah, kok tutup. Padahal tertempel jelas jam operasional perpustakaan, Senin-Minggu jam 09.00-16.00 (atau 08.00? lupa). Sebetulnya kami berharap bisa mencoba suasana didalamnya. Buku-buku yang saya intip dari jendela tampak menumpuk di meja, sebagian tertata di rak-rak yang berjejer. Tampak baru dan judul-judulnya menarik. Seorang gadis seusia anak saya tampak duduk menunggu, sama, akan berkunjung juga. Sudah jam 13.30. Ada suara bercakap di dalam tapi tak tampak juga pintu terbuka.

Lelah menunggu, kami beranjak menyusuri selasar. Pigura-pigura dengan gambar dan sejarah singkat tokoh-tokoh Islam penemu ilmu pengetahuan dasar, terpampang disana. Mentok di ujung, pigura terakhir, saya tolah-toleh, rasanya tak ada lagi yang bisa kami kunjungi, meskipun ingin. Kami beranjak menuju pintu keluar setelah anak saya mengamankan stock shoot terakhir. 

Ada ruangan MUI terletak di arah pintu keluar. Seperti dugaan, kosong tanpa penghuni. Kepengapan area tersebut membuat saya mempercepat langkah. Tak ingin paru-paru saya mengeluh.

Tak jauh dari pintu tersebut, gerbang utama sudah tampak di depan mata, kami beranjak pulang dengan perasaan kurang puas dan sedikit kecewa. Mungkin karena sebelum berangkat ekspektasi saya terlalu tinggi pada tempat ini. Foto-foto di web, sangat jauh dari update kenyataan. Tapi memang sudah lazim di negara ini, membangun itu lebih mudah dari pada memelihara. Kelaziman yang harusnya mulai diperbaiki.

Jakarta, 12 Februari 2025


Senin, 06 Januari 2025

BERBURU SALJU DI FANSIPAN MOUNTAIN

Di sebuah tayangan televisi entah tahun kapan, mata saya berbinar melihat  Marble Mountain di Da Nang Vietnam. Pembawa acara yang ceria dan fotografernya, handal mencari angle2 bagus. Sungguh menggoda saya untuk merencanakan bepergian kesana. Sejak saat itu, setiap menjelang akhir semester, saya browsing how to go nya, mengingat di Vietnam transportasi publik tidak terlalu banyak pilihannya.

Tapi perginya tak jadi-jadi.

Salah satu sebabnya, keduluan suami saya yang sempat dinas kesana. Testimoninya tentang Hanoi tidak meninggalkan impression yang bagus. Entahlah, apakah memang setidakmenarik itu, atau karena hari2 selama disana full cari duit (haha) sehingga tidak sempat eksplor kota.

Sampai akhirnya... Jeng..jeng..

********

Memasuki bulan berakhiran ber-ber, seperti biasa, saya baru mulai serius mencari destinasi menarik untuk bepergian bersama keluarga. Kebersamaan yang mahal. Makin tahun, anak2 makin beranjak dewasa,  makin tak leluasa untuk bepergian bersama. Karena mereka sudah punya kesibukan masing2.

Nah, kalo dipikir-pikir, kok ga kapok2 ya, saya ini. Setiap tahun selalu merencanakan bepergian secara dadakan. Sudah pernah nyaris berantakan padahal. 

Sebenarnya sih, pengennya bikin planning jauh-jauh bulan. Saya kagum sama orang yang tertib, yang sudah hunting tiket promo di bulan April, untuk kepergian Desember. Atau hunting Januari untuk kepergian Juni. Dapat tiket harga murah adalah sebuah pencapaian prestasi tentunya..haha. 

Tapi apalah daya, ada kejadian tak terduga dan hal lain yang membuat saya ragu dan on off menyusun agenda. Dan tentunya bingung menyamakan tanggal libur kami semua. 

Ya sudah, menetukan lokasi saja dulu.

Polling suara terbanyak adalah Vietnam dibanding lokasi satunya, dimana sebelumnya kami sudah pernah mengunjunginya. Suami menyerah. Karena Vietnam sisi yang ini, Sa Pa dan Fansipan Mountain, kalau beruntung akan bertemu salju. Catat ya : KALAU BERUNTUNG. Artinya, bisa ya, bisa tidak. Tergantung takdir hehe.

Back packeran, seru sepertinya.. Toh anak2 sudah beranjak dewasa, bisa tarik koper atau panggul ransel sendiri2. Saya pun mulai cari2 informasi tentang slipper bus dari Hanoi ke Sa Pa. 

Eh ternyata masih ada masalah, cuti suami dan anak sulung belum clear. Artinya, kalaupun berangkat, status mereka adalah WFA, Work From Anywhere. Artinya lagi, boleh ga hadir di kantor, tapi harus stand by online. Mana mungkin backpackeran tapi online dan ngadep laptop.

Iseng saya cari2 travel islami yang punya program ke Vietnam. Lah, Alhamdulillah, nemu...

Dari beberapa pilihan saya memutuskan memilih salah satu. Daftar untuk 5 orang plus 1 untuk ibu saya, meskipun sayangnya ibu saya tak berhasil berangkat karena issued renew paspornya terlalu mepet dari jadwal kebrangkatan. Pihak travel menolak dan tak berani ambil spekulasi.

Kenapa travel islami? Ya, karena ingin leluasa makan halal tanpa merasa khawatir, mengingat mencari makanan halal di negara seperti ini tentunya tidak mudah.

Oke, Bismillahi majreha wa mursaaha inna rabbi laghofurur rahim... berangkat

Day 1. 

Ga enaknya ikut travel adalah, hari di perjalanan dihitung sebagai Hari Pertama. Biasanya belum ada kegiatan apapun karena waktu hanya habis untuk perjalanan. Beda dengan jika kita bepergian mandiri, kita akan cari first flight, diupayakan agar di hari ini, ada lokasi yang bisa dieksplor. Gak mau rugi huehehe..

Nah begitu juga dengan travel ini. Jam 9.30 pagi kumpul di CGK, untuk pembagian ini dan itu, jam 13.30 take off menuju Saigon, transit 4 jam, kemudian ganti domestic flight menuju Hanoi. Plus drama2 delay, jam 23.00 baru sampai di Hanoi. 

Lama? Iyaaaa.. Jakarta-Hanoi lamanya seperti Jakarta-Jedah. Mana Vietjet ini kursinya keras banget haha... Pelajaran penting ini. Kalau pilih travel perlu ditanyakan pesawatnya apa. Terus harus browsing pesawat tersebut seperti apa. Supaya bisa ganti travel yang pesawatnya nyaman? Bukan, mahal itu, tapi supaya siap mental.. ckikik

Day 2.

Mengawali hari dengan sarapan di hotel. Restaurantnya asik, menunya banyak. Sayangnya kami harus cermat membaca label2 makanan yang dipasang di depan meja saji. Ini bagaimana sih, pork dan no pork berjejer damai. Tapi hati saya tak damai. 

Memang sih, ada label biru untuk makanan 'aman' dan label putih untuk makanan pork. Spring roll sayuran dan spring roll pork, tapi apakah mereka menggoreng dengan wajan yang sama? Ada lagi, steam rice dan pork berbumbu ditempatkan dalam wadah saji tertutup, yang uap panasnya dempet2an saling menyapa. Duh ini gimana konsepnya. Selera makan langsung drop. Jadi sibuk menyeleksi lebih teliti sebelum memilih makanan. Sepertinya saya salah memilih travel. Mereka kurang faham dengan konsep makanan halal.

Oke, lanjut.

Halong Bay. 

Jarak Hanoi-Halong Bay sekitar 2,5 jam perjalanan bus. Halong Bay adalah teluk di Vietnam Utara. Indah. ini serupa dengan PhiPhi Island di Phuket dan Hoping Island di Langkawi. Teluk dengan banyak pulau kecil tengahnya. Yang membedakan adalah bisa ikut wisata cruise dan sensasi makan siang di dalamnya. Sensasinya seperti apa? Ya balas dendam aja sih, bisa makan tanpa was-was karena chefnya memasak hanya sesuai request halal dari rombongan kami. Oh Ya, karena kami rombongan 5 keluarga, maka cruise ini hanya ditumpangi oleh kami saja. 

Disini, ada goa yang bisa dikunjungi. Namanya apa ya? karena pengucapannya susah, saya suka lupa nama2 jalan dan tempat di Vietnam ini. Terus, jangan lupa siapkan stamina karena harus menaiki tangga-tangga yang banyak itu. Ada juga snorkling dan kayaking. Sayangnya, karena dalam rombongan kurang peminat, snorkling dan kayaking ini diskip. Padahal anak saya berminat. Ini salah satu kelemahan pergi bersama travel, sih. Kurang leluasa, harus mengikuti mayoritas aspirasi rombongan.

Suhu disini lumayan bersahabat. Saya tidak membaca termometer suhu, tapi kalau dirasa2, seperti Bogor lah ya. Anak saya yang pernah Boarding School di Bogor, mengiyakan pendapat ini. 

Day 3.

Cat Cat Village. 

Tadinya, sebelum browsing, saya kira Cat Cat Village, sesuai namanya, adalah pedesaan penangkaran kucing, atau bakal bertemu banyak kucing. Tapi ternyata ini adalah pedesaan orang-orang asli Vietnam. Sebagian menyebut sebagai suku minoritas Vietnam. Merupakan pedesaan vintage di Barat Laut Vietnam, di lembah Muong Hoa, yang dijadikan desa wisata. Desa yang berkontur naik-turun. Bertangga-tangga.  Sayangnya, terlalu banyak sentuhan hingar-bingar lampu dan bangunan modern, yang kontras dengan air terjun dan bebatuan alami. Tempat ini lebih layak disebut sebagai tempat belanja oleh2, sih. Sepanjang kaki melangkah, kiri kanan isinya hanya orang jualan souvenir dan cemilan. Rasanya keasliannya sudah pudar.

Saya tidak merekomendasikan tempat wisata ini untuk dikunjungi. Tidak sebanding dengan lama perjalanan Hanoi-Cat Cat Village sejauh 5,5 jam.  Justru, kalau saya baca dari Trekking Sa Pa.com, yang indah adalah perjalanan trekking dari Sa Pa ke Cat Cat. Melintasi hamparan sawah hijau, jembatan bambu dan pedesaan sejauh 30 menit jalan kaki. Sayangnya saya tidak merasakannya sendiri. 

Di sini suhu mulai drop, 10 derajat celcius di siang itu. Jaket-jaket sudah mulai berbakti kepada tuannya.

Day 4

Fansipan Mountain dan Rong May, 6 derajat celcius.

- Gunung Fansipan berjarak sekitar 19 km dari Sa Pa, sering disebut sebagai Roof of Indochina atau Indochina Summit, dengan ketinggian 3.143 mdpl. Puncak tertinggi di Indochina. Nah gunung ini nih, daya tarik kami yang terbesar untuk mengunjung Vietnam. Untuk mendakinya, ada fasilitas cable car dengan lintasan sepanjang 6.282 meter. yang ditempuh dalam waktu 15 menitan, dari lembah Muong Hoa, memudahkan pengunjung untuk mendaki, yah meskipun ga sampai puncak2 amat. Dari pemberhentian cable car, pengunjung masih harus menaiki sekitar 600an anak tangga lagi untuk sampai ke puncak (saya ga ngitung sih, ini konon). Bisa sih dipangkas ga 600 amat tangganya, kurang setengahnya dengan dibantu menaiki trem. Tapi trem di peak seasson seperti Desember gini, ngantrinya ampun2an. Ada 3 jam, deh. Mana budaya antrinya buruk banget, silang sengkarut ga karuan. Kalau fisik prima mending naik manual eh, pakai kaki (eh apa sih istilahnya?). Toh 600 anak tangga ga langsung jreng, bisa dicicil, semacam base camp gitu, setiap titik istirahat bisa melihat Big Buddha dan kuil-kuil beribadah.

Sebetulnya Bulan Desember ini adalah bulan yang digadang2 bisa menyentuh salju di puncak Fansipan. Sayangnya Kami belum beruntung. Tidak ada salju kali ini. kami hanya bertemu suhu dingin, angin was wis wus menampar wajah, yang sanggup bikin tubuh oleng jika tidak langsung sigap berpegangan. Meraih apapun sebagai penyelamat. Selain itu, kabut tebal dan basah mengurangi jarak pandang untuk melihat pemandangan dari puncak gunung. Sesekali, di puncak ketinggian, ketika angin bertiup menghalau kabut, tampak hamparan awan serasa berdampingan, sejajar dengan posisi berdiri saya, dan bentangan dataran hijau di bawah sana.

Oke, saatnya turun gunung dan berpindah ke lokasi lain.

- Rong May adalah Glass Bridge, jembatan kaca setinggi 2.333 meter. Tempat yang ideal juga untuk hunting awan. Untuk menaikinya harus melalui terowongan gunung batu, kemudian menggunakan lift  setinggi 305 meter (setara gedung 102 lantai). Sayangnya, lagi2 kabut tebal membuat jarak pandang sangat terbatas. Saya bahkan tak bisa melihat anak saya, 5 meteran di depan saya, yang excited berjalan duluan di jembatan itu. Tapi buat saya ini hal baik. andai tak terhalang kabut tebal, mungkin saya tak seberani itu untuk menaiki jembatan kaca ini. Iya, cemen memang.

Sebetulnya menurut trip advisor, best view untuk mengunjungi Fansipan dan Rong May ini adalah bulan Maret-April, ketika musim hujan sudah lewat, cuaca mulai hangat, tapi belum panas2 amat. Tapi meskipun cuaca tak cerah, pun tak bertemu salju, pengalaman hari ini sesuai dengan yang saya harapkan. Alhamdulillahi rabbil aalamiin.

Day 5

Saatnya kembali ke Hanoi, 5,5 jam perjalanan darat. Pemandangan antar kota tidak bisa dinikmati. Mending tidur. Vietnam ini tidak terlalu bersih. Tumpukan kresek sampah mudah ditemui di depan2 toko. Kecuali di pusat kota, baru deh bersih. 11-12 sama Jakarta.

-Train Street.

Suhu Hanoi kembali menyapa, Train street terletak di pusat kota Hanoi. Rel kereta yang masih aktif dilalui ini, menurut saya, sudah tidak se-etnik dulu2. Dulu kiri kanan masih rumah, terkesan alami dan memberi suasana perkampungan. Di foto2 lama yang beredar di internet, tampak masyarakat berkegiatan di samping rel, dekat sekali. Ketika kereta akan lewat, mereka menepikan kursi, jemuran, tenda ataua apapun yang berpotensi tersenggol kereta.

Tapi sekarang, kiri kanan penuh dengan kafe. Plus gemerlap lampu warna warni (meskipun siang hari tetap gonjreng). Meja dan kursi kafe berderet rapi, yang kemudian harus sigap disingkirkan ketika kereta lewat. Di musim liburan seperti ini rame sekali,  bahkan untuk berjalan saja susah. Kesan vintagenya sudah hilang. Kata anak saya, "Cuma kereta, ini". Haha.. betul, di Jakarta juga banyak. Intinya : not recommended.

- An Noor Mosque

Ini salah satu masjid di Hanoi. Waktu yang sempit, hanya cukup untuk sholat jama' qosor Duhur dan Ashar. Biasanya jika mengunjungi masjid, saya suka noleh2 melihat bangunannya. Terlebih di negara dimana Islam sebagai negara minoritas. Lagi-lagi saya merasa saya salah memilih travel. Sampai hari ke5, ini satu2nya masjid yang kita kunjungi. Harus cepat-cepat pula. saya hanya sempat mengamati tempat wudhu wanita yang ditutup pembatas kain tebal. Bersih. Dan tidak kuatir terlihat lawan jenis jika berwudhu. Sayangnya toiletnya kekurangan air. Masjidnya sepi, hanya rombongan kami saja yang mengisi. Mungkin karena memang bukan waktunya sholat.

Day 6

Time to go home. Masih dengan Vietjet yang kursinya keras itu. Masih dengan drama delay, meskipun tidak selama pas berangkat. 

Bye Vietnam.

Terima kasih Ya Allah, sudah memberi kesempatan melihat sisi bumi-Mu  yang lain. 


Jakarta, 8 Januari 2025


Note : Jika belanja souvenir di Vietnam, tawar ya, 50-60%. jangan lupa cari referensi harga, banding dengan toko sebelah. Untuk kopi Vietnam, saya lebih suka beli di supermarket. Tanpa menawar dan rasanya jelas. 

Note lagi : 27 Januari, anak saya melihat situasi Fansipan Mountain via sosmed. You know What? Sedang turun salju gais... Ya Allah, nyesek ga sih, selisih bulan. Saya datenganya kecepetan .. Udik ga sih? Banget hahaha, namanya juga tinggal di negara tropis, meskipun sebelumnya sudah pernah visit negara bersalju, tetap saja udik...


Melupakan atau Memaafkan?

Kebiasaan saya ketika akan curhat di tulisan adalah, menulis dulu judulnya, baru kemudian kalau tidak malas, meneruskan paragraf2nya. KALAU TIDAK MALAS. Meski banyakan malasnya.

Draft judul ini saya tulis tanggal 2 Februari 2024.

Saya hanya menulis judulnya karena sebuah kesesakan perasaan yang sungguh menghimpit. Susah memulai, karena bingung menumpahkan kata-per kata. Pengen ngomel, sayangnya ga nemu lawan.

Ketika sebelas bulan kemudian, yang berati hari ini, saya menemukan file ini. Tapi saya sudah lupa, peristiwa apa yang membuncah dada pada saat itu.

Jadi, jika ditanya melupakan atau memaafkan? 

Serahkan saja kepada ALLAH SWT. Buktinya Dia memberi saya lupa. Nulis tidak, ngomelpun tidak. hihihi...

Alhamdulillahi rabbil aalamiin

Jakarta, 6 Januari 2025.