Rabu, 28 Juni 2017

Tetangga Tak Tampak Mata

Maksudnya apa? Tetangga di dunia maya?
Hehehe bukan, kalau tetangga di dunia maya setidaknya ada interaksi saling sapa, atau saling berbagi like, love atau smile. 

Tapi tetangga yang ini, duh... jangan sampai lah ada interaksi. Saya sungguh tak mengharapkan. Dengan pengalaman-pengalaman yang saya dapat, pinjam-pinjam barang saja, sudah cukup membuat saya dan suami tertawa kecut dibuatnya.
Karena tetangga yang ini benar-benar berbeda frekwensi. Beda alam. 

Ini hari apa ya... kenapa saya agak feeling spooky pas ingin menulisnya.. hahaha..

Ok lah, saya lanjut saja..

Saya dibesarkan dari orang tua yang bukan penakut. Dan mereka mendidik kami bukan pula untuk jadi penakut.. Alhamdulillah..
Ibu saya, dulu, sebelum semakin sepuh, salah satu kegiatan sosialnya adalah pemandi jenazah. For free, bukan profesi, melainkan semata ingin berbagi. Jadi kalau di rumah selalu tersedia kain kafan dan kapur barus yg dihaluskan, bukan sesuatu yang aneh buat kami.

Kakek-nenek saya juga kerap bersinggungan dengan "tetangga" ini. Malah berinteraksi pula. Dan kisahnya seringkali menjadi cerita sore hari dimasa saya kecil sembari menunggu azan maghrib.

Ok, jadi begini...
Seminggu kemarin, saya kehilangan dua barang yang sangat berarti. Sebuah buku doa untuk anak dan orang tua yang selalu terselip dalam Al-Quran dan sebuah kabel charger handphone.
Buku doa ini penting sekali bagi saya. Karena isinya yang sangat touchy. Sepuluh hari terakhir ramadhan, selain doa pengampunan untuk saya pribadi, saya juga ingin mendoakan orang-orang terdekat saya : anak-anak dan orang tua. Tapi buku itu tiba-tiba lenyap begitu saja.  Puff...
Sudah saya buka setiap lembar Quran, barangkali terselip disana.
Sudah beberapa teman saya texting, barangkali tercecer sewaktu tadarusan di rumah mereka. 
Nihil.

Kabel charger pun demikian. Biasanya anteng di dalam hand bag saya, atau di meja kamar saya. Paling jauh, tertinggal di mobil, di carpark, basement apartement.

Tiga hari menghilang, Iseng saja mulut saya berucap sebelum berangkat beriktikaf ke masjid :
"Balikin dong buku doanya.. lagi perlu nih.."

Yaa Khaliq... Tuhan yang Maha Pencipta segala makhluk, setiba di masjid, ketika membuka Al-Quran, buku doa itu anteng terselip di halaman pertama. Antara girang dan bingung saling beriringan. Alhamdulillah.

Tentang kabel charger.
Sore tadi, setelah bosan saling pinjam kabel charger dengan suami, dia berinisiatif membelikan kabel baru. Sementara dia pergi, saya beberes kamar. Sudah lama saya ingin membongkar paper bag ukuran besar untuk menyortir mana barang yang masih ingin saya simpan dan mana yang ingin saya buang. 
Yes, rapi sudah.

Ketika suami pulang membawa kabel baru ke kamar, dia meraih juntaian berwarna putih di paper bag yang baru saya rapikan. 
"Lah.. ini apa...?", katanya sambil tangan satunya masih menggenggam box kabel baru.
MasyaAllah, padahal beberapa jam sebelumnya saya membongkar total dan merapikan isi paper bag itu dan tidak melihat kabel itu. Jadi sekarang kabel charger saya ada dua. Kami tertawa kecut.. rupanya sudah "mereka" kembalikan..

Sesungguhnya pengalaman seperti ini bukanlah yang pertama. 
Dulu, di rumah Jakarta, adegan meminjam barang ini beberapa kali kerap terjadi. Paling sering adalah gunting kuku dan pompa sepeda. Sebuah gunting kuku ukuran besar oleh-oleh kakak saya dari Jepang, merupakan gunting kuku kesayangan keluarga. Nah dua barang ini seringkali lenyap disaat kami sedang butuh-butuhnya.
Dan akan kembali muncul tiba-tiba ditempat kami biasa menyimpannya. Seringnya sih setelah suami saya bilang, "Balikin doooong."
Dengan versi cerita yang sama seperti kabel charger, saya sampai punya dua pompa sepeda hehehehe... ok lah.. asal jangan pinjam sepedanya.

Flashback lebih jauh, sewaktu masih tinggal di Batam, kami mengalami kejadian yang selevel lebih seram. Kami mengontrak rumah yang sebelumnya ditempati seorang teman. Di teras belakang seringkali ada suara riuh orang bermain karambol diselingi obrolan dan tawa. Juga aroma harum pewangi cucian di malam hari. Tadinya kami asik-asik saja karena menganggap  memang itu aktifitas yang wajar. Sampai ketika kami akan pindah ke Jakarta, barulah kami tahu bahwa rumah belakang sebetulnya tak berpenghuni. Jadi, selama ini yang malam-malam  suka main karambol dan mencuci itu siapa ya.... jeng...jeng...
Malah hari-hari terakhir sebelum kami pindah, makin banyak kejadian aneh. Air bak mandi yang tiba-tiba habis, air bak penampungan di dapur pun habis meluber ke segala penjuru lantai. Juga beberapa box kue yang seharusnya untuk oleh-oleh kerabat di Jawa, menghilang ketika akan kami packing.
Semua cerita ini, semakin jelas ketika kami sudah pindah  ke Jakarta, teman yang menempati rumah di Batam sebelumnya, usil bertanya ada kejadian aneh apa saja selama dua setengah tahun kami menempati rumah itu. Kemudian teman ini bercerita memang rumah itu ada "sesuatu", tapi sengaja dia tak bercerita kepada kami di awal kami menempati rumah itu, karena tak ingin menakuti. Yang teman alami malah level seramnya lebih tinggi dibanding yang kami alami. Ketemu langsung sama si  “dia”

Oh Allah.. kami hanya sanggup bersyukur tahunya belakangan. Andai tahu kondisi rumah sebenarnya pada saat kami masih menempatinya, mungkin saya tak bisa nyaman tinggal disana. Apalagi masa itu suami saya sering shift malam. Dan saya hanya tinggal dengan seorang batita.

Tak apalah, semua adalah makhluk ciptaan Allah. Apalah kita ini, kecuali tugas kita hanyalah beribadah kepadaNya.

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"
(QS Adz Dzariyat : 56)

Kuala Lumpur, 28 Juni 2017


Sabtu, 17 Juni 2017

L.U.P.A

Dalam berinteraksi sehari-hari, sering kita mendengar seseorang yang melontarkan kalimat, "Sorry, saya lupa..."
Saya juga sering sih...
Kadang ngeselin kalau ada hal yang penting, kita terlanjur mengharap ke seseorang tapi orang tersebut lupa.
Iya, kan...  
It means, untuk saya yang juga sering kelupaan, saya juga ngeselin. 
Orang lain juga kesel sama saya... hehehe maafkan. Seringkali itu betulan, ga saya sengaja. Meski kadang (kadaaaaang banget) disengaja juga, sengaja melupakan.
Maafkan, please...

Nah lupa yang disengaja ini sebetulnya hanyalah alibi. Misalnya karena enggan hadir disuatu pertemuan padahal sudah terlanjur menyanggupi untuk hadir karena faktor gak enak kalau menolak. Jadi diciptakanlah alasan lupa.

Anak-anak saya juga sering sekali menggunakan senjata "lupa" ini.
"Nak, tolongin jemur baju yang baru ibu cuci ya.."
Biasanya jawabannya adalah,
"Ok, bu, a minute please.. ini lagi tanggung." Tapi tak beranjak dari duduknya. Pura-pura mengerjakan sesuatu.
Selang beberapa waktu, baju masih anteng di dalam pengering mesin cuci,
"Nak, belum dijemur juga?"
Jawaban yang saya dapat adalah,
"Lupa, bu.."
See...? 
Saya mau marah? Susah... Namanya juga lupa, apanya yang mau dibuat marah. Kesel saja akhirnya.

Lain soal dengan kejadian yang satu ini. Sepasang anak muda sedang berada dalam LRT. Yang satu tampak diam memandangi hand phone nya. Seorang lagi beberapa kali berusaha mengajak bicara, membuka percakapan. Karena tempat duduk saya berseberangan, saya bisa mendengar ucapan si teman. Salah satunya bertanya :
"How's the party last evening"
"That was great." Masih tanpa memalingkan wajah dari hand phone.
"Siapa saja yang datang?" Kejar si teman.
"Mmm, lupa." 
Krik...krik...krik...
Hening...

Hahahaha.. Jawaban "lupa" kali ini digunakan untuk menutup pembicaraan. 
Stop of conversation.
End of story. 
Cukup sampai disini. 
Leave me alone. 
Lo gue end.

Gitu...

Tapi,
Meski lupa seringkali berkonotasi negatif, ada kalanya sifat lupa ini sangat diperlukan. Positif malah.
Allah memberi sifat lupa pada manusia untuk melepas traumatik pada satu kejadian. Traumatik level ringan adalah ketika kita mengalami kejadian buruk yang memalukan. Salah ucap atau salah berperilaku yang menyebabkan ditertawakan orang-orang di sekeliling kita.
Yang menyebabkan kita ingin seketika tenggelam saja ke dasar bumi saking malunya.
Dengan sifat lupa ini, kita berangsur akan kembali memijak bumi tengan tegak. Malunya masih ada, konyolnya kejadian masih ada. Tapi orang mulai melupakan kejadian itu. Kitapun sudah berangsur lupa.

Di Kuala Lumpur ini, jendela mobil saya pernah dikeprok maling di lampu merah di siang bolong. Sebuah backpack berpindah tangan seketika, dalam hitungan detik saja. Maling expert. Sampai sekedar berteriak atau pencet klakson saja saya kalah jauh, saking terperanjatnya.
Setelah kejadian itu, perlu waktu untuk menepis perasaan takut dan trauma. Padahal saya emak jalanan. Setiap hari pasti antar jemput anak sekolah yang pulang-pergi, pagi-sore hitungan kilometernya mencapai kurang lebih 60km. Kilometer ini seringkali bertambah karena kegiatan yang lumayan padat. 
Iya, memang, saya (pura-pura) sibuk... hehe

Nah, Hari-hari setelah kejadian, saya menyetir mobil dengan mata selalu jelalatan spion kanan-kiri-depan. Kemudian tangan menjadi dingin setiap melihat pria berboncengan motor mendekat dan akan menyalip mobil saya. Trauma. Kuatir berlebihan karena si maling adalah dua pria pemotor.
Tapi disinilah kuasa Allah, kasih sayang Allah kepada hambaNya berlaku, sunnatullah sifat lupa yang melekat pada manusia membuat trauma saya berangsur menipis.
Bisa dibayangkan kalau manusia tidak memiliki sifat lupa. Trauma yang berkepanjangan pasti akan menyakitkan.

Tapi lupa ini tidak sepenuhnya menghapus. sesekali masih muncul walau sebersit.
Sekali lagi, ini kuasa Allah, bukan?
In my humble opinion, ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Kenapa?
Yaaa, kalau manusia beneran lupa tak bersisa, kita tak akan mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan. Tak akan mengambil ibrah dari kejadian traumatik. 
Dengan sisa ingatan ini, kita akan menjaga perilaku agar tidak mengulang perilaku yang menyebabkan rasa malu. Mengulang kesalahan yang sama.
Dengan sisa ingatan ini, saya jadi berhati-hati tidak meletakkan tas di atas kursi ketika menyetir mobil.

Sesungguhnya, betapa besar kasih sayang Allah kepada kita. Sifat remeh temeh ini bisa begitu dahsyat dalam mendidik kita.

Fabiayyi  aala-i robbikumaa tukadzdzibani...
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? QS Ar Rahman-13)

Ah.. serius sekali tulisan kali ini..

Kuala Lumpur, 17 June 2017