Rabu, 23 Juli 2025

Sortir

Entah kenapa, saya ini hobi sekali dengan yang namanya sortir menyortir barang, kertas, baju, dan segala hal yang berpotensi menggangu pemandangan.

Gudang, itu sasaran yang paling potensial sebetulnya untuk disortir. Sayangnya saya alergi debu dan pengap. Males sekali kalau gara2 bongkar gudang, kemudian malemnya jadi kumat mengi ngik..ngik..

Lemari baju, adalah sasaran yang juga menarik untuk disortir. Saya punya prinsip, one in one out. Jika beli 1 baju, keluar 1 baju untuk didonasikan. Meski kadang, kalau sayang dan ada nilai historisnya, prinsip ini akan saya langgar. Kadang juga, di kemudian hari, 3-5 tahun berlalu, ketika trend mode berulang, saya menyesali kenapa baju itu terlanjur dipinggirkan. Kini, ketika ibu saya makin menua, yang tak memungkinkan untuk menjahit dan berkreasi, baju2 jahitan ibu saya pertahankan untuk memori dan history. 

Sasaran berikutnya adalah lemari buku. Sebetulnya buku itu menarik untuk dikoleksi. Saya mengoleksi lengkap beberap penulis favorit, seperti Andrea Hirata dan beberapa lagi. Buku2 anak2 saya juga beberapa ada yang dikoleksi berseri. Sampai kemudian saya patah arang ketika rumah saya kebanjiran dan buku2 banyak yang rusak. Ada 4 karung besar yang saya buang karena rusak parah. Sisanya saya pertahankan, susah payah dijemur dan di hair dryer. Meski keriting dan menguning, ya sudahlah.. 


Timbunan mainan juga menjadi sasaran yang empuk untuk dibereskan. Ketika anak saya beranjak usia meninggalkan mainan tersebut, gercep saya pinggirkan. Tapi seminggu yang lalu, ada penyesalan dalam hati ketika anak bungsu saya mempertanyakan kenapa boneka angry bird beragam karakter dan lengkap itu tidak saya pertahankan. Padahal sekarang sudah susah dicari.. iya, ya.. (tak ingin menyesali terlalu dalam, saya mencari kambing hitam: gudang saya sempit, tidak memungkinkan menyimpan semua-mua haha).


Dapur juga menarik untuk disortir. Kecuali pecah belah antik pemberian nenek dan ibu, saya hobi bebersih perabotan. Piring-gelas hadiah detergen setelah terkumpul biasanya ikut didonasikan di event ramadhan. Terakhir kemarin panci presto besar, saya sumbangkan ke teman yang baru merintis membuka catering kecil2an. Tapi, belakangan saya sedikit menahan diri. Rasanya saya perlu mempertimbangkan untuk menyimpan perabot dapur sebagai bekal berumah tangga anak2 saya yang mulai dewasa, mengingat harga barang dapur dewasa ini mihil sekali. 

Laci meja belajar anak-anak, sangat mengundang uluran tangan saya. Beragam kertas print out gagal, bekas draft tulisan batal, hasil ulangan tahun lalu, bekas bungkus kado dilipat acak, casing hp bekas... duh, itu satisfaying banget kalau dibereskan. Tapi, semenjak mereka dewasa, saya keras menahan tangan untuk tidak terlalu ringan.


Terakhir, hand bag. Saya paling tidak betah menyimpan kertas2 kecil dalam hand bag. Receipt belanja, kertas ATM, itu sangat mengganggu mata dan pikiran. Setiap hari, menjelang tidur, merapikan tas adalah rutinas saya. Meluruskan uang2 kembalian berderet sesuai nominal. Satu arah, gambar kepala luruh arah yang sama adalah kelegaan tersendiri bagi saya. Itu makanya saya paling gemas lihat tas kerja suami, aneka slip belanja, slip hang out, lunch meeting saling silang, tumpang tindih. Kadang dilipat, kadang diremas. Kertas2 itu diperlakukan secara tidak hormat. Sangat kontras dengan nominal gaul sosialnya yang "ngeri" itu. (Kontras juga dengan jajan saya yang sebatas gorengan, atau somay. Paling banter Ramen2 dan udon2 itu 😂)

Oke, next, sebaiknya part mana yang bisa dijamah untuk sortir menyortir ini?