Sabtu, 04 Mei 2024

SWEET SEVENTEEN

      Sampai saat ini saya belum mengerti mengapa usia di angka tujuh belas tahun diidentikkan dengan sesuatu yang sweet

Apakah karena masa puberty? Rasanya tidak ya. Mayoritas usia puberty anak sekarang lebih awal dari angka tersebut. Bisa Tiga belas, empat belas, atau lima belas. Tidak adil rasanya mengesampingkan angka-angka tersebut dan langsung melompat ke angka tujuh belas, untuk sebuah predikat sweet

Apakah karena di usia tujuh belas adalah usia masuk Sekolah Menengah Atas, dimana masa SMA diyakini banyak orang adalah masa yang paling berkesan dan menyenangkan dibanding jenjang pendidikan yang lain? Rasanya sih tidak juga, usia wajar masuk SMA adalah empat belas atau lima belas tahun. Meski memang, iya sih, kalau dari segi menyenangkan, saya sepakat.

Nah, duluuuu... ketika memasuki usia tujuh belas tahun, saya tidak mengalami keistimewaan apapun. Pesta tidak, surprise greeting dari teman-teman juga tidak. Selebrasi kecil di rumah, tidak juga. Mungkin karena memang di keluarga saya tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Flat saja hari lahir saya, gitu terus dari tahun ke tahun. Hari-hari menjelang hari H sampai usia bertambah setahun kemudian, saya tidak merasakan kejutan apapun sepanjang seventeen tadi. Pun tahun-tahun sebelumnya. Dan berlanjut sampai saat ini, ketika saya mempunyai keluarga sendiri. meskipun sebisa mungkin saya tidak melupakan hari ulang tahun suami dan anak-anak saya, tapi jikapun di hari ulang tahun saya mereka lupakan (dan itu pernah terjadi), bukan masalah besar bagi saya. Hahhaha...

*********

Oke, lupakan saja tentang paragraf-paragraf pembukaan yang tidak jelas tadi :)

Tahun ini, anak bungsu saya ulang tahun ke tujuh belas. Alhamdulillahirabbil alamiin. Dia antusias untuk mengambil KTP di kelurahan, dimana jauh-jauh bulan sebelumnya sudah melakukan perekaman data di Balai RW, secara kolektif. Menjelang hari H, setiap hari yang ditanyakan kapan pergi ke kelurahan untuk ambil KTP, dan tentunya bersiapan untuk meminggirkan KIA nya,  sebagai artefak yang akan kami simpan di album memori. (Oh ya, kami memiliki album foto berperekat yang isinya adalah benda-benda bersejarah yang bisa kami kenang. Contohnya, tiket perjalanan haji, tiket wisata ke suatu tempat, ID Card negara dimana kami pernah tinggal, kartu pelajar setiap jenjang sekolah, dan masih banyak lagi). Kenapa niat amat membuat album memori, ya karena itu merupakan kenangan dan bagian dari puzzle perjalanan hidup kami, selain foto-foto tentunya.

Ah.. saya mulai kehilangan arah ingin menulis apa...  Mungkin karena saya simpan tulisan ini sebagai draft sejak tanggal 7 Maret 2024. Kemudian terlupakan. Kemudian dibuka kembali tanggal 4 Mei 2024. Tulisan yang tadinya akan berkaitan dengan ulang tahun anak saya, telah kehilangan momen, terlewat 37 hari.

Baiklah, pada hari itu, ucapan selamat sudah dibisikkan, kado sudah diberikan, lantunan doa sudah dilangitkan. Sekarang yang tersisa adalah perasaan yang ramai antara bahagia karena anak bungsu beranjak dewasa dan kekhawatiran apakah saya adalah ibu yang menyenangkan baginya untuk membersamai menata tangga demi tangga yang akan dia pijak meniti masa depannya. Biru sekali rasanya...

"Nak, jika kau membaca ini suatu saat nanti, jika tak kau temukan satu doa pun untukmu, jangan kau risau karena sesungguhnya doa ibu tersemat di ujung sujud. Terima kasih sudah menjadi anak ibu, yang selalu membuat ibu tersenyum ketika gurumu memujimu di depan ibu. Boleh ibu minta sesuatu darimu? Jangan lupa bawa ibu dalam doamu, dan lipatgandakan doamu ketika masa ibu sudah usai nanti". 

Happy belated birthday, March 23,  love you...

Jakarta, 4 Mei 2024


Jumat, 09 Februari 2024

Me Time

     Jadi orang tak supel itu rasanya..... 

     Eh, sebentar, tak supel disini bukan berarti tidak suka bergaul, anti sosial atau kuper, ya, tapi biasanya untuk membuka circle baru, perlu perantara pihak ketiga, entah itu seorang teman, atau wadah kegiatan. Tidak bisa ujug-ujug srawung atau ujug-ujug nimbrung. Karena akan serba kikuk, kuatir salah omong, kuatir salah respon, yang biasanya akan disesali berkepanjangan, sampai malam, sampai berganti hari. Meminjam istilah Gen Z, akan over thinking setelahnya. Oh ya, satu lagi, jika menggunakan telpon akan lebih memilih texting daripada telponan. Kecuali kepada teman yang merasa sefrekwensi. yang jika telponan, meskipun jarang tapi bisa lamaaaa dengan topik yang random. 

Bisa ga sih yang begini masuk dalam bibit-bibit introvert?

     Masa saya muda dulu, istilah ini tak lazim digunakan. Paling banter sesorang dikategorikan pendiam atau periang kah. Supel atau kaku kah. Pemalu atau malu-maluin kah.. eh gak lah heheh.. Jaman dulu tak marak pengetahuan tentang psikologi, kecuali jika memang kita berkecimpung mempelajarinya di lembaga pendidikan formal. Berbeda dengan masa ketika interenet makin terbuka luas. Seiring dengan jurnal-jurnal penelitian diterbitkan secara digital, sehingga masyarakat bisa leluasa mengakses. Ditambah sosial media semakin meluas. Berkahnya, ilmu-ilmu psikologi, parenting dan sejenisnya berlimpah mengedukasi. Maka, saya yang dalam kurun waktu lalu hanya mengenali diri sebagai pribadi yang canggung dan tak banyak teman (meskipun masa muda saya sangat aktif dan banyak kegiatan intra dan ekstra kurikuler) akhirnya dengan bantuan serangkaian test dan beberapa short course yang saya ikuti, mulai mendeteksi diri bahwa saya masuk dalam kategori introvert

     Level light sih. Awalnya. Tapi tiga tahun terakhir ini...

     Sebuah jurnal yang saya baca, menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia level introvert seseorang cenderung bertambah. Ini juga disebut sebagai pematangan intrinsik. termasuk dalam hal ketelitian dan agreeableness. Lha kok iya di saya ...

     Kenapa ya? Entahlah, mungkin karena circle makin kecil dan sudah malas drama. Dan makin kesini, lokasi favorit saya adalah rumah. Bisa banget seharian di rumah, kecuali jika ada kewajiban yang harus ditunaikan di luar rumah. 

     Dari situ juga maka salah satu lokasi me time saya adalah di rumah, terlebih ketika sedang sendiri. Segera pulang setelah berkegiatan di luar. Mendengarkan spotify rapat di telinga adalah charging buat saya. Pernah di suatu timeline, di Kuala Lumpur, mobil adalah lokasi me time saya. Menyetir sendiri selepas antar jemput anak-anak ke sekolah atau menyetir sendiri ketika berbelanja, adalah saat-saat charging. Memilih channel radio yang saya sukai, sesekali ikut bernyanyi. Mengikuti irama lagu dengan mengetuk-ngetuk setir. Menggelengkan kepala atau menggoyangkan bahu dan kaki. Atau dada ikut terhunjam jika lagunya berserak derai. Sungguh karena hal itu yang membuat keriaan penuh melingkupi dada. Sesekali juga memacu mobil dengan kecepatan lebih. 
Waktu itu, salah seorang anak saya bisa mendeteksi kebahagiaan saya ketika kami berdua di dalam mobil. 
"Ibu menikmati sekali nyopir mobil." Nada bertanya tapi telak sekali.
"Capek lah nak, makanya kalau sekolah selesai langsung stand by di drop point ya, supaya ibu tidak perlu telpon, cari sana cari sini". Elak saya, masih belum bisa memetakan perasaan. Sejujurnya memang capek. Jarak sekolah pulang-pergi plus les-les, juga kajian maupun belanja, jika ditotal bisa setara Jakarta-Bogor pulang pergi. Tapi entah kenapa, saya enteng menjalaninya. Sepertinya teori neuroscience bahwa seorang perempuan memerlukan merilis 20.000 kata per hari untuk mengekspresikan diri, bisa tergantikan dengan me time a la saya ini.

     Namun rasa ini hilang ketika pindah kembali ke Jakarta. Di kota ini menyetir  merupakan hal yang paling horor, karena lalu lintas yang sangat kacau balau. Saya memutuskan tak lagi menyetir mobil sendiri. Dan ketika kau tak lagi menyetir, itu artinya tempat dudukmu adalah di samping sopir, siapapun sopirnya, kau tak lagi sebagai pengendali utama dalam hal apapun, termasuk memilih jenis lagu atau channel yang kau sukai. Termasuk jika kau ingin menyanyikan lagu itu. Termasuk jika lagu yang kau sukai tiba-tiba berpindah channel, ya sudah, let it go. Kenapa? ya itu tadi sudah malas drama. Dan itulah kehilangan terbesar saya. 
    
      Hingga kini, saya belum kembali mampu menggali, di titik-titik manakah saya bisa menempatkan me time. Sementara ini mungkin menulis sambil mendengarkan musik di spotify bisa jadi alternatif. 20.000 kata per hari saya, yang tak terungkap kepada sesiapa, bisa sedikit tersalurkan.  Seperti saat ini. Tak perlu lagi merasa perih ketika seseorang berbicara, "Ibu, ssttt..", meskipun dengan nada bercanda, disaat saya sedang menggebu ingin membahas sesuatu secara random. 
Hanya saja, rasanya harus lebih selektif mana tulisan yang bisa dipublis dan mana yang harus diprivat.  Untuk mengindari huru hara.... hehehe


Jakarta, 9 Februari 2024

     

     



     

Rabu, 03 Januari 2024

Yaaaah, Pasporku....

      

     Ini selewat cerita yang sayang jika tidak diabadikan berupa tulisan, sebagai pengingat, bahwa manusia tempatnya lupa, atau teledor. Yang namanya kelupaan, itu tak ada agenda dalam kalender manapun. Dampaknya apa, kadang fatal, kadang masih terselamatkan..Alhamdulillah..

     Ini masih ada hubungannya dengan agenda bermain di libur akhir tahun, Desember kemarin. Baca: https://yusfianaworld.blogspot.com/2024/01/pergi-tak-pergi.html

     Merencanakan perjalanan dadakan, dalam waktu satu mingguan, pergi antar negara pula, tentu saja semua serba grubyak grubyuk. Fokusnya hanya tertuju ke : apakah masih kebagian tiket, apakah masih kebagian hotel? Mengingat ini adalah peak season.  Saya sering menghighlight perplanningan ini, karena gerubyukan seperti ini bukan yang pertama. Selalu ada niat, lain kali harus lebih wellprepared. Tapi kenyataannya kok masih terulang ya... Kadang kalau lihat orang lain bisa bepergian dengan planning 6 bulan sebelumnya, selalu semangat untuk mencontoh. Tapi... kenyataannya, ya gitu deh.

     Ah, muter-muter.. 

     Intinya, ketika ketemu tanggal yang kami semua available, suami langsung booking tiket dan hotel. Banding harga, banding lokasi hotel, baca review hotel, itu adalah rangkaian ritualnya. Kecuali jika hotelnya sudah pernah kami inapi, ritual tersebut bisa di skip.

     Ketika semua sudah siap, sambil menunggu hari keberangkatan, kami kembali melanjutkan aktifitas sehar-hari. Sampai pada H-2 keberangkatan, kami berencana mengisi formulir online yang diwajibkan kami isi dan submit. Ini aturan baru dari Malaysia bagi pengunjung. Namanya Malaysia Digital Arrival Card (MDAC). 

     Pas sampai bagian input data paspor, zzpp... saya bagaikan tersengat aliran listrik, karena umur paspor saya tinggal 3 minggu lagi. Ya Allah.. mana bisa saya pergi. Untuk bisa menembus imigrasi, paling tidak umur paspor saya harus 6 bulan menjelang kadaluwarsa.

     Lemes dong saya... Terbayang renew paspor butuh waktu setidaknya 4-6 hari kerja. Belum lagi pake acara daftar dulu, booking tanggal dulu, karena quota yang terbatas di Imigrasi. Saya baca-baca pengalaman orang lain, booking ini bisa sampai 30-40 hari-an. Saya pasrah, akan batal pergi. Terus akan jaga rumah, nyapu-ngepel, nyala-matiin lampu, kasih makan kucing... Paling top yaa, nonton Netfix. 

     Buru-buru saya menghubungi tetangga yang punya usaha membantu urusan perpasporan begini, siapa tahu bisa. Tapi saya lemes jilid II ketika jawabannya paspor siap paling cepat 4 hari kerja plus booking slot hari dulu 5 harian. Duh.. 

     Akhirnya saya menghubungi suami. Ikutan panik dia. tapi langsung gercep menghubungi ibu-ibu agen paspor yang biasa membantu urusan paspor di kantor, siapa tahu dia punya quota yang bisa saya pergunakan. Datang angin segar, si ibu mempersilakan besok hadir ke kantor imigrasi, memilih layanan same day atau paspor percepatan. Alhamdulillah, lega dong, meski sementara.

     Pagi, pukul 08.45 saya sudah berada di kantor imigrasi, ketemu si ibu on the spot. Menyerahkan berkas, kemudian menunggu sesi foto dan wawancara. Dijanjikan pukul 14.00 paspor baru siap digunakan. Sepanjang waktu menunggu itu, hati saya riuh dengan doa: semoga tidak mati lampu, semoga pejabat yang tanda tangan paspor tidak sedang sakit atau rapat, dan sederet semoga-semoga yang lain, agar proses cetak papor lancar. Ketika pukul 14-an nama saya dipanggil, wuihhhhh, leganya.. Dan step terakhir, saya cek semua data pribadi yang tertera di paspor, sip.. betul semua. Tanpa membuang waktu, di perjalanan pulang, saya input form MDAC yang diminta oleh negara sebelah. Proses submit berhasil. Leganya saya, Alhamdulillahirabbil aalamiin, di H-1 takdir Allah berkata saya boleh pergi.

     Nah, sekarang boleh dong saya mereview tentang kantor imigrasi di Jakarta Selatan, di jalan Hj. Tutty Alawiyah. 

Dibanding beberapa kantor imigrasi yang pernah saya datangi untuk pengurusan paspor diantaranya di Jakarta Timur, di Jakarta Selatan (Kanim yg terletak di Simatupang kah? saya agak lupa, karena ini paspor pertama anak-anak, sekitar tahun 2011 dulu) dan di KBRI Kuala Lumpur, saya rasa ini yang paling nyaman. (Eh, bisa jadi kanim-kanim yang saya sebutkan diatas, sekarang juga sudah berubah menjadi nyaman sih ya). Kantornya bersih, ACnya dingin, mushollanya -meski kecil- rapi. Dan biasanya krusialnya tempat pelayanan publik adalah toiletnya. Disini, toiletnya, meski jadul dan sederhana, tapi bersih dan tidak bau. Alur pembuatan paspor jelas dan tidak membingungkan. Eh, ada good news nya, yaitu free flow minuman hangat, air mineral dan snack di ruang tunggu prioritas. Dan yang perlu di highlight adalah petugasnya ramah-ramah. Semoga dipertahankan semua hal baik ini.

    Tapi saya menyematkan kritikan sih, Meskipun same day, pengambilan paspor ini kan lumayan lama ya, jam 14.00. Mau foto jam berapapun, jam 9,10,11.. semua dipukul rata pengambilan jam 14. Kurang fair menurut saya. saya yang foto paling pagi, ambilnya berbarengan dengan yang datang jauh setelah saya.  Semoga bisa dijadikan masukan: first come first serve.

     Oh satu lagi, tidak ada slot parkir mobil disini. Mobil terpaksa numpang parkir di gedung sebelah atau gedung-gedung di seberang jalan. adanya sih parkiran motor, tapi terbatas. Jadi, naik transportasi umum, lebih baik rasanya.

Selasa, 02 Januari 2024

JADI PERGI, GA NIH?

      Travelling kali ini, antara ya atau tidak. Keputusannya hanya bagaikan tipisnya tissue. Kalau ya, mudah robek alias batal, kalau tidak, juga mudah robek alias yuk berangkat. Kronologis baca di : 

https://yusfianaworld.blogspot.com/2024/01/tak-lengkap-semua-tak-sama.html

      Kemudian, hanya Allah SWT lah, Sang Pemilik Waktu dan Kesempatan yang menggerakkan langkah kami untuk berangkat.

      Siem Reap, Cambodia adalah tujuan kami. Perencanaan yang kurang matang dan serba dadakan salah satu alasannya karena ini adalah salah satu negara yang mudah dijangkau dan tanpa visa. Sebetulnya ini bukan kunjungan pertama. Kami sudah pernah ke Siem Reap tahun 2013. Nah, selain perencanaan yang bagaikan sim salabim tadi, ada alasan lain kenapa kami kembali mengunjungi Siem Reap. 

     Yaitu karena penasaran...

     Tahun 2013 kami pergi di bulan Juli. Pas di bulan-bulan panas. Kurang nyaman tentunya, mengajak anak-anak usia 6-14 tahun pula. Keklasikan Angkor Wat tak bisa kami nikmati. Sebentar ada yang minta gendong, sebentar ada yang minta minum, kebanyak minum kuatir minta pipis. Tentengan berisi botol-botol minum dan cemilan, juga silaunya matahari makin membuat kami tak leluasa menikmati lekuk-lekuk bangunan bersejarah nan luas itu.  Lokasi shooting film Tomb Rider ini, tak tuntas kami jelajahi.

     Nah, terbersitlah niat untuk mencoba mencari suasana yang berbeda. Pergi di bulan Desember, ketika cuaca lebih bersahabat dibanding bulan Juli. Saya telisik melalui aplikasi weather, dan cocok, disana bukan rainy season seperti di Indonesia. Rencananya kami akan menghabiskan waktu 4D 3N disana, supaya lebih santai dan tidak lelarian berkejaran dengan waktu seperti sebelumnya.

     Tidak adanya direct flight Jakarta-Siem Reap, memaksa kami untuk transit dulu ke Malaysia. Eh, koreksi, bukan 'memaksa' sih.. karena kami sama sekali tidak merasa 'terpaksa'. Dengan senang hati kami transit di Malaysia. Pernah melalui masa tinggal di Kuala Lumpur selama 5 tahun  membuat hati kami tertaut dengan kota itu. Satu-satunya hal yang membuat kami beneran merasa 'terpaksa' adalah alokasi biaya tiket dan penginapan (dan jajan.. dan biaya bernostalgia...) yang huhuhu... tentu saja bikin istighfar. Ya sudahlah.. bismillah saja, nanti insya Allah nabung lagi hehehe...

     Day 1.

     Flight pagi adalah pilihan kami, jam 9.40 by Malaysia Airlines. CGK-KUL. Kenapa maskapai ini? Karena tabungan poin kami banyak yang jika tidak digunakan akan hangus di penghujung tahun. Alasannya as simple as that :) Kenapa punya poin banyak? Karena dulu-dulu kantor suami yang head office nya di KL, selalu menyediakan tiket maskapai ini di setiap perjalanan dinas. Gitu...

     Ternyata pilihan flight pagi (supaya sampai Kuala Lumpur tidak terlalu sore, dan masih sempat strolling arround kota) kena delayed. Dua kali delayed bahkan. Membuat kesal membayangkan waktu yang terbuang. Trauma juga sih.. duluuu pernah kena delay setengah hari sampai nginap di lounge. Tapi memang Allah Maha Pengatur, untungnya kami memilih stay di Tune Hotel-KLIA 2. Jadi waktu yang terbuang selama penerbangan tunda bisa dikompensasi dengan jarak hotel yang dekat dengan bandara KLIA 2. Hanya menyeberang sepelemparan batu. Rencana jalan-jalan di Kuala Lumpur gimana? Batal. Tapi cukup melegakan hati bisa terganti dengan ngemall di seputaran bandara, sambil menunggu anak sulung yang terbang menyusul di malam hari lantaran masih ada kepentingan pekerjaan.

     Day 2.

    Lagi-lagi kami pilih flight pagi, 06.30. Pesawat Air Asia adalah pilihan kami menuju Siem Reap. Memilih pagi hari karena alasan yang sama tentunya, supaya hari ini masih sempat melihat-lihat Old Market dan kebagian sun set di Angkor Wat. The plan was running well, alhamdulillah, tidak ada delayed.

     Bulan Desember ternyata merupakan bulan dingin dan berangin di Cambodia. Jangan membayangkan dingin seperti winter di negara empat musim ya... Tapi cukup membuat kami brrr dan merapatkan jaket. Saya lihat suhu 19 derajat celcius. Banyak taksi yang bisa kita sewa dari bandara SIA ke hotel. Biaya sewa bejarak 47-50km (50-60 menit perjalanan) adalah $85. Dollar apa? USD. Disana mata uang Riel dipakai berdampingan dengan USD. Transaksi warga lokal dengan foreigner selalu menggunakan USD. Mulai transportasi, tiket wisata, souvenir, sampai beli makan. Lah, Riel dipakai kapan? Kadang saat transaksi kita bisa saja dapat kembalian mix antara USD dan Riel. Saat membayar bisa juga di mix demikian.. unik ya.. :), sampai2 otak saya terpontang panting menghitung kurs.

     Transportasi publik di Siem Reap ini adalah tuk tuk dan mobil. Tidak susah menemukan tuk tuk. Di depan hotel suka pada mangkal. Tinggal disamperin saja. Kalau saya, meminta bantuan pihak hotel untuk memesan tuk tuk ataupun mobil, Jadi harga bisa dipastikan fix. Tidak kuatir dimahalin. tanpa merasa perlu tawar menawar. Bisa juga sih pakai aplikasi Grab untuk memesan tuk tuk, tarif yang tertera adalah dalam mata uang Riel, meskipun ya itu tadi, bisa dibayar dengan USD.

     Karena ingin hemat, saya sewa tuk tuknya. Setengah hari pasang tarif $20. Ini bisa muterin kota plus melihat sunset. Ini lebih murah daripada satu tujuan PP $6. Tapi di windy December ini, kami hanya naik tuk-tuk di hari pertama dan hari terakhir yang jarak pendek saja. Kuatir masuk angin. Sudah tua. Mana lupa bawa minyak tawon pula, hahaha...

     Day 3.

     Pengalaman keanginan kemarin membuat kami memutuskan sewa mobil saja untuk melihat sunrise di Angkor Wat. Kebayang kan, menunggu sunrise kan harus berangkat setelah sholat subuh. Hembusan angin masih lucu-lucunya ini, daripada perut kembung, masuk angin dan mengganggu hari-hari berikutnya kan. Sewa mobil seharga $85, maka sebaiknya direncanakan sebaik-baiknya mau kemana saja dalam sehari. Ga mau rugi, dong ckikik..

     Tiket Angkor Wat $37 per day. Ada pilihan tiket 1 hari, 3 hari dan 7 hari. Bisa pilih sejauh apa ingin eksplor. Eh, sebentar, serius eksplor Angkor Wat sampai 7 hari? Percayalah, memang sebesar itu areanya. Harga ini tidak hanya untuk masuk Angkor Wat, tapi juga Wat-Wat lain di seputaran Angkor. Babang tuk-tuk atau sopir mobil sudah faham rangkaian tiket ini dipakai ke temple mana saja.

     Dalam sebuah travelling, kadang memang ada drama (Drama terepic kami adalah terjebak demonstrasi massa di sebuah distrik di Hongkong hahaha... mungkin lain kali saya akan tulis. Kalau masih ingat detailnya, karena sudah lama sekali, tahun 2014). Drama kali ini adalah babang sopir  menolak mengantarkan kami menuju restoran halal untuk makan siang. Dengan alasan terlalu jauh balik ke kota.. Padahal babang tuk tuk kemarin, yang sewanya lebih murah, senang hati saja mengantar kami mencari restoran halal hasil perburuan dari browsing (tentunya dengan senang hati pula kami akan melebihkan sewa tuk tuk nya, atas kemudahan yang diberikan. Dan hal yang sama tentunya akan berlaku jika babang mobil memudahkan kami). Alasan kami perlu sholat dan hanya memakan yang halal, kurang bisa difahami rupanya.

     Mood saya sudah terlanjur ambyar, alias saya ngambek. Saya minta balik ke hotel dan menyudahi eksplor hari ini, meski seharusnya masih ada beberapa destinasi lagi.  Si babang mobil agak gak enak hati. Tapi tetap tak mau ngantar, aneh ga sih? Lesson learned nya adalah jika pakai transport sewaan, next time tidak hanya catatan perjalanan yang harus diberikan detail dan lengkap ke babang sopir, tapi kebutuhan kita seperti apa, itu juga harus disampaikan.

    Day 4.

     Kulen Waterfall adalah tujuan kami, berjarak 54 km yang ditempuh dalam waktu 1.5 jam, karena kondisi jalan kecil, berdebu dan berbelok-belok.  Harga sewa mobil yang sama dengan kemarin untuk durasi lima jam telah kami sepakati. Harga tiket $20. Tapi saya tidak merekomendasikan mengunjungi waterfall ini, tidak sepadan dengan biayanya dan waktu tempuh. Bahkan di Indonesia, waterfall nya lebih bagus-bagus dibanding ini. Anak saya menyebut waterfall di Langkawi, Malaysia lebih bagus untuk dikunjungi ulang.

     Adakah drama yang terjadi pada hari ini? Hihihi... Jangan sedih. Ada.

Sepulang dari waterfall, saya ngadem saja di kamar, save tenaga buat nanti malam ingin pergi ke Night Market. Tapi sore hari, anak bungsu dan suami saya masih penasaran ingin ke sebuah mountain kecil untuk melihat sunset, karena sayang dengan tiket yang masih satu rangkaian dengan Angkor Wat kemarin.

     Tuk tuk pun disewa untuk short term. Nah, rupanya karena bangku hanya terisi dua orang, si babang tuk tuk ngide. Tiba-tiba dia bilang mau nyamperin keluarganya. Suami saya iya-in, mengira hanya mau mampir pulang untuk suatu keperluan. Ternyata si babang melipir mengajak serta anak dan istrinya  bertamasya. Lah, iki piye... Kebayang kan, duduk di tuk tuk berhadapan lutut dengan orang lain. Kan berasa kita yang ganggu acara keluarga mereka, ya.  Pulangnya, sebelum dropping ke hotel, anak istrinya diturunkan dulu di titik penjemputan tadi. Ini rupanya agar aksinya tidak ketahuan pihak hotel. Sistematis sekali. Pas dikomplen, ah... dia seakan tak mengerti bahasa Inggris, entah pura-pura entah betulan. 

     Dan hari ini kita tutup dengan mengunjungi Night Market. 

     Posisi Night Market ini jejer-jejeran saja dengan Old Market dan Pub Street. Jadi sekali cus, langsung dapat tiga lokasi. Rame? Iya, karena tata lampunya meriah, lumayan bagus, dan mungkin juga karena ini adalah year end season. Souvenir-souvenir bisa didapat disini. Jangan lupa menawar harga, karena ada kalanya mereka ngaco pasang harga. Cek toko sebelah untuk membandingkan harga, tentu lebih wise, agar tidak terjadi drama kemahalan harga. 

     Oh iya, belok topik sedikit, tentang restoran halal. Lokasinya biasanya dekat dengan masjid, karena disitulah perkampungan Muslim. Mostly restoran-restoran ini sudah punya web, minimal ada di Google maps. Disana mereka mencantumkan nomor WA. Ada yang hanya melayani pembelian via aplikasi Pandafood, ada pula yang melayani by WA. Membandingkan harga sangat perlu, karena dengan jenis masakan yang sama, harga bisa selisih $1 - $5. Lumayan kan. Jenis masakannya adalah makanan Malaysia atau Thailand Muslim. Untuk rasa, saya sih tidak asing, karena pernah lama tinggal di Malaysia. Tapi pada dasarnya rasa makanan kita 11-12 dengan rasa makanan mereka bukan?

     Day 5.

     Rupanya flight pagi masih jadi pilihan. Kami kembali ke Malaysia. Masih dengan Air Asia tujuan KLIA2. Tidak ada jadwal pesawat yang tertunda, semua on schedule, alhamdulillah. Kami mampir ke Mitsui Outlet sebentar-duabentar ketika landed, karena letaknya berdekatan dengan bandara, hitungannya sekali jalan. Kemudian langsung menuju hotel. Bertiga saja, anak sulung sudah pamit menghilang hang out dengan teman-teman SMA nya. 

Menyusuri jalanan dengan mobil Grab, membuai saya ke masa lampau, ketika masih tinggal di negara ini, ketika saya menjadi emak jalanan, yang setiap hari antar jemput anak ke sekolah, les, ke bandara, ini-itu. Merasa perkasa. Jarak puluhan kilometer per hari, rasanya ringan-ringan saja injak gas mobil. Sungguh berbeda dengan nyali menyetir mobil di Jakarta.  Duren sawit-Rawamangun saja sudah basah kuyup keringat dingin. Kemudian saya nyerah, tak lagi berminat nyetir sendiri. Lalu lintasnya horor tak terperi. Dan saya merasa cemen.

     Day 6.

     Suami saya pulang duluan, first flight, karena harus bekerja dan menabung lagi untuk trip selanjutnya, hahaha.. Anak sulung saya pun hanya stand by di hotel karena dia WFA, Work From Anywhere. Jadilah saya hanya berdua si bungsu yang kesana-kesini. Alhamdulillah transportasi LRT beroperasi normal. Cukup melegakan, karena visit sebelumnya, November 2022, LRT sedang under maintenantece. Kemana?  Pengennya sih, masuk Seri Maya, Apartemen kami dahulu, sayangnya sudah tidak punya akses masuk lagi.. huhuhu.. Ya sudah, melipir ke 99 Speed Mart saja, pengen beli oleh-oleh untuk kucing kami, dry food Malaysia hahaha, apa sih...

    Ternyata, "Anda belum beruntung". 99 Speed Mart belum buka, masih satu jam lagi, tapi tentu tidak sempat kalau harus ditungguin. Bablas saja ke Pasar Seni. Si bungsu punya list membelikan sesuatu untuk bestie-bestienya. Setelahnya, tentu ada agenda setor muka dan foto-foto dengan land mark Malaysia, Twin Tower.

     Malam hari, waktunya pulang, dan hari itu ditutup dengan jemputan pak suami di Bandara Soekarno Hatta. Kami sampai kembali ke rumah dengan penuh rasa syukur  atas kebaikan Allah SWT. Terima kasih Ya Allah, terima kasih suamiku..

Jakarta, 28 Desember 2023 (tapi diposting di blogspot 2 januari 2024)



     


Tak Lengkap Itu Tak Enak

    Pertambahan usia benar-benar mengubah semua kebiasaan, planning kegiatan, acara keluarga dan segala pernak-perniknya. Saya merasakannya. Dulu ketika anak-anak masih di bawah umur, semua agenda sepenuhnya kami, sebagai orang tua, yang merencanakan dan memutuskan. Kalaupun ada jajak pendapat, sifatnya adalah sesuatu yang sekunder. Garis besarnya, tinggal lihat kalender, sekali angkut, langsung dapat tiga anak heheeh...

     Kini, yang paling terasa adalah merencanakan kegiatan bersama, lengkap berlima. Yang kini merupakan hal yang langka dan mewah. Terutama memadankan dengan agenda anak-anak. Ingin makan bersama di luar rumah, yang dua bisa, yang lain di kos. Yang di kos pulang, yang satu dead line, yang satu lagi project sekolah. Yang dua free time, yang satu lagi sedang ikut lomba.. Alhamdulillah ala kulli hal, setidaknya semua sehat wal afiyat dan baik-baik saja. 

     Setelah Covid mereda, dan merasa tak terlalu khawatir untuk bepergian, sebetulnya sejak bulan September-Oktober  saya sudah mulai browsing dan hunting lokasi main. Akan family time kemana di akhir tahun 2022. Beberapa tujuan sudah saya lingkari (sambil meraba dompet tentunya). Sudah pula mencocokkan dengan libur akhir semester si bungsu. Sudah pula saya sounding ke suami tentang hasil perburuan informasi yang sudah saya himpun ini. Sudah pula mencoba cari bocoran semua anggota keluarga tentang tanggal-tanggal mereka bisa leluasa bepergian. 

     Tapi sampai awal Desember, kecuali saya dan si bungsu, semua masih samar-samar. Belum nampak hilal, Belum ada yang secara pasti menyepakati tanggal. Semua masih sebatas 'kayaknya bisa, kayaknya oke'. Tapi masih mentah, gitu... Meminjam istilah Gen Z, "Maklum budak corporate". Di akhir tahun semua karyawan juga ingin cuti. Approval cuti adalah sesuatu yang diperebutkan hahaha...

     Hal yang makin memberatkan dan membuat ragu adalah anak tengah sudah bisa dipastikan tak bisa bergabung. Jadwal kampusnya paling beda. UAS tak bisa ambil cuti, bukan? Disini saya sudah merasa bakal main netflix saja di rumah.

     Akhirnya, pertengahan Desember, sudah mepet akhir masa liburan sekolah, barulah hilal nampak. Ketemu tanggal yang klop, meskipun anak sulung cutinya hanya tersisa 1-2 hari karena bulan Oktober sudah diambil duluan untuk solo travelling ke Bangkok. Dengan berat hati kami memutuskan meninggalkan anak tengah yang masih UAS. Jangan kuatir nak, kami tetap mendoakan kelancaran ujianmu. Bukankah doa orang safar termasuk salah satu doa yang makbul? Pilihan jatuh ke Cambodia via Malaysia, karena memang tidak ada direct flight Jakarta-Siem Reap. Dan ketahuilah, part yang paling tidak enak saat itu adalah mengabarkan kepada anak tengah, bahwa kami akan pergi (meskipun sebelum-sebelumnya secara selintas kami sudah pernah menyinggung, karena jadwal kampusnya yang berbeda dengan jadwal kami berempat, suatu saat akan ada kemungkin dia terlewat suatu momen kebersamaan). Saya dan suami saling mengandalkan siapa kira-kira yang akan mengabarkan ke anak tengah bahwa kami akan pergi. Tak ada yang beranjak, tentu saja, ini situasi yang tidak menyenangkan. 

     H-1 saya putuskan untuk mengabarkan ke anak tengah, "Nak, besok kita pergi ya.. Jangan sedih ya ga ikut.. :)". 

      Apa jawabnya? "Kirain habis aku UAS berangkatnya." Aaah... bener kan, ini sungguh situasi yang tidak membuat nyaman. Saya jawab bahwa jika menunggu UAS selesai, maka ganti yang lain yang tidak bisa, karena rangkaian UAS baru berakhir pekan pertama atau kedua Januari. Anak SMA sudah kembali sekolah, yang bekerja pun sudah kembali bekerja. 

     Sebetulnya sengaja kami pilih destinasi ini, agar si anak tengah tak terlalu merasa ditinggalkan, karena dua-duanya sudah pernah kami kunjungi bersama. Tapi yaaah namanya ditinggalkan, tetap tidak menyenangkan, bukan... yang meninggalkan juga diliputi perasaan ada yang tertinggal..

      Kalau dipikir lebih jauh, ini adalah pelajaran dasar. Bisa jadi ini hanya permulaan dari ketidaklengkapan anggota keluarga. sekarang hanya satu anak, entah di masa nanti... ketika satu demi satu punya kesibukan sendiri-sendiri, keluarga masing-masing. Lama-lama, kembali tinggal kami berdua sebagai orang tua. Hmmm.... baru membayangkan saja, saya sudah merasa sepi...

     Atau, ini sebagai pengingat, suatu saat kita memang akan sendiri, kembali ke bumi, ke Sang Maha Pemilik, Allahumma inni as'aluka husnul khotimah...


Jakarta, 20 Desember 2023 (tapi diposting di 2 Januari 2024)