Selasa, 02 Januari 2024

JADI PERGI, GA NIH?

      Travelling kali ini, antara ya atau tidak. Keputusannya hanya bagaikan tipisnya tissue. Kalau ya, mudah robek alias batal, kalau tidak, juga mudah robek alias yuk berangkat. Kronologis baca di : 

https://yusfianaworld.blogspot.com/2024/01/tak-lengkap-semua-tak-sama.html

      Kemudian, hanya Allah SWT lah, Sang Pemilik Waktu dan Kesempatan yang menggerakkan langkah kami untuk berangkat.

      Siem Reap, Cambodia adalah tujuan kami. Perencanaan yang kurang matang dan serba dadakan salah satu alasannya karena ini adalah salah satu negara yang mudah dijangkau dan tanpa visa. Sebetulnya ini bukan kunjungan pertama. Kami sudah pernah ke Siem Reap tahun 2013. Nah, selain perencanaan yang bagaikan sim salabim tadi, ada alasan lain kenapa kami kembali mengunjungi Siem Reap. 

     Yaitu karena penasaran...

     Tahun 2013 kami pergi di bulan Juli. Pas di bulan-bulan panas. Kurang nyaman tentunya, mengajak anak-anak usia 6-14 tahun pula. Keklasikan Angkor Wat tak bisa kami nikmati. Sebentar ada yang minta gendong, sebentar ada yang minta minum, kebanyak minum kuatir minta pipis. Tentengan berisi botol-botol minum dan cemilan, juga silaunya matahari makin membuat kami tak leluasa menikmati lekuk-lekuk bangunan bersejarah nan luas itu.  Lokasi shooting film Tomb Rider ini, tak tuntas kami jelajahi.

     Nah, terbersitlah niat untuk mencoba mencari suasana yang berbeda. Pergi di bulan Desember, ketika cuaca lebih bersahabat dibanding bulan Juli. Saya telisik melalui aplikasi weather, dan cocok, disana bukan rainy season seperti di Indonesia. Rencananya kami akan menghabiskan waktu 4D 3N disana, supaya lebih santai dan tidak lelarian berkejaran dengan waktu seperti sebelumnya.

     Tidak adanya direct flight Jakarta-Siem Reap, memaksa kami untuk transit dulu ke Malaysia. Eh, koreksi, bukan 'memaksa' sih.. karena kami sama sekali tidak merasa 'terpaksa'. Dengan senang hati kami transit di Malaysia. Pernah melalui masa tinggal di Kuala Lumpur selama 5 tahun  membuat hati kami tertaut dengan kota itu. Satu-satunya hal yang membuat kami beneran merasa 'terpaksa' adalah alokasi biaya tiket dan penginapan (dan jajan.. dan biaya bernostalgia...) yang huhuhu... tentu saja bikin istighfar. Ya sudahlah.. bismillah saja, nanti insya Allah nabung lagi hehehe...

     Day 1.

     Flight pagi adalah pilihan kami, jam 9.40 by Malaysia Airlines. CGK-KUL. Kenapa maskapai ini? Karena tabungan poin kami banyak yang jika tidak digunakan akan hangus di penghujung tahun. Alasannya as simple as that :) Kenapa punya poin banyak? Karena dulu-dulu kantor suami yang head office nya di KL, selalu menyediakan tiket maskapai ini di setiap perjalanan dinas. Gitu...

     Ternyata pilihan flight pagi (supaya sampai Kuala Lumpur tidak terlalu sore, dan masih sempat strolling arround kota) kena delayed. Dua kali delayed bahkan. Membuat kesal membayangkan waktu yang terbuang. Trauma juga sih.. duluuu pernah kena delay setengah hari sampai nginap di lounge. Tapi memang Allah Maha Pengatur, untungnya kami memilih stay di Tune Hotel-KLIA 2. Jadi waktu yang terbuang selama penerbangan tunda bisa dikompensasi dengan jarak hotel yang dekat dengan bandara KLIA 2. Hanya menyeberang sepelemparan batu. Rencana jalan-jalan di Kuala Lumpur gimana? Batal. Tapi cukup melegakan hati bisa terganti dengan ngemall di seputaran bandara, sambil menunggu anak sulung yang terbang menyusul di malam hari lantaran masih ada kepentingan pekerjaan.

     Day 2.

    Lagi-lagi kami pilih flight pagi, 06.30. Pesawat Air Asia adalah pilihan kami menuju Siem Reap. Memilih pagi hari karena alasan yang sama tentunya, supaya hari ini masih sempat melihat-lihat Old Market dan kebagian sun set di Angkor Wat. The plan was running well, alhamdulillah, tidak ada delayed.

     Bulan Desember ternyata merupakan bulan dingin dan berangin di Cambodia. Jangan membayangkan dingin seperti winter di negara empat musim ya... Tapi cukup membuat kami brrr dan merapatkan jaket. Saya lihat suhu 19 derajat celcius. Banyak taksi yang bisa kita sewa dari bandara SIA ke hotel. Biaya sewa bejarak 47-50km (50-60 menit perjalanan) adalah $85. Dollar apa? USD. Disana mata uang Riel dipakai berdampingan dengan USD. Transaksi warga lokal dengan foreigner selalu menggunakan USD. Mulai transportasi, tiket wisata, souvenir, sampai beli makan. Lah, Riel dipakai kapan? Kadang saat transaksi kita bisa saja dapat kembalian mix antara USD dan Riel. Saat membayar bisa juga di mix demikian.. unik ya.. :), sampai2 otak saya terpontang panting menghitung kurs.

     Transportasi publik di Siem Reap ini adalah tuk tuk dan mobil. Tidak susah menemukan tuk tuk. Di depan hotel suka pada mangkal. Tinggal disamperin saja. Kalau saya, meminta bantuan pihak hotel untuk memesan tuk tuk ataupun mobil, Jadi harga bisa dipastikan fix. Tidak kuatir dimahalin. tanpa merasa perlu tawar menawar. Bisa juga sih pakai aplikasi Grab untuk memesan tuk tuk, tarif yang tertera adalah dalam mata uang Riel, meskipun ya itu tadi, bisa dibayar dengan USD.

     Karena ingin hemat, saya sewa tuk tuknya. Setengah hari pasang tarif $20. Ini bisa muterin kota plus melihat sunset. Ini lebih murah daripada satu tujuan PP $6. Tapi di windy December ini, kami hanya naik tuk-tuk di hari pertama dan hari terakhir yang jarak pendek saja. Kuatir masuk angin. Sudah tua. Mana lupa bawa minyak tawon pula, hahaha...

     Day 3.

     Pengalaman keanginan kemarin membuat kami memutuskan sewa mobil saja untuk melihat sunrise di Angkor Wat. Kebayang kan, menunggu sunrise kan harus berangkat setelah sholat subuh. Hembusan angin masih lucu-lucunya ini, daripada perut kembung, masuk angin dan mengganggu hari-hari berikutnya kan. Sewa mobil seharga $85, maka sebaiknya direncanakan sebaik-baiknya mau kemana saja dalam sehari. Ga mau rugi, dong ckikik..

     Tiket Angkor Wat $37 per day. Ada pilihan tiket 1 hari, 3 hari dan 7 hari. Bisa pilih sejauh apa ingin eksplor. Eh, sebentar, serius eksplor Angkor Wat sampai 7 hari? Percayalah, memang sebesar itu areanya. Harga ini tidak hanya untuk masuk Angkor Wat, tapi juga Wat-Wat lain di seputaran Angkor. Babang tuk-tuk atau sopir mobil sudah faham rangkaian tiket ini dipakai ke temple mana saja.

     Dalam sebuah travelling, kadang memang ada drama (Drama terepic kami adalah terjebak demonstrasi massa di sebuah distrik di Hongkong hahaha... mungkin lain kali saya akan tulis. Kalau masih ingat detailnya, karena sudah lama sekali, tahun 2014). Drama kali ini adalah babang sopir  menolak mengantarkan kami menuju restoran halal untuk makan siang. Dengan alasan terlalu jauh balik ke kota.. Padahal babang tuk tuk kemarin, yang sewanya lebih murah, senang hati saja mengantar kami mencari restoran halal hasil perburuan dari browsing (tentunya dengan senang hati pula kami akan melebihkan sewa tuk tuk nya, atas kemudahan yang diberikan. Dan hal yang sama tentunya akan berlaku jika babang mobil memudahkan kami). Alasan kami perlu sholat dan hanya memakan yang halal, kurang bisa difahami rupanya.

     Mood saya sudah terlanjur ambyar, alias saya ngambek. Saya minta balik ke hotel dan menyudahi eksplor hari ini, meski seharusnya masih ada beberapa destinasi lagi.  Si babang mobil agak gak enak hati. Tapi tetap tak mau ngantar, aneh ga sih? Lesson learned nya adalah jika pakai transport sewaan, next time tidak hanya catatan perjalanan yang harus diberikan detail dan lengkap ke babang sopir, tapi kebutuhan kita seperti apa, itu juga harus disampaikan.

    Day 4.

     Kulen Waterfall adalah tujuan kami, berjarak 54 km yang ditempuh dalam waktu 1.5 jam, karena kondisi jalan kecil, berdebu dan berbelok-belok.  Harga sewa mobil yang sama dengan kemarin untuk durasi lima jam telah kami sepakati. Harga tiket $20. Tapi saya tidak merekomendasikan mengunjungi waterfall ini, tidak sepadan dengan biayanya dan waktu tempuh. Bahkan di Indonesia, waterfall nya lebih bagus-bagus dibanding ini. Anak saya menyebut waterfall di Langkawi, Malaysia lebih bagus untuk dikunjungi ulang.

     Adakah drama yang terjadi pada hari ini? Hihihi... Jangan sedih. Ada.

Sepulang dari waterfall, saya ngadem saja di kamar, save tenaga buat nanti malam ingin pergi ke Night Market. Tapi sore hari, anak bungsu dan suami saya masih penasaran ingin ke sebuah mountain kecil untuk melihat sunset, karena sayang dengan tiket yang masih satu rangkaian dengan Angkor Wat kemarin.

     Tuk tuk pun disewa untuk short term. Nah, rupanya karena bangku hanya terisi dua orang, si babang tuk tuk ngide. Tiba-tiba dia bilang mau nyamperin keluarganya. Suami saya iya-in, mengira hanya mau mampir pulang untuk suatu keperluan. Ternyata si babang melipir mengajak serta anak dan istrinya  bertamasya. Lah, iki piye... Kebayang kan, duduk di tuk tuk berhadapan lutut dengan orang lain. Kan berasa kita yang ganggu acara keluarga mereka, ya.  Pulangnya, sebelum dropping ke hotel, anak istrinya diturunkan dulu di titik penjemputan tadi. Ini rupanya agar aksinya tidak ketahuan pihak hotel. Sistematis sekali. Pas dikomplen, ah... dia seakan tak mengerti bahasa Inggris, entah pura-pura entah betulan. 

     Dan hari ini kita tutup dengan mengunjungi Night Market. 

     Posisi Night Market ini jejer-jejeran saja dengan Old Market dan Pub Street. Jadi sekali cus, langsung dapat tiga lokasi. Rame? Iya, karena tata lampunya meriah, lumayan bagus, dan mungkin juga karena ini adalah year end season. Souvenir-souvenir bisa didapat disini. Jangan lupa menawar harga, karena ada kalanya mereka ngaco pasang harga. Cek toko sebelah untuk membandingkan harga, tentu lebih wise, agar tidak terjadi drama kemahalan harga. 

     Oh iya, belok topik sedikit, tentang restoran halal. Lokasinya biasanya dekat dengan masjid, karena disitulah perkampungan Muslim. Mostly restoran-restoran ini sudah punya web, minimal ada di Google maps. Disana mereka mencantumkan nomor WA. Ada yang hanya melayani pembelian via aplikasi Pandafood, ada pula yang melayani by WA. Membandingkan harga sangat perlu, karena dengan jenis masakan yang sama, harga bisa selisih $1 - $5. Lumayan kan. Jenis masakannya adalah makanan Malaysia atau Thailand Muslim. Untuk rasa, saya sih tidak asing, karena pernah lama tinggal di Malaysia. Tapi pada dasarnya rasa makanan kita 11-12 dengan rasa makanan mereka bukan?

     Day 5.

     Rupanya flight pagi masih jadi pilihan. Kami kembali ke Malaysia. Masih dengan Air Asia tujuan KLIA2. Tidak ada jadwal pesawat yang tertunda, semua on schedule, alhamdulillah. Kami mampir ke Mitsui Outlet sebentar-duabentar ketika landed, karena letaknya berdekatan dengan bandara, hitungannya sekali jalan. Kemudian langsung menuju hotel. Bertiga saja, anak sulung sudah pamit menghilang hang out dengan teman-teman SMA nya. 

Menyusuri jalanan dengan mobil Grab, membuai saya ke masa lampau, ketika masih tinggal di negara ini, ketika saya menjadi emak jalanan, yang setiap hari antar jemput anak ke sekolah, les, ke bandara, ini-itu. Merasa perkasa. Jarak puluhan kilometer per hari, rasanya ringan-ringan saja injak gas mobil. Sungguh berbeda dengan nyali menyetir mobil di Jakarta.  Duren sawit-Rawamangun saja sudah basah kuyup keringat dingin. Kemudian saya nyerah, tak lagi berminat nyetir sendiri. Lalu lintasnya horor tak terperi. Dan saya merasa cemen.

     Day 6.

     Suami saya pulang duluan, first flight, karena harus bekerja dan menabung lagi untuk trip selanjutnya, hahaha.. Anak sulung saya pun hanya stand by di hotel karena dia WFA, Work From Anywhere. Jadilah saya hanya berdua si bungsu yang kesana-kesini. Alhamdulillah transportasi LRT beroperasi normal. Cukup melegakan, karena visit sebelumnya, November 2022, LRT sedang under maintenantece. Kemana?  Pengennya sih, masuk Seri Maya, Apartemen kami dahulu, sayangnya sudah tidak punya akses masuk lagi.. huhuhu.. Ya sudah, melipir ke 99 Speed Mart saja, pengen beli oleh-oleh untuk kucing kami, dry food Malaysia hahaha, apa sih...

    Ternyata, "Anda belum beruntung". 99 Speed Mart belum buka, masih satu jam lagi, tapi tentu tidak sempat kalau harus ditungguin. Bablas saja ke Pasar Seni. Si bungsu punya list membelikan sesuatu untuk bestie-bestienya. Setelahnya, tentu ada agenda setor muka dan foto-foto dengan land mark Malaysia, Twin Tower.

     Malam hari, waktunya pulang, dan hari itu ditutup dengan jemputan pak suami di Bandara Soekarno Hatta. Kami sampai kembali ke rumah dengan penuh rasa syukur  atas kebaikan Allah SWT. Terima kasih Ya Allah, terima kasih suamiku..

Jakarta, 28 Desember 2023 (tapi diposting di blogspot 2 januari 2024)



     


2 komentar:

  1. nice story mbak fifi. semoga sehat selalu bersama keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, mbak anonim, saya sih ada feeling ini siapa, tapi tetep takut salah mention :)

      Hapus