Lahir dan tinggal di Indonesia sungguh menyenangkan. Negara yang mengakui lima agama sebagai dasar keyakinan warganya, membebaskan warganya beribadah dengan leluasa yang hidup berdampingan dengan rukun.
Sebagai pemeluk agama Islam, dimana Islam adalah agama mayoritas warga negara ini, saya menemukan banyak keleluasaan untuk menjalankan ajaran agama saya. Masjid ada dimana-mana, sehingga dalam perjalanan mudik lebaran yang macet pun kami tidak kuatir susah mencari tempat sholat. Di mall, meskipun biasanya nyempil di parkiran, sumpek dan panas (jauh banget dibanding penampilan mall nya yang megah), tetap disediakan musholla. Di tempat rekreasi, meski biasanya penampilannya sangat "sederhana" juga ada musholla. Di stasiun, di terminal juga ada (tapi jangan tanyakan tentang kondisinya... tetep minimalis dan rada jorki.. hehehe..)
Ketika pindah ke Malaysia, tidak ada perubahan suasana sama sekali untuk menjalankan syariat agama kami. Islam sebagai agama mayoritas warganya, membuat kami tak mengalami kesulitan menemukan tempat sholat di semua area publik. Dengan kondisi musholla yang jauh lebih layak daripada di negara sendiri. Jangankan di mall atau tempat rekreasi, bahkan di terminal atau stasiun LRT pun mushollanya berpendingin ruangan. Tempat sholat dan tempat wudhu tertutup dan terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan.. singkatnya, tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat karena tempat sholat tersebar dimana-mana... dan oh ya.. sama seperti di Indonesia, mengenakan hijab bukan sesuatu yang dipandang aneh disini, karena Malaysian moslem pun banyak yang berbusana muslim. Makanan halal? Tentunya tak susah juga untuk menemukannya.
Petualangan dan bertukar peran menjadi minoritas baru saya rasakan ketika berkunjung ke Hongkong. Sadar bahwa makanan halal akan terbatas mendapatkannya, sebelum berangkat saya browsing terlebih dahulu alamat-alamat resto halal. Berbekal hasil browsingan kami akan menyesuaikan rute perjalanan sepanjang hari akan berdekatan dengan resto yang mana saja, jadi pas alarm perut berbunyi kami sudah punya bayangan akan menuju kemana. Demikian juga untuk sarapan, jika biasanya saya mengambil paket sarapan di hotel, kali ini saya skip dan mempersiapkan bekal sarapan sendiri. Ini juga saya lakukan ketika berada di negara lain semisal Singapore, Cambodia juga Thailand. Agak ribet, tak semuanya berjalan mulus, tapi menjadi petualangan yang menyenangkan sekaligus pendidikan untuk anak-anak kami bahwa sesulit apapun, asupan halal adalah keharusan. No excuse.
Tidak semua berjalan mulus? Ya. Suatu ketika, berbekal informasi hasil browsing, saya sudah mengantongi nama resto halal di bandara Phuket. Santai saja saya dan suami merencanakan akan makan siang disana. Perut mulai lapar, cari kiri.. cari kanan, kami temukan resto tersebut. Dengan riang kami melangkahkan kaki sambil menanyakan menu... tapi, ya Salaam.. mbak-mbak penjaga sama sekali tidak mengerti bahasa inggris, sama sekali tidak berminat untuk berkode-kodean dan terkesan hopeless ketika kami mencoba mengajak berkomunikasi dengan bahasa tarzan.. ahhh.. kami gagal makan dan hanya nyemil snack oat dan coklat-coklat bawaan dari Malaysia hahaha...
Atau, pernah juga kami sudah berputar-putar mengikuti petunjuk aplikasi waze menuju resto halal yang alamatnya sudah saya simpan rapi, bersemangat empat lima membayangkan akan berpetualang lidah mencoba makanan setempat. Ternyata oh ternyata si om waze gagal mengenali alamat tersebut, eh..malah mengantarkan kami ke alamat entahlah apalah.. disini lagi-lagi mari kita mainkan popmie bekal dari rumah huhuhu...
Tapi ada pengalaman yang mengharukan tentang pencarian makanan halal ini. Sesuatu yang mengharukan ini bernama toleransi.
Ketika berada di Langkawi, salah satu bagian dari Malaysia yang berbatasan dengan Thailand, saya pede sekali menghampiri sebuah resto yang gerbangnya di dominasi warna merah, pede karena Langkawi ini masih wilayah Malaysia, dimana makanan halal merata di semua sudut kota. Biasanya di Malaysia ini logo halal dipajang di meja kasir atau dinding pintu masuk resto. Tapi kali ini baru melangkahkan kaki mendekati pintu masuk saya sudah dihadang pegawai laki-laki yang memberitahukan bahwa ini bukan resto halal untuk muslim... ah hal kecil tapi sungguh besar bagi kami.. Terima kasih.. :)
Di Disneyland Hongkong, karena sadar akan seharian main disana, kami pun mengantongi dua nama resto halal sekaligus. Tahitian Terrace dan Explorer's Club Resto, untuk makan siang dan makan malam hehehehe.. tapi namanya bermain di area seperti ini, pasti ada gerai-gerai makanan yang aromanya mengundang rasa lapar sebelum waktu makan tiba. Anak kedua bersama si bungsu tergoda menghampiri penjual chicken bites, popcorn dan es krim. Melihat si bungsu berkerudung, spontan mbak penjual dengan ramah mengingatkan bahwa popcorn dan es krim itu might be.. bisa jadi mengandung bahan yang tidak halal, pun dengan chicken bites nya.. duh mbak.. baik sekali anda.. Anda begitu peduli dan faham bahwa bagi kami haram itu tidak hanya makanan yang mengandung babi. Tapi juga komposisi dalam popcorn dan es krim yang diragukan, juga ayam yang tidak disembelih sesuai aturan islam pun bisa berubah menjadi haram... Terima kasih mbak.. ini hal kecil bagi anda, tapi sungguh berarti bagi kami...
Juga ketika jarum jam beranjak sore hari, sudah kami niatkan bahwa hari itu kami akan melaksanakan sholat jama' ta'khir. Menggabungkan dan memendekkan sholat dhuhur dan ashar ketika waktu ashar tiba. Kesana kemari kami mencari prayer area. Membaca semua papan petunjuk. Jika kami tak terlalu sulit menemukan musholla kecil (nan nyaman) di salah satu sudut Universal Studio Singapore, rupanya tidak demikian dengan Disneyland Hongkong ini. Sampai berkeringat kami mencari dan bertanya sana sini. Hanya gelengan kepala jawaban yang kami terima. Sempat juga terlintas untuk menggelar sajadah di pojokan. Tapi rupanya suami punya inisiatif untuk bertanya ke resepsionis di front office. MasyaAllah indahnya... mereka bukan muslim, mereka tak menjalankan sholat tapi mereka mempersilakan kami menempati private room rapi jali wangi yang terkunci. Membuka kuncinya, menunjukkan kamar mandi terdekat (yang sesungguhnya bukan untuk umum), dan mempersilakan kami menggunakan private room as long as we need..
Sambil selonjoran antri sholat -karena bergantian sajadah yang hanya satu kami selipkan dalam backpack selama kami bepergian- saya berpetuah kepada anak-anak tentang bahagianya mendapat bantuan disaat kita membutuhkan, disaat kita menjadi minoritas.
Maka jika sudah kembali ke Malaysia atau Indonesia, atau dimanapun tempatnya, ketika posisi kita adalah sebagai mayoritas jangan pernah ragu atau berhitung untuk mengulurkan bantuan kepada siapapun.. siapapun.. "Jika kita pernah merasa sebahagia ini ketika mendapatkan bantuan, bayangkan mereka juga akan sebahagia ini ketika mendapatkan bantuan serupa"..
Toleransi itu, rasanya ... sebahagia ini...