Sabtu, 23 Maret 2019

Bintang Kecil yang Tak Kecil Lagi


LANGKAH
Ini tahun ke dua langkah kecilmu mengayun
Dalam buai dan senandung sayang ibu
Mengeja kata dan a ba ta

Esok, lusa, dan kemudian
Masih panjang jalan yang akan kau tempuh
Ada kalanya terjal dan berliku

Dan tahukah kau, Nak
Kelak demi asah tegar jiwamu
Tak ke semua arah ibu akan mendampingimu
Hanya doa ibu yang tak lekang untukmu

Selamat ulang tahun, Nak..

.......

Waktu berlalu, cepat silih berganti.
Tak terasa rangkaian kata diatas sudah sepuluh tahun yang lalu saya tulis, tahun 2009.
Tercetus begitu saja di note facebook saya, saat masih suka-sukanya main facebook, sewaktu Nisrina, bungsu saya tepat berusia dua tahun.

Itu artinya hari ini dia berusia tepat dua belas tahun. 
Itu artinya selama sepuluh tahun saya tak memberi kenangan apapun di hari ulang tahunnya selain hadiah berupa benda yang lebih sering berwujud mainan. Yang dimainkan paling lama satu-dua bulan. Setelah itu, bosan.

Dan entah mengapa hari ini saya ingin memberi kenangan tentang perjalanan kelahirannya, agar selamanya, kapanpun dia membaca tulisan ini, bisa dia kenang.

Kami, saya dan suami merencanakan kelahiran anak-anak dengan selang waktu empat tahun. 
Bukan dua tahun karena itu terlalu dekat. Bukan tiga tahun karena kami akan kewalahan ketika nantinya pada saat yang bersamaan, mereka akan masuk sekolah meskipun berbeda jenjang, tapi borongan di tahun yang sama. 
Katakanlah jika anak sulung masuk kuliah, maka anak ke dua masuk SMA dan anak bungsu masuk SMP...
Kenapa? Karena ini Indonesia, uang pangkal sekaligus untuk tiga anak dan tiga jenjang pendidikan tentu bukan hal yang melegakan nafas. Dan yang tak kalah pentingnya hunting dan survey sekolah sekaligus untuk banyak anak tentu lebih merepotkan dari pada untuk satu anak.. hehehe... karena -kecuali untuk perguruan tinggi- kami tipikal pemburu sekolah swasta berbasis agama.

Most of all, rencana ini, Alhamdulillah Allah mengabulkannya. Usia anak-anak berjarak empat tahun.

Ada sedikit kisah menjelang kelahiran si bungsu. Masa itu, suami saya sedang mengemban amanah pekerjaan yang mengharuskan stand by dan on call. Artinya, handphone harus selalu on, meskipun tengah malam, jika ada masalah di kantor yang tidak bisa dihandle oleh teamnya, ya harus datang ke kantor. "Cowok panggilan" banget ya hehehe..

Saya ingat, malam itu -pukul sebelas- suami berpamitan untuk berangkat ke kantor karena ada suatu masalah yang membutuhkan kehadirannya. Dua anak saya sudah pulas tertidur. Saya yang mulai mengantuk tiba-tiba merasakan kontraksi ringan.
Sambil melihat jam dinding, saya perkirakan suami baru sekitar lima kilometer beranjak dari rumah. 
Ah, biarlah. Saya malas menelponnya. Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya. Paling juga dua-tiga jam selesai. Saya mencoba memejamkan mata. 
Ternyata hanya berselang setengah jam, interval kontraksi sudah makin sering. Saya perkirakan suami baru mendarat di meja kerjanya. Saya telpon dia untuk segera pulang. Saya masih kalem. Mengingat ini adalah anak ketiga, sedikit banyak mulai terlatih mempersiapkan diri, mempersiapkan rasa sakit kontraksi, termasuk mempersiapkan tas bekal baju-baju selama di rumah sakit nanti.

Kami bergegas ke rumah sakit setelah suami sampai rumah. Dua anak yang tidur pulas kami tinggalkan di rumah, yang rencananya akan dijemput kembali oleh suami setelah drop off saya di RS. 

Pagi menjelang.
Kelahiran kali ini maju dua minggu dari perkiraan dokter. Ibu saya yang biasanya mendampingi saya melahirkan belum datang dari Surabaya. Sebagai gantinya suami menghadirkan ibu mertua yang lebih mudah terjangkau karena berdomisili di Bandung. 
Rasa kontraksinya? 
Masya Allah.. meskipun lebih simple dan lebih cepat prosesnya, tapi berlipat rasa sakitnya dari kelahiran-kelahiran sebelumnya. Sementara dokter belum hadir dan selalu dijawab on the way oleh perawat setiap kali saya tanyakan keberadaannya. 
Tak ingin kehilangan moment seperti kelahiran anak kedua, suami saya tak beranjak dari ruang bersalin hingga dokter hadir membantu proses persalinan. Dan keinginannya untuk memotong tali pusar terpenuhi, Alhamdulillah.. 

It’s a girl, melengkapi dua boys sebelumnya. Nisrina, white rose, didalamnya tersemat harapan kami, dia seperti mawar putih yang akan selalu sehat dan menjadi hamba Allah yang baik. Putih yang melambangkan kesucian. 
Faradhiya, kegembiraan cahaya, doa kami agar dia selalu menjadi cahaya mata dan hati yang membawa kebahagiaan. 
Alfisyahrin, seribu bulan, cuplikan kata dari QS Al-Al Qadr : 3. Dari duluuuu banget saya selalu suka kata ini.
Nah, Belakangan setiap kali saya menghadiri dan mendengarkan ceramah Ustadz Adi Hidayat, saya membayangkan dan mendoakan dia akan menjadi sepintar, setaat dan setawadu’ beliau. Menjadi muttaqiina Imaman. Profesi apapun nantinya.
Dan baru beberapa waktu yang lalu saya menghadiri undangan interview dari calon SMP nya. Di salah satu kolom isinya ditanyakan harapan apakah yang saya sematkan untuk anak saya. Saya menuliskan jawaban singkat : sholihah dan sehat. Karena bagi kami pintar belum tentu sholihah. Tapi kalau sholihah pasti beriringan dengan kepintaran. Aamiin.

Happy 12 years old, sweetie
May bunch of happiness always be with you.
Let’s rock the world, Nisrina...

Jakarta, 23 Maret 2019






Sabtu, 09 Maret 2019

Belum Selesai

Tentang dahulu
Ada yang belum selesai
Antara pagi dan senja
Hingga menjadi selubung
Yang makin menebal di seluruh relung
Terjeda lama 
Menyisakan sunyi

Tentang dahulu
Ada yang belum diselesaikan
Antara timur dan barat
Hingga menjadi lorong
Yang makin panjang di seluruh nadi
Terjeda diam
Menyisakan beku


Ketika jejak usia makin beranjak
Mengapa tak kita selesaikan saja
Mencapai tanda titik
Atau mungkin menambahkan emoji senyum

Jakarta, 9 Maret 2019



Senin, 18 Februari 2019

Balada Perpanjangan Papor (Lagi)...

     Menjelang liburan semester kemarin, saya melongok paspor, karena tiba-tiba curiga jangan-jangan paspor saya expired. Sejak kembali tinggal di Indonesia, saya abai sekali dengan benda penting andalan kami selama sekian tahun berada di negara rantau. Dan benar saja, tiga bulan lagi masa berlakunya akan habis. Itu artinya libur semester ini, lupakan destinasi berpaspor :)
     Segera saya browsing persyaratan perpanjangan paspor. Beberapa artikel langsung bermunculan. Pertama kali tentunya saya baca web resmi milik kantor imigrasi. Disana hanya mencantumkan membawa  e-KTP dan paspor lama, asli beserta copy nya. Eh tapi, saya penasaran dong pengen tahu bagaimana pengalaman orang lain, jadilah saya buka beberapa tulisan dan ulasan. Ternyata beberapa orang menyebutkan persyaratan akte lahir dan KK asli dan copy. Malah ada yang diminta ijazahlah, surat nikahlah..  
Dari instagram kanim (red : kantor imigrasi) saya baru tahu kalau pendaftaran hanya dilakukan via online. Tidak melayani pendaftaran di tempat.
     Ok, jadilah saya install aplikasi milik kanim dan registrasi. Lokasi terdekat dengan rumah saya adalah kanim Jakarta Timur. Tapi karena review pelayanannya rerata hanya bintang 3.5, maka tujuan saya adalah mal pelayanan publik Jakarta. Sayangnya info yang saya dapat, di tempat ini tidak melayani perpanjangan paspor terbitan KBRI, padahal paspor saya diterbitkan oleh KBRI Kuala Lumpur.
Baiklah, saya kembali ke tujuan kanim Jaktim.... Dan ternyata untuk mendapatkan booking antrean online perlu perjuangan panjang, tidak semudah klik belanja online. Apalagi tiba-tiba instagram kanim mengumumkan bahwa pendaftaran tak lagi menggunakan aplikasi tapi kembali ke sistem daftar via website. Galau sekali nih sistem, seperti abege labil... 
Pembukaan antrean hanya dibuka seminggu sekali bahkan dua minggu sekali pada hari Jumat atau Sabtu atau Minggu. Kita bisa booking pilih waktu pagi atau sore. Nah sayangnya biasanya baru sebentar dibuka langsung fully booked, sehingga saya terpaksa menunggu jadwal selanjutnya. Total lama penantian saya sampai dapat booking antrian adalah dua bulan. Gak kebayang kalo saya buru-buru butuh paspor karena mungkin urgent harus pergi. Beberapa reviewer di google mengeluhkah hal yang sama, misalnya jadwal kepergian umroh yang mendesak atau dinas dari kantor yang sudah terjadwal, pada ketar-ketir takut batal.

     Ya sudahlah, toh akhirnya saya sudah dapat antrian...

     Saya memilih jam kedatangan pagi. Di lembar barcode pendaftaran, jam saya adalah jam 10pagi. Maka sejak berangkat saya mengira orang-orang yang hadir adalah mereka yang diplot sesuai jamnya. Ternyata tidak. Yang jadir jam 8-9pagi pun masih berkerumun dan belum selesai dilayani. Sekuriti mengarahkan saya untuk mengambil formulir data diri. Diperlukan materai Rp. 6.000 di kolom tanda tangan, dimana hal ini tidak dijelaskan di website kanim. Untungnya koperasi berjualan materai. Rupanya ini jadi lahan bisnis tersendiri ya :) 
Saya dapat nomor antrian 156, sementara papan display menunjukkan pemanggilan baru sampai di nomor 50sekian. Untuk membunuh kebosanan saya mencari kantin di lantai satu. Ah, di gedung ini tidak ada kantin rupanya. Adanya hanya abang-abang dorongan yang pada mangkal di sisi luar gedung. 
      Nama saya dipanggil ketika jam menunjukkan pukul 13lebih sekian. Kalau di web kanim persyaratan hanya membawa eKTP dan paspor, ternyata disini saya diminta copy KK dan akte lahir. Syukur alhamdulillah saya sudah antisipasi. Pada saat pemberkasan ibu-ibu petugas membolak balik lembar paspor saya. Rupanya beberapa tempelan visa izin tinggal di Malaysia mendorongnya untuk bertanya banyak hal, seperti mengapa saya tinggal di Malaysia, berapa lama, bersama siapa. Menanyakan beberapa dokumen selama tinggal disana, yang mustahil saya tunjukkan, wong saya sudah tidak tinggal disana lagi. Sedikit alot. Padahal tidak ada masalah sama sekali sebetulnya, toh disana saya tinggal secara resmi. Setiap tahun dua sampai empat kali mudik, menembus imigrasi gate kedua negara dengan mulus.. ah, ada-ada saja.

Kemudian sebelum sesi pemotretan, petugas menekankan, “Paspor biasa 48 halaman, ya, blanko e-paspor habis, belum tahu kapan tersedia kembali.”
What?
Lah, sejak di meja pengambilan formulir di lantai satu, kemudian di meja pengambilan nomor antrian saya menanyakan ke petugas tentang e-papor, dan mereka mengiyakan pertanyaan saya, tiba-tiba di meja terakhir dan mengantri sekian jam, dapat jawaban berbeda dan santai sekali penyampaiannya..
Oh, Allah.. masa iya saya harus pulang dan mengulang proses awal hunting antrian online...
Oalah.. ya wis lah.. apapun deh, yang penting dapat paspor. Meskipun kecewa karena e-paspor yang sudah lama saya inginkan gagal saya dapatkan.

Akhirnya, dari waktu tiga hari kerja yang dijanjikan, sepuluh hari kemuadian, paspor saya selesai juga. Proses pengambilan bagus dan cepat. Apresiasi untuk para petugas yang tidak lelet dan sistem yang praktis. Kalau bisa rating, saya kasih bintang lima untuk loket pengambilan paspor ***** ;)

Note : Berikut jika teman-teman ingin membandingkan pengalaman saya memperpanjang paspor di KBRI Kuala Lumpur (      Menjelang liburan semester kemarin, saya melongok paspor, karena tiba-tiba curiga jangan-jangan paspor saya expired. Sejak kembali tinggal di Indonesia, saya abai sekali dengan benda penting andalan kami selama sekian tahun berada di negara rantau. Dan benar saja, tiga bulan lagi masa berlakunya akan habis. Itu artinya libur semester ini, lupakan destinasi berpaspor :)
     Segera saya browsing persyaratan perpanjangan paspor. Beberapa artikel langsung bermunculan. Pertama kali tentunya saya baca web resmi milik kantor imigrasi. Disana hanya mencantumkan membawa  e-KTP dan paspor lama, asli beserta copy nya. Eh tapi, saya penasaran dong pengen tahu bagaimana pengalaman orang lain, jadilah saya buka beberapa tulisan dan ulasan. Ternyata beberapa orang menyebutkan persyaratan akte lahir dan KK asli dan copy. Malah ada yang diminta ijazahlah, surat nikahlah..  
Dari instagram kanim (red : kantor imigrasi) saya baru tahu kalau pendaftaran hanya dilakukan via online. Tidak melayani pendaftaran di tempat.
     Ok, jadilah saya install aplikasi milik kanim dan registrasi. Lokasi terdekat dengan rumah saya adalah kanim Jakarta Timur. Tapi karena review pelayanannya rerata hanya bintang 3.5, maka tujuan saya adalah mal pelayanan publik Jakarta. Sayangnya info yang saya dapat, di tempat ini tidak melayani perpanjangan paspor terbitan KBRI, padahal paspor saya diterbitkan oleh KBRI Kuala Lumpur.
Baiklah, saya kembali ke tujuan kanim Jaktim.... Dan ternyata untuk mendapatkan booking antrean online perlu perjuangan panjang, tidak semudah klik belanja online. Apalagi tiba-tiba instagram kanim mengumumkan bahwa pendaftaran tak lagi menggunakan aplikasi tapi kembali ke sistem daftar via website. Galau sekali nih sistem, seperti abege labil... 
Pembukaan antrean hanya dibuka seminggu sekali bahkan dua minggu sekali pada hari Jumat atau Sabtu atau Minggu. Kita bisa booking pilih waktu pagi atau sore. Nah sayangnya biasanya baru sebentar dibuka langsung fully booked, sehingga saya terpaksa menunggu jadwal selanjutnya. Total lama penantian saya sampai dapat booking antrian adalah dua bulan. Gak kebayang kalo saya buru-buru butuh paspor karena mungkin urgent harus pergi. Beberapa reviewer di google mengeluhkah hal yang sama, misalnya jadwal kepergian umroh yang mendesak atau dinas dari kantor yang sudah terjadwal, pada ketar-ketir takut batal.

     Ya sudahlah, toh akhirnya saya sudah dapat antrian...

     Saya memilih jam kedatangan pagi. Di lembar barcode pendaftaran, jam saya adalah jam 10pagi. Maka sejak berangkat saya mengira orang-orang yang hadir adalah mereka yang diplot sesuai jamnya. Ternyata tidak. Yang jadir jam 8-9pagi pun masih berkerumun dan belum selesai dilayani. Sekuriti mengarahkan saya untuk mengambil formulir data diri. Diperlukan materai Rp. 6.000 di kolom tanda tangan, dimana hal ini tidak dijelaskan di website kanim. Untungnya koperasi berjualan materai. Rupanya ini jadi lahan bisnis tersendiri ya :) 
Saya dapat nomor antrian 156, sementara papan display menunjukkan pemanggilan baru sampai di nomor 50sekian. Untuk membunuh kebosanan saya mencari kantin di lantai satu. Ah, di gedung ini tidak ada kantin rupanya. Adanya hanya abang-abang dorongan yang pada mangkal di sisi luar gedung. 
      Nama saya dipanggil ketika jam menunjukkan pukul 13lebih sekian. Kalau di web kanim persyaratan hanya membawa eKTP dan paspor, ternyata disini saya diminta copy KK dan akte lahir. Syukur alhamdulillah saya sudah antisipasi. Pada saat pemberkasan ibu-ibu petugas membolak balik lembar paspor saya. Rupanya beberapa tempelan visa izin tinggal di Malaysia mendorongnya untuk bertanya banyak hal, seperti mengapa saya tinggal di Malaysia, berapa lama, bersama siapa. Menanyakan beberapa dokumen selama tinggal disana, yang mustahil saya tunjukkan, wong saya sudah tidak tinggal disana lagi. Sedikit alot. Padahal tidak ada masalah sama sekali sebetulnya, toh disana saya tinggal secara resmi. Setiap tahun dua sampai empat kali mudik, menembus imigrasi gate kedua negara dengan mulus.. ah, ada-ada saja.

Kemudian sebelum sesi pemotretan, petugas menekankan, “Paspor biasa 48 halaman, ya, blanko e-paspor habis, belum tahu kapan tersedia kembali.”
What?
Lah, sejak di meja pengambilan formulir di lantai satu, kemudian di meja pengambilan nomor antrian saya menanyakan ke petugas tentang e-papor, dan mereka mengiyakan pertanyaan saya, tiba-tiba di meja terakhir dan mengantri sekian jam, dapat jawaban berbeda dan santai sekali penyampaiannya..
Oh, Allah.. masa iya saya harus pulang dan mengulang proses awal hunting antrian online...
Oalah.. ya wis lah.. apapun deh, yang penting dapat paspor. Meskipun kecewa karena e-paspor yang sudah lama saya inginkan gagal saya dapatkan.

Akhirnya, dari waktu tiga hari kerja yang dijanjikan, sepuluh hari kemuadian, paspor saya selesai juga. Proses pengambilan bagus dan cepat. Apresiasi untuk para petugas yang tidak lelet dan sistem yang praktis. Kalau bisa rating, saya kasih bintang lima untuk loket pengambilan paspor ***** ;)

Note : Ah, jadi teringat pengalaman ini ...


Jakarta, 18 Februari 2019 
   




Selasa, 12 Februari 2019

Maaf, Musholla Berada Dimana?

     Dua pekan kemarin tiba-tiba kegiatan saya di luar rumah sangat padat. Banyak urusan yang harus diselesaikan, yang durasi waktunya tidak bisa diprediksi, sehingga memaksasaya untuk sholat di area publik.
Saya sebut memaksa karena saya tidak bisa memilih tempat. Nyaman atau tidak, properatau tidak, saya harus mengerjakannya disitu. 
     Jika saya beruntung, saya mendapatkan musholla yang bersih, wangi dan nyaman. Tempat wudhu yang tidak kumuh dan sangat layak dari segi kesucian.
Tapi, jika sedang kurang beruntung (dan situasi ini lebih sering saya jumpai), saya akan mendapatkan kondisi musholla yang.. ah, sudahlah... bahkan mendeskripsikannya pun saya enggan. 
     Belum lagi tempat wudhunya. Di salah satu mall di Jakarta Selatan, tempat wudhu berada di lantai tiga, sementara mushollah (tepatnya ruangan darurat yang disebut musholla) berada di lantai empat. Atau ada juga tempat wudhu ya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, terlihat oleh orang lalu lalang di sekitar. Untuk perempuan berkerudung, ini tentu dilema, dan menuntut pemikiran gimana triknya untuk membasuh tangan, kaki dan mengusap rambut, tanpa terlihat orang lain.
      Itu sebabnya sebelum pergi seringkali saya mempersipkan wudhu sejak dari rumah sebelum berangkat dan menjaganya agar tidak batal.
      Mukenah? Jangan tanya lagi gimana kondisinya, lembab dan kusut pastinya (meskipun ada beberapa musholla yang menggantung mukenah untuk menjaga kelayakan menghadap Gusti Allah). Sejak lama saya tak pernah meminjam mukenah di musholla umum. Karena saya berbusana muslim syar’i, saya tinggal menjulurkan manset tangan untuk antisipasi lengan baju tergeser diatas pergelangan tangan pada saat takbir.
     Saya sekian tahun tinggal di Malaysia. Maka, mohon maaf jika saya harus membandingkan dengan kondisi musholla disana. Saya dan keluarga doyan jalan. Menyusuri beberapa bagian Malaysia. Baik menggunakan mobil pribadi maupun transportasi publik. Populasi muslim yang besar di negara itu difasilitasi pemerintahnya dengan sarana beribadah yang layak. Surau (red: musholla) di mall-mall yang saya kunjungi selalu menempatkan area laki-laki dan perempuan secara terpisah (bukan hanya dipisahkan oleh separator atau papan 2/3 badan atau tirai) tapi benar-benar terpisah ruang. Lengkap dengan tempat wudhu masing-masing di dalam ruang tersebut. Pun di rest area jalan tol, layak dan nyaman untuk sholat. Beberapa diantaranya dikonsepkan semi out door dengan angin yang semilir menerobos surau. Tak perlu terburu-buru menyelesaikan ibadah karena tempat sangat nyaman. Di beberapa terminal bus dan LRT, mukenah juga tersedia rapi, meski luas ruangan terbatas tapi sangat layak untuk beribadah. Di sebelah lemari dan gantungan mukenah terpasang cermin untuk merapikan diri. Jika tempat wudhu terpisah dari ruangan sholat, biasanya tersedia sandal atau bakiak untuk berwudhu. Itu sebabnya saya tak segan mewakafkan mukenah di sarana publik karena pasti terawat dan layak digunakan.
    Di Jakarta (semoga di wilayah lain pun demikian) beberapa mall juga mulai memperhatikan kelayakan dan kebersihan mushollanya. Harapan saya sih tempat wudhunya juga diperhatikan. Terpisah antara laki-laki dan perempuan. Rest area di cipularang juga masjidnya bagus-bagus. Semoga mulai juga ditata musholla (dan tempat wudhu pastinya) di tempat wisata, terminal dan stasiun.



Jakarta, 12 Februari 2019