LANGKAH
Ini tahun ke dua langkah kecilmu mengayun
Dalam buai dan senandung sayang ibu
Mengeja kata dan a ba ta
Esok, lusa, dan kemudian
Masih panjang jalan yang akan kau tempuh
Ada kalanya terjal dan berliku
Dan tahukah kau, Nak
Kelak demi asah tegar jiwamu
Tak ke semua arah ibu akan mendampingimu
Hanya doa ibu yang tak lekang untukmu
Selamat ulang tahun, Nak..
.......
Waktu berlalu, cepat silih berganti.
Tak terasa rangkaian kata diatas sudah sepuluh tahun yang lalu saya tulis, tahun 2009.
Tercetus begitu saja di note facebook saya, saat masih suka-sukanya main facebook, sewaktu Nisrina, bungsu saya tepat berusia dua tahun.
Itu artinya hari ini dia berusia tepat dua belas tahun.
Itu artinya selama sepuluh tahun saya tak memberi kenangan apapun di hari ulang tahunnya selain hadiah berupa benda yang lebih sering berwujud mainan. Yang dimainkan paling lama satu-dua bulan. Setelah itu, bosan.
Dan entah mengapa hari ini saya ingin memberi kenangan tentang perjalanan kelahirannya, agar selamanya, kapanpun dia membaca tulisan ini, bisa dia kenang.
Kami, saya dan suami merencanakan kelahiran anak-anak dengan selang waktu empat tahun.
Bukan dua tahun karena itu terlalu dekat. Bukan tiga tahun karena kami akan kewalahan ketika nantinya pada saat yang bersamaan, mereka akan masuk sekolah meskipun berbeda jenjang, tapi borongan di tahun yang sama.
Katakanlah jika anak sulung masuk kuliah, maka anak ke dua masuk SMA dan anak bungsu masuk SMP...
Kenapa? Karena ini Indonesia, uang pangkal sekaligus untuk tiga anak dan tiga jenjang pendidikan tentu bukan hal yang melegakan nafas. Dan yang tak kalah pentingnya hunting dan survey sekolah sekaligus untuk banyak anak tentu lebih merepotkan dari pada untuk satu anak.. hehehe... karena -kecuali untuk perguruan tinggi- kami tipikal pemburu sekolah swasta berbasis agama.
Most of all, rencana ini, Alhamdulillah Allah mengabulkannya. Usia anak-anak berjarak empat tahun.
Ada sedikit kisah menjelang kelahiran si bungsu. Masa itu, suami saya sedang mengemban amanah pekerjaan yang mengharuskan stand by dan on call. Artinya, handphone harus selalu on, meskipun tengah malam, jika ada masalah di kantor yang tidak bisa dihandle oleh teamnya, ya harus datang ke kantor. "Cowok panggilan" banget ya hehehe..
Saya ingat, malam itu -pukul sebelas- suami berpamitan untuk berangkat ke kantor karena ada suatu masalah yang membutuhkan kehadirannya. Dua anak saya sudah pulas tertidur. Saya yang mulai mengantuk tiba-tiba merasakan kontraksi ringan.
Sambil melihat jam dinding, saya perkirakan suami baru sekitar lima kilometer beranjak dari rumah.
Ah, biarlah. Saya malas menelponnya. Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya. Paling juga dua-tiga jam selesai. Saya mencoba memejamkan mata.
Ternyata hanya berselang setengah jam, interval kontraksi sudah makin sering. Saya perkirakan suami baru mendarat di meja kerjanya. Saya telpon dia untuk segera pulang. Saya masih kalem. Mengingat ini adalah anak ketiga, sedikit banyak mulai terlatih mempersiapkan diri, mempersiapkan rasa sakit kontraksi, termasuk mempersiapkan tas bekal baju-baju selama di rumah sakit nanti.
Kami bergegas ke rumah sakit setelah suami sampai rumah. Dua anak yang tidur pulas kami tinggalkan di rumah, yang rencananya akan dijemput kembali oleh suami setelah drop off saya di RS.
Pagi menjelang.
Kelahiran kali ini maju dua minggu dari perkiraan dokter. Ibu saya yang biasanya mendampingi saya melahirkan belum datang dari Surabaya. Sebagai gantinya suami menghadirkan ibu mertua yang lebih mudah terjangkau karena berdomisili di Bandung.
Rasa kontraksinya?
Masya Allah.. meskipun lebih simple dan lebih cepat prosesnya, tapi berlipat rasa sakitnya dari kelahiran-kelahiran sebelumnya. Sementara dokter belum hadir dan selalu dijawab on the way oleh perawat setiap kali saya tanyakan keberadaannya.
Tak ingin kehilangan moment seperti kelahiran anak kedua, suami saya tak beranjak dari ruang bersalin hingga dokter hadir membantu proses persalinan. Dan keinginannya untuk memotong tali pusar terpenuhi, Alhamdulillah..
It’s a girl, melengkapi dua boys sebelumnya. Nisrina, white rose, didalamnya tersemat harapan kami, dia seperti mawar putih yang akan selalu sehat dan menjadi hamba Allah yang baik. Putih yang melambangkan kesucian.
Faradhiya, kegembiraan cahaya, doa kami agar dia selalu menjadi cahaya mata dan hati yang membawa kebahagiaan.
Alfisyahrin, seribu bulan, cuplikan kata dari QS Al-Al Qadr : 3. Dari duluuuu banget saya selalu suka kata ini.
Nah, Belakangan setiap kali saya menghadiri dan mendengarkan ceramah Ustadz Adi Hidayat, saya membayangkan dan mendoakan dia akan menjadi sepintar, setaat dan setawadu’ beliau. Menjadi muttaqiina Imaman. Profesi apapun nantinya.
Dan baru beberapa waktu yang lalu saya menghadiri undangan interview dari calon SMP nya. Di salah satu kolom isinya ditanyakan harapan apakah yang saya sematkan untuk anak saya. Saya menuliskan jawaban singkat : sholihah dan sehat. Karena bagi kami pintar belum tentu sholihah. Tapi kalau sholihah pasti beriringan dengan kepintaran. Aamiin.
Happy 12 years old, sweetie
May bunch of happiness always be with you.
Let’s rock the world, Nisrina...
Jakarta, 23 Maret 2019