Sesorean ini bungsu saya, perempuan - 9 tahun, tak berhenti gelendotan di pangkuan. Semua perintilan yang dikerjakan selalu minta ditungguin. Mulai dari mandi, menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari, juga makan sore.
Setelah sholat maghrib berjamaah, gelondotan makin jadi. Dia mengelus pipi dan rambut saya. Dan tidak terima ketika saya bilang raut wajahnya seperti ayahnya. Dia bersikukuh menyebut seperti saya.. hehehe
Setelah sholat maghrib berjamaah, gelondotan makin jadi. Dia mengelus pipi dan rambut saya. Dan tidak terima ketika saya bilang raut wajahnya seperti ayahnya. Dia bersikukuh menyebut seperti saya.. hehehe
Sambil memeluk berkali-kali dia berkata, "I love you, ibu, I miss you.."Ahhh delapan jam berjauhan karena dia harus sekolah membuat dia merindukan saya..
Dan saya jawab dengan, "I love you more, I miss you more, adek".
Dan saya hafal benar, nantinya, tak mau kalah dia akan menimpali dengan, “No, I love you much... much... much more. I miss you much... much.. much more".
Sampai disini saya tak akan menjawab lagi agar dia merasa menang dan senang. Karena dalam hati pun saya merasa senang dengan kemesraan ini..
Malam hari, sambil belajar, dengan saya masih disampingnya, dia meminta agar rambutnya dikuncir. Saat ini dia sedang ingin memanjangkan rambutnya, dan sedikit terganggu ketika mengerjakan home work.
Sambil saya sisir tiba-tiba dia bertanya apakah sewaktu kecil mbah putri (ibu saya) juga sering menyisir rambut saya.
“Sure.” Saya mengangguk mengiyakan.
Dia pun meminta saya berlama-lama menyisirnya. Padahal biasanya saya harus merayunya untuk sekedar menyisir. Terlahir menjadi satu-satunya perempuan diantara dua laki-laki membuat dia ikutan malas menyisir rambut seperti kakak-kakaknya.
Sambil menghirup wangi rambutnya ingatan saya seketika terlempar jauh ke masa kecil saya. Rasa nyaman ketika ibunda membantu menyisir rambut masih bisa saya rasakan sekarang. Ada sebersit rasa rindu dimanja.
Whatsapp terakhir beberapa jam yang lalu, ibu sedang berada di bandara Soekarno Hatta menuju Pekanbaru untuk menengok cicit yang baru lahir. Sendirian. Ya, di usia sepuhnya ibu masih berani travelling sendirian. Dari Surabaya ke kakak di Banten, Cikarang, ke sepupu di Kalimantan, mengunjungi saya di Kuala Lumpur. Gagah berani.
Sebersit rindu ini telah menjelma menjadi samudera rindu.
Tapi sayangnya, tak seperti anak-anak saya yang leluasa mengungkapkan rasa rindu, saya tumbuh dengan ketidakbiasaan menyatakan secara lisan rasa rindu, juga rasa sayang. Bahkan melalui tulisan. Sejak kecil rasa sayang, rindu hanya disimpan dan dirasakan saja. Tak hanya kepada orang tua, kepada kakak-kakak saya pun begitu. Demikian sebaliknya.
Sewaktu saya sekolah di luar kota, di akhir bulan, ketika pulang ke rumah. Ya itulah berarti saya sedang rindu. Ketika orang tua menjenguk ke tempat kos saya, berarti mereka sedang rindu. Kami terbiasa menafsirkan sendiri. Tanpa ungkapan.
Bukan berarti hubungan kami tidak dekat. Kami bahagia dan akrab satu sama lain. Tapi... yaaah ini memang masalah kebiasaan saja.
Bukan berarti hubungan kami tidak dekat. Kami bahagia dan akrab satu sama lain. Tapi... yaaah ini memang masalah kebiasaan saja.
Entahlah, apa yang membuat kami enggan mengungkap perasaan. Mungkin ini tradisi, karena setahu saya, sedikit memanjat ke silsilah atas, keluarga ibu dan ayah saya juga tidak terbiasa mengungkapkan rasa ini. Seakan ada anggapan bahwa tanpa diungkapkan pun kita pasti tahu rasa saling sayang ini.
Maka seperti sore tadi, ketika saya merasa senang karena mendengar anak saya mengungkap rasa rindu. Sejatinya sayapun ingin mengungkap perasaan yang sama kepada ibu.
Saya ambil handphone, saya ketikkan kalimat pendek :
"Saya kangen, bu, saya sayang, bu".
Tapi apalah daya, ketidakbiasaan itu membuat jemari saya batal mengirim kalimat itu.
Delete.
Dan menggantinya dengan,
“Hati-hati, bu", ketika ibu bilang sudah ada di dalam pesawat menjelang take off....
“Hati-hati, bu", ketika ibu bilang sudah ada di dalam pesawat menjelang take off....
Robbighfirli wa liwaliyya war hamhuma kamaa rabbayaani saghira
Kuala Lumpur, 19 Desember 2016