Jumat, 06 April 2018

Maaf, Tolong dan Terima Kasih

Pagi hari di rumah saya selalu riuh. Lepas subuhan ritual saya adalah dapur. Skala prioritasnya adalah sarapan pagi dan bekal makan siang di sekolah untuk anak-anak. Kemudian membantu si bungsu merapikan pakaian dan check ini itu untuk semuanya. Jika mereka ada tambahan request tentu saya makin kepontal pontal, misalnya tiba-tiba ada yang minta carikan suatu benda. 
Dan pagi ini hal itu terjadi, saat injury time sebelum berangkat tiba-tiba anak nomor dua laporan kalau celana seragamnya lepas jahitan di sisi paha. 
....Aaah harus menjahit pula si mamak ini.

Nah cerita sesungguhnya mulai terjadi ketika celana siap dan saya ulurkan ke anak saya, santai saja si anak menerima sambil arah matanya tak lepas dari layar kaca, animal planet, acara andalan pengantar berangkat sekolah.
“Hey.. Did i hear something?” sindir saya.
“Terima kasih, ibu.” jawabnya, masih lekat ke televisi.
“You’re welcome.” sambil saya melanjutkan persiapan yang lain.
Mereka sedang mengenakan kaus kaki ketika saya mengulurkan kotak makanan dan uang jajan. Lagi-lagi si nomor dua menerima tanpa sepatah kata pun.
“You’re welcome.” Sindir saya kembali.

Dan keberangkatan ke sekolah pagi itu diwarnai dengan ceramah singkat saya, tentang betapa mereka mulai lupa dengan kebiasaan rangkaian tiga kata : maaf, tolong dan terima kasih.
Tiga kata sederhana, tetapi sarat makna dan penuh respek kepada lawan bicara kita. 
Tiga kata sederhana yang dari situlah attitude dan behavior kita bisa diukur.

Lima atau tujuh tahun belakangan ini, kami memang banyak mengunjungi daerah dan negara lain. Bahkan kami sempat tinggal di suatu negara  selama lima tahun. Kultur negara yang kami kunjungi atau kami singgahi banyak memberi pelajaran positif. Bukan tak ada yang negatif, adaaaa... tapi sebisa mungkin kami memfilter hal yang tak sejalan dengan ajaran agama kami. 

Hal positif yang kami serap erat-erat, salah satunya adalah rangkaian tiga kata tersebut.

Teringat waktu itu, ketika berbelanja di sebuah super market, betapa orang lalu lalang mendorong trolly menyusuri rak demi rak sambil mulut mereka tak lepas dari kata “excuse me” jika laju mereka terhambat trolly lain. Dan melanjutkan dengan “thank you” jika diberi jalan.
Yang tak kalah indahnya, pemilik trolly yang menghambat jalan juga akan mengatakan “sorry”, karena merasa mengambat jalan orang lain.
Jika ada kasus serempetan trolly, atau senggolan badan, spontan keduanya akan berucap “sorry” dan juga saling menjawab “it’s ok”. 
Nyess, adem bukan....

Bagi saya, salah satu nyess moment antara saya dan anak-anak adalah ketika mengajak makan si bungsu dan menanyakan apakah mau saya ambilkan makanannya, dan dia menjawab, “Yes, please..”
Dan kemudian “Thank you, ibu..” ketika saya menghampirinya membawa sepiring makanan.
Atau ketika pagi hari selepas berjamaah subuh di musholla dekat rumah, si sulung menghampiri saya di dapur, kemudian salim mencium tangan, meneguk susu hangat yang saya siapkan, dan mengucapkan terima kasih. 
Itu lebih membahagiakan dibanding mereka membantu pekerjaan rumah yang lain. Meskipun saya juga girang sih kalo setelah meneguk susu mereka langsung mencuci gelasnya hehehe...

Kembali tentang trolly tadi.
Terlempar ingatan jauh ke belakang, di salah satu mall di jakarta, sulung saya, waktu itu masih sekitar usia SD, mendorong trolly memasuki lift turun menuju parkiran di basement. Tanpa sengaja roda trolly menyenggol sepatu seorang nenek. 
Marah? Iya...
Saya minta maaf, anak saya pun saya towel untuk mengucap kata maaf.
Selesai amarahnya? Enggak... panjang ternyata hahahaha... 

Yang ini kejadian dua-tiga bulan yang lalu. Kami mengantri memesan makanan di sebuah restoran mie cepat saji. Ibu di depan saya selesai transaksi dan giliran saya maju memesan. Tiba-tiba ada ibu lain (dan ternyata mereka berteman) menghampiri ibu yang sudah selesai bertransaksi ini dan bilang mau nebeng pesanan agar ga perlu ngantri dari belakang. Ibu di depan saya menanggapi dengan bahasa tubuh yang serba salah.
Saya persilakan mereka untuk memesan lagi dan saya mundur selangkah agar mereka leluasa melihat menu di meja counter.
Setelah mereka kembali bertransaksi dan mendapatkan makanannya... ah, mereka pergi begitu saja.. tanpa sepatah katapun, bahkan sekedar anggukan kepala pun tidak.
Yaah sudahlah, saya tertawa sumbang.

Ya gak semuanya sih seperti itu, beberapa kali saya masih mendengar hal-hal yang adem. Hanya saja saya khawatir satu-dua-tiga kali anak-anak melihat hal seperti itu, mereka akan menganggap wajar dan diam-diam menyimpan dalam memorinya bahwa reaksi unbehave adalah hal yang biasa.

Tiba-tiba saya rindu masa kecil saya. Ketika sopan santun adalah hal yang selalu diterapkan dalam keseharian. Ketika pelajaran di sekolah lebih banyak bermuatan moral dan etika daripada kurikulum yang tinggi dan njelimet. Ketika televisi masih menayangkan acara bermuatan pendidikan katakter...
Ah, jaman sudah berubah.. tapi semoga peran ibu sebagai madrasah utama bagi anak tak pernah berubah.


Jakarta, 7 April 2018