Minggu, 16 Desember 2018

Terima Rapor, Horeeeee....

Hari ini, adalah hari terakhir UAS, atau PAS, atau final exam, atau entah apalah namanya.. Rasanya setiap sekolah punya istilah sendiri untuk menyebutnya, atau tergantung kementerian pendidikan bagaimana menyebutnya. Biasanya ganti jajaran kementerian, ganti pula istilahnya. Seperti halnya dulu sistem catur wulan, ganti ke sistem semester. Ada pula istilah SMA diganti SMU, kemudian kembali lagi ke SMA.. hahaha entahlah, hanya untuk hal remeh temeh seperti ini pasti sudah menghabiskan anggaran milyaran. Biaya rapat, pengesahan, ganti kop surat, ganti stempel surat.. bla.. bla.. bla..
Mbuh wis... saya jadi oot kan..

Ok, dan urutan setelah UAS pastilah terima raport. Hari dimana saya berbahagia karena di hall sekolah banyak bazaar makanan dadakan, jadi hari itu saya tak perlu turun ke dapur memikirkan mau masak apa hehehe...

Hehe oot lagi dah.

Jadi begini, kilas baliknya adalah, ini tahun ke dua kami sekeluarga balik ke Indonesia, setelah beberapa lama tinggal di negara sebelah, mengikuti suami berdinas.
Sungguh, saya lupa bahwa di Indonesia ini budayanya adalah tiap rapotan, orang tua selalu (lebih banyak yang ‘iya’ daripada yang ‘tidak’) menjinjing bingkisan sebagai tanda terima kasih untuk guru/wali kelas. Setiap kali mau rapotan ritual saya adalah belanja untuk wali kelas anak-anak saya. Tidak ada paksaan, suka rela karena sudah tradisi dan orang tua lain pun melakukannya. 

Nah, karena lupa tadi, saya jadi tampak aneh diantara ortu-ortu yang lain, karena tidak menjinjing sesuatu. Kejadian tahun lalu, dua kali rapot sisipan dan satu kali rapot semesteran saya lupa mempersiapkannya dan seketika langsung meluncur ke hall sekolah utk membeli sesuatu. 
Saat rapotan kenaikan kelas, saya mengalarm kalender jauh-jauh hari agar ingat membeli souvenir .. hehe memang agak parah, sekian masa meninggalkan tradisi ini membuat saya nge-blank..

Saya mau nulis apa sih, kenapa alurnya kemana-mana begini 😁😁

Oh ok, 
Saya hanya ingin bercerita, ketika tinggal di negara lain, sungguh tidak ada tradisi membawa hadiah untuk guru ketika hari  rapotan tiba. Rapotan disana juga empat kali dalam setahun, karena satu tahun akademik terdiri dari empat term. Rapotan tidak dilaksanakan di kelas masing-masing anak, melainkan di multipurpose hall.
Tujuannya untuk mempermudah orang tua untuk bertemu kepala sekolah dan guru-guru mata pelajaran (karena semua guru memang hadir, dan duduk di kursi yang ada identitas/namanya) untuk berkonsultasi jika ada ketidak-puasan nilai atau bertanya apapun.
Di ruang luas dan terbuka seperti itu tentunya tidak lazim jika ada acara bagi-bagi tanda terima kasih dari siswa untuk guru. Tentu bisa mengundang lirikan penuh tanda tanya.
Lalu bagaimana jika siswa ingin mempersembahkan sesuatu untuk guru? Ada saatnya yang disebut Teachers’ day. Hari dimana guru mendapatkan reward dari siswa. Tidak melulu berupa barang. Bisa saja berbentuk sekuntum bunga, seikat bunga, surat cinta, atau sekedar disamperi untuk memberikan big hug dan ucapan thank you. Biasanya di event itu MC akan memanggil guru satu persatu ke atas panggung. Guru favorit akan mendapatkan tepuk tangan bergemuruh. Ketika turun panggung siswa menyambut dengan bunga demi bunga. Atau di meja si guru sudah bertumpuk hadiah. Mug, pulpen, frame, lukisan, syal dan semacamnya. Tidak jor-joran brand, melainkan lebih ke ekspresi perasaan. Semua guru akan mendapatkan hadiah. Yang membedakan, biasanya di meja guru favorit lebih penuh hadiah dibanding guru biasa. Dan rasanya gemuruh applause, bunga atau surat cinta ini akan memacu semangat guru untuk menjadi guru favorit.
Biasanya acara ini akan digabungkan dengan tema Children’s day, sehingga guru pun mempersiapkan hadiah atau goody bag untuk siswa. Bedanya, tidak ada children favorit disini, semua sama.
Saya yang pernah menghadiri acara itu, langsung ikutan trenyuh dalam euforia saling berbagi ini.

Sementara itu, dari sudut pandang yang berbeda, disini, setidaknya di beberapa sekolah tempat anak saya pernah belajar, tanda terima kasih untuk guru diserahkan saat rapotan dan begitu masif. Biasanya guru akan menyimpan kado-kado itu di bawah meja, sekitar kakinya.
Salah? Tidak sih, sejauh tidak ada larangan dari pihak sekolah. Kan orang tua juga ikhlas memberi.

Hanya sering kali saya melihat, guru yang menerima kado ini hanya sebatas wali kelas, guru mata pelajaran sering terlupakan. Sampai-sampai pada saat pulang sekolah, wali kelas kesulitan mengangkut barang-barang ini. Kemudian meminta tolong OB, padahal OB tak kebagian apapun. Bahkan abang ojek online pun menyerah mengangkut. Sampai pak bajaj lah yang menyambutnya.
Dan ini terjadi empat kali dalam setahun karena ada moment rapotan sebanyak empat kali.
Memang ada kepala sekolah mengeluarkan kebijakan kado dari murid harus dikumpulkan di ruang guru, untuk kemudian dibagi rata ke semua guru dan OB. Tapi yang tampak oleh saya, hanya cake dan makanan yang diberlakukan seperti itu, selebihnya, kado berupa barang tetap menjadi hak mutlak orang pertama penerima  kado.

Ah sudahlah.. saya nulis apa sih.. sebuah kegelisahan hati saja ini mah.. sungguh saya tak ingin merubah apapun tentang tradisi ini, kuatirnya malah dikira menghalangi rizki sesama..
Hanya timbul sebersit harapan, atau bisa disebut khusnudhon, siapa tahu setelah si guru membawa pulang kado-kado ini, besoknya, setelah dipilih-pilih berdasarkan peringkat suka-tidak suka, perlu-tidak diperlukan ;) akan ada yang kembali ke sekolah untuk dibagi ke rekan kerja, atau OB yang membantu mengangkatnya....
Semoga  😉😉

Jakarta, 15 Desember 2018

Jumat, 20 Juli 2018

Uang yang Tak Berguna

Sering kali kita mendengar ungkapan 
Uang adalah segalanya.
Hukum bisa dibeli dengan uang.
Money can buy anything

Ya memang.. itu sudah lazim di zaman dimana masyarakat kita lebih banyak yang hedonis dari pada yang zuhud. Sekolah saja, biasanya bagus tidaknya mutu tergantung bayaran. Terutama sekolah swasta.
Rumah sakit, apalagi. Waktu melahirkan anak pertama dulu, di Batam, karena masih merintis karir, tunjangan dari kantor suami tidak besar. Jatah kami hanya rumah sakit pemerintah, kamar kelas dua dengan bantuan bidan, bukan dokter SPOG. Proses melahirkan normal yang penuh perjuangan, pengalaman pertama pula, diwarnai dengan sikap bidan dan team yang sangat tidak bersahabat. Jauh berbeda dengan pengalaman melahirkan anak kedua dan ketiga, ketika kantor memberi fasilitas lebih, otomatis pelayanan juga lebih. 
See, uang berbicara, bukan... ahahaha..

Contoh yang lain, di lingkungan sekolah anak saya, Sekuriti memberi perlakuan yang berbeda antara pengantar yang bermobil dan bermotor. Senyum lebar memenuhi pipi disuguhkan untuk yang bermobil dan senyum sekedarnya, atau bahkan tak menoleh kepada pengantar bermotor. 

Gimana saya tahu? Saya mengalami keduanya.

Pagi hari, karena saya harus mengantar dua anak, saya menggunakan mobil. Sore hari, karena hanya menjemput si bungsu, sementara kakaknya menggunakan ojek online, saya pakai motor. 
Again, see..? Ahahaha..

Tapi dibalik semua keistimewaan uang, sesungguhnya adakalanya uang sama sekali tak bermakna.
Pernah mengalami kan, kita sedang haus-hausnya, lupa bawa bekal minum dari rumah, tapi terjebak macet tanpa ada penjual air minum di jalanan? 
Sewaktu tinggal di negara sebelah, beberapa kali saya mengalaminya. Di sana tak ada tukang asongan yang siap berjualan di tiap perempatan lampu merah, tak ada abang-abang teh botol yang jual di pinggir jalan beratapkan payung lebar. Uang sih ada, tapi barang yang dibeli tak ada.

Ada juga kejadian —> uang ada —> beli air minum. Eh tapi tak berani minum katena sedang di jalanan, perjalanan panjang mudik lebaran dimana kita takut kalo kebanyakan minum bakal pipis bolak balik, karena ingin menghindari toilet umum yang jorkinya astaghfirullah al adzim itu.. 
Ini saya juga pernah... alhasil, karena membatasi minum di perjalanan mudik 22 jam, sesampainya di kampung mertua, saya dan suami batuk dan demam akibat sepanjang jalan terpapar ac mobil dan dehidrasi.

Kisah yang lain adalah, ada uang tapi tak punya adab. Pernah lihat kah di jalan sebuah mobil bagus membuka kaca jendela dan membuang tissue bekas, sampah plastik atau botol minuman? Ada uang —> mampu beli mobil —> tapi tak beradab.

Atau di sebuah rumah makan, sering kali saya melihat meja yang baru ditinggalkan pengunjung dengan piring kosong sangat berserakan, sampah tissue ada di kolong meja, air minum bercecer dimana-mana. Sebagian orang menganggap membersihkan meja dan segala kotorannya adalah tugas pekerja rumah makan. Tapi sesungguhnya dari situ terlihat sejauh mana adab kita. Jangan sampai mampu membayar makanan tapi melupakan adab, jangan sampai ada celetukan money can’t buy attitude mengarah ke kita. 
Sebisa mungkin saya mengajarkan kepada anak-anak untuk menumpuk piring kotor ditengah meja, mengumpulkan tissue bekas menjadi satu, dan mengelap percikan air kuah/minum. Jadi pada saat kita meninggalkan meja, pelayan tinggal ambil tumpukan piring dan membersihkan meja seperlunya. Karena saya percaya, meringankan tugas pekerja akan meringankan hati kita.

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS Al-Fajr : 20)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS Al Kahf : 46)

Jakarta, 20 Juli 2018

Sabtu, 23 Juni 2018

Proses Adaptasi Itu Menyenangkan


**Kenaikan kelas telah tiba. Bungsu saya naik ke SD kelas enam. Itu artinya kembali saya bersiap berpacu mendampinginya menghadapi UN, mengejar pelajaran yang tertinggal sejak kelas satu sampai kelas empat**

Hmmm baru juga saya lega tahun sebelumnya mendampingi dua anak menjalani kelas ujung, sembilan dan dua belas. Kelas penentu kelulusan jenjang pendidikan, yang Alhamdulillah berbuah penuh kesyukuran. 

Kami pindah ke Indonesia tepat saat anak pertama menginjak kelas duabelas dan anak kedua menginjak kelas sembilan. Menjelang UN. Setelah sebelumnya hanya mengenal kurikulum Cambridge. 
Tak banyak cerita bagi anak pertama, karena dia memilih Homeschooling, bisa mengatur ritme belajar sesuai kebutuhan UN dan rencana perguruan tinggi nanti.
Tapi bagi anak kedua, yang memilih sekolah formal, perjuangan lebih terasa. Karena mata pelajaran yang lebih banyak, jam belajar yang terikat, seragam dan segala kegiatan formal lainnya. Namanya juga sekolah formal.
Bagi si nomor dua, ini UN pertamanya. Akan menjadi pengalaman pertamanya. Sebelumnya, di level primary/SD dia menjalani CPC (Cambridge Primary Checkpoint) sebagai syarat kelulusan. CPC dalam arti sesungguhnya. Bukan seperti CPC di sekolah Indonesia yang mempunyai program bilingual. Saya bisa membedakan situasi, atmosfer dan adrenalinnya karena anak kedua dan ketiga saya juga sekolah di program bilingual seperti ini.
Jadi, total anak kedua ini hanya belajar selama delapan bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi UN yang lumayan horror itu. . Dalam waktu delapan bulan itu juga dia harus catch up semua level pelajaran SMP, sejak kelas tujuh sampai kelas sembilan.
Try out bertubi-tubi hampir setiap bulan, membuat dia tak merasa enjoy lagi menghadapinya. Padahal sesuatu yang dianggap biasa, tentu akan dipersiapkan secara biasa juga. Berbeda dengan sekolah sebelumnya dimana try out (yang biasa disebut Mock CPC) hanya dilakukan sekali, dan well prepared.
Maka kami -saya dan anak saya- harus bahu membahu dan saling menyemangati untuk tak mudah merasa jenuh. 
Belum lagi adaptasi dan sosialisasi di sekolah baru yang mengandung aroma bullying karena keterbatasan kemampuan Bahasa Indonesia anak saya. Bahkan hanya karena anak saya tak pandai mengucap loe-gue sudah cukup menjadi bahan tertawaan. Belum lagi culture shock, perbedaan kebebasan berbicara di kelas. disini, berbicara yang tidak sependapat dengan guru langsung dicap tidak mensukseskan program sekolah, bahkan cap tidak sopan terhadap guru.
Ini uji nyali yang sesungguhnya. Masalah mental.

Hal serupa juga dialami anak bungsu saya.
Kelas lima SD tentu bukan level yang mudah untuk dilalui bagi anak yang memiliki keterbatasan Bahasa  Indonesia. Pelajaran mulai sulit. Diantara dua anak yang lain, si bungsu ini paling RIP Bahasa Indonesianya. Jadi, setiap belajar saya harus berada di sampingnya. Mengartikan kata demi kata dalam paragraf ke dalam bahasa Inggris.  Seringkali tak hanya mengartikan, tapi harus mengilustrasikan dan memberikan contoh agar dia bisa memahami. Dia tak faham apa itu memangsa, menerkam. Apa beda pelajaran IPS dan PKN. Belum lagi pelajaran matematika yang banyak memiliki perbedaan istilah. Misalnya sudut lancip adalah acute, apa itu segi empat, kubus, luas, keliling. Atau istilah sudut, rusuk, sisi.. semuanya sungguh berbeda.
Bullying? Jangan tanya.. sama saja seperti yang dialami oleh kakaknya. Hanya saja si bungsu membungkam para pembully dengan nilai. Dia tipe pejuang. Ya, memang dia tak punya pilihan lain kecuali berjuang dan belajar keras.

Kepada ketiga anak saya, selalu saya ucapkan resiko sering berpindah domisili adalah kita bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dari mereka yang berada di zona nyaman. Dan ini tidak selalu menyenangkan. Tidak selalu mudah. Ada gundah dan terkadang ada air mata.

Tapi sisi baiknya adalah, kita punya kesempatan lebih banyak untuk belajar beradaptasi. Beradaptasi dengan cepat agar tak tergilas oleh lingkungan dan situasi baru.  Kita bisa lebih struggle menyetarakan diri. Berkesempatan memperluas pertemanan dan pengalaman. 
Ambil saja sisi baiknya, hempas saja sisi buruknya. Hypnotize yourself  bahwa proses adaptasi itu menyenangkan.

Most of all, tentu untuk membulatkan tekad agar tak surut langkah, tak lupa selalu menyematkan doa.
“Laa haula wa laa quwwata illa billaah” 
(tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Robbi adhilni mudhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj alli min ladunka sultoonan nashiro”
(Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolong)— QS Al Isra : 80

"Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul munzilin" (Ya Tuhamku, tempatkan aku di tempat yang diberkahi. Dan engkaulah sebaik-baik pemberi tempat"-- (QS al-Mu'minun : 29)

Jakarta, 23 Juni 2018

Sabtu, 16 Juni 2018

Lebaran, Ada THR kah?

*** H+1 lebaran, kami berada di suatu desa bernama Sindang Haji, wilayah Majenang nun di salah satu bagian dari Jawa Tengah. Fakir sinyal. Susah posting apapun, susah browsing apapun. Memaksimalkan hablumminannas karena perhatian tak terdistract ke gadget. Atau malah memaksimalkan lazy dayskarena cuaca yang panas kering lebih kondusif untuk leyeh-leyeh di kamar saja, hahaha..***

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang paling ditunggu anak-anak di saat lebaran adalah THR dari kami, orang tuanya sebagai reward pencapaian ibadah selama ramadhan. Sebagian orang mungkin berpendapat : “ibadah kok dikasih imbalan uang, biarkan anak beribadah sesuai dengan kehendak hatinya, tanpa pamrih imbalan”. 
Tapi bagi kami, THR hanya salah satu trigger    menyemangati mereka beribadah. Di usia dini ibadah memang perlu pembiasaan, nantinya setelah mereka dewasa, pembiasaan ini diharapkan akan melekat menjadi semacam kebutuhan batiniah yang tanpa embel-embel reward THR akan mereka buru dengan penuh kesadaran. Semoga...

Kami -saya dan anak-anak- mempunyai kesepakatan beberapa penilaian untuk menentukan besaran nominal THR. Biasanya kami mempersiapkan white board untuk mencatat agenda harian yang isinya antara lain berapa halaman membaca Al-Quran, membaca Al-Kahf setiap hari jumat, I’tikaf di 10 hari terakhir. Hafalan Al-Quran tentunya menjadi tambahan poin yang besar. Jadi besaran THR bukan adil sama rata untuk semua anak, atau tergantung usia, melainkan adil menurut pencapaian ibadah ramadhan ini. Pernah suatu ketika anak bungsu saya justru mendapatkan poin tertinggi, yang artinya mendapatkan nominal THR paling besar.

Meskipun demikian, saya menanamkan ke anak-anak untuk tak mengharap THR dari orang lain, selain kami orang tuanya. Meskipun hanya dari neneknya. Apalagi om-omnya. Apalagi kerabat jauh.
Dahulu di kampung saya, pas hari raya, anak-anak kecil yang bahkan saya tak kenal anak siapa sering tiba-tiba nyamperin pintu-pintu rumah yang terbuka, bermodus salim dan cium tangan kemudian memasang wajah meminta salam tempel. Serupa dengan trick or treat di saat halloween di luar sana. 
Atau seringkali saya mendengar seorang teman mengajak anaknya bersilaturahim ke famili dengan kata-kata, “Yuk ke rumah Om A, nanti pasti dapat THR.”
Atau, “Ke rumah pak B yuk, THR nya biasanya besar lho, nanti tabunganmu cepat nambah.”
Juga, “Tuh ada tante C, sana minta THR... ga papa, sama tante sendiri ini..”
Bahkan, “Duh sayang ya kemarin nggak ketemu pak De D, jadi ga dapet THR deh.. tapi nanti mama telponin deh, kali bisa uangnya ditransfer aja, atau dititip siapa gitu yang ketemu..”

Saya menghela nafas mendengarnya, sepertinya memang bukan hal yang luar biasa, justru dianggap wajar di momen lebaran. 
Tapi disadari atau tidak, ini akan membekas di fikiran bawah sadar anak-anak bahwa It’s ok meminta-minta. Toh keluarga sendiri, toh bukan orang lain.
Pernah juga lho saya mendengar seorang teman yang terang-terangan bertanya ke anaknya, di depan orang lain, “Udah terkumpul berapa THR nya?”. Seakan lebaran adalah moment untuk mengumpulkan uang tanpa jerih. 

Sebisa mungkin sebagai orang tua, saya menanamkan budaya malu meminta. Kalaupun bukan meminta, malu untuk menyindir. Atau malu untuk mendekat-dekat agar dikasih THR. Dan lebih dalam lagi, malu untuk berharap THR, meski sekedar terbersit dalam hati.
Dari sini, anak-anak malah seringkali lupa menagih reward yang didapat dari poin ramadhan yang telah dikumpulkan dan tercatat dari white board tadi.

Al yadul ‘ulya khoirum minal yadis sufla— tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah (HR Bukhari)
Begitu bunyi salah satu hadist yang saya hafalkan di pelajaran SD dahulu. Bagaimanapun memberi lebih baik dari pada menerima, bukan...

Sindang Haji, 16 Juni 2018

Selasa, 12 Juni 2018

Wisuda : Beda Negara, Beda Kebiasaan

Baru saja saya menghadiri wisuda anak kedua saya yang tamat SMP. Suasana Ramadhan tidak menghalangi kemeriahan acara. Meski anak saya hanya sekolah kurang lebih selama sembilan bulan di sekolah ini, alias dia murid baru, karena kami baru pindah ke Indonesia dari negara tetangga, tapi dia ikut mencoba tune in.

Di Indonesia, Ini bukan wisuda pertama yang saya hadiri. Dari tiga orang anak, sebelumnya saya menghadiri dua kali wisuda TK (anak pertama dan kedua), satu kali wisuda SD (anak pertama) dan satu kali wisuda SMP (anak pertama). Ditambah beberapa kali acara wisuda bukan sebagai orang tua murid, tapi sebagai tamu undangan, sebagai pengurus sebuah sekolah swasta.

Entah kenapa, suasana wisuda di Indonesia khas sekali, warna yang mendominasi adalah warna haru dan kesedihan. Sepertinya nih, semua wisuda yang saya hadiri tidak lepas dari lagu hormat guru, seperti Hymne Guru. 
Juga lagu perpisahan dengan teman semisal “Sampai Jumpa dan Ingatlah Hari Ini.
Atau lagi tema terima kasih atau ekspresi rasa cinta kepada orang tua, seperti Sound track Keluarga CemaraBunda, Lagu Cinta Untuk Mama, Titip Rindu buat AyahYang Terbaik Bagimu. Semuanya berbalut kesedihan dan air mata. Sepertinya tissue adalah bekal wajib untuk para undangan acara seperti ini. Tau sendiri kan, yang namanya orang nangis itu menular. Nangis satu, nular ke sebelahnya, sebelahnya lagi.. sampai akhirnya gerakan bahu dan sedu sedan seragam berirama. Dan saya pernah mengalaminya, meskipun ga bombay-bombay amat.

Pengalaman berbeda saya rasakan ketika tinggal di negara sebelah. Sempat mengikuti wisuda jenjang Montessori (TK-anak bungsu), Primary (SD-anak kedua) dan EGCSE/0 Level (setara kelas 11-anak pertama). Suasananya bertolak belakang, berbeda seratus delapan puluh derajat. Ada rasa sedih sih ketika bersalaman dengan teman dan guru, tapi yang dominan adalah rasa gembira dan optimis menyongsong jenjang pendidikan selanjurnya. 
Lihatlah pemilihan lagu mereka, wisudawan bersama diatas panggung menyanyikan Hall of FameThe Best Day of My Life, Never Say Never, Count on Me. Semuanya berarransemen riang, bukan... 

Saya ga tau mengapa atmosfer yang mewarnai begitu berbeda. Apakah karena kultur budaya? Entahlah. Untuk saya yang kurang menyukai air mata, menghadiri acara perpisahan yang sendu sungguh dilema. Ga nangis, dibilang ga sensi. Tapi dipaksa nangis.. ya bisa sih, tapi sebatas semacam toleransi sama tetangga kursi saja. Di wisuda anak kedua saya barusan, saya beneran nangis ketika di wide screen ditayangkan in memoriam salah satu teman anak saya yang meninggal dunia beberapa minggu sebelum UN karena sakit, kemudian orang tuanya speech di panggung tentang kerinduannya dan belum move on nya dari kehilangan sang buah hati. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amal ibadahnya...

Ah sudahlah, lepas dari apapun suasananya. Ini merupakan pengalaman tersendiri.  Menutup lembaran jenjang pendidikan anak dan bersiap membuka jenjang selanjutnya adalah hal yang indah buat saya. Tantangan baru mendampingi anak melalui fase hidupnya. Tak selalu mudah, tak selalu menyenangkan. Tapi jika sabar, menjanjikan berlapis pahala.

Dan kemudian terngiang di telinga saya sepenggal lirik lagu : “... terima kasih abah, terima kasih emak...”

Jakarta, 12 Juni 2018






Sabtu, 19 Mei 2018

Standing Party

Hari ini adalah ramadhan hari ke tiga. Kembali saya menjalani ramadhan di tanah air setelah lima tahun kemarin berada di negara lain. Lingkungan dan suasana yang berbeda. 

Di grup-grup whatsapp mulai berseliweran agenda buka bersama. Mulai dari grup yang well-planned sudah menentukan hari-tanggal-tempat. Sampai grup yang dari tahun ke tahun cuma sebatas wacana, usulan, ajakan atau apalah yang hingga ramadhan berakhir dan lebaran menghampiri, buka puasa bersama tak pernah terwujud. Repeat begitu terus setiap tahun hehehe..

Tentang venue, tergantung grup apa penyelenggaranya. Ketika saya berdosmisili di negara lain, venue biasanya di hall atau function room condo, yang langsung dilanjut dengan shalat tarawih bersama. Multifunction hall sekolah anak-anak juga seringkali dimanfaatkan. Di perumahan kampung halaman masa kecil saya, biasanya ya di musholla. Grup alumni biasanya menyelenggarakan di rumah makan. Semua tempat yang saya sebutkan ini, tentu saja akrab, hangat, tertib dan yang lebih penting : cara makannya santun dan sesuai adab yaitu duduk. Urut-urutan acara juga jelas : ta’jil, sholat maghrib berjamaah, makan, kemuadian sholat teraweh. 

Berbeda sekali dengan suasana di salah satu undangan buka puasa yang saya hadiri yang diselenggarakan oleh suatu perkumpulan. 
Pada saat memasuki ruangan, melihat penataan ruang, saya sudah ada feeling bahwa acara makan akan dilakukan secara standing party. Jumlah kursi yang terbatas dan ditata di pojok-pojok ruangan adalah kode keras bahwa konsepnya memang makan sambil berdiri. Musholla mini muat dua shaf pendek di ujung koridor juga merupakan kode kedua bahwa sholat maghrib dan tarawih bukanlah agenda selanjutnya.
Saya membatin dalam hati, ibadah ramadhan yang bernilai pahala keikhlasan ini, haruskah diakhiri dengan sesuatu yang kurang afdol, berpotensi terlewat sholat maghrib, isya dan teraweh? Sayang sekali.

Standing party ini mengingatkan saya pada kebiasaan acara wedding party di gedung-gedung. Rasanya semua acara kondangan manten sekarang berkonsep standing party. Semua tamu undangan mengantri di booth-booth hidangan, kemudian makan berdiri di sekitaran situ. Meletakkan piring kotor sembarangan (yang tak jarang mubazir karena masih terisi makanan) selanjutnya seliweran hunting lagi makanan yang lain. Begitu seterusnya sampai semua jenis makanan puas dijelajahi kemudian pamit pulang. Saat ini sepertinya hanya acara kondangan manten di rumah-rumah yang masih menyediakan kursi layak duduk sejumlah tamu undangan.

Kalau boleh membandingkan, di Malaysia saya seringkali mendapat undangan wedding party di gedung besar. Juga dinner graduation ceremony anak ke dua saya. Acara manten, tak pandang siang atau malam, konsepnya adalah duduk melingkar di meja-meja besar yang dikelilingi oleh enam sampai delapan kursi. Meja dan kursi bernomor sehingga tamu undangan menempati nomor kursi yang telah ditentukan, tidak sembarangan menempati kursi orang lain.
Jadi teknisnya di kartu undangan yang kita terima tertera contact person yang bisa kita hubungi apakah kita bersedia hadir di kondangan manten tersebut. Konfirmasi kehadiran ini penting sehubungan dengan ketersediaan kursi-kursi tadi.
Nah, pada hari H acara berlangsung, resepsionis penjaga buku tamu akan memberikan nomor kursi pada tamu undangan yang sudah mengkonfirmasi hadir. Misalnya meja A kursi nomor 1, atau meja Z kursi nomor 8, dan sebagainya.

Terus cara makannya gimana? 
Meja yang digunakan adalah meja putar. Sehingga tamu bisa memilih makanan tanpa meninggalkan kursi. Hidangan disajikan bertahap mulai makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup dan snack yang bisa dibawa pulang. Pramusaji berseliweran siap mengangkat piring-piring kotor, mengganti makanan atau mengisi gelas yang kosong dengan teko siap di tangan.
Tidak ada tamu mengantri ambil makanan, tidak ada piring kotor berserakan di meja-meja. Meminimalisir tamu ambil makanan berlebihan yang ujung-ujungnya tak termakan. Semuanya duduk rapi sambil menikmati run down acara yang ditayangkan di screen raksasa di dekat mempelai. Biasanya screen menampilkan slide perjalanan hidup kedua mempelai sejak kecil sampai jodoh mempertemukan mereka, yang dipandu oleh pembawa acara.

Entah kenapa yang seperti ini lebih berkesan buat saya, sama berkesannya dengan acara mantenan jaman dulu di kampung saya ketika tamu leluasa duduk berjejer dan makanan akan dihidangkan di piring, diulurkan dari tangan ke tangan secara estafet. Estafet makanan pembuka, estafet makanan utama kemudian makanan penutup. Sederhana, tidak berlebihan tapi tetap santun.

Jakarta, 19 Mei 2018



Jumat, 06 April 2018

Maaf, Tolong dan Terima Kasih

Pagi hari di rumah saya selalu riuh. Lepas subuhan ritual saya adalah dapur. Skala prioritasnya adalah sarapan pagi dan bekal makan siang di sekolah untuk anak-anak. Kemudian membantu si bungsu merapikan pakaian dan check ini itu untuk semuanya. Jika mereka ada tambahan request tentu saya makin kepontal pontal, misalnya tiba-tiba ada yang minta carikan suatu benda. 
Dan pagi ini hal itu terjadi, saat injury time sebelum berangkat tiba-tiba anak nomor dua laporan kalau celana seragamnya lepas jahitan di sisi paha. 
....Aaah harus menjahit pula si mamak ini.

Nah cerita sesungguhnya mulai terjadi ketika celana siap dan saya ulurkan ke anak saya, santai saja si anak menerima sambil arah matanya tak lepas dari layar kaca, animal planet, acara andalan pengantar berangkat sekolah.
“Hey.. Did i hear something?” sindir saya.
“Terima kasih, ibu.” jawabnya, masih lekat ke televisi.
“You’re welcome.” sambil saya melanjutkan persiapan yang lain.
Mereka sedang mengenakan kaus kaki ketika saya mengulurkan kotak makanan dan uang jajan. Lagi-lagi si nomor dua menerima tanpa sepatah kata pun.
“You’re welcome.” Sindir saya kembali.

Dan keberangkatan ke sekolah pagi itu diwarnai dengan ceramah singkat saya, tentang betapa mereka mulai lupa dengan kebiasaan rangkaian tiga kata : maaf, tolong dan terima kasih.
Tiga kata sederhana, tetapi sarat makna dan penuh respek kepada lawan bicara kita. 
Tiga kata sederhana yang dari situlah attitude dan behavior kita bisa diukur.

Lima atau tujuh tahun belakangan ini, kami memang banyak mengunjungi daerah dan negara lain. Bahkan kami sempat tinggal di suatu negara  selama lima tahun. Kultur negara yang kami kunjungi atau kami singgahi banyak memberi pelajaran positif. Bukan tak ada yang negatif, adaaaa... tapi sebisa mungkin kami memfilter hal yang tak sejalan dengan ajaran agama kami. 

Hal positif yang kami serap erat-erat, salah satunya adalah rangkaian tiga kata tersebut.

Teringat waktu itu, ketika berbelanja di sebuah super market, betapa orang lalu lalang mendorong trolly menyusuri rak demi rak sambil mulut mereka tak lepas dari kata “excuse me” jika laju mereka terhambat trolly lain. Dan melanjutkan dengan “thank you” jika diberi jalan.
Yang tak kalah indahnya, pemilik trolly yang menghambat jalan juga akan mengatakan “sorry”, karena merasa mengambat jalan orang lain.
Jika ada kasus serempetan trolly, atau senggolan badan, spontan keduanya akan berucap “sorry” dan juga saling menjawab “it’s ok”. 
Nyess, adem bukan....

Bagi saya, salah satu nyess moment antara saya dan anak-anak adalah ketika mengajak makan si bungsu dan menanyakan apakah mau saya ambilkan makanannya, dan dia menjawab, “Yes, please..”
Dan kemudian “Thank you, ibu..” ketika saya menghampirinya membawa sepiring makanan.
Atau ketika pagi hari selepas berjamaah subuh di musholla dekat rumah, si sulung menghampiri saya di dapur, kemudian salim mencium tangan, meneguk susu hangat yang saya siapkan, dan mengucapkan terima kasih. 
Itu lebih membahagiakan dibanding mereka membantu pekerjaan rumah yang lain. Meskipun saya juga girang sih kalo setelah meneguk susu mereka langsung mencuci gelasnya hehehe...

Kembali tentang trolly tadi.
Terlempar ingatan jauh ke belakang, di salah satu mall di jakarta, sulung saya, waktu itu masih sekitar usia SD, mendorong trolly memasuki lift turun menuju parkiran di basement. Tanpa sengaja roda trolly menyenggol sepatu seorang nenek. 
Marah? Iya...
Saya minta maaf, anak saya pun saya towel untuk mengucap kata maaf.
Selesai amarahnya? Enggak... panjang ternyata hahahaha... 

Yang ini kejadian dua-tiga bulan yang lalu. Kami mengantri memesan makanan di sebuah restoran mie cepat saji. Ibu di depan saya selesai transaksi dan giliran saya maju memesan. Tiba-tiba ada ibu lain (dan ternyata mereka berteman) menghampiri ibu yang sudah selesai bertransaksi ini dan bilang mau nebeng pesanan agar ga perlu ngantri dari belakang. Ibu di depan saya menanggapi dengan bahasa tubuh yang serba salah.
Saya persilakan mereka untuk memesan lagi dan saya mundur selangkah agar mereka leluasa melihat menu di meja counter.
Setelah mereka kembali bertransaksi dan mendapatkan makanannya... ah, mereka pergi begitu saja.. tanpa sepatah katapun, bahkan sekedar anggukan kepala pun tidak.
Yaah sudahlah, saya tertawa sumbang.

Ya gak semuanya sih seperti itu, beberapa kali saya masih mendengar hal-hal yang adem. Hanya saja saya khawatir satu-dua-tiga kali anak-anak melihat hal seperti itu, mereka akan menganggap wajar dan diam-diam menyimpan dalam memorinya bahwa reaksi unbehave adalah hal yang biasa.

Tiba-tiba saya rindu masa kecil saya. Ketika sopan santun adalah hal yang selalu diterapkan dalam keseharian. Ketika pelajaran di sekolah lebih banyak bermuatan moral dan etika daripada kurikulum yang tinggi dan njelimet. Ketika televisi masih menayangkan acara bermuatan pendidikan katakter...
Ah, jaman sudah berubah.. tapi semoga peran ibu sebagai madrasah utama bagi anak tak pernah berubah.


Jakarta, 7 April 2018

Jumat, 09 Februari 2018

Tetangga Zaman Old, Tetangga Zaman Now

Masa kecil saya adalah masa dimana kehidupan bertetangga masih begitu damai, tanpa persaingan -dalam hal materi- dan penuh keakraban. Juga saling membantu.
Saling membantu dimana dulu ibu saya seringkali berkata : 
“Jaga tingkah laku di luar rumah, meskipun ibu gak nguntitin kamu, tapi mata ibu banyak, ada dimana-mana”
Terbersit arti bahwa semua tetangga dan teman-teman ibu siap melaporkan kalo saya bertingkah macam-macam. Terbukti, saya benar-benar bertingkah manis di luar rumah, ga berani coba-coba melanggar norma masyarakat dan aturan agama.

Contoh lain adalah ketika pulang sekolah dan mendapati rumah sedang kosong, saya terkunci di luar dan tak bisa masuk ke dalam, tetangga saya dengan senang hati mengajak saya masuk rumahnya sampai orang rumah datang, membawa kunci dan membuka pintu.

Pernah suatu ketika, saya bermain sepeda dan hilang keseimbangan sehingga jatuh nyusruk masuk ke got yang airnya hitam dan bau. Kebetulan lokasinya di dekat rumah teman taklim ibu, di ujung kampung sebelah. Seketika saya dimandikan, digantikan baju anaknya, sepeda saya dicuci bersih. Dan saya pulang dengan tanpa membawa bekasan air got. Kinclong lagi.

Itu adalah masa-masa indah masa kecil saya, dimana tetangga begitu berarti. Sebagaimana ungkapan ‘Tetangga adalah keluarga terdekat’.

Sebagian ulama mengkategorikan tetangga adalah sekumpulan orang yang tinggal sekampung. Sebagian ulama yang lain berpendapat tetangga adalah 40 rumah sekitar kita dari segala penjuru depan, belakang, kanan dan kiri.
Sayangnya, dewasa ini arti tetangga mulai bergeser. Sebatas orang-orang yang tinggal di sekitar rumah kita. Radiusnya pun mulai mengecil. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah teman atau kerabat, ketika kesulitan mencari alamat, bertanya ke lingkungan setempat dan beberapa kali nihil mendapat jawaban. Gak semua lingkungan seperti itu sih, tapi beneran deh, mulai banyak yang seperti itu.
Di depan rumah saya ada area yang sering dipakai para tamu dan tetangga untuk memarkir mobilnya. Seringkali ini menyusahkan saya untuk mengeluarkan atau memasukkan mobil ke garasi saya. Tapi biasanya, ya sudahlah, meskipun sedikit berpeluh, toh mobil saya bisa masuk. Sampai ada kejadian bak sampah saya retak ditabrak entah mobil siapa, karena tak ada yang muncul mengaku meminta maaf. Tak cuma sekali, tapi 2-3 kali, karena retakan berangsur berubah jadi pecah di dua sisi. Tak cukup sampai disitu, suatu hari bak sampah tadi, dibobok tetangga tanpa ijin karena salah satu ban mobilnya terperangkap di saluran air di depan bak sampah tersebut. Pedih gak sih...
Saya tipe orang yang ga suka ribut adu mulut, mungkin itu sebabnya mereka asik-asik aja bersikap begitu. Hit and run.
Seperti sebelumnya ada tetangga yang buang puing di depan rumah saya (dengan dalih wilayah sekitar akan ditinggikan agar tidak digenangi air). Jalan yang mulus jadi berantakan dan saya harus panggil tukang untuk melapis kembali dengan semen. Atau tetangga depan rumah yang hobi buang bungkus kopi, battery bekas dan cutton bud dari balik temboknya.. ah, sebalnya. Paling diam-diam saya doakan mereka untuk mendapat hidayah, meski beberapa kali saya keceplosan mendoakan yang jelek-jelek (manusiawi gak sih? Hehehe).
Tapi sore ini, hati saya bagai disiram air sejuk.
Saya membuka pintu pagar dan mengeluarkan motor dari garasi. Karena sedang terburu-buru, motor menyenggol pintu garasi yang sudah terbuka. Tiba-tiba ada kepala kecil melongok ke dalam garasi dan cepat sekali tangan mungilnya berusaha mendorong membuka pintu garasi lebih lebar. Saya terbengong.. gadis mungil usia 4-5 tahun itu tersenyum sambil tampak kesulitan mendorong pagar saya yang berat untuk ukuran tenaga mungilnya. Segera saya menangkap tangannya dan memberikan senyum, “Gapapa Nak, Tante bisa. Terima kasih ya... “ Dia ikut tersenyum dan berlari menjauh.
Ya Allah, cerita tentang gadis kecil ini seketika jadi menu obrolan utama saya dan anak-anak saya sore ini. Untuk mengingatkan saya sendiri dan anak-anak, bahwa ditengah lunturnya kepedulian sosial dewasa ini, agar tetap peka dan tenggang rasa terhadap sesama, khususnya tetangga.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tamunya” (Hadist arbain ke 15 - HR Bukhari dan Muslim)
Jakarta, 9 Februari 2018




Senin, 01 Januari 2018

Create Your Own Mirror

Hampir enam bulan saya berada di Jakarta, dan saya belum juga berlega hati menyopir mobil sendirian. Masih memilih duduk sebagai penumpang saja. Masih memilih menggunakan transportasi online saja. Atau taksi konvensional. Atau mengendarai motor jika pergi tak terlalu jauh.

Jika dulu saya menikmati kegiatan ini sambil mendengar murrotal, atau radio, menikmati hujan dan sesekali membandel memotret langit dan awan -object yang sangat saya sukai, atau sambil mengobrol dengan anak-anak saya. Tapi sekarang, saya tak bisa lagi melakukan kegiatan “sambil” ini.
Menyopir disini membutuhkan konsentrasi tinggi dan kepala yang harus selalu siap menoleh ke tiga penjuru. Spion tengah, kiri dan kanan. Lebih melelahkan secara psikis daripada lelah di kaki dan punggung.
Jejak petualang saya menyopir selama tinggal di Kuala Lumpur hilang tak berbekas. Jam terbang menyopir antar jemput anak sekolah plus kegiatan lain yang sehari berkisar antara 80-100km sirna sudah, ...puffff.

Mengapa?

Pemakai jalan di Jakarta ini ganas-ganas pakai banget. Motor atau mobil, sama saja. Saling berebut jalan seperti tergesa ingin pergi ke toilet.
Garis pembatas jalan, hajar.
Trotoar, libas.
Zebra cross, ga kelihatan tuh.
Yellow box, ah..sudahlah.
Lampu merah, anggap saja hijau semua... 

Seakan semenjak keluar rumah, para pengendara sudah menyiapkan mental untuk saling berebut, bahkan nyali berantem. Adu mulut, minimal. Padahal adu mulut adalah hal yang saya tak pernah siap untuk melakukannya.
Dan semoga tak pernah terjadi.

Seorang teman memberi tips, sejauh tidak mengambil jalan orang, memotong atau menyerobot, aman-aman saja kok..
Ya, betul sih.. bukan tipe saya juga untuk memotong. Tapi masalahnya, saya tidak siap untuk dipotong. Belum lagi terkaget-kagetnya hati jika tiba-tiba ada yang nyelonong melawan arah. Atau gerobak dan tukang jualan yang memakan badan jalan.

Ahh sudahlah, kayanya saya banyak amat mengeluhnya ya nyopir disini..

Akhirnya, demi sedikit mengurangi ketegangan dan keringat yang membulir sebesar jagung, saya lebih memilih untuk mengalah -jika pun terpaksa menyopir- dari kendaraan lain, saya membuka peluang sebesar-besarnya jika ada yang ingin nyelak. Sebisa mungkin untuk istiqomah meneruskan kebiasaan di Kuala Lumpur untuk tidak memencet klakson. Untuk melambaikan tangan pertanda terima kasih jika ada pengendara yang memberi jalan. 
Sebisa mungkin menerapkan hal-hal disana yang saya rasa baik, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya https://yusfianaworld.blogspot.com/2015/11/drive-drive-drive.html dan https://yusfianaworld.blogspot.com/2015/12/drive-drive-drive-part-2-lisence-to.html
Meskipun seringkali niatan saya bertepuk sebelah tangan alias bagaikan gayung tak bersambut. Resiko negatifnya tentu saja saya jadi lebih lama nyampe di tujuan. Lha wong ngalah melulu.. Tapi jangan salah, resiko positifnya juga ada, saya nggak perlu melepas energi negatif berupa kemarahan atau ketegangan. 

Tapi justru dengan niatan yang tadinya hanya ingin mengalah untuk mengurangi stressed, beberapa kali saya malah mendapatkan kemudahan dari orang lain. Tidak harus dibayar kontan saat itu sih, tapi seringkali di kesempatan lain, saat saya berada dalam kesulitan, adaaa saja kebaikan dari orang lain yang mempermudah saya.
Dan ini membuat saya makin meyakini bahwa :
Seperti cermin yang bisa merefleksikan pantulan diri, maka
“Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untukmu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri”
(Al-Isra’ : 7).

Ini juga yang sering saya ceritakan ke anak-anak saya, create your own mirror.

Kembali ke cerita diatas, seorang teman bertanya : dengan beberapa tips diatas, jadi saya sudah mulai enjoy nyopir di Jakarta dong?
Ahahah tetep belum sih...

Jakarta, 1 Januari 2018