Jumat, 20 Juli 2018

Uang yang Tak Berguna

Sering kali kita mendengar ungkapan 
Uang adalah segalanya.
Hukum bisa dibeli dengan uang.
Money can buy anything

Ya memang.. itu sudah lazim di zaman dimana masyarakat kita lebih banyak yang hedonis dari pada yang zuhud. Sekolah saja, biasanya bagus tidaknya mutu tergantung bayaran. Terutama sekolah swasta.
Rumah sakit, apalagi. Waktu melahirkan anak pertama dulu, di Batam, karena masih merintis karir, tunjangan dari kantor suami tidak besar. Jatah kami hanya rumah sakit pemerintah, kamar kelas dua dengan bantuan bidan, bukan dokter SPOG. Proses melahirkan normal yang penuh perjuangan, pengalaman pertama pula, diwarnai dengan sikap bidan dan team yang sangat tidak bersahabat. Jauh berbeda dengan pengalaman melahirkan anak kedua dan ketiga, ketika kantor memberi fasilitas lebih, otomatis pelayanan juga lebih. 
See, uang berbicara, bukan... ahahaha..

Contoh yang lain, di lingkungan sekolah anak saya, Sekuriti memberi perlakuan yang berbeda antara pengantar yang bermobil dan bermotor. Senyum lebar memenuhi pipi disuguhkan untuk yang bermobil dan senyum sekedarnya, atau bahkan tak menoleh kepada pengantar bermotor. 

Gimana saya tahu? Saya mengalami keduanya.

Pagi hari, karena saya harus mengantar dua anak, saya menggunakan mobil. Sore hari, karena hanya menjemput si bungsu, sementara kakaknya menggunakan ojek online, saya pakai motor. 
Again, see..? Ahahaha..

Tapi dibalik semua keistimewaan uang, sesungguhnya adakalanya uang sama sekali tak bermakna.
Pernah mengalami kan, kita sedang haus-hausnya, lupa bawa bekal minum dari rumah, tapi terjebak macet tanpa ada penjual air minum di jalanan? 
Sewaktu tinggal di negara sebelah, beberapa kali saya mengalaminya. Di sana tak ada tukang asongan yang siap berjualan di tiap perempatan lampu merah, tak ada abang-abang teh botol yang jual di pinggir jalan beratapkan payung lebar. Uang sih ada, tapi barang yang dibeli tak ada.

Ada juga kejadian —> uang ada —> beli air minum. Eh tapi tak berani minum katena sedang di jalanan, perjalanan panjang mudik lebaran dimana kita takut kalo kebanyakan minum bakal pipis bolak balik, karena ingin menghindari toilet umum yang jorkinya astaghfirullah al adzim itu.. 
Ini saya juga pernah... alhasil, karena membatasi minum di perjalanan mudik 22 jam, sesampainya di kampung mertua, saya dan suami batuk dan demam akibat sepanjang jalan terpapar ac mobil dan dehidrasi.

Kisah yang lain adalah, ada uang tapi tak punya adab. Pernah lihat kah di jalan sebuah mobil bagus membuka kaca jendela dan membuang tissue bekas, sampah plastik atau botol minuman? Ada uang —> mampu beli mobil —> tapi tak beradab.

Atau di sebuah rumah makan, sering kali saya melihat meja yang baru ditinggalkan pengunjung dengan piring kosong sangat berserakan, sampah tissue ada di kolong meja, air minum bercecer dimana-mana. Sebagian orang menganggap membersihkan meja dan segala kotorannya adalah tugas pekerja rumah makan. Tapi sesungguhnya dari situ terlihat sejauh mana adab kita. Jangan sampai mampu membayar makanan tapi melupakan adab, jangan sampai ada celetukan money can’t buy attitude mengarah ke kita. 
Sebisa mungkin saya mengajarkan kepada anak-anak untuk menumpuk piring kotor ditengah meja, mengumpulkan tissue bekas menjadi satu, dan mengelap percikan air kuah/minum. Jadi pada saat kita meninggalkan meja, pelayan tinggal ambil tumpukan piring dan membersihkan meja seperlunya. Karena saya percaya, meringankan tugas pekerja akan meringankan hati kita.

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS Al-Fajr : 20)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS Al Kahf : 46)

Jakarta, 20 Juli 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar