Sabtu, 25 Juni 2016

Baper di Tengah Rintik Hujan

Tadinya saya menggunakan kata 'mellow' pada judul diatas, tapi kayanya istilah itu sudah kalah femes dibanding kata 'baper'. Ya sudah, kita gunakan saja istilah baper ini.

Kenapa mendung dan hujan bagi sebagian orang identik dengan baper? Saya sudah searching tentang hal ini, tetapi sependek pencarian saya, belum ketemu juga apa relevansinya. Juga secara ilmiah, apakah ada sinyal-sinyal khusus yang dikirimkan oleh tetes-tetes air hujan, juga bebunyiannya melalui perantara audio visual yang membuat syaraf otak memerintahkan kita untuk membuka memori-memori masa lalu untuk hadir kembali dan memaksa kita hanyut terbawa perasaan. Makin deras hujannya, makin dahsyat bapernya #aish...😀
Bulan-bulan ini sedang musim hujan di Kuala Lumpur. Saya sedang di dalam mobil, di school parking area, dalam rangka menjemput anak sekolah. Sengaja saya datang lebih awal untuk mengindari antrean masuk yang panjang di gerbang sekolah di jam pulang belajar. Hari mulai hujan. Ringan saja. 

Dimulai dari memikirkan mau masak apa untuk buka puasa nanti, berganti memikirkan sulitnya cari lauk pauk siap saji yang memenuhi selera Indonesia di Kuala Lumpur ini, berganti lagi membayangkan pengen beli apa jika masih tinggal di Jakarta. 
Bak slide film, berganti lagi memikirkan kangennya saya pada makanan Surabaya, kota dimana saya berasal, menghabiskan masa kecil dan masa remaja. Nah, jika sudah begini, pasti peluang terbesar adalah terbawa perasaan mengingat yang lalu-lalu. 

Hujan makin deras, dan saya tersentak. Meruginya saya. Waktu yang terbuang percuma harusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca buku yang saya selipkan sebagai bekal teman menunggu. 
Atau harusnya bisa digunakan untuk membaca artikel-artikel pendek meskipun hanya melalui media online. 
Juga saya lirik Mushaf di jok belakang yang harusnya bisa saya tilawahkan entah berapa lembar. Tidak kalah penting disaat hujan deras begini, adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa : "Allahumma shoyyiban naafi'an (Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat)"
Dan ketika terdengar suara petir :
"Subhanalladzi yusabbikhur ro'du bi hamdihi wal malaaikatu min khiifatih (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memujiNya karena rasa takut kepadaNya)"
Atau doa-doa pribadi yang ingin kita panjatkan kepadaNya..

Bel sekolah berbunyi, bergegas saya meraih payung untuk menjemput anak saya di gate kantin sekolah, meeting point orang tua dan murid, berlari kecil sambil menggumamkan doa yang terlambat saya lantunkan.



Ah... Meruginya saya...

Selasa, 14 Juni 2016

KEHILANGAN...

Kehilangan adalah kata yang mempunyai makna tersirat akan sebuah kesedihan. Siapapun orangnya tak akan suka mengalami peristiwa ini. Kata dasarnya saja -HILANG- sudah mengandung arti yang tidak menyenangkan. Apalagi jika ditambah dengan awalan dan akhiran ke-an. Ketidaksengajaan atas hilangnya sesuatu.

Beberapa kali saya mengalami kehilangan. Tapi ada beberapa kehilangan yang membekas dihati saya yang menimbulkan kesedihan setiap kali saya tanpa sadar teringat kembali.
Diantaranya, kehilangan kucing peliharaan adalah kejadian pertama yang saya alami pada masa kecil. Kucing kesayangan saya yang masih kitten secara tiba-tiba lenyap tak ada jejak. Saya mencari kesana kemari. Mengitari setiap sudut rumah. Sedih. Mama kucingpun tak kalah sedih. Hingga setelah beberapa hari tercium bau tidak sedap dari plafon rumah. Dan ya, kucing lucu saya tergeletak disana, sudah tak bernyawa. Saya tak habis mengerti, dengan bagaimana cara dia memanjat kesana.

Kehilangan ayah merupakan kehilangan yang sangat susah saya ungkapkan dengan kata-kata. Di usia sepuhnya, 75 tahun, ayah dipanggil kembali oleh Sang Pemilik setelah mengalami sakit komplikasi mulai dari pankreas, empedu yang terpaksa dibuang dan prostat yang malfungsi. Sempat dirawat di rumah sakit beberapa bulan, justru ayah berpulang setelah keluar dari rumah sakit dan merayakan Iedul Fitri bersama kami. Euforia berkumpul anak dan cucu yang diselingi kue-kue lebaran membuat ayah melupakan pantangan makanan dan mencicip kue-kue lebaran itu. Dan... Ya, beliau kembali drop dan kembali dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari di ruang ICU, ayah tak tertolong lagi. 

Saya berada di Jakarta dan ayah dirawat di sebuah RS di Cilegon, ketika ibu mengabarkan ayah telah berpulang. Ada sesuatu yang tercabut dari hati saya dan menyisakan ruang kosong, luas tak berdinding yang dingin dan tak berwarna. Sampai sekarang ruang kosong itu kembali hadir ketika saya sedang merindukan ayah atau diantara doa-doa tengah malam saya.

Ada juga perasaan kehilangan bercampur amarah ketika rumah saya dibobol maling di siang bolong. Hanya beberapa jam saya pergi, ke sebuah mall untuk membeli perlengkapan haji adik mama mertua. Dan ketika pulang saya lihat pagar dan pintu rumah sudah terbuka tanpa ada kerusakan. Ketika laporan ke polisi tak membuahkan hasil apapun, akhirnya kemarahan berganti menjadi kepasrahan, tawakal dan rasa syukur tiada henti : bawa Allah SWT sangat menyayangi kami.

Masih tentang kehilangan..
Dan tiba-tiba saya terpikir untuk menulis ini selepas percakapan di personal message dengan sahabat lama masa sekolah dahulu. Tentang sebuah perasaan yang sama-sama kami rasakan akan kerinduan masa sekolah dan segala perintilannya. Tawa, riang-canda serta tangis. Benci dan juga rindu. Yang kami sadari kini telah jauh dan semakin jauh...
Ada rasa kehilangan disana. Kehilangan yang berbeda. Kehilangan akan sesuatu yang sejatinya belum sepenuhnya menghilang karena disana bagian dari masa lalu itu masih ada. Ingin kembali merengkuh, tapi segala kesoksibukan dan ego telah menghempaskan lengan yang terkembang... 


Dan kemudian luruh kembali...