Kehilangan adalah kata yang mempunyai makna tersirat akan sebuah kesedihan. Siapapun orangnya tak akan suka mengalami peristiwa ini. Kata dasarnya saja -HILANG- sudah mengandung arti yang tidak menyenangkan. Apalagi jika ditambah dengan awalan dan akhiran ke-an. Ketidaksengajaan atas hilangnya sesuatu.
Beberapa kali saya mengalami kehilangan. Tapi ada beberapa kehilangan yang membekas dihati saya yang menimbulkan kesedihan setiap kali saya tanpa sadar teringat kembali.
Diantaranya, kehilangan kucing peliharaan adalah kejadian pertama yang saya alami pada masa kecil. Kucing kesayangan saya yang masih kitten secara tiba-tiba lenyap tak ada jejak. Saya mencari kesana kemari. Mengitari setiap sudut rumah. Sedih. Mama kucingpun tak kalah sedih. Hingga setelah beberapa hari tercium bau tidak sedap dari plafon rumah. Dan ya, kucing lucu saya tergeletak disana, sudah tak bernyawa. Saya tak habis mengerti, dengan bagaimana cara dia memanjat kesana.
Kehilangan ayah merupakan kehilangan yang sangat susah saya ungkapkan dengan kata-kata. Di usia sepuhnya, 75 tahun, ayah dipanggil kembali oleh Sang Pemilik setelah mengalami sakit komplikasi mulai dari pankreas, empedu yang terpaksa dibuang dan prostat yang malfungsi. Sempat dirawat di rumah sakit beberapa bulan, justru ayah berpulang setelah keluar dari rumah sakit dan merayakan Iedul Fitri bersama kami. Euforia berkumpul anak dan cucu yang diselingi kue-kue lebaran membuat ayah melupakan pantangan makanan dan mencicip kue-kue lebaran itu. Dan... Ya, beliau kembali drop dan kembali dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari di ruang ICU, ayah tak tertolong lagi.
Saya berada di Jakarta dan ayah dirawat di sebuah RS di Cilegon, ketika ibu mengabarkan ayah telah berpulang. Ada sesuatu yang tercabut dari hati saya dan menyisakan ruang kosong, luas tak berdinding yang dingin dan tak berwarna. Sampai sekarang ruang kosong itu kembali hadir ketika saya sedang merindukan ayah atau diantara doa-doa tengah malam saya.
Ada juga perasaan kehilangan bercampur amarah ketika rumah saya dibobol maling di siang bolong. Hanya beberapa jam saya pergi, ke sebuah mall untuk membeli perlengkapan haji adik mama mertua. Dan ketika pulang saya lihat pagar dan pintu rumah sudah terbuka tanpa ada kerusakan. Ketika laporan ke polisi tak membuahkan hasil apapun, akhirnya kemarahan berganti menjadi kepasrahan, tawakal dan rasa syukur tiada henti : bawa Allah SWT sangat menyayangi kami.
Masih tentang kehilangan..
Dan tiba-tiba saya terpikir untuk menulis ini selepas percakapan di personal message dengan sahabat lama masa sekolah dahulu. Tentang sebuah perasaan yang sama-sama kami rasakan akan kerinduan masa sekolah dan segala perintilannya. Tawa, riang-canda serta tangis. Benci dan juga rindu. Yang kami sadari kini telah jauh dan semakin jauh...
Ada rasa kehilangan disana. Kehilangan yang berbeda. Kehilangan akan sesuatu yang sejatinya belum sepenuhnya menghilang karena disana bagian dari masa lalu itu masih ada. Ingin kembali merengkuh, tapi segala kesoksibukan dan ego telah menghempaskan lengan yang terkembang...
Dan kemudian luruh kembali...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar