Sabtu, 23 Juni 2018

Proses Adaptasi Itu Menyenangkan


**Kenaikan kelas telah tiba. Bungsu saya naik ke SD kelas enam. Itu artinya kembali saya bersiap berpacu mendampinginya menghadapi UN, mengejar pelajaran yang tertinggal sejak kelas satu sampai kelas empat**

Hmmm baru juga saya lega tahun sebelumnya mendampingi dua anak menjalani kelas ujung, sembilan dan dua belas. Kelas penentu kelulusan jenjang pendidikan, yang Alhamdulillah berbuah penuh kesyukuran. 

Kami pindah ke Indonesia tepat saat anak pertama menginjak kelas duabelas dan anak kedua menginjak kelas sembilan. Menjelang UN. Setelah sebelumnya hanya mengenal kurikulum Cambridge. 
Tak banyak cerita bagi anak pertama, karena dia memilih Homeschooling, bisa mengatur ritme belajar sesuai kebutuhan UN dan rencana perguruan tinggi nanti.
Tapi bagi anak kedua, yang memilih sekolah formal, perjuangan lebih terasa. Karena mata pelajaran yang lebih banyak, jam belajar yang terikat, seragam dan segala kegiatan formal lainnya. Namanya juga sekolah formal.
Bagi si nomor dua, ini UN pertamanya. Akan menjadi pengalaman pertamanya. Sebelumnya, di level primary/SD dia menjalani CPC (Cambridge Primary Checkpoint) sebagai syarat kelulusan. CPC dalam arti sesungguhnya. Bukan seperti CPC di sekolah Indonesia yang mempunyai program bilingual. Saya bisa membedakan situasi, atmosfer dan adrenalinnya karena anak kedua dan ketiga saya juga sekolah di program bilingual seperti ini.
Jadi, total anak kedua ini hanya belajar selama delapan bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi UN yang lumayan horror itu. . Dalam waktu delapan bulan itu juga dia harus catch up semua level pelajaran SMP, sejak kelas tujuh sampai kelas sembilan.
Try out bertubi-tubi hampir setiap bulan, membuat dia tak merasa enjoy lagi menghadapinya. Padahal sesuatu yang dianggap biasa, tentu akan dipersiapkan secara biasa juga. Berbeda dengan sekolah sebelumnya dimana try out (yang biasa disebut Mock CPC) hanya dilakukan sekali, dan well prepared.
Maka kami -saya dan anak saya- harus bahu membahu dan saling menyemangati untuk tak mudah merasa jenuh. 
Belum lagi adaptasi dan sosialisasi di sekolah baru yang mengandung aroma bullying karena keterbatasan kemampuan Bahasa Indonesia anak saya. Bahkan hanya karena anak saya tak pandai mengucap loe-gue sudah cukup menjadi bahan tertawaan. Belum lagi culture shock, perbedaan kebebasan berbicara di kelas. disini, berbicara yang tidak sependapat dengan guru langsung dicap tidak mensukseskan program sekolah, bahkan cap tidak sopan terhadap guru.
Ini uji nyali yang sesungguhnya. Masalah mental.

Hal serupa juga dialami anak bungsu saya.
Kelas lima SD tentu bukan level yang mudah untuk dilalui bagi anak yang memiliki keterbatasan Bahasa  Indonesia. Pelajaran mulai sulit. Diantara dua anak yang lain, si bungsu ini paling RIP Bahasa Indonesianya. Jadi, setiap belajar saya harus berada di sampingnya. Mengartikan kata demi kata dalam paragraf ke dalam bahasa Inggris.  Seringkali tak hanya mengartikan, tapi harus mengilustrasikan dan memberikan contoh agar dia bisa memahami. Dia tak faham apa itu memangsa, menerkam. Apa beda pelajaran IPS dan PKN. Belum lagi pelajaran matematika yang banyak memiliki perbedaan istilah. Misalnya sudut lancip adalah acute, apa itu segi empat, kubus, luas, keliling. Atau istilah sudut, rusuk, sisi.. semuanya sungguh berbeda.
Bullying? Jangan tanya.. sama saja seperti yang dialami oleh kakaknya. Hanya saja si bungsu membungkam para pembully dengan nilai. Dia tipe pejuang. Ya, memang dia tak punya pilihan lain kecuali berjuang dan belajar keras.

Kepada ketiga anak saya, selalu saya ucapkan resiko sering berpindah domisili adalah kita bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dari mereka yang berada di zona nyaman. Dan ini tidak selalu menyenangkan. Tidak selalu mudah. Ada gundah dan terkadang ada air mata.

Tapi sisi baiknya adalah, kita punya kesempatan lebih banyak untuk belajar beradaptasi. Beradaptasi dengan cepat agar tak tergilas oleh lingkungan dan situasi baru.  Kita bisa lebih struggle menyetarakan diri. Berkesempatan memperluas pertemanan dan pengalaman. 
Ambil saja sisi baiknya, hempas saja sisi buruknya. Hypnotize yourself  bahwa proses adaptasi itu menyenangkan.

Most of all, tentu untuk membulatkan tekad agar tak surut langkah, tak lupa selalu menyematkan doa.
“Laa haula wa laa quwwata illa billaah” 
(tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)

Robbi adhilni mudhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj alli min ladunka sultoonan nashiro”
(Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolong)— QS Al Isra : 80

"Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul munzilin" (Ya Tuhamku, tempatkan aku di tempat yang diberkahi. Dan engkaulah sebaik-baik pemberi tempat"-- (QS al-Mu'minun : 29)

Jakarta, 23 Juni 2018

Sabtu, 16 Juni 2018

Lebaran, Ada THR kah?

*** H+1 lebaran, kami berada di suatu desa bernama Sindang Haji, wilayah Majenang nun di salah satu bagian dari Jawa Tengah. Fakir sinyal. Susah posting apapun, susah browsing apapun. Memaksimalkan hablumminannas karena perhatian tak terdistract ke gadget. Atau malah memaksimalkan lazy dayskarena cuaca yang panas kering lebih kondusif untuk leyeh-leyeh di kamar saja, hahaha..***

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang paling ditunggu anak-anak di saat lebaran adalah THR dari kami, orang tuanya sebagai reward pencapaian ibadah selama ramadhan. Sebagian orang mungkin berpendapat : “ibadah kok dikasih imbalan uang, biarkan anak beribadah sesuai dengan kehendak hatinya, tanpa pamrih imbalan”. 
Tapi bagi kami, THR hanya salah satu trigger    menyemangati mereka beribadah. Di usia dini ibadah memang perlu pembiasaan, nantinya setelah mereka dewasa, pembiasaan ini diharapkan akan melekat menjadi semacam kebutuhan batiniah yang tanpa embel-embel reward THR akan mereka buru dengan penuh kesadaran. Semoga...

Kami -saya dan anak-anak- mempunyai kesepakatan beberapa penilaian untuk menentukan besaran nominal THR. Biasanya kami mempersiapkan white board untuk mencatat agenda harian yang isinya antara lain berapa halaman membaca Al-Quran, membaca Al-Kahf setiap hari jumat, I’tikaf di 10 hari terakhir. Hafalan Al-Quran tentunya menjadi tambahan poin yang besar. Jadi besaran THR bukan adil sama rata untuk semua anak, atau tergantung usia, melainkan adil menurut pencapaian ibadah ramadhan ini. Pernah suatu ketika anak bungsu saya justru mendapatkan poin tertinggi, yang artinya mendapatkan nominal THR paling besar.

Meskipun demikian, saya menanamkan ke anak-anak untuk tak mengharap THR dari orang lain, selain kami orang tuanya. Meskipun hanya dari neneknya. Apalagi om-omnya. Apalagi kerabat jauh.
Dahulu di kampung saya, pas hari raya, anak-anak kecil yang bahkan saya tak kenal anak siapa sering tiba-tiba nyamperin pintu-pintu rumah yang terbuka, bermodus salim dan cium tangan kemudian memasang wajah meminta salam tempel. Serupa dengan trick or treat di saat halloween di luar sana. 
Atau seringkali saya mendengar seorang teman mengajak anaknya bersilaturahim ke famili dengan kata-kata, “Yuk ke rumah Om A, nanti pasti dapat THR.”
Atau, “Ke rumah pak B yuk, THR nya biasanya besar lho, nanti tabunganmu cepat nambah.”
Juga, “Tuh ada tante C, sana minta THR... ga papa, sama tante sendiri ini..”
Bahkan, “Duh sayang ya kemarin nggak ketemu pak De D, jadi ga dapet THR deh.. tapi nanti mama telponin deh, kali bisa uangnya ditransfer aja, atau dititip siapa gitu yang ketemu..”

Saya menghela nafas mendengarnya, sepertinya memang bukan hal yang luar biasa, justru dianggap wajar di momen lebaran. 
Tapi disadari atau tidak, ini akan membekas di fikiran bawah sadar anak-anak bahwa It’s ok meminta-minta. Toh keluarga sendiri, toh bukan orang lain.
Pernah juga lho saya mendengar seorang teman yang terang-terangan bertanya ke anaknya, di depan orang lain, “Udah terkumpul berapa THR nya?”. Seakan lebaran adalah moment untuk mengumpulkan uang tanpa jerih. 

Sebisa mungkin sebagai orang tua, saya menanamkan budaya malu meminta. Kalaupun bukan meminta, malu untuk menyindir. Atau malu untuk mendekat-dekat agar dikasih THR. Dan lebih dalam lagi, malu untuk berharap THR, meski sekedar terbersit dalam hati.
Dari sini, anak-anak malah seringkali lupa menagih reward yang didapat dari poin ramadhan yang telah dikumpulkan dan tercatat dari white board tadi.

Al yadul ‘ulya khoirum minal yadis sufla— tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah (HR Bukhari)
Begitu bunyi salah satu hadist yang saya hafalkan di pelajaran SD dahulu. Bagaimanapun memberi lebih baik dari pada menerima, bukan...

Sindang Haji, 16 Juni 2018

Selasa, 12 Juni 2018

Wisuda : Beda Negara, Beda Kebiasaan

Baru saja saya menghadiri wisuda anak kedua saya yang tamat SMP. Suasana Ramadhan tidak menghalangi kemeriahan acara. Meski anak saya hanya sekolah kurang lebih selama sembilan bulan di sekolah ini, alias dia murid baru, karena kami baru pindah ke Indonesia dari negara tetangga, tapi dia ikut mencoba tune in.

Di Indonesia, Ini bukan wisuda pertama yang saya hadiri. Dari tiga orang anak, sebelumnya saya menghadiri dua kali wisuda TK (anak pertama dan kedua), satu kali wisuda SD (anak pertama) dan satu kali wisuda SMP (anak pertama). Ditambah beberapa kali acara wisuda bukan sebagai orang tua murid, tapi sebagai tamu undangan, sebagai pengurus sebuah sekolah swasta.

Entah kenapa, suasana wisuda di Indonesia khas sekali, warna yang mendominasi adalah warna haru dan kesedihan. Sepertinya nih, semua wisuda yang saya hadiri tidak lepas dari lagu hormat guru, seperti Hymne Guru. 
Juga lagu perpisahan dengan teman semisal “Sampai Jumpa dan Ingatlah Hari Ini.
Atau lagi tema terima kasih atau ekspresi rasa cinta kepada orang tua, seperti Sound track Keluarga CemaraBunda, Lagu Cinta Untuk Mama, Titip Rindu buat AyahYang Terbaik Bagimu. Semuanya berbalut kesedihan dan air mata. Sepertinya tissue adalah bekal wajib untuk para undangan acara seperti ini. Tau sendiri kan, yang namanya orang nangis itu menular. Nangis satu, nular ke sebelahnya, sebelahnya lagi.. sampai akhirnya gerakan bahu dan sedu sedan seragam berirama. Dan saya pernah mengalaminya, meskipun ga bombay-bombay amat.

Pengalaman berbeda saya rasakan ketika tinggal di negara sebelah. Sempat mengikuti wisuda jenjang Montessori (TK-anak bungsu), Primary (SD-anak kedua) dan EGCSE/0 Level (setara kelas 11-anak pertama). Suasananya bertolak belakang, berbeda seratus delapan puluh derajat. Ada rasa sedih sih ketika bersalaman dengan teman dan guru, tapi yang dominan adalah rasa gembira dan optimis menyongsong jenjang pendidikan selanjurnya. 
Lihatlah pemilihan lagu mereka, wisudawan bersama diatas panggung menyanyikan Hall of FameThe Best Day of My Life, Never Say Never, Count on Me. Semuanya berarransemen riang, bukan... 

Saya ga tau mengapa atmosfer yang mewarnai begitu berbeda. Apakah karena kultur budaya? Entahlah. Untuk saya yang kurang menyukai air mata, menghadiri acara perpisahan yang sendu sungguh dilema. Ga nangis, dibilang ga sensi. Tapi dipaksa nangis.. ya bisa sih, tapi sebatas semacam toleransi sama tetangga kursi saja. Di wisuda anak kedua saya barusan, saya beneran nangis ketika di wide screen ditayangkan in memoriam salah satu teman anak saya yang meninggal dunia beberapa minggu sebelum UN karena sakit, kemudian orang tuanya speech di panggung tentang kerinduannya dan belum move on nya dari kehilangan sang buah hati. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amal ibadahnya...

Ah sudahlah, lepas dari apapun suasananya. Ini merupakan pengalaman tersendiri.  Menutup lembaran jenjang pendidikan anak dan bersiap membuka jenjang selanjutnya adalah hal yang indah buat saya. Tantangan baru mendampingi anak melalui fase hidupnya. Tak selalu mudah, tak selalu menyenangkan. Tapi jika sabar, menjanjikan berlapis pahala.

Dan kemudian terngiang di telinga saya sepenggal lirik lagu : “... terima kasih abah, terima kasih emak...”

Jakarta, 12 Juni 2018