**Kenaikan kelas telah tiba. Bungsu saya naik ke SD kelas enam. Itu artinya kembali saya bersiap berpacu mendampinginya menghadapi UN, mengejar pelajaran yang tertinggal sejak kelas satu sampai kelas empat**
Hmmm baru juga saya lega tahun sebelumnya mendampingi dua anak menjalani kelas ujung, sembilan dan dua belas. Kelas penentu kelulusan jenjang pendidikan, yang Alhamdulillah berbuah penuh kesyukuran.
Kami pindah ke Indonesia tepat saat anak pertama menginjak kelas duabelas dan anak kedua menginjak kelas sembilan. Menjelang UN. Setelah sebelumnya hanya mengenal kurikulum Cambridge.
Tak banyak cerita bagi anak pertama, karena dia memilih Homeschooling, bisa mengatur ritme belajar sesuai kebutuhan UN dan rencana perguruan tinggi nanti.
Tapi bagi anak kedua, yang memilih sekolah formal, perjuangan lebih terasa. Karena mata pelajaran yang lebih banyak, jam belajar yang terikat, seragam dan segala kegiatan formal lainnya. Namanya juga sekolah formal.
Bagi si nomor dua, ini UN pertamanya. Akan menjadi pengalaman pertamanya. Sebelumnya, di level primary/SD dia menjalani CPC (Cambridge Primary Checkpoint) sebagai syarat kelulusan. CPC dalam arti sesungguhnya. Bukan seperti CPC di sekolah Indonesia yang mempunyai program bilingual. Saya bisa membedakan situasi, atmosfer dan adrenalinnya karena anak kedua dan ketiga saya juga sekolah di program bilingual seperti ini.
Jadi, total anak kedua ini hanya belajar selama delapan bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi UN yang lumayan horror itu. . Dalam waktu delapan bulan itu juga dia harus catch up semua level pelajaran SMP, sejak kelas tujuh sampai kelas sembilan.
Try out bertubi-tubi hampir setiap bulan, membuat dia tak merasa enjoy lagi menghadapinya. Padahal sesuatu yang dianggap biasa, tentu akan dipersiapkan secara biasa juga. Berbeda dengan sekolah sebelumnya dimana try out (yang biasa disebut Mock CPC) hanya dilakukan sekali, dan well prepared.
Maka kami -saya dan anak saya- harus bahu membahu dan saling menyemangati untuk tak mudah merasa jenuh.
Belum lagi adaptasi dan sosialisasi di sekolah baru yang mengandung aroma bullying karena keterbatasan kemampuan Bahasa Indonesia anak saya. Bahkan hanya karena anak saya tak pandai mengucap loe-gue sudah cukup menjadi bahan tertawaan. Belum lagi culture shock, perbedaan kebebasan berbicara di kelas. disini, berbicara yang tidak sependapat dengan guru langsung dicap tidak mensukseskan program sekolah, bahkan cap tidak sopan terhadap guru.
Ini uji nyali yang sesungguhnya. Masalah mental.
Hal serupa juga dialami anak bungsu saya.
Kelas lima SD tentu bukan level yang mudah untuk dilalui bagi anak yang memiliki keterbatasan Bahasa Indonesia. Pelajaran mulai sulit. Diantara dua anak yang lain, si bungsu ini paling RIP Bahasa Indonesianya. Jadi, setiap belajar saya harus berada di sampingnya. Mengartikan kata demi kata dalam paragraf ke dalam bahasa Inggris. Seringkali tak hanya mengartikan, tapi harus mengilustrasikan dan memberikan contoh agar dia bisa memahami. Dia tak faham apa itu memangsa, menerkam. Apa beda pelajaran IPS dan PKN. Belum lagi pelajaran matematika yang banyak memiliki perbedaan istilah. Misalnya sudut lancip adalah acute, apa itu segi empat, kubus, luas, keliling. Atau istilah sudut, rusuk, sisi.. semuanya sungguh berbeda.
Kelas lima SD tentu bukan level yang mudah untuk dilalui bagi anak yang memiliki keterbatasan Bahasa Indonesia. Pelajaran mulai sulit. Diantara dua anak yang lain, si bungsu ini paling RIP Bahasa Indonesianya. Jadi, setiap belajar saya harus berada di sampingnya. Mengartikan kata demi kata dalam paragraf ke dalam bahasa Inggris. Seringkali tak hanya mengartikan, tapi harus mengilustrasikan dan memberikan contoh agar dia bisa memahami. Dia tak faham apa itu memangsa, menerkam. Apa beda pelajaran IPS dan PKN. Belum lagi pelajaran matematika yang banyak memiliki perbedaan istilah. Misalnya sudut lancip adalah acute, apa itu segi empat, kubus, luas, keliling. Atau istilah sudut, rusuk, sisi.. semuanya sungguh berbeda.
Bullying? Jangan tanya.. sama saja seperti yang dialami oleh kakaknya. Hanya saja si bungsu membungkam para pembully dengan nilai. Dia tipe pejuang. Ya, memang dia tak punya pilihan lain kecuali berjuang dan belajar keras.
Kepada ketiga anak saya, selalu saya ucapkan resiko sering berpindah domisili adalah kita bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dari mereka yang berada di zona nyaman. Dan ini tidak selalu menyenangkan. Tidak selalu mudah. Ada gundah dan terkadang ada air mata.
Tapi sisi baiknya adalah, kita punya kesempatan lebih banyak untuk belajar beradaptasi. Beradaptasi dengan cepat agar tak tergilas oleh lingkungan dan situasi baru. Kita bisa lebih struggle menyetarakan diri. Berkesempatan memperluas pertemanan dan pengalaman.
Ambil saja sisi baiknya, hempas saja sisi buruknya. Hypnotize yourself bahwa proses adaptasi itu menyenangkan.
Most of all, tentu untuk membulatkan tekad agar tak surut langkah, tak lupa selalu menyematkan doa.
“Laa haula wa laa quwwata illa billaah”
(tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
“Robbi adhilni mudhola sidqin wa akhrijni mukhroja sidqin waj alli min ladunka sultoonan nashiro”
(Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolong)— QS Al Isra : 80
"Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul munzilin" (Ya Tuhamku, tempatkan aku di tempat yang diberkahi. Dan engkaulah sebaik-baik pemberi tempat"-- (QS al-Mu'minun : 29)
Jakarta, 23 Juni 2018