*** H+1 lebaran, kami berada di suatu desa bernama Sindang Haji, wilayah Majenang nun di salah satu bagian dari Jawa Tengah. Fakir sinyal. Susah posting apapun, susah browsing apapun. Memaksimalkan hablumminannas karena perhatian tak terdistract ke gadget. Atau malah memaksimalkan lazy dayskarena cuaca yang panas kering lebih kondusif untuk leyeh-leyeh di kamar saja, hahaha..***
Seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang paling ditunggu anak-anak di saat lebaran adalah THR dari kami, orang tuanya sebagai reward pencapaian ibadah selama ramadhan. Sebagian orang mungkin berpendapat : “ibadah kok dikasih imbalan uang, biarkan anak beribadah sesuai dengan kehendak hatinya, tanpa pamrih imbalan”.
Tapi bagi kami, THR hanya salah satu trigger menyemangati mereka beribadah. Di usia dini ibadah memang perlu pembiasaan, nantinya setelah mereka dewasa, pembiasaan ini diharapkan akan melekat menjadi semacam kebutuhan batiniah yang tanpa embel-embel reward THR akan mereka buru dengan penuh kesadaran. Semoga...
Kami -saya dan anak-anak- mempunyai kesepakatan beberapa penilaian untuk menentukan besaran nominal THR. Biasanya kami mempersiapkan white board untuk mencatat agenda harian yang isinya antara lain berapa halaman membaca Al-Quran, membaca Al-Kahf setiap hari jumat, I’tikaf di 10 hari terakhir. Hafalan Al-Quran tentunya menjadi tambahan poin yang besar. Jadi besaran THR bukan adil sama rata untuk semua anak, atau tergantung usia, melainkan adil menurut pencapaian ibadah ramadhan ini. Pernah suatu ketika anak bungsu saya justru mendapatkan poin tertinggi, yang artinya mendapatkan nominal THR paling besar.
Meskipun demikian, saya menanamkan ke anak-anak untuk tak mengharap THR dari orang lain, selain kami orang tuanya. Meskipun hanya dari neneknya. Apalagi om-omnya. Apalagi kerabat jauh.
Dahulu di kampung saya, pas hari raya, anak-anak kecil yang bahkan saya tak kenal anak siapa sering tiba-tiba nyamperin pintu-pintu rumah yang terbuka, bermodus salim dan cium tangan kemudian memasang wajah meminta salam tempel. Serupa dengan trick or treat di saat halloween di luar sana.
Atau seringkali saya mendengar seorang teman mengajak anaknya bersilaturahim ke famili dengan kata-kata, “Yuk ke rumah Om A, nanti pasti dapat THR.”
Atau, “Ke rumah pak B yuk, THR nya biasanya besar lho, nanti tabunganmu cepat nambah.”
Juga, “Tuh ada tante C, sana minta THR... ga papa, sama tante sendiri ini..”
Bahkan, “Duh sayang ya kemarin nggak ketemu pak De D, jadi ga dapet THR deh.. tapi nanti mama telponin deh, kali bisa uangnya ditransfer aja, atau dititip siapa gitu yang ketemu..”
Saya menghela nafas mendengarnya, sepertinya memang bukan hal yang luar biasa, justru dianggap wajar di momen lebaran.
Tapi disadari atau tidak, ini akan membekas di fikiran bawah sadar anak-anak bahwa It’s ok meminta-minta. Toh keluarga sendiri, toh bukan orang lain.
Pernah juga lho saya mendengar seorang teman yang terang-terangan bertanya ke anaknya, di depan orang lain, “Udah terkumpul berapa THR nya?”. Seakan lebaran adalah moment untuk mengumpulkan uang tanpa jerih.
Sebisa mungkin sebagai orang tua, saya menanamkan budaya malu meminta. Kalaupun bukan meminta, malu untuk menyindir. Atau malu untuk mendekat-dekat agar dikasih THR. Dan lebih dalam lagi, malu untuk berharap THR, meski sekedar terbersit dalam hati.
Dari sini, anak-anak malah seringkali lupa menagih reward yang didapat dari poin ramadhan yang telah dikumpulkan dan tercatat dari white board tadi.
Al yadul ‘ulya khoirum minal yadis sufla— tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah (HR Bukhari)
Begitu bunyi salah satu hadist yang saya hafalkan di pelajaran SD dahulu. Bagaimanapun memberi lebih baik dari pada menerima, bukan...
Sindang Haji, 16 Juni 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar