Sabtu, 04 Mei 2024

SWEET SEVENTEEN

      Sampai saat ini saya belum mengerti mengapa usia di angka tujuh belas tahun diidentikkan dengan sesuatu yang sweet

Apakah karena masa puberty? Rasanya tidak ya. Mayoritas usia puberty anak sekarang lebih awal dari angka tersebut. Bisa Tiga belas, empat belas, atau lima belas. Tidak adil rasanya mengesampingkan angka-angka tersebut dan langsung melompat ke angka tujuh belas, untuk sebuah predikat sweet

Apakah karena di usia tujuh belas adalah usia masuk Sekolah Menengah Atas, dimana masa SMA diyakini banyak orang adalah masa yang paling berkesan dan menyenangkan dibanding jenjang pendidikan yang lain? Rasanya sih tidak juga, usia wajar masuk SMA adalah empat belas atau lima belas tahun. Meski memang, iya sih, kalau dari segi menyenangkan, saya sepakat.

Nah, duluuuu... ketika memasuki usia tujuh belas tahun, saya tidak mengalami keistimewaan apapun. Pesta tidak, surprise greeting dari teman-teman juga tidak. Selebrasi kecil di rumah, tidak juga. Mungkin karena memang di keluarga saya tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Flat saja hari lahir saya, gitu terus dari tahun ke tahun. Hari-hari menjelang hari H sampai usia bertambah setahun kemudian, saya tidak merasakan kejutan apapun sepanjang seventeen tadi. Pun tahun-tahun sebelumnya. Dan berlanjut sampai saat ini, ketika saya mempunyai keluarga sendiri. meskipun sebisa mungkin saya tidak melupakan hari ulang tahun suami dan anak-anak saya, tapi jikapun di hari ulang tahun saya mereka lupakan (dan itu pernah terjadi), bukan masalah besar bagi saya. Hahhaha...

*********

Oke, lupakan saja tentang paragraf-paragraf pembukaan yang tidak jelas tadi :)

Tahun ini, anak bungsu saya ulang tahun ke tujuh belas. Alhamdulillahirabbil alamiin. Dia antusias untuk mengambil KTP di kelurahan, dimana jauh-jauh bulan sebelumnya sudah melakukan perekaman data di Balai RW, secara kolektif. Menjelang hari H, setiap hari yang ditanyakan kapan pergi ke kelurahan untuk ambil KTP, dan tentunya bersiapan untuk meminggirkan KIA nya,  sebagai artefak yang akan kami simpan di album memori. (Oh ya, kami memiliki album foto berperekat yang isinya adalah benda-benda bersejarah yang bisa kami kenang. Contohnya, tiket perjalanan haji, tiket wisata ke suatu tempat, ID Card negara dimana kami pernah tinggal, kartu pelajar setiap jenjang sekolah, dan masih banyak lagi). Kenapa niat amat membuat album memori, ya karena itu merupakan kenangan dan bagian dari puzzle perjalanan hidup kami, selain foto-foto tentunya.

Ah.. saya mulai kehilangan arah ingin menulis apa...  Mungkin karena saya simpan tulisan ini sebagai draft sejak tanggal 7 Maret 2024. Kemudian terlupakan. Kemudian dibuka kembali tanggal 4 Mei 2024. Tulisan yang tadinya akan berkaitan dengan ulang tahun anak saya, telah kehilangan momen, terlewat 37 hari.

Baiklah, pada hari itu, ucapan selamat sudah dibisikkan, kado sudah diberikan, lantunan doa sudah dilangitkan. Sekarang yang tersisa adalah perasaan yang ramai antara bahagia karena anak bungsu beranjak dewasa dan kekhawatiran apakah saya adalah ibu yang menyenangkan baginya untuk membersamai menata tangga demi tangga yang akan dia pijak meniti masa depannya. Biru sekali rasanya...

"Nak, jika kau membaca ini suatu saat nanti, jika tak kau temukan satu doa pun untukmu, jangan kau risau karena sesungguhnya doa ibu tersemat di ujung sujud. Terima kasih sudah menjadi anak ibu, yang selalu membuat ibu tersenyum ketika gurumu memujimu di depan ibu. Boleh ibu minta sesuatu darimu? Jangan lupa bawa ibu dalam doamu, dan lipatgandakan doamu ketika masa ibu sudah usai nanti". 

Happy belated birthday, March 23,  love you...

Jakarta, 4 Mei 2024