Rabu, 30 September 2015

Sungguh.. Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (3)

     Hari-hari di Mekkah sepulang dari Mina berjalan seperti biasa, seperti sebelum armina. Saya lebih santai. Lebih menambah speed target-target ibadah. Jika sebelum armina saya lebih hati-hati menjaga stamina tubuh dan makanan karena kuatir ambruk saat wukuf. Sekarang mulai teledor. Itu makanya suara sempat hilang karena mulai berkuliner bersama suami, terutama menjelajahi jus buah yang warna dan penampilannya melambai-lambai untuk dicoba. Hanya suara yang hilang, alhamdulillah. Sehingga rutinitas ke alHaram berjalan normal. 
     Tak dipungkiri, saya betah disini. Sayangnya datang berita sedih dari ibu saya yang membuat konsentrasi ibadah saya buyar sebuyar-buyarnya. Anak bungsu saya, Nisrina (waktu itu berumur 2 tahun) masuk rumah sakit. Dehidrasi. Malas makan dan minum. Mungkin karena mulai rindu orangtuanya yang membuat dia malas makan-minum. Saya ingin pulang. Andai pesawat bisa di stop semudah menyetop angkot. Andai pesawat bisa dilambai semudah kita melambai ojek....
     Doa demi doa mewarnai hari-hari saya dan suami. Teman-teman serombonganpun mendoakan kesembuhan Nisrina. Di tawaf putaran ke tujuh doa dilantunkan oleh ketua rombongan dan kami aminkan. Tangis saya pecah. Antara terharu atas perhatian mereka dan keinginan memeluk anak.
      Hati saya tak menentu menunggu kabar baik dari ibu. Di pelupuk mata hanya ada wajah anak saya. Handphone pun selalu saya pandangi dengan cemas. Kuatir ada kabar buruk datang. Komunikasi dengan data belum seluas sekarang. Belum ada bbm, whatsapp ataupun line. Semuanya hanya mengandalkan sms dan phone call. Ketika saatnya bertelpon pun anak saya hanya mau mendengar suara saya. Tak hendak menjawab.  Sembilan hari bukan waktu yang pendek untuk batita dehidrasi yang dirawat di rumah sakit. Sembilan hari bukan waktu yang singkat untuk seorang ibu yang berada jauh dari anaknya yang sedang sakit. Sampai akhirnya Alhamdulillah... Nisrina boleh pulang ke rumah. Sujud syukur kaminkepadaMu ya Allah...
     Kesembuhan ini tak lepas dari kekuatan doa. Banyak tempat yang menjanjikan doa-doa makbul disini. Multazam, belakang Maqam Ibrahim, setelah tawaf, Hijr Ismail adalah beberapa yang diantaranya. Itu pula yang membuat teman-teman dan kerabat, sebelum kami berangkat ke tanah suci, pada menitipkan doa untuk dibacakan di tempat-tempat multazam tersebut. Waktu itu sengaja saya tulis di buku satu persatu nama dan doa mereka. Agar tak ada yang terlewatkan ketika saya membacakan doa. Ini terinspirasi ketika kanak-kanak, ibu saya berkunjung ke seorang teman yang akan berhaji. Ibu saya menitip doa  agar bisa berhaji dan teman ibu saya ini mencatatnya. Untuk ukuran perekonomian ayah-ibu saya saat itu, pergi haji hanyalah mimpi yang begitu jauu....h. Dan titipan doa yang dicatat ini melambungkan semangat tersendiri untuk ibu saya. Demikian kuatnya keinginan ibu saya untuk berhaji, waktu itu setiap ada teman yang akan berhaji ibu selalu berkunjung dan menitip doa. Titipan yang dijawab dengan jawaban "Insya Allah, nanti didoakan", atau jawaban "Semuanya pada waktunya akan berangkat haji". Tak salah memang, tapi dengan mencatatnya maka orang yang titip akan lebih bersemangat dan yang dititipin akan berusaha menunaikan amanah dengan lebih baik. That's why.. kenangan masa kecil itu saya simpan di kepala, bahwa suatu saat nanti, jika Allah memberi kesempatan saya untuk berhaji, akan saya catat satu demi satu, saya bacakan di tempat-tempat mustajabah satu demi satu. 
     Dan berbicara tentang tempat mustajabah disini, sungguh, jangan pernah sedikitpun meragukan. Jangankan doa-doa serius yang ingin dipanjatkan. Omongan yang tak seriuspun dalam hitungan waktu yang singkat akan menjadi kenyataan. Dua hal yang saya ingat dan tersenyum sendiri setiap mengenangnya. Suatu pagi sepulang dari alHaram sambil berjalan kaki saya rasan-rasan sama suami kenapa disini ga ada kucing. Ini pertanyaan tidak penting memang. Tapi bagi saya si pemerhati kucing ini, pertanyaan itu terlontar begitu saja. Dan.... sekejap, esoknya hampir setiap hari saya selalu bertemu kucing. Di Masjid depan penginapan, di jalanan, di gerbang alHaram.. dimana-mana, bahkan ada yang menguntit saya atau menggosokkan badannya di kaki saya.. hehehe..
     Tak belajar dari pengalaman pertama, kembali saya berbincang dengan suami bahwa di Mekkah ini, terutama musim haji adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin semua bangsa di dunia. Tapi mengapa saya belum pernah berjumpa bangsa Tiongkok dan Jepang. MasyaAllah.. kembali Allah menunjukkan kuasanya... setelah ucapan itu setiap hari saya bertemu mereka. Di putaran tawaf, di shaf-shaf shalat, di toko-toko makanan.. (oh ya, setelah armina kami memang lebih sering jajan dibanding makanan jatah dari pemerintah. Selain bosan dengan menunya, rasanya belum lengkap kalau tidak mencoba kuliner negara ini). Sampai saya hafal sangat gaya berbusana mereka. Cara mereka berkerudung dan baris berbaris jika tawaf berombongan.. hahaha.. di tempat suci ini rasanya saya harus menyudahi omongan-omongan yang tak perlu. Kuatirnya jika yang keluar dari mulut saya adalah omongan jelek dan Allah mengabulkannya.. Naudzubillaahi min dzalik..
     Tapi... sudah waktunya kami berkemas meninggalkan Mekkah untuk beranjak ke Madinah, masjid Nabawi, menziarahi masjid dan makam Rasulullah SAW. 32 hari telah kami lalui di Mekkah. Sungguh sedih ketika harus mengemas koper. Meninggalkan area favorit saya yaitu lintasan tawaf. Lantai yang saya selalu merasa adem jika bersimpuh diatasnya sambil memandangi Ka'bah setelah sholat sunnah ba'da tawaf di belakang Maqam Ibrahim. Sebersit pertanyaan konyol melintas di kepala saya.. kenapa harus ke Madinah. Kenapa tidak disini saja... tawaf wada' saya jalani sambil menangis. Tak rela berpisah.. berharap sangat untuk kembali..

**bersambung**

Jumat, 25 September 2015

Sungguh... Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (2)

  Saat yang dinantikan pun datang, puncak ibadah haji. "Alhajju arafah" haji adalah arafah. Ba'da ashar kami sudah rapi berada dalam bus. Hujan deras diiringi sesekali kilat berkelabat. Saat-saat mustajabah untuk berdoa. Saya hanya berdoa memohon kelancaran dan kesehatan menjalani inti ibadah haji ini. Masih mengambang seperti apa Arafah, Muzdalifah dan Mina (armina) nantinya. Karena pada saat manasik haji tidak dibahas secara visual tentang hal ini. Sebenarnya saya bisa mencari tahu suasana armina melalui internet. Tetapi tahun itu google dan youtube belum se booming sekarang. Saya memanfaatkan internet baru sebatas facebook dan email.. ya.. lagi-lagi ndeso sekali saya hehehe...
     Bus belum bergerak. Lumayan lama kami berada di bus. Tidak jelas, menunggu hujan reda atau menunggu kabar aliran lalu lintas menuju Arafah sedikit longgar. Karena pada saat-saat seperti ini lalu lintas begitu padat karena seluruh jamaah calon haji berbondong-bondong menuju arah yang sama. Kami bertalbiyah.
     Diwarnai kejadian bus nyasar karena sopir tak tahu jalan, disebelah mana tenda regu kami berada, adalah hikmah tersendiri. Kami tak basah kuyup di dalam tenda.. Alhamdulillah.. Karena pada saat sopir sibuk mencari arah, rupanya tenda kami tempias oleh air hujan yang begitu deras. Bahkan air menggenangi karpet-karpet alas tenda. Sebelum berangkat ke tanah suci, mengingat saya suka sesak nafas ketika menghirup debu, ibu saya menasehatkan untuk membawa alas kain karena karpet tenda yang disediakan biasanya kotor berdebu. Tapi dengan kondisi karpet yang kuyup seperti ini, alas kain pun pasti ikutan kuyup... lagi-lagi alhamdulillah teman se rombongan membawa tikar plastik. Jadilah saya ikutan nebeng di tikar yang sambung menyambung itu.
     Malam itu, udara sejuk selepas hujan sangat membantu kami. Tidak kepanasan dan tidak dinyamukin. Malam semakin larut dan suasana semakin syahdu. Di beberapa sudut tenda terdengar suara mengaji dengan penerangan senter, juga jamaah yang sholat tahajud dengan sujud-sujud yang panjang.
    Menjelang khutbah wukuf kami duduk bersaf-saf, merasakan kedekatan dengan sang Khaliq. Kedekatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Merasa malu dan berkecil hati siapalah saya ini sehingga disaat seperti ini Allah yang Maha Agung membanggakan kami kepada para malaikatNya. Siapalah saya ini yang jika bukan karenaNya tidaklah mungkin berada disini. Shalat dzuhur dan ashar yang berjamaah yang dilaksanakan secara jamak terasa begitu istimewa. Isak tangis tertahan mulai terdengar disana sini.
Hawa panas siang hari tak lagi terasa ketika kami bersama mengumandangkan talbiyah dan zikir sepanjang siang sampai menjelang maghrib. Hanya airmata. Hanya permohonan ampun. Tubuh saya bergetar, mata saya terasa berat untuk dibuka. Sembab (Nantinya saya menyadari sembabnya mata ketika melihat foto-foto dokumentasi. Sore hari, ketika prosesi wukuf berakhir, acara foto-foto mah tetep lah ya... hehehe). Menjelang maghrib kami keluar tenda, berdoa menghantarkan sejumlah permohonan. Saya sempat blank disitu. Apa lagi yang harus saya pinta. Semua kenikmatan telah Allah berikan tanpa perhitungan. Tak kuasa mulut saya berucap kecuali permohonan ampun dan ucapan syukur. Saya blank, hanya ingin waktu terhenti, hanya ingin suasana ini tidak cepat berlalu. Sampai kemudian ketika saya kembali tersadar bahwa ini adalah saat-saat mustajabah terkabulnya doa, saya menambahkan segala doa kebaikan untuk keluarga saya, anak-anak dan orang tua.
     Menjelang maghrib, pengumuman mulai terdengar agar kami berkemas bersiap memasuki bus. Perjalanan menuju Muzdalifah memakan waktu antara 2-3 jam karena padatnya lalu lintas. Padahal jarak Arafah-Muzdalifah hanya sekitar 9 km. Dari jendela bus saya melihat rombongan jamaah haji dari negara lain yang berjalan kaki. Ya, di situasi seperti ini berjalan kaki tentunya lebih cepat daripada berkendaraan yang sering kali terhenti mengantri. Ketika kami sampai Muzdalifah, tampak jamaah bergerombol sana sini mengumpulkan kerikil-kerikil kecil yang akan kami gunakan untuk melontar jumroh di Mina nanti. Dari negara manapun, perlengkapan kami sami sama : kantong kerikil dan senter hehehe...
     Setelah jamak qashar maghrib dan isya' beralaskan tikar, beratapkan langit saya terdiam. Badan mulai lelah. Memandangi sekitar. Lautan manusia berkain putih, lelah, tak wangi. Dengan kepasrahan tingkat tinggi hanya kepada Sang Pemberi Kehidupan.
     Lewat tengah malam, bus tumpangan maktab kami telah menunggu. Bergiliran. Pertanda kami bersiap bergerak ke Mina. Tidak menunggu fajar. Karena bisa dibayangkan jika semua jamaah bergerak ke Mina diwaktu yang sama pasti lalu lintas tak akan bergerak saking padatnya. 
     Marathon kami melanjutkan jumroh aqobah sesaat setelah meletakkan tas dan perbekalan di tenda. Saya sedikit demam. Badan melayang terasa ringan seolah tak menapak bumi. Gamang, mampukah saya berjalan kaki ke area jamarat yang kabarnya mencapai 2-3 km dari tenda kami. Jarak itu dikalikan dua untuk kembali ke tenda penginapan. Beriringan diantara lautan manusia yang semuanya juga pastilah dalam kondisi lelah. Bismillah.. Hanya berbekal doa memohon kekuatan "Laa khaula wa laa quwwata illa billah" dan "Khasbunallaahu wa ni'mal wakiil", makan beberapa biji kurma dan minum air zam-zam saya membulatkan tekad untuk melangkahkan kaki di waktu menjelang subuh itu. Tidak saya keluhkan dropnya stamina saya ke siapapun karena saya sadar betul kami semua sedang lelah. Suami yang menunggu di depan tenda saya (kami berada di tenda yang terpisah antara rombongan laki-laki dan perempuan) untuk bersama ke jamarat membuat semangat saya mulai terpompa. Setengah perjalanan, Alhamdulillah badan saya mulai segar kembali. Melewati jalanan dimana tenda-tenda di kiri kanan kami berdiri, tenda-tenda jamaah negara lain dengan lambaian bendera yang beraneka ragam, melewati terowongan Muaisim yang panjang, blower-blower yang besar agar sirkulasi udara dalam terowongan tidak pengap. Saya menikmatinya. Finally.. alhamdulillah jumroh aqabah akhirnya bisa saya jalani dengan lancar.
     Selama di Mina, di siang dan malam hari saya sempatkan jalan-jalan diseputaran maktab, melihat pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mulai dari batu akik, kerudung sampai souvenir hiasan meja. Warung-warung dadakan penjual buah dan popmie juga bermunculan. Hajatan tahunan haji ini dimanfaatkan betul oleh penduduk Mina untuk menjemput rizki. Jika di hari-hari biasa Mina adalah daerah yang sepi, maka di momen-momen seperti ini Mina menjadi ramai dan hidup. Lagi-lagi saya menikmati pengalaman ini. Saya abaikan pengalaman panjangnya antrean toilet yang membuat saya galau jika ingin minum karena tak mau terlalu sering berurusan dengan toilet. Saya abaikan catering yang menunya dibawah standar yang membuat selera makan saya turun di limit terendah. Saya abaikan gunungan sampah di pojok-pojok kawasan maktab yang membuat saya menahan nafas setiap kali melewatinya. Meski saya sempat membahasnya dengan suami. Membandingkan dengan maktab negara lain, tapi saya anggap itu bahan diskusi yang membuka wawasan kami. Hingga akhirnya habislah masa tinggal di Mina ketika kami harus bergerak kembali ke Mekkah karena rombongan saya memilih mengikuti nafar awal, artinya kami tinggal di Mina hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah. 
     Semua hal yang saya nikmati selama rangkaian perjalanan haji sejenak terhenti di momen ini... huhuhu... didalam bus, perjalanan kembali ke kota Mekkah, diantara parahnya kemacetan lalu lintas. Bus kami benar-benar terhenti tak bergerak. Dan saya mual. Perpaduan antara sopir bus yang rem-gas-rem-gas dan kondisi fisik yang kembali lelah membuat perut saya teraduk-aduk. Semerbak bau balsem mulai bermunculan dari beberapa arah tempat duduk. Makin membuat saya tersiksa. Ya sudahlah... saya tambahin saja bebauan itu dengan minyak kayu putih yang saya bawa... heheheh... sekalian deh...kali ini saya beneran tidak menikmati. Dan ketika Masjidil Haram telah tampak, saya dan suami memilih turun dari bus. Beberapa teman seusia (waktu itu tergolong usia muda) mengikuti. Di jalanan itu kami hafal betul arah mana yang harus dituju untuk sampai ke penginapan di Mekkah. Mungkin berjalan kaki akan lebih cepat sampai tujuan daripada duduk mual di bus yang entah kapan akan bergerak maju....

**bersambung**

(Cerita ini saya tulis ketika kembali terjadi tragedi di musim haji tahun 2015 ini. Hitungan sementara 750 jiwa syahid karena berdesakan menuju lokasi jamarat. Ini musibah ke dua setelah crane yang tumbang di pelataran Masjidil Haram. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihi wa'fuanhum.. Kematian yang indah..
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah.. irji'ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah. Fadkhuli fii ibadii wadkhulii jannatii -al Fajr 27-30)

Minggu, 20 September 2015

Sungguh.. romantisme bersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang


     Membaca sebuah harian, satu demi satu kelompok terbang haji mulai meninggalkan tanah air. Dengan niat, tujuan dan hati yang sama : panggilan Allah SWT untuk menjadi tamuNya.
     Hati saya selalu biru terharu setiap kali musim haji tiba. Terlebih jika ada keluarga dan teman yang berangkat. Bercanpur antara gembira, envy dan bernostalgia. Membuka lembar demi lembar memori  yang tersimpan rapi. Tak ingin menghapusnya.
     Saya berhaji bersama suami tahun 2009. Meski beberapa kali Allah memberi kesempatan untuk kembali berumrah di tahun-tahun berikutnya, pengalaman berhaji ini tetap menjadi yang teristimewa. Karena itulah kunjungan pertama. Umrah pertama dan haji pertama (pengennya sih nulis semoga akan ada haji-haji berikutnya.. tapi sungkan sama yang sedang waiting list).
     Karena masuk gelombang ke 2, kami langsung menuju Mekkah. Cuaca mulai dingin, tak lagi ekstrem panas seperti bulan-bulan sebelumnya. Mirip-miriplah dengan cuaca Jakarta. Kecuali kelembaban udara yg lebih kering dan jam biologis yang berselisih 4 jam lebih lambat daripada Waktu Indonesia Bagian Barat. Saya membutuhkan waktu 2-3 hari untuk penyesuaian ritme harian tubuh.
     Sembilan jam perjalanan pesawat tak terlalu saya rasakan. Tertutup oleh antusiasme dan keingintahuan yang tinggi seperti apa Mekah, seperti apa Kabah. Pikiran saya melayang timbul tenggelam antara tak sabar untuk mendarat dan galau meninggalkan 3 anak dibawah umur dirumah bersama ibu dan mertua.
      Beberapa saat menjelang miqot (kami miqot selagi masih di pesawat tepatnya di Qarn al Manazil sekitar 90km sebelum memasuki kota Mekah) saya lebih deg-degan. Sampai akhirnya ketua kloter mengumumkan untuk mengucapkan talbiyah tanda kami telah meniatkan melaksanakan umroh dimana telah berlaku syarat dan larangan-larangan umroh, disitu saya merasakan getaran yang blm pernah saya rasakan sebelumnya. Bergetarnya bibir melafadzkan "Labbaik Allahumma Labbaik dan  bergetarnya hati hingga air mata yang tak tertahankan. Jiwa saya melayang seakan berada disuatu tempat yang jauh. Tapi begitu indah...
                                ****
     Proses imigrasi memakan waktu yang panjang dan menjemukan. Antrean panjang, sesekali adegan serobot dan teriakan petugas menambah rasa lelah yang mulai saya rasakan. Rasa lelah yang membuat saya mulai blank. Hingga akhirnya saya berada dipenginapan. 
     Penginapan saya di kawasan Ma'abdah. Karena saya berangkat dengan haji reguler, sekamar kami rame-rame berlima. Ke empat teman sekamar saya sudah memiliki cucu. Kamar saya berada di lantai 4. Dikemudian hari, jika ngantri lift terasa lama, saya akan naik turun menggunakan tangga saja. Jarak antara penginapan dan masjidil haram sekitar 2km. Tersedia bus antar jemput pulang pergi penginapan-alHaram untuk 5 waktu sholat. Hanya saja, jika selesai waktu sholat saya dan suami masih ingin thawaf sunnah, tentu saja bus sudah bye-bye.. ditinggalin.. dan tentu kami harus siap jalan kaki sejauh 2km utk kembali ke penginapan. Capek.. tapi nyatanya setiap pagi saya tetap aja memilih tinggal lebih lama di masjid dan pulang jalan kaki.. :)

  -----Rasa-rasanya judul ini bakalan menjadi postingan yang panjang... cerita saya belum beranjak berpindah hari.....:* ----

    Hanya beberapa jam di penginapan, kami segera ke alHaram. Bersegera menunaikan umrah pertama. Saya celingukan mencari dimana Ka'bah. (Sebenarnya sejak bus yang saya tumpangi dari bandara menuju Mekah sudah memasuki kota Mekah, saya dengan ndesonya sudah tolah toleh di jendela, mencari Ka'bah. Khayalan katro saya membayangkan seakan Ka'bah itu menjulang seperti Monas atau Tugu Pahlawan di Surabaya hehe..). Kemudian celingukan saya berhenti di satu titik ditengah pusaran arus manusia yang begitu rapat dan ritmik. Khusuk dan syahdu... Allahu akbar... terima kasih Alhamdulillah telah Kau beri kesempatan hamba untuk menyaksikan langsung kiblat kami.. lambang persatuan kami...
     Putaran demi putaran tawaf saya jalani dengan derai air mata yang saya tak bisa menjelaskan tangisan apakah gerangan. Menghayati doa demi doa, lambaian tangan dan kecupan sepenuh jiwa ke arah sudut dimana hajar aswad berada... (sampai detik ini, bagi saya jika berada di Mekah, thawaf adalah ibadah favorit saya. Setiap langkah, melewati Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Multazam, rukun yamani, rukun iraqi.. semua saya resapi keindahannya.. tapi tidak bagi ketiga anak saya. Ibadah favorit mereka adalah sa'i. Karena bisa lari-larian diantara 2 lampu hijau hehehe).
     Umroh pertama telah kami jalani dengan lancar.. Alhamdulillah..
Hari-hari selanjutnya saya lalui dengan ritme yang sama. Jam 2 dini hari ngantri kamar mandi persiapan ke alHaram. Jam 3 berangkat. Jam 10 pagi balik ke penginapan. Duhur-ashar sholat berjamaah di masjid di seberang penginapan. Sore jam 4.30 berangkat ke alHaram untuk sholat maghrib dan isya. Ba'da isya kembali ke penginapan. Rutinitas yang sama tidak membuat saya bosan. Satu-satunya yang membuat saya bosan hanya menu catering yang hanya itu-itu saja. Yang meskipun oleh pihak catering dimasak ala-ala Indonesia, hehheh.. tetap saja rasanya tak sama.  Saya rindu kuliner tanah air :D

**bersambung**

Selasa, 15 September 2015

Koncoan Yuuuk part 2 (Manusia Selalu Berubah)


    Tulisan ini masih tentang tema pertemanan. Ya, memang pertemanan selalu menarik untuk dijalani.. (atau dibahas?). Dengan berteman maka hidup akan penuh dengan warna. Karakter orang-orang yang berinteraksi dengan kita akan mewarnai hari-hari kita. Dengan latar belakang sosial atau budaya yang berbeda, tentu setiap kejadian dan aneka cara pandang menyikapi kejadian tersebut akan sangat menginspirasi.
     Membaca sebuah buku yang sedang happening dari seorang penulis ternama tentang seekor koala yang sejenak bermigrasi meninggalkan habitatnya, untuk kemudian kembali. Hanya sayangnya habitat dan komunitasnya sudah berubah ketika ia kembali. Hutan menjadi gersang karena pepohonan ditebang.. dan dia termangu melihat segala perubahan itu. Tempat tinggalnya tak lagi sama...
      Saya membaca dengan sepenuh perasaan paragraf itu. Menghayati dengan hati yang basah dan berdesir. Merasakan kehilangan yang sama.
     .........................

     Facebook adalah media sosial pertama yang saya ikuti. Menyenangkn tak terkira bertemu teman-teman lama satu demi satu, setelah lamaaaa tak bertemu, bahkan tak berkabar. Saling menyapa dan saling bercanda mengingat kisah-kisah lucu masa lalu, itu sesuatu yang mewah.
     Nah setelah sosmed mulai mewabah trend reuni dan copy darat pun ikutan mewabah. Postingan kabar dan gambar dari sekedar ketemuan kelompok-kelompok kecil di rumah makan sampai reuni besar-besaran per angkatan menghiasi wall saya. Membuat kami, saya dan teman-teman sekolah terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
     Beberapa reuni berakhir menyenangkan. Seakan kita tetap muda, tetap remaja-remaja khas dengan badung-badung wajarnya (hehehe.. apa pula tuh badung-badung wajar. Tapi iya loh, remaja sekarang badungnya menakutkan. Ga semua sih.. yang berprestasi juga banyak, tapi yang kriminal tak kalah banyak).
     Tapi sedihnya ada reuni yang berakhir hambar. Sebenarnya hambarnya reuni ini sudah terbaca dari hambarnya situasi group di sosial media. Jika group2 lain ramai dengan memori masa sekolah, mengenang pengajar, aktifitas, kekonyolan masa lalu, sharing motivasi, maka group ini seperti hidup segan mati tak mau. Jika ada postingan hampir selalu tak ada yang menanggapi.
     Di acara reuni itu, riang setelah salaman dan saling sapa rindu beberapa saat kemudian berganti suasana dengan kekakuan. Masing-masing memegang gadget dan sibuk mnggerakkan jari jemari untuk melayari dunia lain. Bisu. Beruntung acara di panggung utama cukup bisa membunuh kekakuan dan kebisuan. Menjembatani kami untuk kembali saling lempar celetukan.
     Sepulang dari reuni, yang terbawa hanya foto dan catatan di kepala : "Ya, kita telah reuni". Group sosial media tetap sepi. Postingan dari volunteer yang ingin menghangatkan suasana tetap tak bersambut. 
     Padahal duluuuu keakraban pernah terjalin. Melewati masa sekolah bersama, bercanda bersama, belajar bersama. Kadang juga bolos bersama. Keadaan selepas reuni menampar kesadaran saya betapa seiring bertambahnya usia manusia berangsur berubah. Sesorang yang dulu kita kenal dekat sekarang begitu jauh dan asing. Mungkin memang benar ada ungkapan "People change". Tapi alangkah terkejutnya kita ketika perubahan itu tak seperti yang kita harapkan. Yaaah... mungkin mereka memang berubah. Atau justru saya yang berubah. Atau justru saya yang tidak bisa memahami perubahan manusia.. entahlah..
     That's why ketika saya membaca buku tentang koala tadi, maka saya membacanya dengan sepenuh perasaan. Tak cukup sekali membacanya. Saya ulang dan ulang lagi..Karena sayapun pernah merasakan kehilangan yang serupa. Ketika kembali memijakkan kaki di suatu tempat dan lingkungan yang dulu saya anggap rumah, rumah itu tak lagi sama...

Minggu, 06 September 2015

Koncoan Yuuk

     Sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia selalu membutuhkan lingkungan dan pertemanan. Sejak kecil hingga dewasa sosialisasi dengan sesama adalah keharusan. Sejak dalam kandungan, janin berteman dengan detak jantung ibunda, dan juga elusan dan bisikan ayah bunda. Ketika lahir pertemanan bertambah ke saudara, kakek-nenek, om-tante dan para sepupu. Semakin bertambah umur, semakin meluas pertemanan. Teman sekolah, teman ekskul, teman satu kompleks, teman kerja, teman arisan, teman masa kecil...
       Kadang malah pertemanan ini meningkat statusnya menjadi persahabatan bahkan persaudaraan. Mungkin karena faktor kecocokan atau persamaan pengalaman hidup yang menyebabkannya.
       Tapi kadangkala pertemanan ini merenggang, juga karena beberapa faktor : tersinggung, dikhianati rahasia curcol yang bocor kemana-mana (ibu-ibu banget nih bahasanya), nemu teman baru sehingga melupakan teman lama, kasih tak sampai atau sayang tak berbalas (ehhh..apa sih..)
      Teringat percakapan dengan seorang teman yang bercerita bahwa dia adalah tipe orang yang mendewakan persahabatan dan dengan gampangnya menjatuhkan status 'sahabat' kepada orang yang hari ini baru saja ngobrol sedikit lebih dekat daripada obrolan kemarin-kemarin. Kepada orang yang hari ini kebetulan bercanda lebih riuh daripada kemarin-kemarin. Kepada orang yang pasangannya berteman dekat dengan pasangannya (bahasa apa ini.. pake kata 'nya' kok berderetan). Mungkin... ini mungkin sih... teman saya ini, stok rasa persahabatannya seluas samudera.
     Tidak dipungkiri memang sharing dengan teman ini sangat menyenangkan. Wawasannya luas dan empatinya tinggi. Bisa masuk ke percakapan  lintas usia dan sense of humor yang lumayan tinggi. Bagi saya agak susah berkata tidak berteman dengannya.
     Makanya saya sedikit heran ketika dia mengeluhkan tentang susahnya mendapatkan sahabat. Sekalinya dia menjatuhkan vonis 'sahabat' ke seseorang ternyata orang tersebut sama sekali tidak menganggapnya sahabat. Diremove dari friend list sosmed, text message yang tidak direply sama sekali, ditinggalkan tanpa diikutsertakan dalam suatu kegiatan, tidak di tag di foto yg diupload di sosmed (padahal serombongan orang lain, pada foto yang sama, pada di tag),  atau pura-pura tidak dikenali oleh seseorang yang baru kemarin meminta bantuan adalah beberapa contoh yang dikeluhkan (dan syukur alhamdulillah teman ini tidak keberatan ceritanya saya tulis, jadi saya tidak masuk dalam kategori pembocor cerita, bukan..hihi)
     Dan saya.... saya bisa apa? Saya ini hanya ibu-ibu beranak tiga penarik bajaj antar jemput anak sekolah. Bisa memberi solusi apa sih untuk keluhan yang membutuhkan keahlian tinggi untuk memberikan solusi.
     Palingan hanya rasa simpati karena pada satu dua kasus saya juga mengalaminya.
     Palingan hanya bisa menghibur :  mungkin lebih enteng bagi kita untuk berteman, bergaul tanpa melibatkan predikat apapun ke sesama. Sebutan 'sahabat', 'saudara beda ibu', 'teman seperti saudara' , ‘saudara ketemu gede’, hanyalah predikat yang membebani sebuah relationship. Akan membuat ekspektasi yang lebih tinggi untuk sebuah relationship. Akan menuntut sesuatu yang lebih istimewa dibanding lainnya. Akan mempersempit lingkungan pergaulan karena merasa yang ini sahabat yang itu bukan. Cukuplah persahabatan hanya dirasakan dalam hati. Tanpa disebutkan, apalagi diucapkan/diisyaratkan didepan teman-teman lain bahwa 'ini sahabatku' karena akan menimbulkan kecemburuan sosial bagi teman lain yang belum dianggap sahabat. 
     Sebuah pertemanan akan lebih bermakna ketika kita bisa membantu sesama disaat mereka membutuhkannya. Lebih berarti ketika dukungan datang disaat kita membutuhkan. Tak peduli dari siapa. Lebih berharga ketika kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
     Karena bagi saya.. sekali lagi bagi saya.. persahabatan bukan untuk disematkan dengan kata-kata. Bagi saya persahabatan hanya bisa dirasakan dalam hati. As simple as that.

Kuala Lumpur, 6 September 2015