Minggu, 06 September 2015

Koncoan Yuuk

     Sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia selalu membutuhkan lingkungan dan pertemanan. Sejak kecil hingga dewasa sosialisasi dengan sesama adalah keharusan. Sejak dalam kandungan, janin berteman dengan detak jantung ibunda, dan juga elusan dan bisikan ayah bunda. Ketika lahir pertemanan bertambah ke saudara, kakek-nenek, om-tante dan para sepupu. Semakin bertambah umur, semakin meluas pertemanan. Teman sekolah, teman ekskul, teman satu kompleks, teman kerja, teman arisan, teman masa kecil...
       Kadang malah pertemanan ini meningkat statusnya menjadi persahabatan bahkan persaudaraan. Mungkin karena faktor kecocokan atau persamaan pengalaman hidup yang menyebabkannya.
       Tapi kadangkala pertemanan ini merenggang, juga karena beberapa faktor : tersinggung, dikhianati rahasia curcol yang bocor kemana-mana (ibu-ibu banget nih bahasanya), nemu teman baru sehingga melupakan teman lama, kasih tak sampai atau sayang tak berbalas (ehhh..apa sih..)
      Teringat percakapan dengan seorang teman yang bercerita bahwa dia adalah tipe orang yang mendewakan persahabatan dan dengan gampangnya menjatuhkan status 'sahabat' kepada orang yang hari ini baru saja ngobrol sedikit lebih dekat daripada obrolan kemarin-kemarin. Kepada orang yang hari ini kebetulan bercanda lebih riuh daripada kemarin-kemarin. Kepada orang yang pasangannya berteman dekat dengan pasangannya (bahasa apa ini.. pake kata 'nya' kok berderetan). Mungkin... ini mungkin sih... teman saya ini, stok rasa persahabatannya seluas samudera.
     Tidak dipungkiri memang sharing dengan teman ini sangat menyenangkan. Wawasannya luas dan empatinya tinggi. Bisa masuk ke percakapan  lintas usia dan sense of humor yang lumayan tinggi. Bagi saya agak susah berkata tidak berteman dengannya.
     Makanya saya sedikit heran ketika dia mengeluhkan tentang susahnya mendapatkan sahabat. Sekalinya dia menjatuhkan vonis 'sahabat' ke seseorang ternyata orang tersebut sama sekali tidak menganggapnya sahabat. Diremove dari friend list sosmed, text message yang tidak direply sama sekali, ditinggalkan tanpa diikutsertakan dalam suatu kegiatan, tidak di tag di foto yg diupload di sosmed (padahal serombongan orang lain, pada foto yang sama, pada di tag),  atau pura-pura tidak dikenali oleh seseorang yang baru kemarin meminta bantuan adalah beberapa contoh yang dikeluhkan (dan syukur alhamdulillah teman ini tidak keberatan ceritanya saya tulis, jadi saya tidak masuk dalam kategori pembocor cerita, bukan..hihi)
     Dan saya.... saya bisa apa? Saya ini hanya ibu-ibu beranak tiga penarik bajaj antar jemput anak sekolah. Bisa memberi solusi apa sih untuk keluhan yang membutuhkan keahlian tinggi untuk memberikan solusi.
     Palingan hanya rasa simpati karena pada satu dua kasus saya juga mengalaminya.
     Palingan hanya bisa menghibur :  mungkin lebih enteng bagi kita untuk berteman, bergaul tanpa melibatkan predikat apapun ke sesama. Sebutan 'sahabat', 'saudara beda ibu', 'teman seperti saudara' , ‘saudara ketemu gede’, hanyalah predikat yang membebani sebuah relationship. Akan membuat ekspektasi yang lebih tinggi untuk sebuah relationship. Akan menuntut sesuatu yang lebih istimewa dibanding lainnya. Akan mempersempit lingkungan pergaulan karena merasa yang ini sahabat yang itu bukan. Cukuplah persahabatan hanya dirasakan dalam hati. Tanpa disebutkan, apalagi diucapkan/diisyaratkan didepan teman-teman lain bahwa 'ini sahabatku' karena akan menimbulkan kecemburuan sosial bagi teman lain yang belum dianggap sahabat. 
     Sebuah pertemanan akan lebih bermakna ketika kita bisa membantu sesama disaat mereka membutuhkannya. Lebih berarti ketika dukungan datang disaat kita membutuhkan. Tak peduli dari siapa. Lebih berharga ketika kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
     Karena bagi saya.. sekali lagi bagi saya.. persahabatan bukan untuk disematkan dengan kata-kata. Bagi saya persahabatan hanya bisa dirasakan dalam hati. As simple as that.

Kuala Lumpur, 6 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar