Selasa, 25 Agustus 2015

Prasangka

     Ini peristiwa yang sudah lama terjadi, lama disimpen dan mulai terlupakan. Hanya berbentuk draft coretan di buku, yang pengen ditulis lengkap, tapi malas melulu..
Tentang prasangka  hati yang didahulukan sebelum melihat kenyataan. Padahal kenyataan itu, asal mau bersabar, akan datang hanya dalam hitungan menit.

DON'T JUDGE THE BOOK BY  ITS COVER

Ini ungkapan lama yang sebetulnya sudah dihafal diluar kepala, lengkap dengan artinya, lengkap dengan maknanya. Kurang apa coba..
Tapi entahlah, untuk menerapkan di kehidupan sehari-hari, rada-rada sulit ya.. untuk saya sih..

Hingga di suatu sore..

     Antrean panjang menuju gerbang sekolah anak-anak yang mengular phyton, adalah perjuangan yang yuhuiii untuk dilalui. Lokasi sekolah yang tepat di pertigaan ujung lampu merah menambah parah antrian. Kuala Lumpur yang pengendaranya lebih beradab dan sopan dibanding pengendara di Jakarta pun, di antrian ini seringkali adu serobot antar sesama. Pengabaian detik-detik pertama saat lampu lalu lintas berubah dari warna kuning ke warna merah adalah pemandangan yang lumrah, mengingat kebanyakan dari para pengantar anak sekolah ini akan langsung tancap gas menuju tempat kerja masing-masing. Belum lagi jika berbarengan dengan turun hujan, semua mobil berlomba memasuki area sekolah, parkir sedekat mungkin dengan drop point yang  bercanopy untuk  menghindari badan basah kuyup. Keadaan ini sama saja, pagi hari saat mengantar ataupun sore hari saat menjemput.

     Sore itu, hiruk pikuk ritual menembus kemacetan gerbang sekolah telah terlewati. Baru sekian ratus meter beranjak dari gerbang sekolah, di Traffict light gerbang masuk International Islamic University Malaysia yang sedang menyala merah, saya melihat motor dengan lampu sign kanan yang menyala tik tok tik tok melaju dari belakang mobil saya, melewati saya, kemudian berhenti di sisi kiri depan saya.
     Saya dengan rasa lelah dan sisa stamina aktifitas hari itu, spontan berujar kepada anak-anak : 'Tuh.. lihat, pasti dia mau menerobos lampu merah ". Saking seringnya melihat pemotor abai terhadap lampu merah... sedetik, dua, tiga,...si pemotor anteng di tempatnya dengan lampu sign yang masih ber-tik tok.  Lampu beralih warna menjadi hijau, barulah dia beranjak pelan maju, berbarengan dengan melajunya mobil saya.
...Upss... saya salah menilai....
    Perlahan dia mendahului mobil saya. Tampak dari arah pandang saya dia memegang stang motor hanya dengan satu tangan. Tangan kirinya melayang ke sisi kiri kepala. Lagi-lagi saya saya berujar kepada anak-anak : "Pasti dia lagi handphonan".
     Seksama kami memperhatikan. "Enggak tuh, bu,..elus-elus helm deh dia ". Kata salah seorang anak saya, Ziyan, yang memang paling banyak mengomentari apa saja dibanding dua saudaranya.
..Eh... kembali saya salah menilai. Mulai agak menyesal.
     Kami terus melaju, melupakan dua tuduhan yang keliru. Kami tengah berbincang santai hingga di suatu jembatan tiba-tiba pemotor melambat dan menepi ke kiri... dan saya kembali berkomentar :"Ngapain tuh minggir-minggir berhenti di jembatan, ngalangin jalan kendaraan di belakangnya..".
     Dan.. ahh.. tampak disitu ada motor lain yang mogok. Pengendara dan seseorang yang dibonceng sedang mengotai-atik mesin motornya. Rupanya pemotor yang tiga kali saya komentarin (dan tiga-tiganya salah semua) menepi karena ingin menawarkan bantuan. Nah !!
     Kali ini saya menyesal sekali... contoh terburuk didepan ketiga anak saya. Ketiga anak saya mentertawakan saya. Sambil menetralisir rasa bersalah saya hanya mampu berucap : " Maaf ya, Pak...", yang tentu manalah didengar oleh si bapak pemotor..
     Moral of the story : You Know lah... heheh kalo udah terlanjur malu, tentu susah untuk membuat clossing sebuah cerita,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar