Minggu, 23 Agustus 2015

Lampu Merah

     Di setiap persimpangan jalan, hampir selalu ditemukan benda ini. Tiga  lampu yang menyala bergantian  dan terdiri dari warna hijau, kuning dan merah. Berfungsi sebagai penanda kapan kendaraan akan terus melaju, persiapan berhenti atau berhenti sama sekali ketika akan melintas di persimpangan ini (ah yang seperti ini rasanya ga perlu dijelaskan ya ;)  )
     Tetapi kemudian saya menjumpai lampu sejenis yang hanya terdiri dari dua warna, hijau dan merah, yang tidak melulu ada di persimpangan jalan, melainkan berada berhadapan di lintasan zebra cross. Lambang orang sedang berjalan terpampang di lampu tersebut. Jika  lampu yang  bergambar orang ini yang menyala adalah warna merah, maka kita  DILARANG MENYEBERANG. Tetapi sebaliknya jika warna hijau yang nyala, kita BOLEH MENYEBERANG. Ada bebunyian tat tit tut yang berisik disertai timer  menghitung mundur yang menunjukkan berapa lama lampu merah atau hijau menyala.
     Saya pertama kali menjumpai  lampu penyeberangan seperti ini ketika pertama kali ke Singapura tahun 2012. Agak ndeso dan termasuk terlambat hahaha...  Jujur saya takjub dan merasa terbantu sekali menyeberang jalan dengan menggiring 3 anak usia belum dewasa. Berjalan bergegas melintasi zebra cross tanpa sebelah tangan mengacung2 tanda stop ke arah mobil meminta jalan, adalah kemewahan tersendiri buat saya. Mobil-mobil yang melintas pun begitu tertib dan sabar menunggu giliran mereka boleh melintas.
     Selama di Singapura, menyeberang jalan adalah hal yang kami sukai. Tiga anak saya yang tidak kalah ndeso dengan ibunya selalu berebut memencet tombol di tiang pinggir jalan untuk mengaktifkan lampu penyeberangan ini. Jauh berbeda dengan suasana ketika saya menyeberang jalan di kota Mekah. Tangan mengacung tinggi dengan ujung lima jari saling menepel mengerucut disertai tarik nafas persiapan jalan cepat melintas jalan raya adalah modal utama untuk bisa sampai ke jalan seberang. Pun di jakarta, menyeberang jalan rasanya perjuangan yang sangat menguras emosi dan tenaga.
     Dalam hati saya berharap, kapan  ya kira-kira Jakarta, tempat saya tinggal, mempunyai lampu penyeberangan jalan serupa.
     Dan... Alhamdulillah, ketika kami mudik libur lebaran lalu, saya menjumpai lampu semacam ini di penyeberangan jalan dari Mega Kuningan ke Mal Ambassador (mungkin ditempat lain sudah banyak, tapi kali ini saya menjumpainya disini).
     Selama dua minggu ada keperluan di seputaran Mega Kuningan membuat hampir tiap hari saya menyeberang jalan ke Mal Ambassador ini. Pertama kali menyeberang sungguh saya takjub -dengan rasa takjub yang berbeda dibanding saat awal ndeso melihat lampu ini. Pada saat lampu bergambar orang menyala hijau, kami penyeberang susah banget untuk mulai melintasi jalan raya karena  susahnya menghentikan motor bahkan mobil yang nampak enggan sekali memberikan kami jalan. Sampai-sampai security yang berjaga di depan Mal harus turun ke jalan mengulurkan pentungannya menyilang di jalan raya...
     Saya menghela nafas panjang. Menghibur hati kecil saya yang diam-diam kecewa dengan minimnya toleransi sesama pengguna jalan. Menghibur diri sendiri, mungkin karena hari ini jam sibuk maka para pengendara bermotor pada grusa-grusu.
     Tapi ketika berturut-turut saya kembali menyeberang di hari dan jam yang berbeda, kondisinya tetap sama, kecewa saya yang tadinya diam-diam dan tersimpan dalam hati mulai berubah menjadi keluhan bahkan gerundelan. Ahh..lalu untuk apa ada lampu penyeberangan jalan jika kami pejalan kaki masih harus dibantu security, masih dibantu pentungan menyilang, masih terjadi adu pelototan mata antara pengendara dan penyeberang..
     Tapi selalu ada harapan di setiap kehidupan, bukan?  Semoga ini hanya terjadi di penyeberangan ini. Bukan di Jakarta sisi-sisi yang lain. Semoga suatu saat toleransi sesama akan kembali terjalin, seperti duluuuu.. ketika kita belum menjadi makhluk individialis seperti sekarang..
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar