Rabu, 03 Agustus 2016

Sahabat Banyak Orang

Ini era internet. Meskipun tinggal di negara sebelah, saya masih bisa mengikuti info dari tanah air via portal berita online atau tv channel berbasis internet.

Dua malam yang lalu saya terkejut membaca berita seorang penyanyi Indonesia, Mike Mohede, berpulang dalam tidurnya, di usia muda. Dicurigai karena serangan jantung.

Saya bukan penggemar berat dia. Saya hanya tahu dia pernah mengikuti ajang pencarian bakat menyanyi di televisi beberapa tahun yang lalu. Saya tahu dia bersuara indah dan nggak pasaran. Tapi saya tak ingat bahwa dia adalah pemenang di acara tersebut. Bahkan setelah usai acara tersebut, saya juga tak tahu perkembangan karir dan lagu-lagunya.

Hanya saja, ketika beberapa temannya menyatakan dia adalah orang baik (bahkan ada yang menyebutkan teramat baik), membuat saya penasaran dan browsing untuk mencari tahu lebih banyak tentang dia. Hasilnya, makin banyak lagi teman-temannya yang menyatakan dia orang baik. Dan hebatnya, semua teman dengan rela hati mengaku sebagai sahabatnya yang merasa kehilangan mendalam. Rumah duka dan pemakaman yang dibanjiri pelayat cukup mengaminkan testimoni bahwa dia adalah sahabat banyak orang.
Saya browsing lebih jauh, dan mulai kagum membaca beragam komentar kebaikan dari orang-orang di lingkarannya,

Seketika saya bercermin terhadap diri saya sendiri...

Jika saya dipanggilNya, siapakah yang akan menangisi saya? Selain keluarga saya, rasanya cukup ge-er jika saya menyebutkan orang lain akan merasa kehilangan saya. Saya hanyalah manusia yang teramat biasa. Berkiprah hanya untuk keluarga. Dengan domisili yang kerap berpindah dan tidak mengakar di satu tempat.

Saya bukan siapa-siapa, yang jika di suatu tempat saya tidak hadir, bahkan sekeliling saya tidak akan mencari saya. Mungkin kadang diingat, tapi lebih sering dilupakan.

Saya hanyalah seseorang yang melakukan something that's not so special untuk sesama. 

Sahabat banyak orang? 
Rasanya terlalu jauh untuk bermimpi. Mimpi saya hanyalah, kelak jika saya dipanggilNya, semoga saja Allah menghendaki saya berada di suatu tempat yang baik sehingga banyak jamaah yang mensholatkan saya. 
Beberapa kali ke tanah suci saya berdoa agar jika saatnya tiba, semoga saya dipanggilNya di sana, indahnya jika dishalatkan di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dengan jumlah jamaah yang tak pernah surut. 

Tapi siapalah saya hingga berani bermimpi seperti itu. Jika itu terlalu tinggi, mungkin cukuplah Allah memperkenankan akhir hidup saya disholatkan oleh banyak jamaah, dimanapun tempatnya.

Semoga ya Allah, itupun tak terlalu tinggi bagi seorang penuh dosa seperti saya.

"Rabbi faatirossamaawati wal ardhi
Anta waliyyu fiddunya wal akhiroti
Tawaffani muslimau wa alkhiqnii bissholihin"
(Ya Tuhanku Pencipta langit dan bumi
Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat
Wafatkankah aku dalam keadaan islam
Dan gabunglanlah aku dalam golongan orang-orang yang sholeh) - QS. Yusuf :101