Sore tadi adalah buka puasa hari ke empat.
Seperti tahun-tahun sebelumnya perkumpulan WNI yang tinggal di condominium ini sepakat membuat jadwal piket untuk menyiapkan takjil para muslim yang berpuasa. Bergiliran. Setiap sore setidaknya ada tiga macam kue yang terjadwal dan tersedia. Belum lagi para donatur yang meskipun tidak piket, tetap mengirimkan kue untuk takjil. Spontanitas. Belum lagi ibu-ibu middle east yang dadakan kirim makanan a la timur tengahnya. Tak ada istilah kekurangan bagi para muslimin pada saat buka puasa nanti.
Kadangkala, jika pas bentrok banyak yang sedekah, memang makanan tampak berlimpah dan berlebih. Tapi ini tak membuat mubazir, karena makanan bisa disalurkan ke para security yang bertugas malam hari menjaga condo kami.
Pagi tadi, guru ngaji saya bercerita tentang mubazirnya makanan di sebuah masjid pada jam buka puasa. Makanan ini juga berasal dari para donatur. Nah bagi pengunjung dan para pemburu takjil, mentang-mentang makanan disediakan secara gratis, mereka mengambil semaunya dan terkesan berlebihan. Ujung-ujungnya, setelah kekenyangan kemana larinya makanan itu kalau bukan ke tong sampah.
Padahal di saat bersamaan jamaah lain ada yang masih antri mengular dan tak kebagian.
Padahal di saat bersamaan pengungsi korban perang Syria yang terdampar disekitar sini, juga pada kelaparan...
Ini sama persis dengan yang pernah saya lihat disuatu masjid besar di lingkungan KLCC. Suatu saat saya sholat iedul adha disana. Selepas sholat, ada semacam jamuan untuk jamaah. Pihak masjid yang menyediakan. Tidak mewah memang. Minumannya hanya dua macam, teh manis dan air sirup. Makanannya miehoon dan beberapa macam kuih muih (kuih muih adalah istilah melayu untuk menyebut aneka kue basah).
Tapi eh... tapi.. tetap saja ada orang yang mengambil secara berlebihan. Satu orang akan mengambil satu piring meehoon dan mencomot masing-masing jenis kue minimal satu buah. Minumnya, dua-duanya diambil. Kemudian semua makanan dan minuman dijejerin disebelah mereka duduk. Tidak semuanya begitu sih... tapi kebanyakan ya gitu deh... Nah ujung cerita bisa ditebak kan, jika perut terasa penuh, kemana larinya makanan itu? Yes, lagi-lagi tempat sampah. Beberapa piring yang belum sepenuhnya kosong malah masih berserakan dilantai emperan masjid. Mereka tinggalkan begitu saja.
Bagaimana perilaku pemburu makanan di Indonesia? Entahlah, saya belum pernah mengamati, seperti apa keadaan pada saat berbuka puasa di masjid-masjid.
Tapi saya sering menemui hal yang sama di event yang berbeda. Event kawinan. Kondangan di sebuah hall pertemuan. Yang makannya a la standing party itu, mereka melakukan hal yang sama. Mau di hotel bintang lima atau di balai RW, berburu makanan dengan porsi ajaib tetap terjadi.. Baju rapi dan tas branded tidak menjamin bahwa mereka akan mengambil makanan secukupnya. Semua makanan ingin dicoba. Tidak suka, itu nomor dua. Tidak habis, itu nomor tujuh belas....
Tidakkah terbayang makanan yang larinya ke tong sampah ini, sebetulnya sangat bermanfaat bagi orang yang sangat membutuhkan?
Saya pernah menghadiri acara perkawinan di sebuah gedung di salah satu kota di Jawa Timur. Di dalam gedung berseliweran anak-anak dan perempuan membaur dengan para tamu undangan, sambil membawa kantong plastik. Tidak, jangan dipikir mereka hendak mencuri makanan. Mereka hanya memungut sisa-sisa makanan yang tak habis dimakan para tamu. Ditampung di kantong plastik, yang konon, akan dibagi untuk keluarga mereka di salah satu pelosok pesisir pantai.
Saya yang baru pertama kali melihat hal seperti itu, rasanya tak bisa menelan makanan. Nyesek.
Kembali ke topik takjil untuk berbuka puasa. Mari kita lihat, penjual makanan beraneka rupa menarik minat pembeli. Perut yang seharian menahan lapar tentunya mudah sekali terhasut untuk membeli semua jenis makanan. Lapar mata. Tapi, rasanya momen inilah saatnya belajar memulai untuk tidak memubazirkan makanan. Hati dan nurani belajar mengendalikan nafsu.
Bukankah sesungguhnya mubazir adalah teman setan?
"Innal mubazziriina kaanu ikhwaanas sayaatini" (Al Isra : 27)
Kuala Lumpur, 30 Mei 2017