Selasa, 30 Mei 2017

Pemubaziran Massal

Sore tadi adalah buka puasa hari ke empat.
Seperti tahun-tahun sebelumnya perkumpulan WNI yang tinggal di condominium ini sepakat membuat jadwal piket untuk menyiapkan takjil para muslim yang berpuasa. Bergiliran. Setiap sore setidaknya ada tiga macam kue yang terjadwal dan tersedia. Belum lagi para donatur yang meskipun tidak piket, tetap mengirimkan kue untuk takjil. Spontanitas. Belum lagi ibu-ibu middle east yang dadakan kirim makanan a la timur tengahnya. Tak ada istilah kekurangan bagi para muslimin pada saat buka puasa nanti.
Kadangkala, jika pas bentrok banyak yang sedekah, memang makanan tampak berlimpah dan berlebih. Tapi ini tak membuat mubazir, karena makanan bisa disalurkan ke para security yang bertugas malam hari menjaga condo kami.

Pagi tadi, guru ngaji saya bercerita tentang mubazirnya makanan di sebuah masjid pada jam buka puasa. Makanan ini juga berasal dari para donatur. Nah bagi pengunjung dan para pemburu takjil, mentang-mentang makanan disediakan secara gratis, mereka mengambil semaunya dan terkesan berlebihan. Ujung-ujungnya, setelah kekenyangan kemana larinya makanan itu kalau bukan ke tong sampah. 
Padahal di saat bersamaan jamaah lain ada yang masih antri mengular dan tak kebagian. 
Padahal di saat bersamaan pengungsi korban perang Syria  yang terdampar disekitar sini, juga pada kelaparan...

Ini sama persis dengan yang pernah saya lihat disuatu masjid besar di lingkungan KLCC. Suatu saat saya sholat iedul adha disana. Selepas sholat, ada semacam jamuan untuk jamaah. Pihak masjid yang menyediakan. Tidak mewah memang. Minumannya hanya dua macam, teh manis dan air sirup. Makanannya miehoon dan beberapa macam kuih muih (kuih muih adalah istilah melayu untuk menyebut aneka kue basah). 
Tapi eh... tapi.. tetap saja ada orang yang mengambil secara berlebihan. Satu  orang akan mengambil satu piring meehoon dan mencomot masing-masing jenis kue minimal satu buah. Minumnya, dua-duanya diambil. Kemudian semua makanan dan minuman dijejerin disebelah mereka duduk. Tidak semuanya begitu sih... tapi kebanyakan ya gitu deh... Nah ujung cerita bisa ditebak kan,  jika perut terasa penuh, kemana larinya makanan itu? Yes, lagi-lagi tempat sampah. Beberapa piring yang belum sepenuhnya kosong malah masih berserakan dilantai emperan masjid. Mereka tinggalkan begitu saja.

Bagaimana perilaku pemburu makanan di Indonesia? Entahlah, saya belum pernah mengamati, seperti apa keadaan pada saat berbuka puasa di masjid-masjid.
Tapi saya sering menemui hal yang sama di event yang berbeda. Event kawinan. Kondangan di sebuah hall pertemuan. Yang makannya a la standing party itu, mereka melakukan hal yang sama. Mau di hotel bintang lima atau di balai RW, berburu makanan dengan porsi ajaib tetap terjadi.. Baju rapi dan tas branded tidak menjamin bahwa mereka akan mengambil makanan secukupnya. Semua makanan ingin dicoba. Tidak suka, itu nomor dua. Tidak habis, itu nomor tujuh belas....

Tidakkah terbayang makanan yang larinya ke tong sampah ini, sebetulnya sangat bermanfaat bagi orang yang sangat membutuhkan?

Saya pernah menghadiri acara perkawinan di sebuah gedung di salah satu kota di Jawa Timur. Di dalam gedung berseliweran anak-anak dan perempuan membaur dengan para tamu undangan, sambil membawa kantong plastik. Tidak, jangan dipikir mereka hendak mencuri makanan. Mereka hanya memungut sisa-sisa makanan yang tak habis dimakan para tamu. Ditampung di kantong plastik, yang konon, akan dibagi untuk keluarga mereka di salah satu pelosok pesisir pantai.
Saya yang baru pertama kali melihat hal seperti itu, rasanya tak bisa menelan makanan. Nyesek.

Kembali ke topik takjil untuk berbuka puasa. Mari kita lihat, penjual makanan beraneka rupa menarik minat pembeli. Perut yang seharian menahan lapar tentunya mudah sekali terhasut untuk membeli semua jenis makanan. Lapar mata. Tapi, rasanya momen inilah saatnya belajar memulai untuk tidak memubazirkan makanan. Hati dan nurani belajar mengendalikan nafsu.
Bukankah sesungguhnya mubazir adalah teman setan?
"Innal mubazziriina kaanu ikhwaanas sayaatini" (Al Isra : 27)



Kuala Lumpur, 30 Mei 2017

Sabtu, 06 Mei 2017

Lihatlah, Malaikat pun Berdoa Untukmu

Hari Jumat lalu tiba-tiba tanpa rencana saya ingin lari pagi di sebuah taman, dekat Condo tempat tinggal saya. Padahal biasanya saya treadmill di dalam gym fasilitas condominium. Olah raga outdoor biasanya hanya saya lakukan jika bersama anak-anak dan suami.

Taman ini, Taman Datuk Keramat namanya. Entah kenapa dinamakan Datuk Keramat. Yang saya tahu tempat ini, mayoritas penduduknya adalah orang melayu, keturunan Indonesia. Dari Padang, Bawean, Bugis dan Jawa. Mereka sudah lama tinggal disini, sudah dua atau tiga generasi. Pindah kewarganegaraan atau menikah dengan warga negara asli. 
Pernah iseng saya tanya ke ibu penjual lontong sayur padang yang sudah puluhan tahun disini, katanya disini ada makam sesepuh yang dikeramatkan. Entahlah....
Selain itu, yang saya tahu sih, disini ada pasar tradisional. Salah satu pertimbangan ibu-ibu dalam mencari tempat tinggal adalah : “Dekat pasar ga?”.
Nah itu juga yang membuat saya memutuskan tinggal di Condo ini. Dekat pasar dan taman. Lengkap dengan playground, outdoor mini gym dan track lari.

By the way.. saya mau cerita apa sih tadi.. kok jadi bahas Datuk Keramat....

Oh  ya...
Jadi, karena ini pagi hari dan hari kerja, taman ini tak seramai weekend di sore hari. Kalau week end, saya tak akan sempat explore mata kemana-mana karena sibuk mengawasi anak ditengah keramaian. Atau fokus jogging saja biar tidak menabrak orang.

Pagi itu saya melihat seorang ibu tua seumuran ibu saya. Menenteng tas. Semacam tas belanja. Tas yang sungguh biasa saja. Dia tidak berkostum olah raga, bukan pula baju santai sebagaimana layaknya orang ingin menikmati pagi secara outdoor. Bajunya baju kurung, tipe baju yang sering dipakai orang melayu kebanyakan. Gayanya bercelingukan membuat saya memelankan ritme lari saya, ada apakah? Sekelebat pikiran buruk melintas, mengingat banyaknya kasus kriminalitas belakangan ini.

Tapi astaghfirullah ... saya salah mengijinkan pikiran buruk tadi melintas di kepala. Ternyata ibu ini celingukan mencari teman-temannya. Dia berjalan ke satu titik dan mulai membuka tasnya. Dan, di dalam tas yang saya sebut 'tas biasa saja' tadi, dikeluarkannya sesuatu yang tidak biasa. Dia mengeluarkan segenggam demi segenggam makanan kering. Makanan kucing.
Ya, teman-temannya adalah kucing-kucing yang nampaknya sudah terbiasa makan dari telapak tangan tuanya.

Ada yang sejuk di hati saya...

Allah SWT menurunkan rasa cinta dan kasih di hati makhlukNya.  Perbedaan jenis tak menjadi masalah. Manusia kepada hewan, atau sebaliknya, hewan kepada manusia. Dan rasa cinta ini diwujudkannya dalam sedekah memberi makan.

Teringat guru ngaji saya pernah menyampaikan, ada malaikat yang tugasnya hanya untuk mendoakan manusia :
"Tidak satu hari pun dimana pada pagi hari seorang hamba ada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu diantara keduanya berkata : "Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak." Dan yang lainnya berkata : "Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir"
(HR. Bukhari dan Muslim)

Didoakan malaikat, siapa yang tidak mau?

Malaikat adalah hamba Allah yang doanya tidak tertolak. Kakek saya dulu, menceritakan jika kita berdoa dan mengucapkan amin, jika ucapan amin kita bersamaan dengan ucapan aminnya malaikat, sungguh beruntung kita, karena doa kita akan dikabulkan. Cerita dengan bahasa versi kanak-kanak...

Ah, jadi ingat juga, dulu kakek saya setiap jalan pagi selalu membawa segepok permen di kantong bajunya. Jika bertemu anak kecil langsung disalami dan diselipkan barang satu-dua permen ke genggaman si bocah.
Kenal atau tidak, tak masalah bagi kakek. Melihat mata kecil yang berbinar bahagia sudah cukup membahagiakan kakek.

Hal yang sama juga dialami anak-anak saya ketika ikut berumroh. Setiap waktu sholat, ada saja bapak-bapak atau ibu-ibu (biasanya berwajah middle east) yang menyelipkan sekedar minuman kotak, roti atau permen ke anak-anak saya. Si bungsu karena paling imut, paling banyak dapat sedekah. Edukasi visual seperti itu, menjadi trigger bagi anak2 : “Bu, when i grow up and have some money, I’ll make some kids happy as how happy I’m now”.

Nyes dan sejuk melihatnya.

Kembali ke cerita Jumat pagi itu..
Betapa saya mendapatkan pelajaran secara live show. Agar kembali menerapkan kebiasaan kakek saya dulu, mencontoh bapak-ibu middle east di masjidil haram dan madinah. 
Sedekah. 
Bahkan jika sedang tak bawa harta atau benda. Senyum dan wajah ramah pun sudah termasuk sedekah. Tak susah bukan?

Kuala Lumpur, 6 Mei 2017