Sabtu, 09 Desember 2017

Move to The Next Chapter


- - Saya menulis ini, waktu itu, sambil menunggu bungsu saya latihan piano di Yamaha Wangsa Walk, Kuala Lumpur.

Terlintas begitu saja, ketika seorang siswa, sambil menunggu giliran kelasnya mulai, dia memainkan piano di waiting room. Lagu-lagu slow beat.
Membuat hati saya biru.

Pintu kelas terbuka, saya hampiri miss Esther dan kemudian pamit menjabat tangannya, “I’m afraid this is Nisrina’s last class, because we will move back to Jakarta soon. Glad to see you. She is very like you”, ada suara serak disana.

Sedari pagi memang hati saya sedikit biru. 
Pagi tadi, saya menghadiri undangan di sekolah bungsu saya. Academic exhibition. Pameran project-project siswa yang dipajang untuk dilombakan. Tujuannya untuk memotivasi siswa agar siswa membuat project dengan baik dengan dukungan orang tua. Saya elus kepala kecil si bungsu ketika dia bergumam, “The next academic exhibition event, i can’t join anymore”
Bertemu sesama WNI parents, kami membahas rencana kepindahan beberapa teman akhir tahun ajaran ini. Pindah kembali ke tanah air. Termasuk keluarga saya. Seketika hati saya berkabut.

Meninggalkan segala kenyamanan di kota ini bukanlah sesuatu yang mudah. Bukan masalah packing atau angkat barang, karena semua sudah ada mover yang mengurus, alhamdulillah.

Tapi lebih ke masalah hati, ini yang terberat sesungguhnya. Komunitas WNI yang solid, forum majelis ilmu yang padat dan berisi. Seminar, parenting juga course. Kemudahan transportasi yang nyaman, yang membuat kita bisa memprediksi lama perjalanan, membuat saya tak segan menyusun agenda kegiatan harian untuk upgrading potensi diri, tanpa kuatir kegiatan utama sebagai seorang ibu keteteran. 

Dan... masalah hati yang terberat adalah menyaksikan ‘kekecewaan terpendam’ yang dirasakan hati mungil anak-anak kami. Ya, anak-anak yang terlanjur mempunyai ikatan dengan kota ini, mempunyai best friend dengan teman-teman di sekolah, merasa hommy dengan lingkungan tempat tinggal. Termasuk meninggalkan kelas piano yang disukai.
Juga ketika saya mengikuti keinginan dua anak saya untuk membeli kain putih dan spidol yang akan digunakan mengumpulkan tanda tangan teman-teman dan guru-guru mereka sebagai kenangan. Atau ketika saya berbelanja pernak-pernik souvenir kecil sebagai tanda perpisahan untuk teman-teman mereka. Mengabadikan dengan kamera momen demi momen mereka berpelukan dan saling mengucapkan kata perpisahan. Sungguh ini lebih mengharu biru daripada farewell saya sendiri dengan komunitas saya. Persahabatan mereka yang lintas bangsa sungguh tak mengenal syarat.

Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengakhiri sebuah keterikatan perasaan yang sudah terlanjur kami jatuhi warna cinta.

Bukan saya tak sedih, sayapun merasakan kekecewaan yang senada. Tapi peran sebagai orang tua harus kami mainkan secantik mungkin untuk menularkan aura semangat kepada anak-anak kami. Memberikan pengertian bahwa sebagai hamba Allah, kita hanyalah wayang yang siap diarahkan kemana oleh Sang Pengarah Kehidupan.

Meski ada semburat biru, kami nikmati counting down the days menuju kepulangan. Menyusuri beberapa lokasi favorit dimana kami sering melakukan aktifitas disana sembari say good bye (meski anak saya lebih suka menggunakan istilah ‘till we meet again).

Baiklah, sudah waktunya untuk melanjutkan ke chapter berikutnya. Mungkin Allah menganggap tugas kami di belahan bumi Kuala Lumpur telah usai, untuk selanjutnya kembali ke belahan bumi Allah yang lain -Jakarta. Kami percaya teramat sangat, bahwa segala rencana Allah pastilah yang terbaik bagi kami. Karena dimanapun kita berada, tugas kita adalah sebagai khalifah fil ardh, yang harus kita laksanakan as the best we can.

Sebagaimana dalam QS Al Baqarah : 30
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan manusia di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

So, see you Jakarta. 
Saya hanya ingin menyapamu dengan doa 
“Ya Tuhanku , masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan aku ke tempat keluar yang benar. Dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolongku” 

(QS-Al Isra : 80)

Jumat, 08 September 2017

Rohingya, Tercabut Dari Akarnya


Lagi-lagi berita tentang Rohingya marak di semua portal online, koran dan televisi. Penuh luka, airmata dan wajah duka. Hitam.

Saya tak ingin menyangkut-pautkannya dengan politik atau agama.

Hati.
Itu saja. 

Karena saya punya pengalaman mengunjungi mereka di sebuah rumah penampungan di Ampang, Kuala Lumpur. Ada beberapa titik sebetulnya rumah Rohingya ini, tapi kami, untuk kesempatan ini, memilih ke Ampang karena beberapa pertimbangan. Semoga di lain kesempatan kami bisa rata mengunjungi semuanya.

Seperti biasa, di bulan Ramadhan kami, ibu-ibu WNI, menyusun agenda bakti sosial lebih banyak dibanding bulan-bulan biasa. Salah satunya mengunjungi rumah Rohingya. Rumah untuk anak-anak korban konflik berkepanjangan yang mengungsi mencari kedamaian tanpa harus dikejar-kejar untuk dimusnahkan etnisnya dari peradaban dunia.

Kami mengumpulkan baju layak pakai, peralatan sholat, sembako, makanan kering, buah-buahan, goodie bag, peralatan mandi plus sanitary dan sekedar uang saku untuk anak-anak dan pengurus rumah penampungan.

Berangkat pukul 10 pagi dan ditargetkan acara selesai sebelum dhuhur. 

Beberapa mobil pengangkut tali kasih, mereka sambut bergotong royong membawa barang ke lantai dua. 
Rumah itu sederhana saja, menyewa sebuah ruko tiga lantai yang masing-masing lantai sharing dengan penyewa lainnya. Rumah Rohingya terletak di lantai 2. Siapa yang membayar sewa? Alhamdulillah, donatur di Kuala Lumpur ini begitu mudah terketuk hatinya. Baik WNI maupun warga Malaysia. 

Memasuki ruangan yang lantainya beralaskan semacam terpal plastik kami duduk dan memulai acara. Seremoni singkat antara tamu dan shohibul bait tak begitu saya perhatikan, karena perhatian saya leluasa menyapu seluruh ruangan. 

Mata saya mulai berembun...

Rentang usia mereka, anak-anak ini berkisar antara dua sampai sembilan belas tahun. Putra dan putri. Jika dibandingkan dari sisi usia, tubuh mereka lebih kecil dibanding anak-anak kita. 
Entah karena faktor DNA, atau karena beban perjalanan hidup yang berliku dan tajam berduri. 
Itu sebabnya pada saat kami mengklasifikasikan pakaian layak pakai berdasarkan usia, ukuran baju kami kurangi sekitar satu size dibawah anak-anak kami. Misalnya baju anak usia lima tahun, untuk mereka, bisa muat untuk anak usia SD  tujuh atau delapan tahun.

Dengan hati yang layu, saya pandangi wajah kanak-kanak yang berbinar atas kunjungan ini. Ada  sebersit keinginan untuk mengajak mereka berbincang, mungkin sekedar bertanya apa kabar atau untaian kata penghiburan, bahwa ada Rabb Sang Maha Penyayang, yang menyayangi mereka lebih dari apapun. Tapi kami terkendala bahasa. Mereka tak pandai bercakap melayu ataupun bahasa inggris. 

Justru dari mulut yang terkunci, pikiran saya mengembara... menembus dinding empati melukiskan sebuah pengandaian yang segera saya tepis. Naudzubillahi min dzalik.

Mereka seumuran anak-anak saya... tak salah jika saya langsung teringat dan berandai kepada tiga anak saya yang di detik yang sama sedang menikmati usianya dengan belajar dan bermain. Ditengah kehangatan keluarga, teman dan lingkungan yang aman. Segala puji hanya untukMu ya Rabb, Engkau Pemilik Segala Rencana.

Mata saya makin berkabut.

Kanak-kanak yang "semestinya" berada di sekolah meniti pelangi masa depan, saling bercanda dengan teman sekolah, bercerita tentang mainan, makanan kesukaan atau liburan...
Atau para pemuda yang beranjak dewasa, yang "semestinya" mulai merangkai cita-cita, memetakan
minat dan keinginan memilih perguruan tinggi atau fakultas impian...

Tapi, tak ada kata "semestinya" bagi mereka. Mereka yang kadang ada ayah tak ada bunda. Ada bunda tak ada ayah. Atau bahkan tak ada keduanya. Jauh dari akarnya, negaranya, budayanya. Tanpa tahu sampai kapan, tanpa tahu akankah bisa kembali pulang. 

Sepertinya untuk saat ini, bagi mereka home sweet home adalah tempat dimanapun itu, asal tanpa kejaran junta militer, tanpa berondongan suara mesiu, tanpa desingan peluru di atas kepala, tanpa terpontal-pontal  semburat dari rumah yang dibakar.

Kembara di pikiran saya terhenti ketika acara ditutup dengan doa dari ustadz Rohingya  yang selama ini mendampingi dan mengajar mengaji anak-anak ini. Doa panjang yang sebagiannya adalah doa untuk kami yang telah berkunjung. Saya aminkan doa-doa itu, sembari saya tambahkan dalam hati dengan doa saya:
"Duhai Rabb, Zat yang Maha Membolak-balikkan Hati, lunakkanlah hati para pemilik kebijakan di Myanmar agar menghentikan pemusnahan etnis ini, menghentikan konflik atas nama anak-anak pemangku masa depan, agar tak bertambah anak-anak yang kehilangan kata "semestinya", agar mereka bisa pulang kembali ke akarnya, berpijak ke tanah leluhurnya, aamiin"




Rabu, 28 Juni 2017

Tetangga Tak Tampak Mata

Maksudnya apa? Tetangga di dunia maya?
Hehehe bukan, kalau tetangga di dunia maya setidaknya ada interaksi saling sapa, atau saling berbagi like, love atau smile. 

Tapi tetangga yang ini, duh... jangan sampai lah ada interaksi. Saya sungguh tak mengharapkan. Dengan pengalaman-pengalaman yang saya dapat, pinjam-pinjam barang saja, sudah cukup membuat saya dan suami tertawa kecut dibuatnya.
Karena tetangga yang ini benar-benar berbeda frekwensi. Beda alam. 

Ini hari apa ya... kenapa saya agak feeling spooky pas ingin menulisnya.. hahaha..

Ok lah, saya lanjut saja..

Saya dibesarkan dari orang tua yang bukan penakut. Dan mereka mendidik kami bukan pula untuk jadi penakut.. Alhamdulillah..
Ibu saya, dulu, sebelum semakin sepuh, salah satu kegiatan sosialnya adalah pemandi jenazah. For free, bukan profesi, melainkan semata ingin berbagi. Jadi kalau di rumah selalu tersedia kain kafan dan kapur barus yg dihaluskan, bukan sesuatu yang aneh buat kami.

Kakek-nenek saya juga kerap bersinggungan dengan "tetangga" ini. Malah berinteraksi pula. Dan kisahnya seringkali menjadi cerita sore hari dimasa saya kecil sembari menunggu azan maghrib.

Ok, jadi begini...
Seminggu kemarin, saya kehilangan dua barang yang sangat berarti. Sebuah buku doa untuk anak dan orang tua yang selalu terselip dalam Al-Quran dan sebuah kabel charger handphone.
Buku doa ini penting sekali bagi saya. Karena isinya yang sangat touchy. Sepuluh hari terakhir ramadhan, selain doa pengampunan untuk saya pribadi, saya juga ingin mendoakan orang-orang terdekat saya : anak-anak dan orang tua. Tapi buku itu tiba-tiba lenyap begitu saja.  Puff...
Sudah saya buka setiap lembar Quran, barangkali terselip disana.
Sudah beberapa teman saya texting, barangkali tercecer sewaktu tadarusan di rumah mereka. 
Nihil.

Kabel charger pun demikian. Biasanya anteng di dalam hand bag saya, atau di meja kamar saya. Paling jauh, tertinggal di mobil, di carpark, basement apartement.

Tiga hari menghilang, Iseng saja mulut saya berucap sebelum berangkat beriktikaf ke masjid :
"Balikin dong buku doanya.. lagi perlu nih.."

Yaa Khaliq... Tuhan yang Maha Pencipta segala makhluk, setiba di masjid, ketika membuka Al-Quran, buku doa itu anteng terselip di halaman pertama. Antara girang dan bingung saling beriringan. Alhamdulillah.

Tentang kabel charger.
Sore tadi, setelah bosan saling pinjam kabel charger dengan suami, dia berinisiatif membelikan kabel baru. Sementara dia pergi, saya beberes kamar. Sudah lama saya ingin membongkar paper bag ukuran besar untuk menyortir mana barang yang masih ingin saya simpan dan mana yang ingin saya buang. 
Yes, rapi sudah.

Ketika suami pulang membawa kabel baru ke kamar, dia meraih juntaian berwarna putih di paper bag yang baru saya rapikan. 
"Lah.. ini apa...?", katanya sambil tangan satunya masih menggenggam box kabel baru.
MasyaAllah, padahal beberapa jam sebelumnya saya membongkar total dan merapikan isi paper bag itu dan tidak melihat kabel itu. Jadi sekarang kabel charger saya ada dua. Kami tertawa kecut.. rupanya sudah "mereka" kembalikan..

Sesungguhnya pengalaman seperti ini bukanlah yang pertama. 
Dulu, di rumah Jakarta, adegan meminjam barang ini beberapa kali kerap terjadi. Paling sering adalah gunting kuku dan pompa sepeda. Sebuah gunting kuku ukuran besar oleh-oleh kakak saya dari Jepang, merupakan gunting kuku kesayangan keluarga. Nah dua barang ini seringkali lenyap disaat kami sedang butuh-butuhnya.
Dan akan kembali muncul tiba-tiba ditempat kami biasa menyimpannya. Seringnya sih setelah suami saya bilang, "Balikin doooong."
Dengan versi cerita yang sama seperti kabel charger, saya sampai punya dua pompa sepeda hehehehe... ok lah.. asal jangan pinjam sepedanya.

Flashback lebih jauh, sewaktu masih tinggal di Batam, kami mengalami kejadian yang selevel lebih seram. Kami mengontrak rumah yang sebelumnya ditempati seorang teman. Di teras belakang seringkali ada suara riuh orang bermain karambol diselingi obrolan dan tawa. Juga aroma harum pewangi cucian di malam hari. Tadinya kami asik-asik saja karena menganggap  memang itu aktifitas yang wajar. Sampai ketika kami akan pindah ke Jakarta, barulah kami tahu bahwa rumah belakang sebetulnya tak berpenghuni. Jadi, selama ini yang malam-malam  suka main karambol dan mencuci itu siapa ya.... jeng...jeng...
Malah hari-hari terakhir sebelum kami pindah, makin banyak kejadian aneh. Air bak mandi yang tiba-tiba habis, air bak penampungan di dapur pun habis meluber ke segala penjuru lantai. Juga beberapa box kue yang seharusnya untuk oleh-oleh kerabat di Jawa, menghilang ketika akan kami packing.
Semua cerita ini, semakin jelas ketika kami sudah pindah  ke Jakarta, teman yang menempati rumah di Batam sebelumnya, usil bertanya ada kejadian aneh apa saja selama dua setengah tahun kami menempati rumah itu. Kemudian teman ini bercerita memang rumah itu ada "sesuatu", tapi sengaja dia tak bercerita kepada kami di awal kami menempati rumah itu, karena tak ingin menakuti. Yang teman alami malah level seramnya lebih tinggi dibanding yang kami alami. Ketemu langsung sama si  “dia”

Oh Allah.. kami hanya sanggup bersyukur tahunya belakangan. Andai tahu kondisi rumah sebenarnya pada saat kami masih menempatinya, mungkin saya tak bisa nyaman tinggal disana. Apalagi masa itu suami saya sering shift malam. Dan saya hanya tinggal dengan seorang batita.

Tak apalah, semua adalah makhluk ciptaan Allah. Apalah kita ini, kecuali tugas kita hanyalah beribadah kepadaNya.

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"
(QS Adz Dzariyat : 56)

Kuala Lumpur, 28 Juni 2017


Sabtu, 17 Juni 2017

L.U.P.A

Dalam berinteraksi sehari-hari, sering kita mendengar seseorang yang melontarkan kalimat, "Sorry, saya lupa..."
Saya juga sering sih...
Kadang ngeselin kalau ada hal yang penting, kita terlanjur mengharap ke seseorang tapi orang tersebut lupa.
Iya, kan...  
It means, untuk saya yang juga sering kelupaan, saya juga ngeselin. 
Orang lain juga kesel sama saya... hehehe maafkan. Seringkali itu betulan, ga saya sengaja. Meski kadang (kadaaaaang banget) disengaja juga, sengaja melupakan.
Maafkan, please...

Nah lupa yang disengaja ini sebetulnya hanyalah alibi. Misalnya karena enggan hadir disuatu pertemuan padahal sudah terlanjur menyanggupi untuk hadir karena faktor gak enak kalau menolak. Jadi diciptakanlah alasan lupa.

Anak-anak saya juga sering sekali menggunakan senjata "lupa" ini.
"Nak, tolongin jemur baju yang baru ibu cuci ya.."
Biasanya jawabannya adalah,
"Ok, bu, a minute please.. ini lagi tanggung." Tapi tak beranjak dari duduknya. Pura-pura mengerjakan sesuatu.
Selang beberapa waktu, baju masih anteng di dalam pengering mesin cuci,
"Nak, belum dijemur juga?"
Jawaban yang saya dapat adalah,
"Lupa, bu.."
See...? 
Saya mau marah? Susah... Namanya juga lupa, apanya yang mau dibuat marah. Kesel saja akhirnya.

Lain soal dengan kejadian yang satu ini. Sepasang anak muda sedang berada dalam LRT. Yang satu tampak diam memandangi hand phone nya. Seorang lagi beberapa kali berusaha mengajak bicara, membuka percakapan. Karena tempat duduk saya berseberangan, saya bisa mendengar ucapan si teman. Salah satunya bertanya :
"How's the party last evening"
"That was great." Masih tanpa memalingkan wajah dari hand phone.
"Siapa saja yang datang?" Kejar si teman.
"Mmm, lupa." 
Krik...krik...krik...
Hening...

Hahahaha.. Jawaban "lupa" kali ini digunakan untuk menutup pembicaraan. 
Stop of conversation.
End of story. 
Cukup sampai disini. 
Leave me alone. 
Lo gue end.

Gitu...

Tapi,
Meski lupa seringkali berkonotasi negatif, ada kalanya sifat lupa ini sangat diperlukan. Positif malah.
Allah memberi sifat lupa pada manusia untuk melepas traumatik pada satu kejadian. Traumatik level ringan adalah ketika kita mengalami kejadian buruk yang memalukan. Salah ucap atau salah berperilaku yang menyebabkan ditertawakan orang-orang di sekeliling kita.
Yang menyebabkan kita ingin seketika tenggelam saja ke dasar bumi saking malunya.
Dengan sifat lupa ini, kita berangsur akan kembali memijak bumi tengan tegak. Malunya masih ada, konyolnya kejadian masih ada. Tapi orang mulai melupakan kejadian itu. Kitapun sudah berangsur lupa.

Di Kuala Lumpur ini, jendela mobil saya pernah dikeprok maling di lampu merah di siang bolong. Sebuah backpack berpindah tangan seketika, dalam hitungan detik saja. Maling expert. Sampai sekedar berteriak atau pencet klakson saja saya kalah jauh, saking terperanjatnya.
Setelah kejadian itu, perlu waktu untuk menepis perasaan takut dan trauma. Padahal saya emak jalanan. Setiap hari pasti antar jemput anak sekolah yang pulang-pergi, pagi-sore hitungan kilometernya mencapai kurang lebih 60km. Kilometer ini seringkali bertambah karena kegiatan yang lumayan padat. 
Iya, memang, saya (pura-pura) sibuk... hehe

Nah, Hari-hari setelah kejadian, saya menyetir mobil dengan mata selalu jelalatan spion kanan-kiri-depan. Kemudian tangan menjadi dingin setiap melihat pria berboncengan motor mendekat dan akan menyalip mobil saya. Trauma. Kuatir berlebihan karena si maling adalah dua pria pemotor.
Tapi disinilah kuasa Allah, kasih sayang Allah kepada hambaNya berlaku, sunnatullah sifat lupa yang melekat pada manusia membuat trauma saya berangsur menipis.
Bisa dibayangkan kalau manusia tidak memiliki sifat lupa. Trauma yang berkepanjangan pasti akan menyakitkan.

Tapi lupa ini tidak sepenuhnya menghapus. sesekali masih muncul walau sebersit.
Sekali lagi, ini kuasa Allah, bukan?
In my humble opinion, ini bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Kenapa?
Yaaa, kalau manusia beneran lupa tak bersisa, kita tak akan mengambil pelajaran dari peristiwa memalukan. Tak akan mengambil ibrah dari kejadian traumatik. 
Dengan sisa ingatan ini, kita akan menjaga perilaku agar tidak mengulang perilaku yang menyebabkan rasa malu. Mengulang kesalahan yang sama.
Dengan sisa ingatan ini, saya jadi berhati-hati tidak meletakkan tas di atas kursi ketika menyetir mobil.

Sesungguhnya, betapa besar kasih sayang Allah kepada kita. Sifat remeh temeh ini bisa begitu dahsyat dalam mendidik kita.

Fabiayyi  aala-i robbikumaa tukadzdzibani...
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? QS Ar Rahman-13)

Ah.. serius sekali tulisan kali ini..

Kuala Lumpur, 17 June 2017

Selasa, 30 Mei 2017

Pemubaziran Massal

Sore tadi adalah buka puasa hari ke empat.
Seperti tahun-tahun sebelumnya perkumpulan WNI yang tinggal di condominium ini sepakat membuat jadwal piket untuk menyiapkan takjil para muslim yang berpuasa. Bergiliran. Setiap sore setidaknya ada tiga macam kue yang terjadwal dan tersedia. Belum lagi para donatur yang meskipun tidak piket, tetap mengirimkan kue untuk takjil. Spontanitas. Belum lagi ibu-ibu middle east yang dadakan kirim makanan a la timur tengahnya. Tak ada istilah kekurangan bagi para muslimin pada saat buka puasa nanti.
Kadangkala, jika pas bentrok banyak yang sedekah, memang makanan tampak berlimpah dan berlebih. Tapi ini tak membuat mubazir, karena makanan bisa disalurkan ke para security yang bertugas malam hari menjaga condo kami.

Pagi tadi, guru ngaji saya bercerita tentang mubazirnya makanan di sebuah masjid pada jam buka puasa. Makanan ini juga berasal dari para donatur. Nah bagi pengunjung dan para pemburu takjil, mentang-mentang makanan disediakan secara gratis, mereka mengambil semaunya dan terkesan berlebihan. Ujung-ujungnya, setelah kekenyangan kemana larinya makanan itu kalau bukan ke tong sampah. 
Padahal di saat bersamaan jamaah lain ada yang masih antri mengular dan tak kebagian. 
Padahal di saat bersamaan pengungsi korban perang Syria  yang terdampar disekitar sini, juga pada kelaparan...

Ini sama persis dengan yang pernah saya lihat disuatu masjid besar di lingkungan KLCC. Suatu saat saya sholat iedul adha disana. Selepas sholat, ada semacam jamuan untuk jamaah. Pihak masjid yang menyediakan. Tidak mewah memang. Minumannya hanya dua macam, teh manis dan air sirup. Makanannya miehoon dan beberapa macam kuih muih (kuih muih adalah istilah melayu untuk menyebut aneka kue basah). 
Tapi eh... tapi.. tetap saja ada orang yang mengambil secara berlebihan. Satu  orang akan mengambil satu piring meehoon dan mencomot masing-masing jenis kue minimal satu buah. Minumnya, dua-duanya diambil. Kemudian semua makanan dan minuman dijejerin disebelah mereka duduk. Tidak semuanya begitu sih... tapi kebanyakan ya gitu deh... Nah ujung cerita bisa ditebak kan,  jika perut terasa penuh, kemana larinya makanan itu? Yes, lagi-lagi tempat sampah. Beberapa piring yang belum sepenuhnya kosong malah masih berserakan dilantai emperan masjid. Mereka tinggalkan begitu saja.

Bagaimana perilaku pemburu makanan di Indonesia? Entahlah, saya belum pernah mengamati, seperti apa keadaan pada saat berbuka puasa di masjid-masjid.
Tapi saya sering menemui hal yang sama di event yang berbeda. Event kawinan. Kondangan di sebuah hall pertemuan. Yang makannya a la standing party itu, mereka melakukan hal yang sama. Mau di hotel bintang lima atau di balai RW, berburu makanan dengan porsi ajaib tetap terjadi.. Baju rapi dan tas branded tidak menjamin bahwa mereka akan mengambil makanan secukupnya. Semua makanan ingin dicoba. Tidak suka, itu nomor dua. Tidak habis, itu nomor tujuh belas....

Tidakkah terbayang makanan yang larinya ke tong sampah ini, sebetulnya sangat bermanfaat bagi orang yang sangat membutuhkan?

Saya pernah menghadiri acara perkawinan di sebuah gedung di salah satu kota di Jawa Timur. Di dalam gedung berseliweran anak-anak dan perempuan membaur dengan para tamu undangan, sambil membawa kantong plastik. Tidak, jangan dipikir mereka hendak mencuri makanan. Mereka hanya memungut sisa-sisa makanan yang tak habis dimakan para tamu. Ditampung di kantong plastik, yang konon, akan dibagi untuk keluarga mereka di salah satu pelosok pesisir pantai.
Saya yang baru pertama kali melihat hal seperti itu, rasanya tak bisa menelan makanan. Nyesek.

Kembali ke topik takjil untuk berbuka puasa. Mari kita lihat, penjual makanan beraneka rupa menarik minat pembeli. Perut yang seharian menahan lapar tentunya mudah sekali terhasut untuk membeli semua jenis makanan. Lapar mata. Tapi, rasanya momen inilah saatnya belajar memulai untuk tidak memubazirkan makanan. Hati dan nurani belajar mengendalikan nafsu.
Bukankah sesungguhnya mubazir adalah teman setan?
"Innal mubazziriina kaanu ikhwaanas sayaatini" (Al Isra : 27)



Kuala Lumpur, 30 Mei 2017

Sabtu, 06 Mei 2017

Lihatlah, Malaikat pun Berdoa Untukmu

Hari Jumat lalu tiba-tiba tanpa rencana saya ingin lari pagi di sebuah taman, dekat Condo tempat tinggal saya. Padahal biasanya saya treadmill di dalam gym fasilitas condominium. Olah raga outdoor biasanya hanya saya lakukan jika bersama anak-anak dan suami.

Taman ini, Taman Datuk Keramat namanya. Entah kenapa dinamakan Datuk Keramat. Yang saya tahu tempat ini, mayoritas penduduknya adalah orang melayu, keturunan Indonesia. Dari Padang, Bawean, Bugis dan Jawa. Mereka sudah lama tinggal disini, sudah dua atau tiga generasi. Pindah kewarganegaraan atau menikah dengan warga negara asli. 
Pernah iseng saya tanya ke ibu penjual lontong sayur padang yang sudah puluhan tahun disini, katanya disini ada makam sesepuh yang dikeramatkan. Entahlah....
Selain itu, yang saya tahu sih, disini ada pasar tradisional. Salah satu pertimbangan ibu-ibu dalam mencari tempat tinggal adalah : “Dekat pasar ga?”.
Nah itu juga yang membuat saya memutuskan tinggal di Condo ini. Dekat pasar dan taman. Lengkap dengan playground, outdoor mini gym dan track lari.

By the way.. saya mau cerita apa sih tadi.. kok jadi bahas Datuk Keramat....

Oh  ya...
Jadi, karena ini pagi hari dan hari kerja, taman ini tak seramai weekend di sore hari. Kalau week end, saya tak akan sempat explore mata kemana-mana karena sibuk mengawasi anak ditengah keramaian. Atau fokus jogging saja biar tidak menabrak orang.

Pagi itu saya melihat seorang ibu tua seumuran ibu saya. Menenteng tas. Semacam tas belanja. Tas yang sungguh biasa saja. Dia tidak berkostum olah raga, bukan pula baju santai sebagaimana layaknya orang ingin menikmati pagi secara outdoor. Bajunya baju kurung, tipe baju yang sering dipakai orang melayu kebanyakan. Gayanya bercelingukan membuat saya memelankan ritme lari saya, ada apakah? Sekelebat pikiran buruk melintas, mengingat banyaknya kasus kriminalitas belakangan ini.

Tapi astaghfirullah ... saya salah mengijinkan pikiran buruk tadi melintas di kepala. Ternyata ibu ini celingukan mencari teman-temannya. Dia berjalan ke satu titik dan mulai membuka tasnya. Dan, di dalam tas yang saya sebut 'tas biasa saja' tadi, dikeluarkannya sesuatu yang tidak biasa. Dia mengeluarkan segenggam demi segenggam makanan kering. Makanan kucing.
Ya, teman-temannya adalah kucing-kucing yang nampaknya sudah terbiasa makan dari telapak tangan tuanya.

Ada yang sejuk di hati saya...

Allah SWT menurunkan rasa cinta dan kasih di hati makhlukNya.  Perbedaan jenis tak menjadi masalah. Manusia kepada hewan, atau sebaliknya, hewan kepada manusia. Dan rasa cinta ini diwujudkannya dalam sedekah memberi makan.

Teringat guru ngaji saya pernah menyampaikan, ada malaikat yang tugasnya hanya untuk mendoakan manusia :
"Tidak satu hari pun dimana pada pagi hari seorang hamba ada padanya, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satu diantara keduanya berkata : "Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak." Dan yang lainnya berkata : "Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir"
(HR. Bukhari dan Muslim)

Didoakan malaikat, siapa yang tidak mau?

Malaikat adalah hamba Allah yang doanya tidak tertolak. Kakek saya dulu, menceritakan jika kita berdoa dan mengucapkan amin, jika ucapan amin kita bersamaan dengan ucapan aminnya malaikat, sungguh beruntung kita, karena doa kita akan dikabulkan. Cerita dengan bahasa versi kanak-kanak...

Ah, jadi ingat juga, dulu kakek saya setiap jalan pagi selalu membawa segepok permen di kantong bajunya. Jika bertemu anak kecil langsung disalami dan diselipkan barang satu-dua permen ke genggaman si bocah.
Kenal atau tidak, tak masalah bagi kakek. Melihat mata kecil yang berbinar bahagia sudah cukup membahagiakan kakek.

Hal yang sama juga dialami anak-anak saya ketika ikut berumroh. Setiap waktu sholat, ada saja bapak-bapak atau ibu-ibu (biasanya berwajah middle east) yang menyelipkan sekedar minuman kotak, roti atau permen ke anak-anak saya. Si bungsu karena paling imut, paling banyak dapat sedekah. Edukasi visual seperti itu, menjadi trigger bagi anak2 : “Bu, when i grow up and have some money, I’ll make some kids happy as how happy I’m now”.

Nyes dan sejuk melihatnya.

Kembali ke cerita Jumat pagi itu..
Betapa saya mendapatkan pelajaran secara live show. Agar kembali menerapkan kebiasaan kakek saya dulu, mencontoh bapak-ibu middle east di masjidil haram dan madinah. 
Sedekah. 
Bahkan jika sedang tak bawa harta atau benda. Senyum dan wajah ramah pun sudah termasuk sedekah. Tak susah bukan?

Kuala Lumpur, 6 Mei 2017








Minggu, 12 Maret 2017

The Power of Emak-emak

Apa sih arti kata Emak.

Sebagai orang Jawa, saya familiar sekali dengan sebutan ini. "Emak" adalah sinonim dari kata "Ibu". Ibu kandung, atau seseorang yang dituakan atau dianggap ibu.
Ibu saya memanggil ibunya atau nenek saya dengan panggilan Emak. Ayah saya memanggil ibunya juga dengan panggilan Emak. Saat itu, rasanya tak hanya ibu dan ayah saya yang mememanggil emak kepada orang tua perempuannya. Hampir semua tetangga atau kerabat seumuran ibu-ayah saya melakukannya. Sayapun ikut terbawa memanggil nenek dari pihak ibu dengan panggilan Emak. Emak Maimunah.

Emak itu perempuan luhur. Setidaknya itu yang saya dapati dalam diri nenek saya ini. Emak juga perempuan lugu yang bersahaja. Tipikal perempuan patuh terhadap suami atau datuk saya, sekaligus pejuang tangguh berpartner dengan datuk untuk mencari nafkah membesarkan lima anaknya. Dalam memori saya, saya menyimpan keagungan kata emak ini serupa mantra ketenangan karena emak selalu tenang dan tak pernah mengeluh. Emak hafal betul bagaimana meladeni masing-masing cucu dengan bermacam karakter. Bahkan sampai di kemudian hari, Jika ada orang menyebut kata "emak", seringkali saya teringat emak almarhumah...
"Allahumghfirlaha warhamha wa afiha wa'fuanha"

Kemudian, di masa ini  panggilan emak sudah mulai ditinggalkan dan berganti dengan sebutan ibu, bunda, mama, mommy dan sejenisnya. Meskipun dalam ranah pergaulan sebutan emak masih dipakai dalam ungkapan yang bernada keakraban sesama teman. 
Misalnya :
"Maaf ya, saya terlambat, maklum emak-emak rempong, baru bisa berangkat setelah urusan rumah kelar".
Atau,
"Dasar emak-emak baper, semua dipikirin, take your time lah...".
Dan kalimat-kalimat sejenis.

Tapi belakangan ini, kata "emak" mempunyai konotasi yang berbeda. Tetap mempuyai arti yang sama yaitu ibu, tapi bukan lagi ibu yang luhur dan agung, melainkan konotasi negatif sebagi ibu-ibu yang punya perilaku tidak pantas. Konotasi sumbang.
Sebagi seorang ibu, rasanya saya malu dengan fenomena ungkapan "The Power of Emak-emak".  Tersirat nada mengejek dan mencibir di dalamnya. 
Sering kan ada candaan sinis yang menyindir seorang ibu yang menyalakan lampu sein motor kiri tapi beloknya ke kanan?
"Sein kiri, beloknya ke kanan. Kalo ditegur, marah.. dasar the power of emak-emak".
Juga,
"Ketemu emak-emak naik motor matik aja udah serem, lah ini melawan arah pula. Kelar hidup lo"
Foto-fotonya pun bertebaran di media sosial, lengkap dengan memenya. Tinggal browsing saja di google, akan keluar hasil beragam meme dan berita. Saya sendiri pernah berpapasan dengan ibu yang membonceng anaknya di jok belakang, sementara di stang motornya menggelantung banyak tas plastik belanjaan, dan membunyikan klakson terus menerus. Nah kan saya bingung maksudnya apa.
Sedihnya, dengan maraknya ungkapan ini, menjadi semacam permakluman bagi para emak ini untuk melakukan hal yang sama. Seperti ada kebanggaan tersendiri dengan arogansi ini.

Terbukti makin kesini, ungkapan the power of emak-emak tak hanya menyangkut kesembronoan mengemudi di jalan raya. Beberapa waktu yang lalu beredar luas video seorang ibu yang marah-marah dan melakukan aksi fisik kepada polisi di jalan raya hanya karena merasa jalannya terhalang polisi yang mencoba mengatur lalu lintas.

Yang masih hangat, baru kemarin saya melihat video ibu-ibu yang marah-marah kepada satuan pengaman di salah satu kantor pegadaian. Sampai lepas sepatu segala dan memukulkan sepatunya ke pak satpam yang tampak sabar dan hanya menangkis. Entah apa duduk permasalahannya. 
Di rangkaian video sejenis, ada juga ibu yang teriak-teriak di meja customer service di sebuah perkantoran PLN. Tak jelas apa yang diucapkan. Sedih saya melihatnya.

Image seorang ibu bijaksana yang mengayomi anak dan mensejahterakan keluarga lenyap begitu saja.
Jika di tempat umum dan kepada orang lain dia bisa semarah itu, saya tak berani membayangkan seperti apa di rumah. 
Bukankah ada ungkapan "Al ummu madrasatul ula", ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya?. Teladan baik tak cukup hanya dengan ucapan, tapi juga contoh perilaku.

Saya tahu emak-emak  seperti itu hanya oknum. 
Segelintir saja dibanding sekian banyak ibu yang tetap bersahaja, yang menjanjikan surga di telapak kaki untuk anak-anaknya. Yang berpendidikan tinggi semata untuk membentuk generasi penerus rabbani. 

Semoga saja di era internet yang menjanjikan informasi terbuka lebar, konotasi negatif "The Power of Emak-emak" ini tidak malah menginspirasi gadis-gadis belasan tahun untuk melakukan hal yang sama. Tidak menginspirasi emak-emak galau untuk menempatkan powernya di sisi yang salah. Untuk mencari permakluman di hal-hal negatif.

Dan semoga pula di era internet ini membuat orang berpikir panjang sebelum bertindak gegabah, karena media sosial demikian mudahnya menyebarkan kabar. Sekalinya tersebar di internet, akan tercatat seumur hidup, bahkan akan dibaca anak-cucu. 
Karena kakek google tak pernah lupa.



Kuala Lumpur, 12 Maret 2017

Sabtu, 11 Maret 2017

Pets Are Family

Ketika kelas lima Sekolah Dasar, ada teman yang menawarkan seekor anak kucing untuk saya adopsi, karena induk kucing yang dia miliki melahirkan banyak anak kucing. Ibu saya setuju, ketika saya meminta ijin. Jadilah resmi hari itu saya punya teman bermain.

Namanya Catty.

Waktu itu saya belum ngerti jenis-jenis kucing. Justru belakangan ini, di era internet, setelah baca beberapa artikel, melihat ciri fisiknya, baru saya tahu,  ada darah siamese mengalir di tubuhnya, kawin campur dengan kucing kampung. Ya, kucing saya indo hahaha.. kalah kasta deh saya...

Sebagai anak bungsu dengan jarak yang cukup jauh dengan dua orang kakak, saya cukup terhibur dan merasa punya teman. Sayangnya  si Catty ini, rupanya kurang menjaga pergaulan, sehingga dia hamil tanpa suami 😛.. inilah awal terjadinya kucing saya beranak pinak, bahkan ada satu masa saya mempunyai tujuh ekor kucing sekaligus. Sering juga  diwarnai masa-masa hilang-lahir-mati silih berganti.

Waktu itu belum kondang makanan kucing kemasan seperti saat ini, jadi kucing-kucing itu makan nasi yang dicampur ikan/pindang kukus. Tetapi meskipun dokter hewan dan vaksinasi masih belum mudah ditemui, kucing-kucing saya tetap terjadwal vaksinasi satu tahun sekali. Ini karena setiap tahun di komplek perumahan saya ada program dokter hewan keliling kampung, untuk mensosialisasikan pentingnya vaksinasi  hewan peliharaan, mencegah rabies dan penyakit lainnya.
Jadilah tanpa harus membayar mahal (karena ini program dari pemerintah kota, maka kami hanya membayar biaya administrasi saja), kucing-kucing saya rutin vaksinasi, lengkap dengan medical record card nya.

Masing-masing kucing punya kebiasaan unik. Boni, suka cuci muka di bawah air kran. Meski dia kemudian berakhir mengenaskan, menderita stress berat setelah hilang dan baru tiga bulan kemudian ditemukan ibu saya di pasar tradisional. Atau Sydney, yang selalu mengikuti ibu saya ke masjid setiap subuh, setia menunggu di teras masjid ketika ibu sholat, dan kembali menguntit pulang ketika sholat usai, hehehe.. kucing sholihah..

Ketika ayah dan ibu saya pergi haji, kakak-kakak saya sudah hidup terpisah di luar daerah dengan keluarganya, dan saya tinggal di luar kota untuk sekolah, ibu saya khusus mendatangkan seorang pesuruh agar sehari tiga kali datang memberi makan para kucing ini.
Segitunya... lagi-lagi saya kalah set..

Nah, sekitar duapuluh-tahunan bersama kucing, akhirnya siklus ini terhenti dengan sendirinya karena saya menikah dan harus pindah ke luar Jawa. Ketika kucing terakhir hilang, ya sudah, tidak ada niatan untuk mengadopsi kucing baru lagi...
Bukan tidak ada keinginan, tapi memang setelah saya berkeluarga, tidak memungkinkan untuk hidup bersama kucing. Kami yang masih berpindah-pindah tempat dan anak-anak yang masih kecil membuat tak terpikir untuk mengadopsi mereka.

Dunia perkucingan kembali menggelitik saya tiga tahun terakhir ini. Seekor baby cat persia kami bawa pulang dari sebuah petshop. Lucu pasti.. Sayangnya selang dua minggu menjadi bagian dari keluarga kami, dia-Bolt, menghilang. Kecil kemungkinan dia menyelinap dari balkon apartemen dan melipir turun ke lantai lainnya, karena akses turun satu-satunya hanya lift. Mana mungkin Bolt menekan tombol pintu lift. Dugaan terbesar adalah dia terpeleset jatuh ke bawah. Meskipun ketika anak saya mencarinya, tak menemukan tanda-tanda kucing jatuh.

Kadung ketagihan, saya mengunjungi web petfinder.my dan mendapatkan anak kucing lucu, jenis domestik tabby. Plus pemberian dadakan dari seorang teman, seekor american short hair, jadilah kembali kucing saya beranak pinak. Total menjadi 5 ekor. Hahaha... Lebih banyak daripada jumlah anak saya. 
Hanya sayangnya kali ini tetangga apartemen saya keberatan dengan keberadaan kucing-kucing ini. Dengan berat hati tiga diantaranya, saya iklankan melalui web yang sama seperti ketika saya mendapatkan mereka. Butuh waktu untuk mendapatkan keluarga  baru yang saya klik dan yang klik juga dengan kucing-kucing saya.

Pada masa "butuh waktu" ini, tetangga saya kembali complain. Saya tidak ingin masuk sebagai kategori manusia yang mengganggu ketentraman tetangganya.  Membuat saya hopeless dan mengambil jalan pintas memindahkan dua anak kucing ke basement, dimana mobil saya diparkir. 
Ini adalah pengalaman kami yang paling menyedihkan selama mempunyai kucing. 

Jam sepuluh pagi, saya bawa dua anak kucing yang sudah selesai masa menyusu. Saya lepaskan di bawah mobil saya dan memberikan bekal makanan. Harapan saya, dia aman berada disana, dan kami bisa menengok serta mengirim makanan setiap jam makan. Sesekali rencananya, akan kami bawa main ke rumah kami.
Berat rasanya. Ketika saya tinggalkan, saya didera perasaan bersalah yang sangat besar. Mereka hanya mengeong pasrah.

Tapi... sore harinya, saat menjemput anak-anak sekolah, sambil membawakan makanan baru, saya tak menemukan mereka. Antara cemas dan lega. Cemas akan keselamatan mereka dan lega berharap ada yang mengadopsi. Dan malam itu, saya tidur sambil bermimpi tentang kucing-kucing yang berlarian main kesana-kemari.

Sampai kemudian keesokan harinya, pagi-pagi sebelum mengantar anak-anak sekolah tiba-tiba saya melihat mereka kembali. Di kolong mobil saya, tak sedikitpun menjamah makanan yang saya tinggalkan semalam. Berlompatan masuk ketika saya membuka pintu mobil. Mengeong memohon.
Saya keluarkan mereka dan kami berlalu. Saya merasa menjadi Raja Tega sedunia

Setelah mengantar anak-anak sekolah, saya terhenyak melihat mereka. Menunggu di slot parking area saya. Mengeong pedih. Hati saya langsung luruh..
"Ok, kids.. Let's go home..".  Saya gendong keduanya dan membawa pulang. Terserahlah tentang complain tetangga. Nanti akan saya pikirkan jalan keluar yang lebih "hewani", sambil saya menggendong mereka, saya bisikkan :
"Kids, nanti.. ketika yaumil hisab tiba, tolong jadilah saksi tentang hari ini, bahwa kami telah memperlakukan kalian dengan baik, dan semoga ini bisa menambah timbangan amal kami...".

Ketika saya menulis ini, kucing saya tinggal dua ekor. Jantan. Tiga yang lain telah berbahagia menemukan keluarga barunya. Ini saya ketahui setelah mendapatkan kiriman foto mereka. 
Sayapun sedang mencari informasi bagaimana cara membawa kucing pindah negara, just in case kami pulang kembali ke Jakarta, sangat berharap mereka turut serta, karena mereka tak sekedar peliharaan, tapi mereka adalah keluarga.

Kuala Lumpur, 11 Maret 2017

(Ini adalah penyelesaian terlama dari sebuah judul. Sejak berencana menulis tentang kucing, sekitar dua minggu baru tulisan selesai. Karena panjangnya masa bersama kucing, dan masing-masing kucing punya kisah. Sehingga bingung mana yang akan ditulis, takut nggak adil hehehehe...)

Kamis, 09 Februari 2017

Halal Makananmu, Berkah Hidupmu

Bulan lalu, libur sekolah selama dua minggu kami lalui di Jakarta. Jadwal suami yang lebih banyak bekerja di kantor Jakarta membuat kami memutuskan, saya dan anak-anak saja yang ke Jakarta daripada suami yang pulang pergi Kuala Lumpur-Jakarta. 
Tak lupa perlengkapan belajar kami bawa serta, agar anak-anak tetap bisa review pelajaran sekolah, Begitu rencananya, meski kenyataannya buku-buku itu tak tersentuh hehehe...

Hmm... sepertinya semua hal sudah kami persiapkan. Bahkan kucing-kucing yang ditinggal di rumah juga sudah saya titipkan ke mbak ART tetengga apartemen untuk menengok, kasih makan dan bersihkan kotak pasir.

Di Jakarta, kami tidak pulang ke rumah. Melainkan di sebuah apartemen disebelah kantor suami, karena kepentingan pekerjaan. 

Nah rupanya persiapan dan perencanaan yang kami rancang big failed disini...

Meskipun menempati apartemen  dengan fungsi ruang lengkap sebagaimana layaknya rumah, rupanya perlengkapan dapur tidak terlalu lengkap untuk standar memasak. Kompornya sih lima tungku, lengkap dengan oven dan microwave. Piring, gelas, sendok juga cukup untuk kami berlima. Tapi peralatan masaknya minimalis, Hanya ada satu fry pan kecil, 1 panci kecil, Padahal namanya liburan, anak-anak full di rumah tanpa kegiatan berarti, tentunya kompensasinya adalah cari-cari makanan melulu entah untuk iseng atau beneran pengen makan. Sajen harus tersedia.
Bisa dibayangkan, peralatan standar bisa dipakai masak apa sih, kecuali yang simpel-simpel aja. Jadilah kami menjadi pengunjung dari satu food court ke food court lain di beberapa mall sebelah  apartemen.

Dari food court inilah sumber cerita bermula.
Tahu sendiri kan bentuk food court seperti apa? Stall makanan berjejer di tepi hall dari ujung ke ujung, beraneka macam jenis makanan, mulai dari makanan indonesia, tradisional, cina sampai western food, ada disana. Tinggal kitanya aja pengen memilih makan apa.
Sementara meja kursi di tengah area, berderet memanjang tertata rapi. Tinggal kita pengen  memilih duduk dimana. 
Mata saya menjelajah mencari makanan yang paling Indonesia atau yang paling tradisional, yang susah ditemukan di Kuala Lumpur. Dan sampailah di suatu deretan saya melihat beberapa stall yang menjual makanan mengandung babi. Ada tulisan non halal di papan namanya.

Seketika saya ragu untuk makan disana. 

Meskipun stallnya berbeda dengan stall makanan yang saya pilih, bayangan saya, mereka kan memakai piring secara bersama. Atau jika piring dibedakan, bagaimana dengan tempat mencucinya? 
Karena di agama kami, tak hanya halal-haram makanannya yang harus dicermati, tetapi juga harus memastikan kesucian peralatan makan dengan memperhatikan tata cara dan tempat mencucinya. Untuk memastikan bahwa piring-sendok-gelas yang kami gunakan terbebas dari najis.

Anak-anak sudah lapar dan menemukan makanan pilihannya. Tak susah, karena mereka memilih ayam goreng fast food. Biasanya mereka kami larang atau kami batasi makan junk food. Tapi kali ini saya ijinkan karena penyajiannya pakai piring kardus yang tentunya tanpa dicuci dan hanya satu kali pakai, kemudian dibuang.  Jadi saya tidak perlu khawatir dengan pemakaian piring bersama.
Tapi masalahnya saya tidak suka junk food. Maka saya putuskan untuk menghampiri mbak-mbak yang bertugas beresin piring kotor. Biarlah dibilang reseh, yang penting saya mengerti kejelasan cara mencuci piring-piring itu, sebelum saya pakai mewadahi makanan yang akan masuk ke tubuh saya.

Saya mendapatkan jawaban dari si mbak bahwa makanan halal dan non halal dicuci secara terpisah. Lega hati saya, meski sedikit. 

Di kesempatan dan tempat yang berbeda, saya mengamati stall-stall yang menjual makanan non halal memakai piring dengan warna yang berbeda. Mungkin untuk memudahkan mbak yang mencuci piring untuk mengelompokkannya.

Saya jadi teringat disini, Kuala Lumpur. Sependek pengetahuan saya menjelajah food court, belum pernah saya melihat stall makanan non halal berbaur dengan makanan halal. Jikapun ada, mereka biasanya mempunyai gerai tersendiri, ada dinding pembatas lengkap dengan meja dan kursinya, layaknya mini restauran tersendiri.
Jumlah penduduk muslim yang besar, membuat pemerintah negara ini memberikan kenyamanan dan jaminan makanan halal yang lebih luas. Sampai-sampai tahun 2015 lalu, di portal berita traveling, saya pernah membaca artikel bahwa Malaysia menjadi salah satu tujuan wisata turis muslim mancanegara karena kenyamanan makanan halalnya.

Di Langkawi, salah satu wilayah Malaysia yang berbatasan dengan Thailand, kami pernah ditolak masuk ke sebuah restoran non halal karena melihat saya berkerudung.
Ini membuata saya teringat dengan somay babi di pusat perbelanjaan Mangga Dua yang beberapa tahun lalu menjadi viral di media sosial. Tanpa beban moral si penjual membiarkan pembeli berkerudung makan disana.

"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang Allah telah berikan kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepadaNya"
(An-Nahl 114).

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan halalMu, agar aku terhindar dari yang haram. Dan kayakanlah aku dengan karuniaMu, sehingga aku tidak membutuhkan pemberian dari selain Mu"
(HR Tirmidzi)

Berharap, dengan jumlah penduduk muslim yang lebih besar,  suatu saat Indonesia pun mempunyai pencapaian yang sama dengan negara tetangganya ini.

Kuala Lumpur, 9 Februari 2017



Jumat, 13 Januari 2017

Senangnya Dirindukan.....

Lagi-lagi berita tentang persahabatan mengusik saya. 
Pulang dari mengambil raport anak-anak pagi ini, saya sempatkan membaca berita dari negeri saya. Cuaca politik yang panas menjelang pilkada dan kasus peninstaan agama yang sidangnya bertele-tele tak kunjung usai, memang membuat saya setia memantau berita melalui media online.

Saya terkejut membaca berita salah satu anggota Project Pop, Oon, meninggal dunia karena penyakit diabetes dan ginjal. Terkejut, karena saya tidak mengikuti beritanya, bahwa selama ini beliau sudah terbaring sakit beberapa lama.
Yang saya tahu hanyalah grup ini, sejak awal terbentuk kurang lebih tahun 90an sampai sekarang tak pernah gonta-ganti personil, tetap rapat berkawan. Bahkan meski masing-masing  sudah berkeluarga.
Di berita juga disebutkan, bahwa dalam rentang masa sakit, lima anggota yang lain sempat membuatkan sebuah lagu untuk menyemangati Oon, yang sebagian liriknya berisi harapan agar cepat sembuh, agar tak merasa sendiri, dan agar tak segan menelpon jika merindu, maka lima  sahabat ini akan datang.. (saya sampai sengaja melucur ke youtube untuk menonton video clipnya).

Aah what a beautiful friendship. Lirik yang indah dan penuh motivasi. Membuat terharu...

Saya ini orang yang paling baper dengan persahabatan. Di tulisan-tulisan saya sebelumnya, juga ada beberapa judul yang mengangkat tema persahabatan. Karena saya menghargai persahabatan dan 'dalem'  menyesali persahabatan yang broken. Berkaca dari pengalaman? Yes, indeed...   
Meski kemudian menemukan komunitas dan teman-teman baru, tetap terasa  ada yang hilang.

Dari pengalaman ini, seringkali saya bekalkan ke anak-anak saya tentang pentingnya persahabatan. Karena beberapa kali pindah sekolah, dulunya di Jakarta, sekarang di Kuala Lumpur. Ada kemungkinan, suatu saat dengan kehendak Allah, akan kembali ke Jakarta lagi atau mungkin ke lain kota. Hal ini tentunya akan makin menambah jaringan pertemanan mereka.
Saya pesankan, jika  merasa nge-klik dan utamanya membawa ke arah kebaikan serta manfaat, peliharalah pertemanan itu. Jangan pikir tentang networking, jangan pikir tentang advantage dan disadvantage. Karena dengan berkumpul, meskipun hanya melalui whatsapp group, kalian akan saling meringankan beban, saling mengingatkan, saling tertawa, saling mewarnai dan saling menebar manfaat.

Kuala Lumpur, 13 Januari 2017