Jumat, 08 September 2017

Rohingya, Tercabut Dari Akarnya


Lagi-lagi berita tentang Rohingya marak di semua portal online, koran dan televisi. Penuh luka, airmata dan wajah duka. Hitam.

Saya tak ingin menyangkut-pautkannya dengan politik atau agama.

Hati.
Itu saja. 

Karena saya punya pengalaman mengunjungi mereka di sebuah rumah penampungan di Ampang, Kuala Lumpur. Ada beberapa titik sebetulnya rumah Rohingya ini, tapi kami, untuk kesempatan ini, memilih ke Ampang karena beberapa pertimbangan. Semoga di lain kesempatan kami bisa rata mengunjungi semuanya.

Seperti biasa, di bulan Ramadhan kami, ibu-ibu WNI, menyusun agenda bakti sosial lebih banyak dibanding bulan-bulan biasa. Salah satunya mengunjungi rumah Rohingya. Rumah untuk anak-anak korban konflik berkepanjangan yang mengungsi mencari kedamaian tanpa harus dikejar-kejar untuk dimusnahkan etnisnya dari peradaban dunia.

Kami mengumpulkan baju layak pakai, peralatan sholat, sembako, makanan kering, buah-buahan, goodie bag, peralatan mandi plus sanitary dan sekedar uang saku untuk anak-anak dan pengurus rumah penampungan.

Berangkat pukul 10 pagi dan ditargetkan acara selesai sebelum dhuhur. 

Beberapa mobil pengangkut tali kasih, mereka sambut bergotong royong membawa barang ke lantai dua. 
Rumah itu sederhana saja, menyewa sebuah ruko tiga lantai yang masing-masing lantai sharing dengan penyewa lainnya. Rumah Rohingya terletak di lantai 2. Siapa yang membayar sewa? Alhamdulillah, donatur di Kuala Lumpur ini begitu mudah terketuk hatinya. Baik WNI maupun warga Malaysia. 

Memasuki ruangan yang lantainya beralaskan semacam terpal plastik kami duduk dan memulai acara. Seremoni singkat antara tamu dan shohibul bait tak begitu saya perhatikan, karena perhatian saya leluasa menyapu seluruh ruangan. 

Mata saya mulai berembun...

Rentang usia mereka, anak-anak ini berkisar antara dua sampai sembilan belas tahun. Putra dan putri. Jika dibandingkan dari sisi usia, tubuh mereka lebih kecil dibanding anak-anak kita. 
Entah karena faktor DNA, atau karena beban perjalanan hidup yang berliku dan tajam berduri. 
Itu sebabnya pada saat kami mengklasifikasikan pakaian layak pakai berdasarkan usia, ukuran baju kami kurangi sekitar satu size dibawah anak-anak kami. Misalnya baju anak usia lima tahun, untuk mereka, bisa muat untuk anak usia SD  tujuh atau delapan tahun.

Dengan hati yang layu, saya pandangi wajah kanak-kanak yang berbinar atas kunjungan ini. Ada  sebersit keinginan untuk mengajak mereka berbincang, mungkin sekedar bertanya apa kabar atau untaian kata penghiburan, bahwa ada Rabb Sang Maha Penyayang, yang menyayangi mereka lebih dari apapun. Tapi kami terkendala bahasa. Mereka tak pandai bercakap melayu ataupun bahasa inggris. 

Justru dari mulut yang terkunci, pikiran saya mengembara... menembus dinding empati melukiskan sebuah pengandaian yang segera saya tepis. Naudzubillahi min dzalik.

Mereka seumuran anak-anak saya... tak salah jika saya langsung teringat dan berandai kepada tiga anak saya yang di detik yang sama sedang menikmati usianya dengan belajar dan bermain. Ditengah kehangatan keluarga, teman dan lingkungan yang aman. Segala puji hanya untukMu ya Rabb, Engkau Pemilik Segala Rencana.

Mata saya makin berkabut.

Kanak-kanak yang "semestinya" berada di sekolah meniti pelangi masa depan, saling bercanda dengan teman sekolah, bercerita tentang mainan, makanan kesukaan atau liburan...
Atau para pemuda yang beranjak dewasa, yang "semestinya" mulai merangkai cita-cita, memetakan
minat dan keinginan memilih perguruan tinggi atau fakultas impian...

Tapi, tak ada kata "semestinya" bagi mereka. Mereka yang kadang ada ayah tak ada bunda. Ada bunda tak ada ayah. Atau bahkan tak ada keduanya. Jauh dari akarnya, negaranya, budayanya. Tanpa tahu sampai kapan, tanpa tahu akankah bisa kembali pulang. 

Sepertinya untuk saat ini, bagi mereka home sweet home adalah tempat dimanapun itu, asal tanpa kejaran junta militer, tanpa berondongan suara mesiu, tanpa desingan peluru di atas kepala, tanpa terpontal-pontal  semburat dari rumah yang dibakar.

Kembara di pikiran saya terhenti ketika acara ditutup dengan doa dari ustadz Rohingya  yang selama ini mendampingi dan mengajar mengaji anak-anak ini. Doa panjang yang sebagiannya adalah doa untuk kami yang telah berkunjung. Saya aminkan doa-doa itu, sembari saya tambahkan dalam hati dengan doa saya:
"Duhai Rabb, Zat yang Maha Membolak-balikkan Hati, lunakkanlah hati para pemilik kebijakan di Myanmar agar menghentikan pemusnahan etnis ini, menghentikan konflik atas nama anak-anak pemangku masa depan, agar tak bertambah anak-anak yang kehilangan kata "semestinya", agar mereka bisa pulang kembali ke akarnya, berpijak ke tanah leluhurnya, aamiin"




Tidak ada komentar:

Posting Komentar