Kamis, 24 Desember 2015

Misteri Suara dalam Celengan

     Saya terlahir sebagai generasi sebelum belajar membaca Al-Quran menggunakan metode iqra' mewabah. Tapi bukan berarti saya buta huruf AL-Quran. Terlahir dari keluarga taat beragama, dimana kakek dan orang tua saya teguh berpegang pada sendi-sendi Islam. Belajar mengaji adalah keharusan bagi saya dan kedua kakak saya. Tanpa memanggil guru, karena ibu saya pandai mengaji. Pun almarhum ayah saya. Bahkan di masa pensiunnya ayah menghabiskan lebih banyak waktunya untuk mengaji. Masa itu belum ada program one day one juz, tapi sepertinya ayah bisa khatam satu bulan dua kali. 
     Selepas sholat maghrib adalah keharusan bagi kami untuk mengaji. Agar jangan sampai ada kesalahan membaca, ibu mengajar dengan disiplin yang keras. Seringkali saya sampai menangis dibuatnya. Bukannya ibu mereda, tapi malah nada suara ibu semakin meninggi. Dan saya hafal betul apa yang diucapkannya : "Jangan pernah ada air mata yang menetes diatas Al-quranmu".
Kadang untuk mengulur waktu sengaja saya berhenti membaca dengan alasan kehausan kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Tapi lama-lama rupanya ibu hafal dengan trik ini dan sebelum mengaji saya diharuskan untuk menyiapkan minum terlebih dahulu. Meletakkan di meja tempat saya mengaji, agar saya tak perlu riwa-riwi lagi.
      Kerasnya cara ibu mengajar membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Kami bertiga khatam quran pertama kali pada kisaran umur enam atau tujuh tahun. Setelah khatam ngaji selesai? Tidak juga. Target ngaji harian tetap sama beratnya. Ibu lebih sabar dalam mengajar? Hmmm... juga tidak, karena kalau ada bacaan yang salah justru ibu lebih suka mengajak berteka-teki, hanya dengen berdehem menandakan ada yang salah tanpa memberitahu letak kesalahan. Jadilah saya mencari-cari sendiri apa kesalahan saya. Ya, ibu saya memang bukan penghafal Al-Quran tapi karena seringnya mengaji biasanya ibu merasa janggal jika mendengar panjang pendek bacaan yang kurang tepat atau salah baca fathah kasroh dhommah. Pada masa itu saya menganggap ibu sakti sekali.
     Saya tamat Sekolah Dasar dari SD Muhammadiyah. Ada pelajaran menghafal Juz Amma disana. Sama seperti anak-anak sekolah masa kini. Hanya bedanya saya dan teman-teman harus menghafal bersama artinya. Setornya maju ke depan kelas, berdiri disamping meja guru dan mengucap keras-keras. Lulus SD, dari An-Nas sampai An-Naba kelar sudah.
     Sayangnya pelajaran menghafal ini tidak berlanjut di bangku SMP. Pada masa itu saya sama sekali tak faham bahwa Al-Quran itu tak hanya dibaca, melainkan juga dihafal. Karena tidak ada pelajaran menghafal, ya saya tidak berusaha menambah hafalan. Jadilah hafalan saya mentok di Juz Amma. Bahkan karena tidak pernah murojaah, beberapa surat panjang, byar pet di ingatan saya.

     Hhhmmm.. panjang juga ya cerita pembuka saya... ok masuk ke inti cerita..

     Sampailah saya memasuki masa kuliah. 
Sekolah di luar kota mengharuskan saya untuk ngekos. Saya tinggal di Surabaya sementara kampus berada di Malang Jawa Timur, Universitas Brawijaya. Suatu sore, masih di semester pertama, di kamar kos yang sunyi sepi .. saya lupa tetangga kamar kos saya sedang pada kemana. Mungkin kuliah sore. Saya sedang duduk di meja belajar. Pengennya sih belajar, meski kenyataannya bercampur antara melamun merindukan teman-teman SMA (maklum, baru lepas SMA sehingga masih terkenang) dan merindukan ibu beserta masakannya. Tiba-tiba saya mendengar berisik suara di sudut kiri meja belajar. Saya melirik tumpukan buku di hadapan. Suara bersumber dari benda di belakang tumpukan buku. Seperti kenal suara itu.. saya berdiri dan melongok.. itu celengan tanah liat saya. Berisi uang yang lebih banyak koinnya daripada uang kertasnya. Lebih sering dicongkel dari pada diisi. Ya Allah.. ternyata celengan saya bergoyang dan suara berisik itu bersumber dari koin gemerincing. Jantung saya berdegup dan keringat dingin mulai muncul di dahi... 
Hantu celengan? Tuyul? Ngepet? Mau curi koin anak kos? Tega amat...
     Bergegas saya keluar kamar ingin mencari teman.. tapi di luar sepi sekali.. sementara suara itu tak kunjung henti. Baiklah.. kalau itu memang maunya. Kembali saya hampiri celengan itu. Saya raih. Mendekatkan mulut ke lubang koin,  saya melafalkan semua doa yang saya bisa. Membaca semua surat Al-Quran yang saya tahu. Tapi apalah daya saya hanya tahu Juz Amma. Banyak megap-megap pula. 
Goncangan tak berhenti. Saya mulai putus asa. "Dia" tak takut pada saya. Kemudian saya ingat Ayat Kursi. Salah satu Ayat Al-Quran yang banyak mempunyai fadhilah dan sebagai perlindungan diri. Ikhtiar terakhir ini sih sepertinya. Tapi,  tak hafal ayat itu.... Menyesalnya saya.
     Segera saya ambil Al-Quran. Membukanya dan membaca Ayat Kursi keras-keras di lubang celengan. Beberapa kali. Arrgghh... suara itu tak berhenti juga. Atau mungkin "dia" tahu bacaan saya kurang meresap dihati. Mungkin saya harus menghafalnya agar bacaan bisa lebih khusu'. 
Baiklah... Try me.... saya jabanin. Dan mulailah saya komat kamit buka tutup Al-Quran untuk menghafal. Urgensi yang dikombinasikan dengan ketakutan membuat saya melakukan dengan ekspres. 5 atau 10 menit, dan saya langsung praktekkan di lubang celengan itu. Kali ini sambil memiringkan posisi celengan, lubang menghadap ke arah meja. Gemerincing makin keras. "Rasakan akibatnya, panas kan...aku akan mempertahankan koin-koin modal tanggal tua ini dengan segala upaya" batin saya berujar. Tiba-tiba ada kilatan sorot mata dari dalam lubang. Keberanian saya perlahan memudar. Saya jiper. Marahkah "dia"? Oh.. dia sepertinya ingin keluar dari lubang..
Sedetik, dua detik, tiga de... 
Allahu Akbar...seekor cicak pucat pasi perlahan merayap keluar... antara lega dan lemas saya memandangnya. Mungkin dia pucat karena keberisikan saya teriakin doa-doa dan Ayat Kursi. Pastinya suara saya di dalam sana bergema memantul-mantul. Pasi karena pusing celengan berkali-kali saya guncang. Dan dengan posisi celengan yang saya miringkan mempermudahnya untuk keluar dari perangkap... 
    Andai sedari tadi saya miringkan posisi celengan itu.. mungkin drama ini tidak akan berkepanjangan. Tapi.. tentu ada hikmah di balik semua peristiwa bukan? Hikmahnya saya jadi hafal Ayat Kursi hehehe... mungkin itu cara Allah mengajarkan saya untuk mulai kembali menghafal... Alhamdulillah alaa kulli hal..

Kuala Lumpur, 14 Desember 2015
     

Minggu, 06 Desember 2015

Drive.... Drive.... Drive part 2 (Bikin SIM di Negara Orang)

      Menetep di Kuala Lumpur, sesungguhnya kami tidak terlalu memerlukan kendaraan pribadi. Tidak seperti di Jakarta, disini sarana transportasi publik lebih nyaman. Ada taksi yang siap dipanggil via telpon. Jika ingin yang lebih murah meriah ada bus rapid KL seharga RM 1 atau RM2 -tergantung jarak tempuh- yang cukup bersih dan sudah dilengkapi penyejuk udara. Atau LRT yang setia melintas, yang waktu tempuh dan waktu kedatangannya lebih terpercaya dan bisa diprediksi. Untuk keperluan anak-anak, pihak sekolah pun telah menyiapkan bus sekolah.
     Sampai kemudian, dengan alasan tidak ingin berkutat hanya di Kuala Lumpur dan ingin menjelajahi wilayah-wilayah yang lain, mulailah kami tergoda untuk memiliki kendaraan pribadi, yang tentunya akan lebih leluasa dibanding dengan transportasi publik. Agar kendaraan manfaatnya lebih maksimal saya pun menghentikan bus school untuk anak-anak dan berencana menyopiri mereka. Lebih hemat waktu dan biaya tentunya.

     Masalahnya saya tidak bisa menyetir. Ups....

     Mulailah saya browsing sekolah memandu (red=sekolah mengemudi). Membandingkan lembaga yang satu dengan yang lain, yang lokasinya tidak jauh dari rumah dan tentu biayanya paling ringan. Kisarannya antara RM 800 sampai RM 1600 ( RM 1 kurang lebih Rp 3.300). Biaya ini masih akan bertambah pada saat ujian teori dan ujian praktek, yang jika gagal atau tidak lulus harus membayar lagi jika ingin ikut ujian ulang. Saya menjatuhkan pilihan ke lembaga yang paling murah. 
     Tapi kemudian timbul keraguan. Saya tidak pandai berbahasa Melayu. Lalu bagaimana saya harus berkomunikasi dengan pengajar atau tutor? Bagaimana saya mengikuti kelas? Meskipun Indonesia dan Malaysia serumpun, banyak kosa kata yang sama, tapi pengucapannya sungguh  berbeda. Pada masa itu malah saya sama sekali tidak pede  bertelpon ria dengan warga Malaysia. Untuk memahami pembicaraan, saya perlu bertatap muka dan memperhatikan gerak bibir mereka. Itupun seringkali salah. Apalagi via telpon yang bagi saya semua bebunyian tampak sama dan sulit meraba artinya. Lingkungan sosialisasi saya yang masih saja berkutat dengan sesama WNI, juga lingkungan sekolah anak saya yang internasional berbasis Bahasa Inggris mendukung leletnya perkembangan kemampuan saya berbahasa Melayu... oh...oh...
     Akhirnya setelah maju mundur sebulan lamanya, dengan berbekal basmalah saya memberanikan diri mendaftar di lembaga tersebut. Hanya cukup dengan menyerahkan copy paspor, copy visa, pas foto dan uang pembayaran saya langsung ikut masuk kelas hari itu juga. Masuk kelas untuk mendalami materi ini adalah syarat pertama yang wajib diikuti. Selama enam jam saya harus mendengarkan pemateri. Sebuah buku yang berjudul Kurikulum Pendidikan Memandu -KPP (memandu = mengemudi) dibagikan. Materinya adalah tentang pengenalan rambu-rambu, sopan santun dan etika terhadap sesama pengguna jalan, bagaimana mengemudi yang aman, tindakan sederhana jika kendaraan bermasalah secara tiba-tiba.
     Buku ini sangat membantu saya untuk memahami apa yang disampaikan cikgu (red=guru). Saya bisa mengulang membaca materi perlahan-lahan dirumah. Karena meskipun memilih tempat duduk di deretan terdepan selama di kelas, memandang dengan seksama gerak bibir cikgu, dengan minimnya kemampuan berbahasa Melayu saya, tetap saja banyak hal-hal yang terlewatkan. 
     Materi yang paling berkesan bagi saya adalah sopan santun dan etika terhadap sesama pengemudi. Hal yang sangat jarang saya temui di rimba raya lalu lintas di Jakarta. Seperti yang pernah saya tulis di cerita sebelumnya (Drive...Drive....Drive...).
     Syarat wajib kedua setelah kelas KPP adalah mengikuti ujian komputer, minimal tiga hari setelah kelas KPP. Harus membayar RM 27 untuk pendaftaran tes ini. Setelah sebuah monitor kecil yang memuat nomor urut saya menyala, saya memasuki ruang ujian.  Ruang ujian yang luas dan senyap membuat saya sedikit gentar.  Ada banyak meja komputer dengan jarak lebar-lebar didalamnya. Sudah ada peserta-peserta ujian yang nomor urutnya sebelum saya sedang mengerjakan soal. Saya pilih sebuah komputer kosong. Bismillah... saya mulai mengetik data-data pribadi saya. Kemudian mulai fokus dengan soal-soal. Hal-hal yang diujikan adalah tes buta warna, rambu-rambu dan materi yang ada di buku KPP. Ada 45 soal yang diberikan. Bentuknya multiple choice yang harus dijawab saat itu juga, yang hasilnya, lulus tidaknya, bisa dilihat setelah kita menjawab soal terakhir. Saya sempat salah faham pada saat itu. Karena hanya 45 menit waktu untuk ujian ini, dan tak ingin kehabisan waktu, saya bergegas menjawab semua soal. Rencananya jika masih ada waktu tersisa saya akan periksa kembali jawaban-jawabannya. Tapi... oh tapi... ternyata begitu saya menjawab soal no 45 yang merupakan pertanyaan terakhir, komputer langsung close dan ada pemberitahuan silakan ambil hasil ujian di front office.. nah lho... hanya 12 menit sekian detik waktu yang saya pergunakan... mungkin jika tidak lulus front office akan menganggap : ini orang belagu amat, udah buru-buru ngerjain.. eh, gagal pula.... Tapi, Alhamdulillah nilai saya 42/45. Yang artinya saya lulus. Batas minimal nilai lulus, agak lupa saya, sepertinya 40/45... Dan saya pulang dengan riang gembira, sudah dua tahap saya jalani.
     Tahap ketiga adalah semacam kelas perbengkelan. 6 jam saya harus hadir. Menyimak tentang radiator, busi, aki, roda, ban dan sebangsanya. Hal-hal yang sangat asing bagi saya. Karena selama ini, saya tidak tahu menahu dengan yang begituan. Itu urusan suami.. hehe.. Bagian yang serius saya simak terutama tentang mengisi bahan bakar. Disini di semua SPBU kita mengisi sendiri kendaraan kita. Swalayan. Bayar di kasir, dan isi sendiri. Juga swalayan perihal isi angin ban. Karena disini tidak ada abang-abang pompa ban atau tambal ban yang jika di tanah air dengan mudahnya kita jumpai di pinggir jalan.  Enam jam berlalu. Kelas selesai. Dan saya berhak memperoleh Lesen L kartu kecil seukuran kartu pelajar, dilaminating yang memuat identitas saya. Artinya saya boleh menyetir mobil. Mobil khusus jenis kancil yang di bodynya juga ada tulisan L atau Learning. Peraturannya saya harus didampingi seorang cikgu. Tidak boleh sendiri dan tidak boleh bawa penumpang. Wajib mengikuti minimal delapan jam pertemuan yang dibagi per dua jam/hari. Jika dirasa kurang pede boleh menambah jam tapi tentunya harus nambah pula bayarnya hehehe...
     Lesen L ini mempunyai masa kadaluarsa juga sehingga mau tidak mau sebelum masa kaduarsa habis kita harus mendaftar ujian praktek jalan raya. Jika tidak, kita diwajibkan ikut prosedur dari awal yaitu kelas KPP. Ogah banget bukan...:)
     Sepuluh jam latihan yang saya butuhkan untuk kemudian dipaksa cigku ikut ujian praktek. Kenapa saya merasa dipaksa, karena sesungguhnya saya merasa grogi tak henti-henti. Ujian praktek ini ada dua tahap, internal yaitu dengan penguji dari lembaga sekolah mengemudi tersebut. Jika lulus, berlanjut ujian dengan bapak JPJ (JPJ ini semacam polisi khusus jalan raya). Materi yang diujikan adalah praktek di sirkuit naik turun bukit, berhenti tepat di tanjakan, parkir mundur berbelok, dan belokan tiga penjuru (semacam u-turn diarea yang sempit). Setelah itu ujian mengemudi di jalan raya. Biaya yang dibayarkan sekitar RM 85.
     Setelah lulus ujian praktek internal, saya dijadwalkan untuk ujian praktek dengan pak JPJ. Pagi hari saya sudah bersiap dalam antrian pengambilan nomor ujian. Pas tiba giliran, saya mengambil mobil secara acak tanpa ada kesempatan adaptasi seberapa dalam gas, kopling dan remnya. Jika selama ini saya terbiasa mengemudi mobil cikgu dengan setelan yang sudah saya hafal, kali ini saya dibuat tergagap-gagap. Seorang bapak JPJ duduk dikursi penumpang di sebelah kiri saya. Dengan papan nilai ditangan, berkacamata hitam, diam seribu bahasa sungguh membuat saya berkeringat dingin. Ada 20 kriteria penilaian di ujian ini. Sebelum mobil dijalankan terlebih dahulu harus set kursi senyaman mungkin, pasang sabuk pengaman, cek 3 kaca spion. Itu adalah tiga hal awal yang masuk penilaian. Saya mulai mengendara dengan hati-hati. Melewati ruas demi ruas  jalan raya. Cuaca yang panas ditambah rasa grogi tidak teratasi oleh pendingin udara dalam mobil. Finally... sampailah saya di garis finish. Si bapak mencoretkan tanda tangannya sebagai goresan terakhir di kertas nilai saya sambil menyapa dengan suara yang ternyata cukup ramah. Menanyakan darimana saya berasal dan berpesan agar saya tidak grogi di tahapan tes selanjutnya. Saya terima kertas nilai dari tangannya, melirik nilai yang diberikan.... 18/20. Kesalahan saya ada adalah kurang smooth memindahkan gear dan menginjak kopling.. meski bukan nilai fullmark, tapi tetap Alhamdulillah :)
     Sampailah saya pada ujian praktek di surkuit. Kembali menaiki mobil berbeda tanpa sempat adaptasi dengan rem, gas dan kopling... kali ini saya mengendarai sendiri tanpa bapak JPJ ada disamping saya. Mereka memantau dari pos-pos penilaian. Semuanya tampak indah sampai akhirnya nasib baik saya berakhir di ujian tanjakan. Sebetulnya mobil bisa mulus berhenti tepat di puncak tanjakan. Spion sudah lurus sejajar dengan tiang yang ditentukan. Roda depan pun sudah masuk di garis yang ditentukan. Saya operasikan gear dalam posisi netral dan hand break full. Tangan saya lambaikan ke penguji penanda saya sudah on position. Penguji mengangguk memberi tanda oke. Malangnya ketika saya bersiap melaju menuruni bukit, posisi kopling dan gas kurang berimbang sehingga mobil saya menggelinding ke belakang. Seketika saya menoleh ke penguji dan penguji menyilangkan kedua tangan tanda gagal. What....? Secepat itu...? Setelah apa yang telah saya lalui...? oh Allah.. saya merasa menjadi manusia paling malang sedunia. Berjalan gontai ke arah pos penguji untuk mengambil berkas saya, saya menoleh ke arah sirkuit, saya tidak sendirian. Beberapa orang sesama peserta ujian juga melakukan kesalahan yang sama... juga ketika masuk ke main office untuk menyerahkan berkas, saya berjumpa lebih banyak lagi peserta gugur dengan beragam kasus.. langkah saya mulai ringan. Ya.. saya tidak sendiri... heheheheh..
     Petugas main office bertanya apakah saya berencana mengajukan ujian ulang (tentunya harus membayar lagi). Saya menjawab tidak dalam waktu dekat ini. Karena saya harus menyembuhkan luka hati saya terlebih dahulu... hahahhaha...