Kamis, 13 Februari 2025

MAKANAN HALAL ITU TAK SEKEDAR NO PORK

 Saya sedang membaca artikel di sebuah portal berita tentang sebuah keluarga publik figur yang membagikan kebersamaan mereka, entah merayakan apa, sambil minum wine yang mereka klaim sebagai minuman wine halal. Bentuk botolnya menyerupai botol wine betulan yang saya sering lihat di toko-toko duty free yang ada di bandara. Atau botol yang saya lihat di film-film barat yang sering dijadikan latar tempat.

Keluarga tersebut menyatakan bahwa, meski zero alkohol, tapi rasanya sama dengan rasa wine betulan. Aman. Halal. Gitu katanya.

Selang beberapa hari, saya kembali membaca ulasan edukasi yang mengkonter klaim keluarga tersebut. Bahwa meskipun zero alkohol, tapi wine tiruan tersebut tidak bisa dihukumi halal. Merujuk ke aturan penamaan produk yang dilarang sama atau mirip dengan produk haram, andaipun jika bahannya halal.

Itu makanya lembaga terkait tidak bisa mengeluarkan serifikat halal untuk produk-produk seperti ini. Bahkan jika makanan tersebut 100% berbahan halal dan diproses dengan suci, atau makanan yang bentuknya tidak meyerupai makanan harampun, tetap tidak bisa berertifikat halal, jika makanan tersebut dinamai dengan  nama-nama yang tidak baik. tidak toyyib.

Kemudian ingatan saya terlempar ke belakang, ketika saya mengikuti program liburan bersama travel yang membranding diri sebagai travel islami. Slogan sholat terjaga dan menjamin makanan halal selama travelling, membuat saya tertarik untuk bergabung, mengingat negara yang saya kunjungi adalah negara dengan komunitas muslim sebagai minoritas. Yang tentunya saya akan kesulitan menemukan makanan halal. Maka dengan join travel, saya pikir setidaknya masalah makanan halal sudah terpecahkan.

Tapi, ekspektasi saya runtuh ketika di hari pertama, hotel kami tidak menyediakan sarapan halal yang spesifik. Pemahaman pihak hotel, no pork-no lard, adalah boleh dimakan untuk muslim. Sesederhana itu. Padahal saya lihat panci mie rebus digunakan bergantian antara topping B2, topping ayam dan seafood. Begitupun juga sosis B2 dan sosis sapi, berada dalam nampan terpisah tapi cara mengambilnya menggunakan capit yang sama. Gorengan spring roll sayuran yang bisa jadi minyak gorengannya bergatian dengan gorengan non halal yang lain. 

Dan ini berkelanjutan, dari seminggu perjalanan, hanya dua kali kami mengunjungi restoran  bersertifikat halal dari pemerintah setempat. Selebihnya, adalah rumah makan yang, iya sih, tidak meyediakan B2. Tapi apakah ayamnya disembelih sesuai syariat? Apakah minyak gorengnya betulan halal, mengingat minyak gorengpun ada titik kritisnya? Belum lagi di suatu destinasi, kami diarahkan untuk makan secara buffet, all you can eat, yang lagi-lagi jajaran makanan berdampingan rapat antara yang halal dan tidak. 

Perut yang tadinya lapar, mendadak ciut menerima kenyataan makanan lezat yang ditata menarik, yang aromanya sungguh menggoda itu, tak leluasa kami nikmati. 

Tidak salah sih. Kesalahan tidak bisa diarahkan ke pihak hotel, atau restoran. Karena sebagai non muslim, menurut anggapan mereka, mereka sudah menyediakan yang tidak mengandung B2, sebagai pilihan buat orang-orang yang tidak memakannya. Lepas dari persoalan, bahwa halal-haram tak sesimpel itu, itu diluar pemahaman mereka.

Tapi ini jadi pelajaran penting buat saya. Ternyata travel yang melabeli diri sebagai travel islami, bukan jaminan bahwa team managementnya adalah orang-orang yang mengerti syariat agama. Pelajaran penting buat saya, agar di lain kesempatan, jika bergabung dengan travel tour, hal pertama yang harus saya tanyakan adalah tentang ketersediaan makanan halal. Yang benar-benar halal. 

Jakarta, 13 Februari 2025

Rabu, 12 Februari 2025

MEMBANGUN LEBIH MUDAH DARIPADA MEMELIHARA

 Suatu Sabtu saya menemani anak saya untuk mengerjakan tugas membuat video mata pelajaran PAI. Tujuannya adalah Islamic Center di Jakarta Utara.

Nama gedung ini sebetulnya adalah Pusat Pengkajian dan Pengambangan Islam Jakarta. Masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Islamic Center Jakarta Utara. 

Berdiri di atas lahan seluas 109.435 meter persegi, awalnya lokasi ini adalah lokalisasi perempuan malam yang tumbuh subur dari tahun ke tahun. Tentunya ini kontradiktif sekali dengan tradisi penduduk setempat yang masih kental berbudaya timur dan memegang erat ajaran agama.

Menurut sumber yang saya baca, inisiasi gedung ini dimulai di tahun 2001, masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Sebelum pembangunan, diperlukan kunjungan ke beberapa negara untuk studi banding, yaitu Mesir, Iran, Inggris, dan Perancis. Tentu kunjungan ini tak sia-sia, karena setelahnya Jakarta Islamic Center berdiri megah dan indah.

Selain masjid, terdapat beberapa bangunan lainnya yang berdiri di area ini. Diantaranya ada ruangan serbaguna, perpustakaan, gedung kajian islam dan MUI, dan beberapa bangunan lain yang dihubungkan oleh koridor memanjang, dengan lantai bagus, lengkap dengan kanopinya. Ruangan terbuka juga tersedia. Multifungsi. Selain digunakan untuk parkir jika pengunjung banyak, bisa juga digunakan untuk kegiatan outdoor. 

Pagi itu saya melihat beberapa kumpulan anak sekolah yang sedang latihan pencak silat. Ada juga yang sedang latihan senam berkelompok. Beberapa sedang mengemas perlengkapan memanah. Bocah-bocah sekitar juga tampak berlarian petak umpet disana. Juga grup ibu-ibu yang tampak membuka cemilan bekal mereka. Bapak penjaga sendal masjid yang ramah, menjelaskan di hari libur, anak-anak sekolah memang banyak memanfaatkan ruang terbuka tersebut. Tidak ada syarat atau tarif, bebas saja. Yang penting izin.  

Ada yang tidak lazim di sini. Di koridor yang saya lewati, banyak orang-orang yang rebahan, tidur. Tidur betulan, bukan tidur-tiduran. Beberapa saya lihat, seperti homeless. Mungkin karena ubinnya bersih dan adem. tapi ini mengganggu pemandangan. Dan mennganggu pengunjung yang lewat, terpaksa harus melangkahi, berjingkat menghindari kaki-kaki yang malang melintang.

Sebetulnya, saya ingin berkeliling. sayangnya tak bisa. Banyak bagian bangunan yang dibatasi tali rafia membentang dan tempelan kertas pengumuman agar pengunjung tidak melintas karena bangunan rawan ambruk. Dari tali pembatas, saya memanjangkan leher mengamati. Tampak anak tangga menuju ke lantai atas, keramiknya sudah copot-copot, berdebu. Di sampingnya ada eskalator terbengkalai yang saya yakin sudah tidak lagi berfungsi. Beberapa bagian tampak kusam dan berkarat. Di sampingnya lagi, ada laluan melandai untuk pengunjung berkursi roda. Tak sedap pula dipandang mata. Iseng saya berbisik ke anak saya, kalau malam sepertinya tempat ini bisa buat syuting uji nyali, heheh..

Azan Duhur berkumandang. 

Saya menuju masjid. Tapi kabarnya ini hanya tempat sholat sementara, yang sebetulnya adalah multifunction room. Beberapa tahun yang lalu, masjid di Islamic Center ini terbakar, maka area sholat dipindahkan kesini. Jadi area masjid sesungguhnya, tak lagi digunakan untuk sementara. Entah sementaranya berapa lama, karena ini sudah berbilang tahun. Belum ada tanda-tanda renovasi. Terkait dana? Entahlah, mungkin juga terkait niat dan prioritas.

Karpet masjid bersih dan tercium wangi. Untuk penderita asthma seperti saya, hidung dan paru-paru saya mudah sekali mendeteksi debu. Jika setelahnya saya bersin-bersin, ngap atau bahkan kambuh klepek-klepek, berarti debuan parah.. haha.

Jamaah sholat Duhur kali ini, ibu-ibunya hanya bertiga, plus anak saya. Kemudian bertambah sekumpulan ABG yang tadinya pencak silat masuk bergabung. Sayangnya anak-anak ini sholatnya ngasal. Beberapa diantaranya masuk shaf sholat, tapi tidak berjamaah alias sholat sendiri. Seandainya ada yang menertibkan pasti indah sekali.

Oh ya, ada untungnya saya sudah berbekal wudhu sejak dari rumah, karena tempat wudhu di sini tercemar bau tak sedap dari toilet. Toiletnya? Huh, setelah saya longok, dua diantara jejeran toilet tersebut, mampet. Yang lain, Lagi-lagi huh, baunya menyiksa hidung. Saya mengurungkan menggunakan toilet.

Beranjak ke perpustakaan. 

Ealah, kok tutup. Padahal tertempel jelas jam operasional perpustakaan, Senin-Minggu jam 09.00-16.00 (atau 08.00? lupa). Sebetulnya kami berharap bisa mencoba suasana didalamnya. Buku-buku yang saya intip dari jendela tampak menumpuk di meja, sebagian tertata di rak-rak yang berjejer. Tampak baru dan judul-judulnya menarik. Seorang gadis seusia anak saya tampak duduk menunggu, sama, akan berkunjung juga. Sudah jam 13.30. Ada suara bercakap di dalam tapi tak tampak juga pintu terbuka.

Lelah menunggu, kami beranjak menyusuri selasar. Pigura-pigura dengan gambar dan sejarah singkat tokoh-tokoh Islam penemu ilmu pengetahuan dasar, terpampang disana. Mentok di ujung, pigura terakhir, saya tolah-toleh, rasanya tak ada lagi yang bisa kami kunjungi, meskipun ingin. Kami beranjak menuju pintu keluar setelah anak saya mengamankan stock shoot terakhir. 

Ada ruangan MUI terletak di arah pintu keluar. Seperti dugaan, kosong tanpa penghuni. Kepengapan area tersebut membuat saya mempercepat langkah. Tak ingin paru-paru saya mengeluh.

Tak jauh dari pintu tersebut, gerbang utama sudah tampak di depan mata, kami beranjak pulang dengan perasaan kurang puas dan sedikit kecewa. Mungkin karena sebelum berangkat ekspektasi saya terlalu tinggi pada tempat ini. Foto-foto di web, sangat jauh dari update kenyataan. Tapi memang sudah lazim di negara ini, membangun itu lebih mudah dari pada memelihara. Kelaziman yang harusnya mulai diperbaiki.

Jakarta, 12 Februari 2025