Jumat, 15 Juli 2022

SEMANGAT BISA DATANG DARI MANA SAJA

Seorang teman bertanya apakah saya masih sering menulis di blog?

Saya tercenung.. 

Dulu, aktifitas ini sering saya lakukan. Ketika mengalami suatu kejadian, yang terlintas di benak saya adalah ingin menuliskan disini, untuk release perasaan dan mencatat peristiwa.

Blog saya ini, saat itu, masih terhubung dengan media sosial yang bernama G+ , yang dikelola oleh Google. Mirip dengan media sosial yang lain, ada follow-followan juga disana, ada grup berdasarkan komunitas hobi, dakwah dan sebagainya.

Tapi, memang dibanding media sosial lain, G+ sangat segmented dan kurang dikenal oleh masyarakat luas. Saya saja baru mengenal G+ ketika buka akun blogger yang memang saya peruntukkan untuk nulis-nulis. Rupanya blogger dan G+ ini bundling.

99% saya tak mengenal user G+. Jika saya membaca suatu artikel dan saya suka, saya tinggal pencet tombol + yang artinya semacam love atau suka. Begitupun jika sesorang suka dengan tulisan saya, mereka pun melakukan hal yang sama. Saya juga join komunitas seperti memasak dan traveling. Memasak, meskipun bukan hobi, tapi lumayan untuk menambah variasi menu yang hanya saya kuasai itu ke itu saja, meskipun setelah ada menu baru saya hanya tertarik mencoba beberapa macam saja karena... ya itu tadi, saya tidak hobi memasak. Beda dengan traveling, karena hobi, ini bisa menjadi referensi saya untuk menentukan destinasi beserta tips-tipsnya. Satupun saya tak mengenal mereka, tapi karakter introvert saya tak mempermasalahkan hal itu. Jika ada yang ingin saya tanyakan, ya saya tanya, jika tidak, ya saya cukup hanya membaca, tanpa ada kewajiban untuk follow-follow-an. Sesimpel itu. 

Tapi justru dari orang-orang yang tidak saya kenal ini, semangat menulis saya terjaga, tombol plus (+) yang mereka tinggalkan di kolom saya, itulah penyebabnya. Kadang ada sedikit chit-chat mereka tambahkan. Menurut saya mereka memberi tanda plus itu karena mereka memang suka atau mengambil manfaat dari tulisan saya, dan itu tulus, karena pada dasarnya memang tidak saling kenal. Paling tidak, seperti itulah yang saya rasakan ketika saya memberi plus untuk mereka. 

Dari semangat yang timbul ini, dalam waktu satu bulan saya mencatat peristiwa bisa seminggu satu atau dua kali.

Sampai pada suatu saat, Google menghapus media sosial G+ ini. Awalnya saya merasa, ya sudahlah, toh menulis adalah menulis, dengan atau tanpa tanda plus. Tapi rupanya, makin kesini saya makin malas untuk menulis, peristiwa demi peristiwa saya lewatkan begitu saja, hanya saya simpan dalam benak yang kadang banget bisa saya luahkan dengan bercerita ke seseorang, tapi lebih sering hanya saya simpan sendiri dan tak jarang menjadi beban. Draft tulisan ini saja, saya lihat sudah empat bulan saya simpan, hanya berupa judul dan paragraf pembuka. Dan saya baru bisa menyelesaikannya sekarang..

Ah, rupanya semangat saya justru datang dari orang-orang yang tidak saya kenal. Betul, semangat untuk kita bisa datang dari siapa saja.. 

Jakarta, 15 Juli 2022


Jumat, 04 Maret 2022

WHATSAPP GROUP, STAY OR LEAVE?

      Pagi ini setelah subuh, saya cek whatsapp grup di handphone saya. Warna-warni. Setiap hari grup-grup seru dan hambar silih berganti. Ada yang pukul 03 dini hari sudah mulai posting doa, semangat dan harapan kesehatan. Ada yang pukul 05 pagi sudah posting foto sarapan pagi. Ada yang memulai keriuhan pukul 08 pagi dan berakhir pukul 24 teng. Masing-masing grup punya karakter, tergantung mayoritas karakter membernya. 

Anyway, saya membagi status keanggotaan saya di whatsapp group ini menjadi 2 kategori, pasif dan aktif.

Ok, first let's talk about the pasive one.

Pasif disini masih saya bagi lagi dalam dua kategori. Ada yang pasif sukarela karena saya perlu grup itu, saya membutuhkan info-info di dalamnya, dan grup yang bisa meng upgrade personality saya. Grup-grup ini biasa saya buka setiap satu sampai tiga hari sekali. Posisi saya adalah sebagai silent reader. Sesekali ikut berkomentar mendoakan jika ada member yang perlu support, atau ada berita duka cita. 

Mengapa saya pasif di grup-grup semacam ini? Sepertinya saya malu jika saya proaktif, disana banyak orang-orang yang  berkompeten membagi ilmunya dan saya, si fakir ilmu, masih merasa belum layak untuk berbagi. Atau, pasif karena grup itu adalah grup pengumuman harian. Atau, memilih menjadi silent reader karena dalam grup terbelah menjadi beberapa geng, member hanya akan saling menyahut jika yang memulai percakapan adalah anggota geng mereka. Kemudian akan riuh saling menimpali.

Ada juga yang pasif tidak sukarela karena saya merasa terpaksa berada di dalamnya, tidak ingin sebenarnya, tapi tidak enak hati jika harus leave. Grup-grup ini seringkali saya clear chat tanpa membacanyanya karena saya tahu biasanya apa-apa saja yang dibahas, dan saya merasa asing, kurang relate kalo meminjam istilah anak jaman sekarang.

Ini kelemahan saya. Ini salah saya. Harusnya saya gentle untuk pamit dan leave grup. Daripada stay tapi tak terhubung. Eh, tapi sesungguhnya lebih sopan mana sih, tetap di dalam tapi tak memantau, atau mending keluar saja baik-baik? Entahlah, beberapa kali saya mencoba mengetik rangkaian kata pamit, dengan pilihan kata sehalus mungkin, tapi kemudian saya hapus lagi, batal terkirim.

Typing

Delete

Typing

Delete...

Begitu saja terus berulang. Sampai akhirnya saya menyerah dan memilih silent .

Second, let's move to the active one. 

Di grup yang saya terlibat aktif, biasanya saya buka setiap hari, bahkan bisa sehari dua-tiga kali tergantung banyak tidaknya topik yang dibahas di hari itu. Saya terlibat aktif mengomentari suatu topik atau bahkan kadang saya yang melempar topik.Di grup-grup seperti ini, saya bebas mengekspresikan diri, dimana kadang kebebasan ini membawa kebahagiaan, serupa healing dalam menghadapi kepenatan hari. They make my day.

Tapi ternyata, setelah dipikir-pikir, ada juga grup diantara keduanya. Diantara pasif dan aktif. Saya menyebutnya grup ambigu, hidup segan mati tak mau. Ahahaha...

Grup-grup ini jelmaan dari kumpulan orang-orang yang di masa lalu pernah sangat akrab, tapi kemudian makin hari makin merasa asing dan saling awkward. Ingin dibubarkan, tidak ada yang memulai, ingin dilanjutkan pun, tidak ada yang memulai melempar topik. Dan stttt... biasanya diam-diam member didalamnya telah membuat sub-grup lebih kecil yang membernya telah mereka saring dan masih saling in touch.

Nah, kan jadinya timbul pertanyaan baru, lebih sopan mana, menjadi silent member yang sama sekali tak mengikuti perkembangan grup atau diam-diam leave grup ?

Ahaha.. sungguh tulisan yang sangat tidak bermanfaat