Ya, setelah dua minggu virus corona-19 terindikasi masuk Indonesia, gubernur DKI mengumumkan pembatasan pergerakan warga. Warga dihimbau tinggal di rumah saja, bekerja dari rumah, sekolah dari rumah.
Artinya penularan virus mulai meningkat.
Sejak itu, dunia terasa berubah, berbeda. Tak lagi sama. Tak ada lagi aktivitas harian saya yang selama ini banyak mondar-mandir outdoor. Belanja kebutuhan rumah lebih banyak online. Kalaupun terpaksa keluar, pasti saya sudah lelah duluan membayangkan panjanganya ritual desinfektifikasi badan saya, barang bawaan saya, belanjaan saya. Bahkan untuk memangkas proses ini, telah saya tanggalkan jam tangan dan segala aksesoris yang selama ini menempel di jari dan pergelangan tangan saya.
Tadinya masih ada secercah harapan bahwa tiga-empat bulan hal ini akan berlalu. Kita menang melawan virus. Pemerintah memutuskan kebijakan, dan masyarakat patuh menjalaninya. Setelahnya kurva menurun, dan hidup tatanan baru mulai diterapkan.
Tapi saya, kami, kita, salah. Ternyata kondisi seperti ini masih berlangsung berbilang bulan. Ini September, bulan ke-enam virus ini menghimpit. Ruang gerak menjadi sempit. Kurva makin naik bak roket diluncurkan. Gelombang satu serasa tak berkesudahan. Pemerintah yang setengah hati menangani pandemi ini, disambut rakyat dengan sikap yang abai. Bahkan masker hanya dipasang jika ada razia.
Saya dan keluarga yang sejak awal tertib patuh aturan, mulai apatis, desperate, jenuh dan entah perasaan apa lagi yang bercampur aduk.
Tapi Allah sungguh Maha Baik, dibalik semua perasaan, Dia anugerahkan hal yang bisa menghibur. Keluarga kecil saya berkumpul di rumah. Hal yang biasanya sulit terjadi. Suami yang biasanya berangkat pagi, pulang malam, bahkan sering dinas luar. Anak sulung yang biasanya kuliah berangkat pagi pulang sore dan langsung masuk kamar dengan kelelahan tugas dan menembus kemacetan. Anak tengah yang biasanya di pesantren. Dan anak bungsu yang ... (hmmm, kalau anak bungsu, memang masih sering menghabiskan waktu bersama saya..) semua ada di rumah, terjangkau pandangan mata dan elusan tangan saya.
Kemudian terberpikir, mengapa kebersamaan ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mengisi hal-hal yang bisa lebih mendekatkan satu sama lain? Kendala tidak bisa berangkat ke masjid kami siasati dengan sholat berjamaah di rumah. Imamnya bergantian sesuai piket, karena ada tiga lelaki dewasa di rumah ini. Kemudian ada piket kultum ba'da isya yang dilakukan juga secara bergantian termasuk saya dan si bungsu. Saling menyampaikan, saling menasehati.
Sungguh ini bonding yang menyenangkan..
Semoga pandemi cepat berlalu, Allah berkenan mengembalikan kehidupan normal kita kembali. Merasakan kembali indahnya berbagi salam dengan tetangga, berjabat tangan dengan saudara, saling mengunjungi kerabat dan keluarga. Dan jika kami harus kembali ke aktifitas dan rutinitas semula, gathering activities ini bisa menjadi the most beautiful memories bagi kami.
Stay healthy everyone, stay safe and stay happy.
Jakarta, 4 September 2020