Jumat, 04 September 2020

Apa Hikmahnya?

     Saya ingat sekali hari itu, 15 Maret 2020. Saya sedang menghadiri reuni SMA di sebuah sudut kota Sidoarjo, yang jauh-jauh saya datangi dari kota saya tinggal, Jakarta. Selepas acara, saya langsung terbang pulang ke Jakarta, dengan suasana hati dan pikiran yang berkecamuk. Resah. Kuatir. Bahkan takut. Masker di mulut saya tinggikan ke hidung, mendekati mata. Sambil tangan menggenggam hand sanitizer. Moda transportasi udara, satu jam empat puluh lima menit yang biasanya saya nikmati, kali itu terasa panjang dan tak nyaman. Saya merasa virus berada dimana-mana, disekitar saya.
     Ya, setelah dua minggu virus corona-19 terindikasi masuk Indonesia, gubernur DKI mengumumkan pembatasan pergerakan warga. Warga dihimbau tinggal di rumah saja, bekerja dari rumah, sekolah dari rumah.
Artinya penularan virus mulai meningkat.
     Sejak itu, dunia terasa berubah, berbeda. Tak lagi sama. Tak ada lagi aktivitas harian saya yang selama ini banyak mondar-mandir outdoor. Belanja kebutuhan rumah lebih banyak online. Kalaupun terpaksa keluar, pasti saya sudah lelah duluan membayangkan panjanganya ritual desinfektifikasi badan saya, barang bawaan saya, belanjaan saya. Bahkan untuk memangkas proses ini, telah saya tanggalkan jam tangan dan segala aksesoris yang selama ini menempel di jari dan pergelangan tangan saya.
     Tadinya masih ada secercah harapan bahwa tiga-empat bulan hal ini akan berlalu. Kita menang melawan virus. Pemerintah memutuskan kebijakan, dan masyarakat patuh menjalaninya. Setelahnya kurva menurun, dan hidup tatanan baru mulai diterapkan. 
     Tapi saya, kami, kita, salah. Ternyata kondisi seperti ini masih berlangsung berbilang bulan. Ini September, bulan ke-enam virus ini menghimpit. Ruang gerak menjadi sempit. Kurva makin naik bak roket diluncurkan. Gelombang satu serasa tak berkesudahan. Pemerintah yang setengah hati menangani pandemi ini, disambut rakyat dengan sikap yang abai. Bahkan masker hanya dipasang jika ada razia.
     Saya dan keluarga yang sejak awal tertib patuh aturan, mulai apatis, desperate, jenuh dan entah perasaan apa lagi yang bercampur aduk. 
     Tapi Allah sungguh Maha Baik, dibalik semua perasaan, Dia anugerahkan hal yang bisa menghibur. Keluarga kecil saya berkumpul di rumah. Hal yang biasanya sulit terjadi. Suami yang biasanya berangkat pagi, pulang malam, bahkan sering dinas luar. Anak sulung yang biasanya kuliah berangkat pagi pulang sore dan langsung masuk kamar dengan kelelahan tugas dan menembus kemacetan. Anak tengah yang biasanya di pesantren. Dan anak bungsu yang ... (hmmm, kalau anak bungsu, memang masih sering menghabiskan waktu bersama saya..) semua ada di rumah, terjangkau pandangan mata dan elusan tangan saya.
     Kemudian  terberpikir, mengapa kebersamaan ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan mengisi hal-hal yang bisa lebih mendekatkan satu sama lain? Kendala tidak bisa berangkat ke masjid  kami siasati dengan sholat berjamaah di rumah. Imamnya bergantian sesuai piket, karena ada tiga lelaki dewasa di rumah ini. Kemudian ada piket kultum ba'da isya yang dilakukan juga secara bergantian termasuk saya dan si bungsu. Saling menyampaikan, saling menasehati. 

     Sungguh ini bonding yang menyenangkan.. 

     Semoga pandemi cepat berlalu, Allah berkenan mengembalikan kehidupan normal kita kembali. Merasakan kembali indahnya berbagi salam dengan tetangga, berjabat tangan dengan saudara, saling mengunjungi kerabat dan keluarga. Dan jika kami harus kembali ke aktifitas dan rutinitas semula, gathering activities ini bisa menjadi the most beautiful memories bagi kami.

     Stay healthy everyone, stay safe and stay happy.

     

Jakarta, 4 September 2020
     

Minggu, 05 Juli 2020

Asal Bukan Kamu...

Dinamika pertemanan dalam hidup saya berubah ubah seiring perkembangan usia...

     Saya pernah melihat sebuah ilustrasi grafis yang dibuat oleh Anonymous, berupa diagram batang dimana sumbu Y menunjukkan usia seseorang dan sumbu X menunjukkan jumlah teman yang dimilikinya. 
Jadi, semakin bertambah usia kita, semakin berkurang jumlah teman yang dimiliki. Teman yang dimaksud disini tentu saja teman dekat, inner circle. Bukan sekedar kenalan atau kolega, apalagi sekedar follower di dunia maya.

     Saya manggut-manggut membacanya. Ada benarnya. Minimal di saya. Meskipun tidak 100 persen benar. Grafik jumlah pertemanan saya menyerupai kurva tertutup. Usia dini jumlah teman sedikit, meningkat di usia sekolah dasar, makin meningkat saat SMP, SMA dan kuliah, kemudian beranjak menurun setelah menikah dan makin dewasa (red : menua hahaha). Sekali lagi bukan dalam artian jumlah secara numeral, tapi secara kualitas atau kedekatan. Apalagi saya cenderung orang rumahan yang malas kongkow di luar. Sedikit tertutup dan susah membuka diri. Agak grogi berada di lingkungan baru dan cenderung clumsy. Sementara teman lama mulai berkurang kedekatan karena faktor jarak dan kesibukan masing-masing.

     Kemudian dunia saya tertolong oleh keberadaan instant message dan media sosial. Dengan adanya grup-grup di instant message, meskipun seringkali menjadi silent reader, kadang ikut nimbrung juga dengan komen-komen pendek. Biasanya sebelum posting komentar, saya selalu membaca ulang dan cenderung memilih kosa kata untuk menghindari salah faham atau ketersinggungan pihak lain. Kecuali grup teman dekat semasa kuliah, grup kecil dengan jumlah hanya delapan member. Saya bisa komen just the way I am. Karena kami berdelapan sudah saling memahami sejak beberapa dekade yang lalu. Dengan pintu maaf seluas samudera jika ada yang keceplosan. Karena sesungguhnya, lebih dari itu, kami saling peduli.

      Kembali ke topik kurva pertemanan.

Dulu, untuk menjalin silaturahim, beberapa kali saya sering mendahului menyapa -baik telpon maupun message- teman-teman masa sekolah. Rajin komen, like-love di sosmed mereka, mengucapkan selamat di ultah mereka. Dan hal-hal standar sebagai bentuk perhatian saya. Biasanya dari situ akan tersaring, teman-teman yang masih membuka diri untuk membalas silaturahim, akan melakukan hal yang sama. Tapi untuk yang sebaliknya, otomatis secara alamiah akan terseleksi. Jika sapaan tak bersambut, sunnatullah adanya jika yang menyapa duluan akan tahu diri, undur diri. 

     Ibunda saya yang mengikuti betul pertemanan saya dengan seseorang di masa sekolah, kadang bertanya, "Apakabar si A, si B, si C?" 
Dengan senang hati saya akan bercerita kabar A, B, C, jika kami masih saling berkabar. Ibu saya pun dengan suka cita dan ikhlas hati akan mendoakan teman saya tersebut. Doa orang sepuh yang pernah menganggap bahwa teman anandanya adalah anaknya juga. Tetapi jika ternyata A, B, C adalah teman dalam kategori "sapaan tak bersambut", ucapan ibu yang saya hafal betul adalah, "Biarlah, asal bukan kamu, anak ibu, yang tak menyambut uluran silaturahim. Asal bukan kamu, anak ibu, yang mengecewakan orang lain."

     Dan saat ini, bertepatan dengan pandemic Covid-19 di seluruh dunia, anak bungsu saya, yang tadinya baru akan saya izinkan memiliki handphone nanti menginjak usia SMA, terpaksa saya izinkan lebih dini, di usia SMP. Karena sekolah online menuntut dia punya grup whatsapp sendiri, google classroom sendiri, account instagram sendiri untuk memenuhi kebutuhan pengumpulan tugas-tugasnya. 
Memiliki account sendiri artinya dia akan lebih intens untuk menjalin komunikasi dengan teman-temannya. Akan bertemu dengan macam-macam karakter. Dan saya rasa, inilah saat yang tepat bagi saya untuk mewariskan nasehat dari ibu saya tentang "Asal bukan kamu".

Jakarta, 5 Juli 2020