Kamis, 21 April 2016

Diam

Ingin berbagi,
Hanya itu sesungguhnya,
Tapi ketika hanya bunyi jangkrik
Sengau ditelingamu
maka diamlah
Karena itulah yang terbaik

Ingin menyapa,
Hanya itu sejatinya
Tapi ketika hanya desau angin lalu 
Hembus meliputimu,
Maka sudahilah
Karena itulah yang terbaik

Ingin merindu,
Hanya itu sebenarnya,
Tapi ketika senyap sendu 
Menampar ruangmu
Maka menepilah
Karena itulah yang terbaik

(Obrolan kita malam tadi, tentang silaturahim yang sirna, tergerus fenomena media sosial yang seringkali hanya menampilkan status semu)






Sabtu, 16 April 2016

Pedestrian yang Hilang

Tepat setelah acara Meeting The Parents yang agendanya membagi report card, saya dan keluarga terbang ke Jakarta. Libur sekolah seminggu ini saya manfaatkan untuk menyelesaikan beberapa urusan di tanah air yang selama ini sudah saya jadwalkan. Juga untuk melepas rindu kuliner yang tidak bisa dibohongi, bahwa diantara negara-negara lain, kuliner Indonesia adalah juaranya.

Tidak seperti mudik-mudik biasanya, kali ini tidak ada rencana ke luar kota sama sekali, mungkin hanya menengok ibu saya yang sedang berada disuatu kota sebelah Jakarta yang sedang diamanahi menjaga cucu keponakan. Itu artinya one week full saya akan 'menikmati' kota tempat saya berKTP ini dengan 'senikmat-nikmat'nya ;)
Kenapa saya bertanda kutip? Karena jujur, Jakarta hanya bisa dinikmati dalam keterpaksaan hahaha...

Menit-menit pertama keluar dari bandara Soekarno Hatta saja, saya sudah disapa oleh sopir taksi ilegal. Semula saya kege-eran ketika ada bapak-bapak tersenyum dan menganggukkan kepala. Keramahan anak bangsa yang tidak ada tandingannya, batin saya. Ternyata setelah senyum saya balas, bapak itu menghampiri dan menawarkan taksi... O-ow...

Di menit yang bersamaan saya puyeng dengan asap rokok yang melayang-layang menjajah kebebebasan pemeluk aliran udara sehat. Bahkan tepat dibawah tiang-tiang besar berstiker gambar rokok dicoret, mereka dengan santai dan sok gagah menyemburkan asap kemana-mana seolah ada kebanggaan tersendiri bisa menghina dina stiker itu.
Oh... C'mon, kalian akan lebih gagah jika kalian merokok di tempat umum tanpa menghembuskan asapnya. Ambillah paket hemat dengan merokok sambil menelan sekalian asapnya...

Menit selanjutnya, saya sudah disambut dengan kemacetan yang fffiuuuhhh entahlah apalah. Dua jam kami habiskan waktu dari bandara ke Jakarta Timur, tempat tinggal saya. Dari ngobrol dan bercandaan ringan dengan anak-anak sampai ngobrol garing dan ngobrol bete. Diselingi juga pemandangan mobil yang saling serobot, tak bisa lurus jalan disatu lajur. Dan, mobil berstiker pers yang menyalahgunakan sirine polisi/ambulan untuk mengecoh kendaraan lain untuk meminta jalan. Sudahlah... Terlalu mainstream membahas macet Jakarta dan segala macam perilaku pengendaranya yang entah kapan akan insyaf dan beradab.

Dan hari ini adalah hari kedua saya disini, kembali ke topik kuliner, list makan malam hari ini adalah nasi goreng di abang-abang yang mangkal dekat sebuah pasar inpres, yang bagi kami rasanya seringkali membuat kami rindu jika sedang berada jauh dari tanah air. Saya parkir motor di dekat si abang. Dan sambil menunggu pesanan nasi goreng bungkus, saya melipir ke toko sekitar untuk mencari gunting karena dua anak saya membawa project liburan yang harus selesai dan dikumpulkan ketika kembali masuk sekolah. 

Saya baru sadar ternyata susah sekali jalan dari toko ke toko. Pedestrian menghilang. Kios-kios tenda berdiri mengambil hak pejalan kaki. Otomatis pejalan kaki bergeser lebih ke tengah merambah aspal. Hasilnya... Ya diklaksonin motor lah... Kadang malah dapat bonus dipelototin. Lah terus aku kudu piye...


Let me introduce you, this is Jakarta :')

Minggu, 10 April 2016

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina

Judulnya memang lebay sih.. Saya belum pernah sekolah ke China. Belum pula mengirim anak untuk belajar ke sana. Hehehe...

Di era yang serba kompetitif ini, mencari sekolah untuk anak memang gampang-gampang susah. Kalau dahuluuuuu (huruf u nya banyak saking lamanya) mencari sekolah pilihannya tak sebanyak sekarang. Di kota kecil tempat saya lahir, sejak SD sampai SMA hanya ada sekolah negeri dan beberapa sekolah swasta yang cuma ada tiga jenis yaitu Muhammadiyah, Al Ma'arif (dikelola oleh ormas NU) dan sekolah Kristen. Biaya sekolah swasta masih dalam jangkauan rakyat tingkat ekonomi rata-rata. Tak harus orang kaya.

Jaman berangsur berubah. Ketika saya berganti peran menjadi seorang ibu, menjadi tugas saya untuk mencari sekolah pilihan. Beragam sekolah yang sangat banyak terkadang justru membingungkan. Sejak awal tahun 2000an mulai menjamur sekolah berbasis Islam Terpadu. Juga sekolah-sekolah islam lainnya. Jam belajar pun lebih panjang. Full day. Seven to three.

Tidak mudah mencari sekolah. Perlu browsing, referensi teman dan survey untuk menemukan yang sesuai. Saya tidak menyebut yang terbaik. Karena ukuran baik tidaknya sekolahan itu relatif. Tergantung perspektif dan kebutuhan. Sekolah A bisa jadi baik untuk si A karena target utamanya adalah goal PTN, tentu belum cocok untuk si B karena targetnya hafalan Quran dan lancar berbahasa arab. Atau si C yang targetnya ingin melanjutkan ke luar negeri dalam jaringan Cambridge.

Tapi yang pasti, salah satu dan yang utama dalam survey sekolah adalah tentang biaya, tuition fee ( terurama jika sekolah swasta ). Sekolah mahal identik dengan fasilitas yang bagus. Baik fasilitas sarana belajar mengajar maupun fasilitas ekstra kurikuler. Dengan biaya yang tinggi kesejahtaraan pengajar cenderung terpenuhi sehingga pengajar lebih fokus mentransfer ilmunya tanpa memikirkan pendapatan sampingan... Meski kadang ada juga pengajar yang passionnya adalah mengajar, tanpa peduli berapa nominal yang dia dapatkan. Jaman saya duluuuuu (lagi-lagi huruf 'u' nya banyak) bapak ibu guru saya banyak yang seperti ini. Mengajar adalah ibadah jariyah. Beberapa guru di sekolah anak saya juga seperti ini. Mengajar adalah passion. Bahkan ada guru si bungsu di International Islamic School Malaysia ini yang hampir setiap pertemuan menyediakan hadiah-hadiah lucu untuk memotivasi siswa. Ada juga yang dengan sistem token. Nilai full mark akan diganjar token. Token-token yang terkumpul akan ditukar hadiah pada saat tertentu. Sampai saya seringkali bertanya dalam hati berapa ringgit beliau sedekahkan untuk menggembirakan hati anak-anak ini.

Pertimbangan selanjutnya adalah tentang mutu.
Ya, sekolah bermutu seringkali dihubungkan dengan sekolah mahal. Tapi beberapa sekolah bermutu (biasanya disubsidi perintah atau donatur) mematok biaya terjangkau bahkan gratis (fullschoolarship). Salah satunya adalah Smart Ekselensia Indonesia. Sekolah ini gratis dengan program akselerasi 5 tahun SMP dan SMA, yang diperuntukkan bagi anak-anak Indonesia berpotensi tapi terbatas dalam hal ekonomi.

Faktor lainnya adalah tingkat bullying di sekolah. Saya termasuk orangtua yang menyelipkan pertanyaan ke pihak sekolah (atau cari bocoran ke teman/kerabat) tentang ada tidaknya kasus bullying di sekolah incaran. Saya bukan korban bullying di masa sekolah. Juga bukan pelaku. Tapi saya sedikit banyak tahu dampak bullying terhadap perkembangan psikologis korban. Maka saya akan coret sekolah sekeren apapun jika ada tradisi senior-junior yang menjurus ke arah bullying.

Selanjutnya masalah jarak. 
Ketika masih tinggal di Jakarta, jarak dari rumah ke sekolah masuk dalam pertimbangan pencarian sekolah. Karena jakarta macetnya sudah dalam taraf 'ga sopan', makanya saya cari yang tidak jauh-jauh amat. Tujuan saya adalah agar waktu dan energi anak tidak habis dalam perjalanan. Agar masih ada waktu untuk bermain dan mengulang pelajaran di rumah.
Tapi berbeda dengan di Kuala Lumpur ini. Jalanan yang tidak se macet parah Jakarta membuat saya lebih leluasa untuk memilih sekolah. Jarak bukan hal krusial karena waktu tempuh bisa diprediksi. Saya pilih sekolah internasional karena saya ingin anak saya ada nilai plus dalam sosialisasi. Juga bahasa tentunya. Berbaur dengan masyarakat internasional saya harapkan mereka akan lebih melek akan kuasa Allah menciptakan makhluknya berbangsa-bangsa dengan tradisi dan karakter yang beragam.
Diantara beberapa pilihan sekolah internasional disini, tetap saya pilih yang islami. Karena saya pernah merasakan sendiri manfaatnya punya basic agama sejak dini. Meskipun masa SMA dan kuliah saya di sekolah negeri, tetapi masa SD dan SMP saya tuntaskan di sekolah islam, sekolah Muhammadiyah. Tidak membuat saya jago-jago amat dalam hal agama sih, tapi minimal saya tak nyaman meninggalkan sholat. Amalan yang nantinya akan pertama kali dimintai pertanggungjawabannya di Hari Akhir. Atau minimal saya bisa menjawab jika anak-anak bertanya satu dua hal tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama. 

Sayangnya masih ada beberapa anggapan yang menyatakan bahwa sekolah berbasis agama muridnya nakal-nakal (sama halnya anggapan bahwa sekolah boarding/pesantren adalah sekolah buangan untuk anak nakal --seperti yang pernah saya tulis dalam postingan sebelumnya yang berjudul "Masuk Pesantren, Apa Salahku, Ibu?". Ironisnya anggapan seperti ini justru datang dari orang-orang yang seagama dengan saya. Dan orang yang berpendidikan pula. Seakan ada anggapan terselubung bahwa sekolah berbasis agama adalah semacam bengkel, untuk mereparasi anak-anak nakal. Sedihnya....
Padahal anak nakal sih dimana-mana ada. Karena tingkat kenakalan tidak masuk dalam materi test penerimaan siswa baru.. Hehehe.. 



Jadi bagi saya, jika ada yang bertanya atau meminta pendapat sekolah mana yang bagus, tentunya akan saya jawab tergantung, karena bagus tidaknya sekolahan itu relatif. Tergantung perspektif dan kebutuhan.