Sabtu, 02 Januari 2016

Welcome to The World, Ziyan

     Ziyan adalah anak kedua kami. Lahir pada 2 Januari 2003, dengan berat 3 koma sekian dan tinggi sekitar 49 atau 50 cm, jamnya sekitar ba'da isya' karena yang saya ingat, pada saat kesadaran saya timbul tenggelam karena sakitnya kontraksi, saya sudah berada di ruang bersalin, ditemani suster sedangkan dokter belum hadir, suami saya berpamitan sebentar hendak sholat isya. Mungkin untuk menenangkan hatinya dan meminta kepada Allah atas kelancaran proses kelahiran ini.. (maaf ya nak, ibu tak inget persis tentang data lahirmu. Sepertinya ibu harus nyontek data kelahiran yang tak terbawa ke Kuala Lumpur).
     Sebentar... jika saya berniat menuliskan tentang Ziyan, ini merupakan catatan saya, jejak sejarah, and maybe for his little birthday present. Karena selain mainan, saya selalu kehabisan ide hadiah ulang tahun apakah yang patut saya berikan untuk dikenang sepanjang masa. Dua saudaranya pada saat ultah sudah pernah saya tuliskan note pendek di akun Facebook saya. Berbentuk semacam puisi-puisi gagal hahaha.. itupun salah satunya ada seseorang yang menjiplak di paragraf terakhir yang membuat saya patah arang untuk nulis-nulis di menu note facebook..(laah malah curhat..)

Ok.. let's start..

     Setiap kelahiran anak, selalu ada kejadian dramatik menjelang keberangkatan ke Rumah Sakit. Pagi hari itu, sebetulnya saya mulai merasakan semacam kram di perut. Saya merasa bahwa saya akan melahirkan hari ini. Tapi karena ini proses kelahiran anak kedua, saya lebih santai, toh hanya kram. Pagi itu suami saya tampil di tv (ciyeeeee....) sebagai peserta kuis yang sedang happening, Kuis Siapa Berani, bersama rombongan kantornya. Teng jam 8 saya sudah siap didepan tv bersama ibunda yang sudah hadir di rumah kami, datang dari Surabaya demi menyambut kehadiran cucu baru. Kami nonton segmen demi segmen seru-seruan di televisi dan lupa akan kram perut. 
     Acara kuis berlalu, kontraksi sesungguhnya mulai terasa. Ringan saja. Sampai sore menjelang. Berbekal pengalaman melahirkan anak pertama ( dimana saya sempat disuruh pulang kembali ke rumah sesampainya di rumah bidan, karena bukaan baru sedikit dan wajah saya masih senyam-senyum sehingga bidan belum percaya bahwa sesungguhnya saya sudah merasakan kontraksi)  maka saya memutuskan untuk menunda mengabari suami yang sedang di kantor. Biarlah dia pulang seusai jam kantor tanpa saya mengganggunya. Bahkan ketika adzan maghrib, karena itu hari kamis, saya masih santai mempersilakan ibunda berbuka puasa terlebih dahulu.
     Sesampainya suami dirumah,  kami bersiap, ibunda sudah selesai berbuka puasa, berangkatlah kami berempat (suami, ibunda, saya dan anak sulung kami yang masih berusia 4 tahun). Kebetulan tak jauh dari rumah kontrakan kami ada sebidang tanah dan rumah petak yang digunakan menjadi pool bajaj. Kami yang biasanya setiap pagi keberisikan suara bajaj-bajaj yang dipanasin mesinnya sebelum mereka menjemput rizki menyebar ke segala penjuru ibukota, malam itu, untuk pertama kalinya kami merasa terbantu memiliki tetangga para sopir bajaj. Dua buah bajaj kami sewa. Saya bersama ibunda di satu bajaj dan suami bersama anak sulung berada di bajaj yang lain. 
      Mulailah terjadi drama yang konyol. Dengan sekali komando bajaj suami berangkat mendahului kami. 
Lah... yang mau lahiran saya atau dia... kenapa dia yg berangkat duluan... Saya yang mulai meringis karena frekwensi kontraksi yang makin sering tak ambil pusing. Biarlah.. yang penting saya nantinya juga akan sampai Rumah Sakit. Hingga, ibunda tiba-tiba turun lagi dari bajaj, kembali membuka pintu pagar dan bergegas mendekati pintu rumah yang masih terbuka lebar... oh Allah, suami saya lupa mengunci pintu rumah !! Dan dia telah menghilang begitu saja! Ah, dengan versi yang berbeda terjadi lagi kejadian konyol seperti halnya dulu momen anak sulung saya lahir.. hahaha..
            **********
     
     Sesampainya di rumah sakit, tanpa mampir ke kamar perawatan, saya langsung menuju ke ruang bersalin. Anak sulung bersama ibunda menunggu di ruang tunggu, sementara suami -atas izin dokter- menemani saya yang sedang gulang guling menahan sakit. Sesungguhnya jika teringat kejadian 3 kali melahirkan, agak menyesal juga kenapa saya selalu manis setiap kali akan melahirkan. Hanya mulut yang komat-kamit : "Laa haula wa laa kuwwata illa billaah", "Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal maula wa ni'man nashiir" dan "Hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa alihi tawakkaltu wa huwa robbul arsyil adzim". Kenapa saya tidak mencakar mencubit menendang suami saya.. padahal ini kesempatan bagus sepertinya. Alibi terindah sebetulnya. Seperti di film-film gitu... Kapan lagi kan.. hahaha..
(Haduh ini tulisan yang tadinya saya pikir akan menjadi sweet buat kado ultah Ziyan, kenapa jadi ngalor ngidul gini ya..)
     Beberapa saat didalam ruangan tiba-tiba suami membisiki saya berpamit untuk sholat Isya'. Hanya anggukan yang mampu saya lakukan untuk menjawabnya. Saya ingin menunggu sampai dia kembali, tapi apalah daya, saya keburu pengen lahiran. Tanpa menunggunya kembali, mungkin disaat yang sama, diantara sujud dan doa suami saat Isya itulah Ziyan hadir ke dunia. Ya, suami saya terlewat menyaksikan detik-detik kelahiran Ziyan. Tak apa. Sujud dan doanya mempermudah proses kelahiran ini.
    Benar kata orang, ketika bertemu anak kita pertama kali, semua rasa sakit terbayar lunas digantikan rasa haru, syukur dan sukacita. Welcome to the world Ziyan Akmal Tiftazani, Terima kasih telah menjadi sumber kebahagiaan kami. Terima kasih telah mengisi hari-hari kami. Terima kasih telah menjadi guru bagi kami agar kami terus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik dan menyenangkan. Teruslah menjadi perhiasan kami seperti arti dari namamu. Sejuta kata dan harapan indah teramat susah untuk ibu rangkai untukmu karena semua membuncah memenuhi dada ibu. Semuanya hanya bisa ibu lantunkan dalam doa :
"Rabbii habli minash sholihin" (As Saffat :100).
""Rabbij'alni muqiimash sholaati wa min dzurriyatii. Rabbana wataqobbal du'a" ( Ibrahim : 40).
"Rabbi audzi'ni an asykuro nikmatakal latii an amta alayya wa alaa walidayya wa an a'mala sholihan tardhohu wa aslihli fidz dzurriyyati. Inni tubtu ilaika wa inni minal muslimin" ( Al Ahqaf 15).
"Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun. Waj'alna lil muttaqina imaman" (Al-Furqan :74)

I love you nak.. with endless love, unconditionally love

Kuala Lumpur, 2 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar