Kamis, 28 Januari 2016

Smile, and The Universe will Smile Back to You....

     Apa yang akan kita alami dalam satu hari biasanya ditentukan di pagi hari. Bagaimana suasana hati kita sewaktu bangun tidur. Jika bangun tidur sudah merasa hari bakalan panjang, hectic, uring-uringan sudah dipastikan seharian akan tersandung-sandung pula dan sandungan itu terasa menjengkelkan. Tetapi jika pagi hari merasa ringan, bangun tidur dengan hirupan nafas sepenuh dada, naaah... seharian insya Allah akan merasa menyenangkan. Jika ada sandungan-sandungan kecil pun, akan terasa sebagai polisi tidur di jalanan komplek yang piece of cake untuk dilewati.
     Saya pernah di suatu pagi bangun dengan mood yang buruk. Dunia cuma selebar kotak lift saja rasanya. Sempit. Sumpek. Semua yang saya lihat tampak menjengkelkan. Kesalahan kecil yang dilakukan anak saya pun cukup bisa membuat saya menegurnya panjang pendek. Bukan cuma satu anak. Tiga-tiganya. Bahkan kucing-kucing saya pun tak luput dari teguran saya. Pandangan tak bersahabat saya... padahal kucingnya peduli juga belum tentu... haha..
     Dan suatu hari saya melihat sebuah karikatur bertuliskan " Smile, It's sunnah". Tidak ada yang istimewa sebenarnya, karena saya sering mendengarnya. Bahkan salah satu Hadist Riwayat at Tirmidzi menyebutkan "Senyummu untuk saudara (sesama muslim) adalah sedekah". Saya pun sering menasehatkan kalimat serupa jika anak-anak, kakak beradik sedang berantem saling cemberutan. 
"Tak perlu mengeluarkan uang atau barang untuk bersedekah, cukup tersenyum atau minimal bermuka cerah untuk orang di hadapan kalian". Omongan yang tak melulu berhasil membuat yang berantem langsung baikan.. tapi setidaknya bisa mereda.
     Kembali ke bahasan awal, senyum di pagi hari juga bisa menjadi mood booster saya untuk aktifitas sepanjang hari. Memberikan senyum buat anak-anak selain membahagiakan mereka, sesungguhnya juga membahagiakan saya. Maka dengan itu, melangkah lebih jauh dari rumah pun lebih mudah untuk tersenyum kepada orang lain. Contohnya ketika bertemu seseorang di lift condominiun atau bertemu seseorang di basement parking area. Tak selalunya saya mengenal mereka, tapi menyadari mereka adalah sesama penghuni di condo yang sama, menyempatkan tersenyum tulus dan mendapatkan jawaban senyum yang sama adalah hal yang dapat meringankan langkah saya..
     Tetapi sayapun punya pengalaman pahit tentang senyum. Menjelang ujian skripsi saya harus menyampaikan surat undangan satu demi satu ke ruang dosen pembimbing dan dosen penguji saya kapan dan dimana sidang saya akan berlangsung. Lima orang. Ada juga naskah skripsi selain undangan. Rupanya ada salah satu dosen penguji yang ingin memberikan pertanyaaan-pertanyaan pemanasan buat saya. Saya jawab semua pertanyaan dengan wajah tersenyum.. aha... rupanya dosen tersebut tidak berkenan dengan ekspresi senyum saya.
"Besok kalau sudah ujian betulan, jangan jawab pertanyaan penguji sambil tersenyum. Tidak akan menambah nilai dan tampak tidak serius !"... ooh... baiklah, pak...
Sampai kemudian di hari H, dua dosen pembimbing saya, yang selama berbulan-bulan sebelumnya sudah hafal dengan tingkah polah saya, di sela-sela ujian mulai heran.
"Kamu nervous sekali, ayo santai dikit biar jawabnya juga lebih enak. Senyum dulu... nah gitu kan enak.. kalo jawabnya sambil senyum kan yang nanya juga enak melihatnya". Ooh... baiklah pak.... hehehe... 
     Tapi memang senyum kita sesungguhnya merupakan energi yang sangat kuat untuk memancarkan aura positif disekitar kita. Kalo boleh saya iseng berhitung, dari sekian senyum yang saya lemparkan ke sekitar hampir semuanya berbalas. Kalaupun ada satu dua yang tak berbalas, saya anggap dia sedang terburu-buru dan tidak fokus.
      Maka seperti yang saya sebutkan di awal-awal tulisan, jika niat awal kita tersenyum itu ingin bersikap sopan dan menyenangkan orang lain, ketika orang tersebut membalas senyum kita, kitalah sesungguhnya yang bahagia. Nah sejatinya senyum kita adalah untuk kebahagiaan kita sendiri, kan... 
So, let's start the day with bislllah and then... smile, and the universe will smile back to you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar