Ini peristiwa yang sudah lama terjadi, lama disimpen dan mulai terlupakan. Hanya berbentuk draft coretan di buku, yang pengen ditulis lengkap, tapi malas melulu..
Tentang prasangka hati yang didahulukan sebelum melihat kenyataan. Padahal kenyataan itu, asal mau bersabar, akan datang hanya dalam hitungan menit.
DON'T JUDGE THE BOOK BY ITS COVER
Ini ungkapan lama yang sebetulnya sudah dihafal diluar kepala, lengkap dengan artinya, lengkap dengan maknanya. Kurang apa coba..
Tapi entahlah, untuk menerapkan di kehidupan sehari-hari, rada-rada sulit ya.. untuk saya sih..
Hingga di suatu sore..
Antrean panjang menuju gerbang sekolah anak-anak yang mengular phyton, adalah perjuangan yang yuhuiii untuk dilalui. Lokasi sekolah yang tepat di pertigaan ujung lampu merah menambah parah antrian. Kuala Lumpur yang pengendaranya lebih beradab dan sopan dibanding pengendara di Jakarta pun, di antrian ini seringkali adu serobot antar sesama. Pengabaian detik-detik pertama saat lampu lalu lintas berubah dari warna kuning ke warna merah adalah pemandangan yang lumrah, mengingat kebanyakan dari para pengantar anak sekolah ini akan langsung tancap gas menuju tempat kerja masing-masing. Belum lagi jika berbarengan dengan turun hujan, semua mobil berlomba memasuki area sekolah, parkir sedekat mungkin dengan drop point yang bercanopy untuk menghindari badan basah kuyup. Keadaan ini sama saja, pagi hari saat mengantar ataupun sore hari saat menjemput.
Sore itu, hiruk pikuk ritual menembus kemacetan gerbang sekolah telah terlewati. Baru sekian ratus meter beranjak dari gerbang sekolah, di Traffict light gerbang masuk International Islamic University Malaysia yang sedang menyala merah, saya melihat motor dengan lampu sign kanan yang menyala tik tok tik tok melaju dari belakang mobil saya, melewati saya, kemudian berhenti di sisi kiri depan saya.
Saya dengan rasa lelah dan sisa stamina aktifitas hari itu, spontan berujar kepada anak-anak : 'Tuh.. lihat, pasti dia mau menerobos lampu merah ". Saking seringnya melihat pemotor abai terhadap lampu merah... sedetik, dua, tiga,...si pemotor anteng di tempatnya dengan lampu sign yang masih ber-tik tok. Lampu beralih warna menjadi hijau, barulah dia beranjak pelan maju, berbarengan dengan melajunya mobil saya.
...Upss... saya salah menilai....
Perlahan dia mendahului mobil saya. Tampak dari arah pandang saya dia memegang stang motor hanya dengan satu tangan. Tangan kirinya melayang ke sisi kiri kepala. Lagi-lagi saya saya berujar kepada anak-anak : "Pasti dia lagi handphonan".
Seksama kami memperhatikan. "Enggak tuh, bu,..elus-elus helm deh dia ". Kata salah seorang anak saya, Ziyan, yang memang paling banyak mengomentari apa saja dibanding dua saudaranya.
..Eh... kembali saya salah menilai. Mulai agak menyesal.
Kami terus melaju, melupakan dua tuduhan yang keliru. Kami tengah berbincang santai hingga di suatu jembatan tiba-tiba pemotor melambat dan menepi ke kiri... dan saya kembali berkomentar :"Ngapain tuh minggir-minggir berhenti di jembatan, ngalangin jalan kendaraan di belakangnya..".
Dan.. ahh.. tampak disitu ada motor lain yang mogok. Pengendara dan seseorang yang dibonceng sedang mengotai-atik mesin motornya. Rupanya pemotor yang tiga kali saya komentarin (dan tiga-tiganya salah semua) menepi karena ingin menawarkan bantuan. Nah !!
Kali ini saya menyesal sekali... contoh terburuk didepan ketiga anak saya. Ketiga anak saya mentertawakan saya. Sambil menetralisir rasa bersalah saya hanya mampu berucap : " Maaf ya, Pak...", yang tentu manalah didengar oleh si bapak pemotor..
Moral of the story : You Know lah... heheh kalo udah terlanjur malu, tentu susah untuk membuat clossing sebuah cerita,,
Selasa, 25 Agustus 2015
Nurul Fikri Boarding School (3) : WANITA SHOLEHAH
Masih tentang tulisan yang tercecer dan ingin disisipkan disini
Wanita Sholehah
BBM group Wanita sholehah NF
ini dibuat sejak tahun pertama anak-anak bersekolah di NF. Saya lupa, dulu, apa
alasan group ini dibuat. Karena sebetulnya sudah ada BBM group masing-masing
asrama, sejak kelas 7 sampai kelas 9. Mungkin..mungkin alasannya untuk memudahkan sesama bunda agar
saling mengenal meskipun secara fisik jarang atau bahkan belum pernah berjumpa.
Pada masa-masa awal, group
ini lebih sering sepi tak ada percakapan. Sesekali hanya ada
postingan-postingan copas dari group lain yang disambut dengan gambar jempol,
senyum, gabungan jempol dan senyum. Itu saja. Garing ? Iya, hehehe
Tapi seiring berjalannya
waktu, percakapan demi percakapan mulai mengalir. Topik seputar anak-anak,
pelajaran dan beragam kisah di asrama rupanya menjadi magnet yang kuat untuk saling bersahutan. Bertukar
keluh kesah yang dikemas canda jika rindu ananda mulai melanda adalah hal yang
paling sering terjadi. Satu hal yang tentunya akan canggung dilakukan di group asrama, dimana disitu ada
wali asrama dan para bapak, jaim tentu J
Bagi sebagian orang tua yang
tinggal jauh diluar jabodetabek (termasuk saya ketika di tahun ke dua harus
meninggalkan Jakarta berpinda ke Kuala Lumpur, sedangkan Nufimart- minimart internal di dalam kawasan sekolah- belum ada pelayanan by phone) group ini
juga menjadi andalan sarana penitipan belanjaan untuk logistik ananda jika ada
salah satu bunda akan menjenguk anaknya. Dipelopori oleh ibu ketua (Terima
kasih bu Vera) , akhirnya kebiasaan membuka jasa penitipan menular ke para
bunda yang lain. Indahnya jika yang menular adalah hal-hal yang positif...
Saat-saat group ramai bunyi
tang-ting-tung tak berhenti biasanya jika ada foto yang diposting ortu yang
berkunjung ke asrama. Foto-foto anak-anak yang sedang tengkurep berlaptop ria,
sedang makan bareng, sedang ada kegiatan sekolah. Komentar-komentar usil ikut
mewarnai postingan foto demi foto. Seakan kami telah saling mengenal lama
sebelumnya.
Komunikasi di group ini pula
yang memudahkan berkoordinasi untuk mendukung kegiatan anak-anak jika ada
perjalanan keluar sekolah. Study tour, Kunjungan ilmiah, Islamic Book Fair,
nonton bareng Negeri Lima Menara. Lengkap dengan konsumsinya. Sayangnya kebijakan
BBM group hanya berkapasitas 30 member. Andai bisa memuat lebih tentu akan makin
riuh.
Sependek pengalaman saya di perkumpulan orang tua murid,
belum pernah saya menemukan ikatan sedalam ini dengan sesama walimurid yang
lain. Bukan hanya hubungan sesama bunda di dunia per-bbm-an, perhatian para bunda terhadap anak-anak pun demikian tulus. Mereka memperlakukan senganggap anak sendiri kepada semua teman seasrama anak-anak mereka.
Ketika di suatu masa, hampir seisi asrama kompakan demam, seorang bunda
datang membawakan pil cacing pereda demam. Bukan hanya untuk putranya, tapi
untuk semua anak yang sakit. Memeriksa satu demi satu dahi anak-anak. Membawakan telur rebus untuk menambah daya tahan
tubuh anak-anak seisi asrama. Di lain kesempatan seorang bunda membawa bubur.
Atau tekwan. Atau buah hasil kebun. Atau rendang. Dan aneka macam makanan.
Rasanya tiada hari kunjungan tanpa buah tangan orang tua. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari dimana makanan dari dapur pesantren menjadi makanan yang tidak ditunggu-tunggu, kalah bersaing dengan makanan dari para orang tua yang sedang berkunjung. Dan...membuat saya
membayangkan betapa enaknya jadi santri J
Namun disetiap perjumpaan
tentu ada perpisahan. Seiring dengan selesainya masa SMP putra-putra kami, tentunya intensitas dan frekwensi komunikasi group ini akan semakin berkurang, bahkan mungkin dibubarkan.Tapi untuk group ini, jika boleh berharap, semoga tak ada
perpisahan . Selepas kelas 9, meskipun kita tak lagi dalam wadah yang sama,
semoga silaturahim ini tetap terjaga.
Khusus untuk Zaidan, anakku, kenanglah nak,
selain ibumu ini, diluar sana banyak bunda-bunda lain yang pada suatu kurun
waktu turut memperhatikanmu, menjagamu, mendoakanmu. Selipkan mereka dalam
untaian doa-doamu.
JazakunnAllah khairon katsir
para Bunda. Salam hormat dan ukhuwah.
Yusfiana Alfi
Kuala Lumpur, 28 Maret 2014
Minggu, 23 Agustus 2015
Nurul Fikri Boarding School (2) ..KAMI TITIP ANANDA, USTADZ...
Tulisan yang ini, masih seputaran tentang anak yang meninba ilmu di Boarding School. SMPI Nurul Fikri Boarding School Serang. Kenapa Cinangka, yaa... karena sekolah ini terletak di desa Cinangka hehhe...
Terselip di file-file lama, rasanya mending saya posting disini deh. Karena komputer saya yang sudah udzur makin kesini makin sering ngadat. Jadi daripada tulisan ini tersimpan sedih, kadang bisa dibuka dengan cepat dan cuma loading gak jelas juntrungan mending saya simpan disini saja.
Ya sudah deh.. langsung copy paste aja
Kami Titip Ananda, Ustadz....
Terselip di file-file lama, rasanya mending saya posting disini deh. Karena komputer saya yang sudah udzur makin kesini makin sering ngadat. Jadi daripada tulisan ini tersimpan sedih, kadang bisa dibuka dengan cepat dan cuma loading gak jelas juntrungan mending saya simpan disini saja.
Ya sudah deh.. langsung copy paste aja
Kami Titip Ananda, Ustadz....
Ketika membuka email, mata saya terpaku pada menu. Ada
draft email yang belum saya selesaikan. Berencana mengirimkan ke milis nfbs
“Mari Bercerita Tentang Anak” tapi karena ini dan itu, tulisan ini terbengkalai
dan tak terselesaikan. Maka jadilah saya sertakan disini.
Liburan telah usai. Saatnya
mengantarkan ananda kembali ke asrama Talhah Bin Ubaidillah. Ini tahun ke 2
ananda menuntut ilmu di Nurul Fikri. Sudah Napak kalau orang bilang. Sudah
menemukan pola hidup di asrama, menemukan teman-teman yang klik, menyiasati
kebosanan dengan kegiatan yang menggembirakan. Alhamdulillah.
Berbincang dengan wali
asrama, face to face, adalah hal langka bagi kami, karena jarangnya kami
menjenguk ananda. Karena faktor jarak, waktu dan tentunya biaya. Sejak kami
pindah ke Kuala Lumpur ritual dwi mingguan menikmati perjalanan Jakarta-Cinangka
tak lagi bisa kami lakukan.
Sama langkanya dengan menikmati
perjalanan dengan pemandangan damainya pedesaan melalui Ciomas-Padarincang sambil
sesekali membeli hasil bumi penduduk yang dijual di pinggir jalan. Atau
melintasi Cilegon-Anyer memandang sesaknya kawasan pabrik yang berdebu kemudian
berganti kawasan pantai yang indah sambil sesekali membicarakan jalanan yang
rusak yang belum juga diperbaiki pemerintah setempat. Menembus kemacetan, panas terik atau
cuaca hujan.
Pagi itu ustadz Ruslik
bercerita tentang anak-anak. Bagaimana tingkah polah mereka di usia remaja, usia peralihan
ini. Segera terbayang dibenak saya, yang selama ini , dirumah, sering memutar otak
menghadapi tiga anak berbeda umur dan sifat. Cukup menantang. Lha ini langsung
sekaligus menghadapi lebih dari 30 anak usia peralihan dengan watak dan latar
belakang yang berbeda-beda.. terbayang pusingnya.
Tapi sepertinya ustadz Ruslik
menghadapi dengan enjoy. Mewadahi mereka
yang mempunyai segala macam minat yang beragam. Ada club futsal “broken lamp” bagi yang suka
bermain bola sepak (Dinamakan Broken Lamp, karena seringnya anak-anak main bola di dalam asrama, in door gitu, dan memecahkan lampu ruangan haha) . Mengajak sparring partner bagi yang galau agar galaunya
bisa disalurkan ke hal-hal yang tidak merugikan diri sendiri atau teman. Membiarkan mereka perang blau
di kolam renang. Membiarkan mereka main
petak umpet bak kanak-kanak di gedung baru yang sedang dibangun. Menyiasati santri yang sering merasa ga enak
badan ketika jam sekolah, tetapi segera sembuh ketika jam main basket tiba J. Memanggilkan tukang cukur
rambut untuk cukur rame-rame di asrama. Mengambil gambar santri satu demi satu
sekedar untuk memuaskan hati kami –para ibu- yang suka rindu tak tahu waktu...
Ah..terima kasih ustadz.
Setelah mengantar ananda ke
asrama, kami langsung menuju bandara untuk pulang. Hari sudah sore. Sambil
menunggu waktu check in, iseng kami menuju musholla di terminal F. Tak disangka
bertemu ustadz Agung yang sedang selonjoran dilantai ditemani sang anak. Rupanya ustadz Agung
sedang menunggu rombongan dari Makasar yang karena satu hal, pesawat delay
beberapa jam dan terlambat mendarat di Soekarno Hatta. Ada raut letih disana.
Tapi ketika ngobrol, yang tertangkap oleh telingan saya hanyalah nada suara
penuh permakluman. Tidak marah dan tidak jengkel... eh jengkel mungkin ada, tapi tak tertangkap oleh kami..
Langsung sekelebat ingatan
saya berlompatan ke kejadian sebelumnya. Ketika di awal liburan ananda akan pulang ke Kuala Lumpur, menumpang
travel sekolah dari NF menuju Soekarno-Hatta. Suami saya sudah menunggu disana. Serah
terima santri berikut barang bawaanpun terjadi. Ustadz Agung menyerahkan ananda ke suami. Karena penerbangan kembali ke
KL masih sore nanti sedangkan saat itu hari masih pagi, jadilah ananda dan
suami jalan-jalan dulu ke sebuah mall di Jakarta Barat. Sampai tiba-tiba
ananda tersadar bahwa tas berikut laptopnya tertukar dengan salah seorang
temannya, yang kebetulan tasnya mirip sekali. Bergegas ananda kembali ke bandara (tapi se-bergegas-bergegasnya, jarak
Jakarta Barat dan Cengkareng dengan segala kemacetannya tentu membutuhkan waktu
yang tidak sebentar). Dan... ustadz Agung masih disana menunggu transaksi
penukaran tas dan laptop ke pemilik sesungguhnya, sambil menunggu anak-anak yang lain satu demi satu
check in dan boarding ke pesawat masing-masing dengan tujuan yang berbeda-beda, jam penerbangan yang berbeda-beda. Sungguh.. jarak cengkareng-Cinangka bukan jarak yang dekat, terbayang pukul berapakah ustadz Agung akan sampai kembali di rumahnya. Pastilah telah jauh larut. Padahal sebelumnya berangkat dari Cinangka menuju Cengkareng dipagi buta, bahkan adzan Subuh pun belum berkumandang.
Ah... Terima kasih Ustadz..
Rasanya ucapan terima kasih
tak jua cukup untuk apa telah mereka, para ustadz berikan. Maka ijinkan saya berucap :
Semoga Allah membalas kebaikan para ustadz/ah dengan kebaikan berlipat ganda. Kebaikan
untuk ustadz/ah dan keluarga. Kebaikan di dunia dan di akhirat.
Kuala Lumpur, 24 Maret 2014
Nurul Fikri Boarding School (1)..BELAJARLAH NAK...
Di wall facebook saya ramai di penuhi status-status penuh kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang tahun ini merupakan tahun pertamanya masuk ke sekolah berlatar boarding. Sekolah yang dilengkapi dengan asrama sehingga murid tidak harus pulang ke rumah selepas jam belajar.
Kerinduan semacam ini, sungguh pernah saya rasakan.. I can feel it, I know it sooo well.. Itu makanya kembali saya cari tulisan saya tentang ini di file-file lama. Tulisan yang pada awalnya saya buat untuk meramaikan sekumpulan tulisan senada dari para orang tua murid Nurul Fikri Boarding school Serang, menjelang kelulusan putra-putra kami, sebagai semacam... katakanlah Buku Tahunan, yang diprakarsa oleh MOCO, salah satu sosmed yang berbasis kegiatan membaca.
Berikut tulisan saya
Dari Pondok Bambu Menuju Cinangka
Kerinduan semacam ini, sungguh pernah saya rasakan.. I can feel it, I know it sooo well.. Itu makanya kembali saya cari tulisan saya tentang ini di file-file lama. Tulisan yang pada awalnya saya buat untuk meramaikan sekumpulan tulisan senada dari para orang tua murid Nurul Fikri Boarding school Serang, menjelang kelulusan putra-putra kami, sebagai semacam... katakanlah Buku Tahunan, yang diprakarsa oleh MOCO, salah satu sosmed yang berbasis kegiatan membaca.
Berikut tulisan saya
Dari Pondok Bambu Menuju Cinangka
**Komputer menyala à
Buka website NFBS à
Klik pendaftaran online .. dengan ucapan basmalah, jadilah kami mendaftarkan Zaidan, si anak
sulung di sekolah ini**
Hari-hari setelah pengumuman ananda diterima adalah hari-hari
dengan semangat baru. Menjahit baju seragam, berbelanja semua keperluan untuk
di asrama. Memberi nama barang-barang pribadi agar tidak tertukar dengan santri
lain adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sejumlah nasehat-nasehat pendek
tak lupa kami selipkan sebagai pembekalan hidup berdampingan dengan teman-teman
baru dengan latar belakang yang berbeda,
dimana mereka akan berinteraksi sejak bangun tidur sampai kembali beranjak
tidur, pastilah akan jauh lebih kompleks dibanding pertemanan di sekolah biasa.
Dan
hari keberangkatan pun tiba. Satu persatu mulai dari koper, container plastik,
ember, buku dan semua barang yang wajib dibawa mulai ditata rapi di mobil. Diiringi
perasaan yang susah diungkapkan, sungguh campur aduk. Antara khawatir seperti
apa lingkungannya kelak, senang karena satu jenjang pendidikan mulai ditapaki,
sedih melepas anak jauh dari dekapan, dan entah perasaan apalagi. Sempat
melirik ananda sekilas, mencoba mencari tahu apakah yang tersembunyi
dihatinya.. hhmm sepertinya dia fine-fine saja. Ok, saya pun mulai mencoba
menekan semua perasaan sedih, tak ingin menularkan aura biru kepadanya.
Pukul 9
pagi. Suasana asrama belum ramai betul. Asrama Usman Bin Affan namanya. Menuju
ke kamar yang telah ditentukan, dengan susunan tempat tidur bersusun, ananda
memilih tempat tidur yang diatas. Beberapa santri baru yang lebih dahulu hadir
tampak mulai membuka dan menata baju kedalam lemari yang telah disediakan.
Bersalaman dengan beberapa bunda membuat saya merasa bahwa saya tak sendirian
melepas ananda. ... ahh.. sayapun menghela nafas panjang ...betapa susahnya
menepis sepi yang tiba-tiba menghampiri, padahal perpisahanpun pun belum
terjadi..
Tapi
sosok Wali Asrama itu, ustadz Kholisul Ibad namanya, cukup menentramkan saya.
Disebuah ruangan kami, para orang tua santri baru dan wali asrama berkumpul.
Saling berkenalan dan membahas beberapa tata tertib di asrama. Beragam ekspresi
orang tua sengaja saya amati. Sekedar mencari teman, adakah yang berperasaan
campur aduk seperti saya. Diujung sana, seorang bapak berkemeja putih tak henti
menyusut hidungnya dengan selembar saputangan. Di sebelahnya dua orang bapak
berjabat tangan, berbincang pelan dan melempar senyum. Di dekat jendela,
seorang ibu berwajah gelisah meremas tangan untuk yang kesekian kalinya.
Berdekatan dengannya, duduk seorang ibu yang sibuk mencatat penjelasan dari
wali asrama. Beragam bahasa tubuh pun cukup mewakili apa yang tersimpan dalam
dada.
Mencoba mengakhiri
penjelajahan mata, saya bersalaman dengan ibu disebelah saya. Bertukar sedikit
cerita, kemudian mencoba fokus kepada apa yang dipaparkan wali asrama. Sungguh
tak ada yang nyangkut dikepala saya, selain pengumuman bahwa selama masa
adaptasi orang tua boleh menjenguk santri seminggu sekali. Pengumuman yang
seakan hembusan angin sejuk pengobat rindu yang sudah terbayang disudut kalbu.
Sesi
pertemuan telah berakhir. Mulai terdengar tangisan disana-sini dari beberapa
santri baru, tak ingin orangtuanya pergi. Kamipun harus berpamitan dengan
ananda. Menguatkan hati.. menguatkan hati.. menguatkan hati.. hanya itu yang
saya lakukan. Saya tak ingin tampak bersedih dihadapan ananda. Tapi.. kenapa
tak ada kata-kata yang mampu saya ucapkan. Hanya janji bahwa minggu depan kami
akan datang kembali...Alhamdulillah, meski ada kilatan sedih dimata ananda,
saya tak melihat dia meneteskan air mata. Dan itu adalah semangat baru bagi
kami untuk saling merelakan.
Tapi
rupanya perjuangan sesungguhnya untuk saling merelakan bermula dari minggu ke
minggu berikutnya, ketika kami mengunjunginya. Air mata ananda selalu mewarnai
menit-menit terakhir kunjungan. Berpesan agar tak lupa berkunjung minggu depan
ataupun sengaja mengulur-ulur waktu agar kami tak pulang. Hal ini sempat
membuat saya goyah antara berjuang atau menyerah. Terlebih ketika selang dua
bulan kemudian, ketika menjelang lebaran sekolah diliburkan, merasakan kembali
indahnya berkumpul dirumah. Mendengar kembali keributan-keributan kecil kakak-beradik.
Sungguh keputusan yang sulit untuk diambil.
Lagi-lagi
sikap wali asrama yang kebapakan lah yang menguatkan saya (Terima kasih ustadz Kholis). Kami –saya dan
ananda- harus sama-sama belajar mendewasakan diri dengan situasi baru ini.
Terlebih ananda tidak ada masalah dengan teman-teman barunya. Tidak ada masalah
dengan guru-gurunya. Tidak ada kejadian yang mengganggu. Jadi saya anggap ini
hanyalah masalah hati. Hati yang belum rela untuk saling berjauhan. Jika
kuncinya hanyalah hati maka kemana lagi saya akan mengadu selain kepada Sang
Pemilik Hati, Sang Maha Pembolak-balik Hati, untuk menguatkan hati saya
mengantar ananda menuntut ilmu.
Semoga, nak, perjuangan kita tiga tahun saling berjauhan
adalah langkah awal menempa hidupmu menuju arah yang lebih baik..
Kuala Lumpur , 23 Maret 2014
Lampu Merah
Di setiap persimpangan jalan, hampir selalu ditemukan benda ini. Tiga lampu yang menyala bergantian dan terdiri dari warna hijau, kuning dan merah. Berfungsi sebagai penanda kapan kendaraan akan terus melaju, persiapan berhenti atau berhenti sama sekali ketika akan melintas di persimpangan ini (ah yang seperti ini rasanya ga perlu dijelaskan ya ;) )
Tetapi kemudian saya menjumpai lampu sejenis yang hanya terdiri dari dua warna, hijau dan merah, yang tidak melulu ada di persimpangan jalan, melainkan berada berhadapan di lintasan zebra cross. Lambang orang sedang berjalan terpampang di lampu tersebut. Jika lampu yang bergambar orang ini yang menyala adalah warna merah, maka kita DILARANG MENYEBERANG. Tetapi sebaliknya jika warna hijau yang nyala, kita BOLEH MENYEBERANG. Ada bebunyian tat tit tut yang berisik disertai timer menghitung mundur yang menunjukkan berapa lama lampu merah atau hijau menyala.
Saya pertama kali menjumpai lampu penyeberangan seperti ini ketika pertama kali ke Singapura tahun 2012. Agak ndeso dan termasuk terlambat hahaha... Jujur saya takjub dan merasa terbantu sekali menyeberang jalan dengan menggiring 3 anak usia belum dewasa. Berjalan bergegas melintasi zebra cross tanpa sebelah tangan mengacung2 tanda stop ke arah mobil meminta jalan, adalah kemewahan tersendiri buat saya. Mobil-mobil yang melintas pun begitu tertib dan sabar menunggu giliran mereka boleh melintas.
Selama di Singapura, menyeberang jalan adalah hal yang kami sukai. Tiga anak saya yang tidak kalah ndeso dengan ibunya selalu berebut memencet tombol di tiang pinggir jalan untuk mengaktifkan lampu penyeberangan ini. Jauh berbeda dengan suasana ketika saya menyeberang jalan di kota Mekah. Tangan mengacung tinggi dengan ujung lima jari saling menepel mengerucut disertai tarik nafas persiapan jalan cepat melintas jalan raya adalah modal utama untuk bisa sampai ke jalan seberang. Pun di jakarta, menyeberang jalan rasanya perjuangan yang sangat menguras emosi dan tenaga.
Dalam hati saya berharap, kapan ya kira-kira Jakarta, tempat saya tinggal, mempunyai lampu penyeberangan jalan serupa.
Dan... Alhamdulillah, ketika kami mudik libur lebaran lalu, saya menjumpai lampu semacam ini di penyeberangan jalan dari Mega Kuningan ke Mal Ambassador (mungkin ditempat lain sudah banyak, tapi kali ini saya menjumpainya disini).
Selama dua minggu ada keperluan di seputaran Mega Kuningan membuat hampir tiap hari saya menyeberang jalan ke Mal Ambassador ini. Pertama kali menyeberang sungguh saya takjub -dengan rasa takjub yang berbeda dibanding saat awal ndeso melihat lampu ini. Pada saat lampu bergambar orang menyala hijau, kami penyeberang susah banget untuk mulai melintasi jalan raya karena susahnya menghentikan motor bahkan mobil yang nampak enggan sekali memberikan kami jalan. Sampai-sampai security yang berjaga di depan Mal harus turun ke jalan mengulurkan pentungannya menyilang di jalan raya...
Saya menghela nafas panjang. Menghibur hati kecil saya yang diam-diam kecewa dengan minimnya toleransi sesama pengguna jalan. Menghibur diri sendiri, mungkin karena hari ini jam sibuk maka para pengendara bermotor pada grusa-grusu.
Tapi ketika berturut-turut saya kembali menyeberang di hari dan jam yang berbeda, kondisinya tetap sama, kecewa saya yang tadinya diam-diam dan tersimpan dalam hati mulai berubah menjadi keluhan bahkan gerundelan. Ahh..lalu untuk apa ada lampu penyeberangan jalan jika kami pejalan kaki masih harus dibantu security, masih dibantu pentungan menyilang, masih terjadi adu pelototan mata antara pengendara dan penyeberang..
Tapi selalu ada harapan di setiap kehidupan, bukan? Semoga ini hanya terjadi di penyeberangan ini. Bukan di Jakarta sisi-sisi yang lain. Semoga suatu saat toleransi sesama akan kembali terjalin, seperti duluuuu.. ketika kita belum menjadi makhluk individialis seperti sekarang..
Tetapi kemudian saya menjumpai lampu sejenis yang hanya terdiri dari dua warna, hijau dan merah, yang tidak melulu ada di persimpangan jalan, melainkan berada berhadapan di lintasan zebra cross. Lambang orang sedang berjalan terpampang di lampu tersebut. Jika lampu yang bergambar orang ini yang menyala adalah warna merah, maka kita DILARANG MENYEBERANG. Tetapi sebaliknya jika warna hijau yang nyala, kita BOLEH MENYEBERANG. Ada bebunyian tat tit tut yang berisik disertai timer menghitung mundur yang menunjukkan berapa lama lampu merah atau hijau menyala.
Saya pertama kali menjumpai lampu penyeberangan seperti ini ketika pertama kali ke Singapura tahun 2012. Agak ndeso dan termasuk terlambat hahaha... Jujur saya takjub dan merasa terbantu sekali menyeberang jalan dengan menggiring 3 anak usia belum dewasa. Berjalan bergegas melintasi zebra cross tanpa sebelah tangan mengacung2 tanda stop ke arah mobil meminta jalan, adalah kemewahan tersendiri buat saya. Mobil-mobil yang melintas pun begitu tertib dan sabar menunggu giliran mereka boleh melintas.
Selama di Singapura, menyeberang jalan adalah hal yang kami sukai. Tiga anak saya yang tidak kalah ndeso dengan ibunya selalu berebut memencet tombol di tiang pinggir jalan untuk mengaktifkan lampu penyeberangan ini. Jauh berbeda dengan suasana ketika saya menyeberang jalan di kota Mekah. Tangan mengacung tinggi dengan ujung lima jari saling menepel mengerucut disertai tarik nafas persiapan jalan cepat melintas jalan raya adalah modal utama untuk bisa sampai ke jalan seberang. Pun di jakarta, menyeberang jalan rasanya perjuangan yang sangat menguras emosi dan tenaga.
Dalam hati saya berharap, kapan ya kira-kira Jakarta, tempat saya tinggal, mempunyai lampu penyeberangan jalan serupa.
Dan... Alhamdulillah, ketika kami mudik libur lebaran lalu, saya menjumpai lampu semacam ini di penyeberangan jalan dari Mega Kuningan ke Mal Ambassador (mungkin ditempat lain sudah banyak, tapi kali ini saya menjumpainya disini).
Selama dua minggu ada keperluan di seputaran Mega Kuningan membuat hampir tiap hari saya menyeberang jalan ke Mal Ambassador ini. Pertama kali menyeberang sungguh saya takjub -dengan rasa takjub yang berbeda dibanding saat awal ndeso melihat lampu ini. Pada saat lampu bergambar orang menyala hijau, kami penyeberang susah banget untuk mulai melintasi jalan raya karena susahnya menghentikan motor bahkan mobil yang nampak enggan sekali memberikan kami jalan. Sampai-sampai security yang berjaga di depan Mal harus turun ke jalan mengulurkan pentungannya menyilang di jalan raya...
Saya menghela nafas panjang. Menghibur hati kecil saya yang diam-diam kecewa dengan minimnya toleransi sesama pengguna jalan. Menghibur diri sendiri, mungkin karena hari ini jam sibuk maka para pengendara bermotor pada grusa-grusu.
Tapi ketika berturut-turut saya kembali menyeberang di hari dan jam yang berbeda, kondisinya tetap sama, kecewa saya yang tadinya diam-diam dan tersimpan dalam hati mulai berubah menjadi keluhan bahkan gerundelan. Ahh..lalu untuk apa ada lampu penyeberangan jalan jika kami pejalan kaki masih harus dibantu security, masih dibantu pentungan menyilang, masih terjadi adu pelototan mata antara pengendara dan penyeberang..
Tapi selalu ada harapan di setiap kehidupan, bukan? Semoga ini hanya terjadi di penyeberangan ini. Bukan di Jakarta sisi-sisi yang lain. Semoga suatu saat toleransi sesama akan kembali terjalin, seperti duluuuu.. ketika kita belum menjadi makhluk individialis seperti sekarang..
Langganan:
Postingan (Atom)