Rabu, 28 Oktober 2015

"Masuk Pesantren, Apa Salahku, Ibu?"

     Di salah satu group sosmed, ada postingan lagu yang dibawakan seorang gadis belia. Dengan diiringi petikan gitar dan nada-nada sederhana dia menyanyikan lagu yang liriknya antara lain, kurang lebih :

" Apakah aku bukan anakmu, ibu, yang boleh tinggal dan belajar di rumah "
"Aku berjanji akan tetap menjadi sholehah dengan tetap belajar di rumah"
" Di boarding tidak ada internet dan tv, makan-mandi harus ngantri"

     Dengan suara bening, disana ada nada curhat yang dikemas dengan canda.
Hehehe..saya mendengarkannya sambil merasa geli dan sedikit terbawa perasaan, tertawa tapi dengan hati yang lembab, karena anak sulung saya juga pernah bersekolah di boarding school, sekolah berasrama seperti pesantren tetapi manajemen, sistem pendidikan dan kurikulumnya lebih ringan. Materi agama tidak sekental di pesantren. Nurul Fikri Boarding School namanya. Berlokasi di Serang Banten. Mendengarkan lagu itu membuat saya benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh santri penyanyi itu. Curhat yang dilandasi kerinduan kumpul keluarga, banyaknya hafalan al-Quran, tidak leluasa internetan, antri makan dan mandi. Curhat yang sifatnya sentimentil... hehehe...
     Baiklah, sedikit saya akan menulis seperti apa boarding school, sebatas yang saya tahu saja, yaitu di sekolah anak saya. Di sekolah ini kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dari Diknas. Sama seperti sekolah negeri dan swasta lainnya. Buku yang digunakan pun sama. Hanya saja diluar jam sekolah murid disibukkan dengan kegiatan dan muatan lain. Karena sekolah ini adalah sekolah Islam, maka kegiatan lainnya tentulah kegiatan yang islami. Menghafal Quran adalah keutamaan. Selain sholat wajib 5 waktu yang harus didirikan di masjid. Pengajian dan pembinaan dalam kelompok-kelompok kecil juga dilakukan. Beragam ekstra kurikuler mulai robotik, astronomi hingga berbagai cabang olah raga juga difasilitasi. Hampir tidak ada waktu luang. Online di sosmed? Game? Lupakan saja. Hanya bisa dilakukan di hari Minggu jam 10 pagi sampai sebelum adzan Ashar berkumandang. Selebihnya laptop dan jaringan internet hanya sah jika ada tugas sekolah. Handphone boleh digunakan di hari-hari tertentu dan jam-jam tertentu ketika orang tua ingin melepas rindu dengan bertelepon. Televisi? Tentu saja big no. Yang ada juga koran  :D
     Saya, selaku orang tua merasa sreg menitipkan anak di lingkungan seperti ini. Andai... andai saja pada masa saya dulu sudah menjamur sekolah boarding, sayapun mau bersekolah di lingkungan ini.
     Hanya sayangnya, sesuai dengan lirik curol santri tadi, di kalangan masyarakat banyak yang masih punya anggapan bahwa pesantren maupun sekolah berasrama adalah sekolah tempat anak-anak nakal. Tempat anak-anak yang orang tuanya sudah tak sanggup untuk mendidik dan mengasuh. Entah karena sering tawuran, drug, alkohol atau segala macam yang berbau akhlak minus.
     Saya sendiri sempat ngobrol dengan seorang teman yang awalnya sih nanya-nanya biaya dan sistem belajar di Nurul Fikri. Lama-lama keluar satu-persatu keluhannya tentang anaknya usia SMP yang sedang bersekolah disuatu sekolah swasta reguler, yang sedang mencari jati diri dan rupa-rupanya sedikit salah menentukan arah. Kemudian mulailah ada nada-nada ancaman kepada sang anak jika tak memperbaiki sikap akan dikirim ke pesantren atau sekolah berasrama karena orang tua sudah tak sanggup menghadapi..
     Nah....
     Akhirnya saya tahu mungkin dari sinilah awal mula timbul anggapan dari anak dan masyarakat bahwa pesantren adalah tempat buangan anak-anak nakal. Atau anak-anak yang tidak diterima di sekolah favorit. Sebagian juga menganggap pesantren itu  kampungan, kaum sarungan, kuno dan semua yang kurang indah didengar.
     Mungkin benar adanya ya..mungkin dulu memang seperti itu. Tapi....kondisi sekarang berbeda, pesantren dan boarding bukan tempat buangan untuk anak-anak nakal. Di Nurul Fikri Serang, di tahun anak saya masuk, persaingannya berat lho untuk bisa sekolah disitu. Atau lihatlah Pesantren Modern Gontor, persaingan masuknya lumayan ketat. Boarding school yang lain juga tak kalah hebat. Anak2 pintar berebut porsi untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah boarding yang prestasinya sudah terbukti. Tes masuk dilakukan jauh sebelum sekolah-sekolah negeri yang favorit sekalipun buka pendaftaran. Bahkan sebelum kelulusan. Orang tua pun tak segan membayar biaya yang tidak murah demi anaknya mendapatkan pendidikan paralel antara ilmu dunia dan bekal akhirat. 
     Saya sendiri memutuskan mengirim sulung saya ke sekolah berasrama ini karena begitu khawatir dengan kondisi jakarta yang sarat lingkungan yang mengkhawatirkan. Tawuran dimana-mana tanpa pilih-pilih siapa lawannya. Belum lagi narkoba dengan bermacam bentuk siap mengancam. Pergaulan lawan jenis anak usia baru gede sungguh menakutkan. Beda jauuuhhh dibanding angkatan saya. 
     Parameter sekolah yang baik versi saya adalah sekolah yang bisa meluluskan siswa nya dengan akhlak yang baik dan mampu bersaing dengan sekolah lain. Bicara mampu bersaing ini tentu tidak jauh urusannya dengan nilai (ini mau tidak mau, karena ukuran keberhasilan sistem pendidikan kita masih berpatokan pada angka dan nilai). Sekolah yang oke adalah sekolah yang bisa meluluskan siswanya dengan nilai oke pula tanpa bantuan bimbel diluar sekolah, semua pembelajaran murni dari dan oleh guru. Sekolah yang siswanya bisa tembus PTN tanpa bantuan bimbel diluar sekolah. Dan hebatnya kebanyakan sekolah boarding/pesantren mampu melakukannya. Karena sering kali saya dengar ketika seorang anak lulus dengan nilai yang bagus dan diterima di sekolah favorit, pertanyaan pertama yang terdengar adalah : "Ikut bimbel dimana?".  Sayapun sempat ragu dengan kesiapan anak saya menjelang kelulusan, tanpa bimbel, bisakah? Dan kemudian ketika hari kelulusan tiba, keraguan saya tidak terbukti. Semua siswa di sekolah anak saya lulus dengan nilai-nilai yang alhamdulillah... :)
     Maka tidak berlebihan rasanya jika saya berharap jangan ada lagi anggapan yang salah tentang pesantren dan boarding school. Pesantren dan boarding school adalah tempat untuk menuntut ilmu sama seperti sekolah-sekolah yang lain, seperti sekolah reguler, sekolah full day maupun homeschooling.

Jumat, 09 Oktober 2015

Sungguh... Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (4)

     Delapan jam perjalanan darat dari Mekkah ke Madinah saya lalui dengan hati yang patah. Benar-benar tak rela meninggalkan Ka'bah. Serasa kehilangan saat-saat privat saya bersamaNya ketika tawaf. Saya belum bisa menemukan arti ziarah ke Nabawi. Untuk apa? Saya tak mengerti. Cukuplah bagi saya di  alHaram. Saya tak ingin kemana-mana. Saya terlanjur jatuh cinta dengan masjid ini. Dengan semua ibadah di masjid ini.
      Seperti yang saya tulis di awal cerita, saya berangkat ke tanah suci hanya berbekal buku dari Departemen Agama yang saya baca sambil membayangkan sesuatu yang abstrak. Juga manasik dari KBIH yang penjelasannya lebih ke arah ibadah praktek. Khususnya inti ibadah haji yang ditekankan pada saat wukuf. Saya mencari sendiri gambar-gambar yang menjelaskan keadaan disana yang hanyalah berupa foto-foto standar (Ka'bah dan Masjidil Haram era lalu sebelum renovasi). Esensial kunjungan ke Nabawi tidak saya hayati malah mungkin kurang saya fahami. Maka begitu saya terlanjur felt in love dengan Masjidil Haram, ketika harus berpaling ke Nabawi, saya merasa patah... 
     Sesampainya di penginapan yang jaraknya sekitar 800 meter dari Masjid Nabawi, kami langsung dikejar jadwal Arbain, sholat 40 waktu berturut-turut berjama'ah di masjid Nabawi tanpa terputus. Memang ini bukan termasuk rukun haji. Bukan pula keharusan. Tapi mengingat sholat di masjid ini 1000 kali lebih utama dibanding sholat di tempat lain, sayang rasanya untuk ditinggalkan.
     Saya yang tadinya menjalani dengan hati yang hampa, mulai merasakan ada yang adem memasuki masjid ini. Belum jatuh cinta, tapi lumayanlah, sudah mulai ga terpaksa-terpaksa amat. Disini suasana lebih syahdu dan tenang dibanding dengan di masjidil Haram. Berkeliling menikmati kemegahan dan modern bangunan membuat saya membayangkan seperti apa bentuknya pada saat Rasulullah masih hidup dahulu. Payung-payungnya yang siap mengembang menutup -dengan energi listrik- disesuaikan dengan cuaca atau pergantian siang dan malam membuat kesenangan tersendiri memandanginya.
     Ketika saya menuju sisi halaman yang lain, menuju tempat yang disebutkan menghadap makam Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar asSiddiq dan Umar Bin Khattab, membacakan doa-doa ziarah, kembali saya membayangkan seperti apakah sosok Rasulullah yang begitu memikirkan umatnya sehingga disaat-saat terakhirnya masih menyebut ummatii.. ummatii.. ummatii.. karena besarnya kasih sayang beliau kepada kami, umatnya. Seperti apakah sosok Abu Bakar yang merupakan as sabiqunal awwalun, sahabat golongan pertama yang mengimani Allah dan RasulNya, ikhlas menemani semua perjuangan Rasulullah, dan khalifah pertama dari khulafaur rasyidin. Seperti apakah Umar bin Khatab, si singa padang pasir, khalifah kedua yang sering menyertai peperangan, yang dikisahkan karena pembelaannya yang tinggi terhadap islam bahkan setan pun akan lari menjauh jika berpapasan dengannya... manusia-manusia pilihan yang mendapat kemuliaan dimakamkan berdampingan dengan makam Rasulullah.
     Ketika berziarah ke Raudhah, taman surga, tempat dikabulkannya doa, dimana didalamnya terdapat makam Rasulullah,  padatnya dan ramainya antrian membuat saya berfikir : Kami, manusia-manusia akhir zaman yang belum pernah bertemu muka dengan Lelaki Agung itu, berbondong-bondong sepanjang tahun, 24 jam berziarah.. ya, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk meluahkan rasa. Selain bersalawat atas Sang Junjungan . Disini.. hati saya mulai merindu. Hati yang tadinya hampa, patah.. perlahan berubah menjadi rindu. Ketika tiba giliran rombongan kami memasuki karpet hijau penanda bahwa kami telah menginjak area Raudhah, saya celingukan sambil mulut masih bersalawat, dimanakah makam itu. Sampai kemudian saya tersadar bahwa seharusnya saya sholat dan berdoa karena waktu yang diberikan tak banyak, bergiliran dengan rombongan lain. Meski ramai, sedikit terdorong dari belakang, tapi saya bisa menuntaskan ibadah dan doa tanpa dihalau oleh petugas. Alhamdulillah.. (tapi sejujurnya meski mulai mengharu biru, ini belum rasa cinta yang sesungguhnya. Saya merasakan jatuh cinta dengab Nabawi, seperti jatuh cinta dengan masjidil Haram Mekah, justru pada kunjungan ke dua tahun 2011, disaat umroh, saat itu saya tak kuasa menghentikan tangis ketika memanjatkan doa ziarah disisi makam Rasullah dan kedua sahabatnya. Cinta yang makin dalam pada kunjungan tahun-tahun berikutnya).
     Hari-hari berlalu di Madinah. Jarak 800 meter yang saya lalui dari penginapan ke masjid, dikalikan dua jika pulang pergi, dikalikan lima jika sholat lima waktu mulai menguras energi saya. Tapi lagi-lagi saya menikmatinya. Saya anggap perjalanan pulang pergi dari dan ke masjid dimana kiri dan kanan sepanjang jalan trotoar penuh dengan pedagang kaki lima, sebagai window shopping. Meskipun dari hari ke hari dagangan yang saya lihat hanya itu-itu saja. Saya tak perduli.. tetap saya nikmati. Kedai-kedai makanan dengan menu berjudul sok Indonesia meski rasanya sangat jauh dibawah ekspektasi saya yang sudah merindukan selera Indonesia membuat saya sama sekali tidak melirik untuk membelinya. Terikan promosi pedagang tasbih pun saya jadikan hiburan hingga tak terasa tempat tujuan sudah di depan mata. Bahkan ketika di sebuah sore menjelang waktu ashar, ketika berangkat ke masjid hujan dan badai pasir melanda Madinah. Saya dan suami berjalan bergegas diantara pasir yang beterbangan menerpa wajah. Diiringi koper-koper pajangan beterbangan tertiup badai, dari toko-toko pinggir jalan. Berapa kecepatan angin sehingga koper sebesar itu bisa terbang! Sejenak kami tertegun untuk kemudian sibuk menghindar sana sini agar tak tertabrak koper... itupun kami nikmati.. :D
     Hingga akhirnya hari itupun tiba. Hari kepulangan kami ke tanah air setelah 42 hari kami tinggal di kedua tanah suci ini. Setelah tiga hari sebelumnya petugas penimbang koper datang ke penginapan untuk menimbang koper-koper kami agar tidak melebihi berat yang telah ditentukan pihak maskapai, yaitu 32 kg. Hanya rasa rindu keluarga yang membuat saya ingin pulang. Jika tidak memikirkan keluarga, mungkin saya tak punya keinginan untuk pulang... kecuali jika uang telah habis tentunya hehehe...
     Dan tak seperti pejalanan berangkat, selama penerbangan pulang ini terasa begitu panjang dan menjemukan. Seperti naik keong rasanya. Ada ruang hati yang hampa. Setiap waktu sholat datang, serasa saya ingin lompat kembali ke masjid. 
Belum juga saya menginjakkan kaki di tanah air.. tapi saya mulai merindukan kembali ke tanah suci.. Undanglah kami kembali ke rumahMu ya Allah.. kembali dan kembali...