Delapan jam perjalanan darat dari Mekkah ke Madinah saya lalui dengan hati yang patah. Benar-benar tak rela meninggalkan Ka'bah. Serasa kehilangan saat-saat privat saya bersamaNya ketika tawaf. Saya belum bisa menemukan arti ziarah ke Nabawi. Untuk apa? Saya tak mengerti. Cukuplah bagi saya di alHaram. Saya tak ingin kemana-mana. Saya terlanjur jatuh cinta dengan masjid ini. Dengan semua ibadah di masjid ini.
Seperti yang saya tulis di awal cerita, saya berangkat ke tanah suci hanya berbekal buku dari Departemen Agama yang saya baca sambil membayangkan sesuatu yang abstrak. Juga manasik dari KBIH yang penjelasannya lebih ke arah ibadah praktek. Khususnya inti ibadah haji yang ditekankan pada saat wukuf. Saya mencari sendiri gambar-gambar yang menjelaskan keadaan disana yang hanyalah berupa foto-foto standar (Ka'bah dan Masjidil Haram era lalu sebelum renovasi). Esensial kunjungan ke Nabawi tidak saya hayati malah mungkin kurang saya fahami. Maka begitu saya terlanjur felt in love dengan Masjidil Haram, ketika harus berpaling ke Nabawi, saya merasa patah...
Sesampainya di penginapan yang jaraknya sekitar 800 meter dari Masjid Nabawi, kami langsung dikejar jadwal Arbain, sholat 40 waktu berturut-turut berjama'ah di masjid Nabawi tanpa terputus. Memang ini bukan termasuk rukun haji. Bukan pula keharusan. Tapi mengingat sholat di masjid ini 1000 kali lebih utama dibanding sholat di tempat lain, sayang rasanya untuk ditinggalkan.
Saya yang tadinya menjalani dengan hati yang hampa, mulai merasakan ada yang adem memasuki masjid ini. Belum jatuh cinta, tapi lumayanlah, sudah mulai ga terpaksa-terpaksa amat. Disini suasana lebih syahdu dan tenang dibanding dengan di masjidil Haram. Berkeliling menikmati kemegahan dan modern bangunan membuat saya membayangkan seperti apa bentuknya pada saat Rasulullah masih hidup dahulu. Payung-payungnya yang siap mengembang menutup -dengan energi listrik- disesuaikan dengan cuaca atau pergantian siang dan malam membuat kesenangan tersendiri memandanginya.
Ketika saya menuju sisi halaman yang lain, menuju tempat yang disebutkan menghadap makam Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar asSiddiq dan Umar Bin Khattab, membacakan doa-doa ziarah, kembali saya membayangkan seperti apakah sosok Rasulullah yang begitu memikirkan umatnya sehingga disaat-saat terakhirnya masih menyebut ummatii.. ummatii.. ummatii.. karena besarnya kasih sayang beliau kepada kami, umatnya. Seperti apakah sosok Abu Bakar yang merupakan as sabiqunal awwalun, sahabat golongan pertama yang mengimani Allah dan RasulNya, ikhlas menemani semua perjuangan Rasulullah, dan khalifah pertama dari khulafaur rasyidin. Seperti apakah Umar bin Khatab, si singa padang pasir, khalifah kedua yang sering menyertai peperangan, yang dikisahkan karena pembelaannya yang tinggi terhadap islam bahkan setan pun akan lari menjauh jika berpapasan dengannya... manusia-manusia pilihan yang mendapat kemuliaan dimakamkan berdampingan dengan makam Rasulullah.
Ketika berziarah ke Raudhah, taman surga, tempat dikabulkannya doa, dimana didalamnya terdapat makam Rasulullah, padatnya dan ramainya antrian membuat saya berfikir : Kami, manusia-manusia akhir zaman yang belum pernah bertemu muka dengan Lelaki Agung itu, berbondong-bondong sepanjang tahun, 24 jam berziarah.. ya, hanya ini yang bisa kami lakukan untuk meluahkan rasa. Selain bersalawat atas Sang Junjungan . Disini.. hati saya mulai merindu. Hati yang tadinya hampa, patah.. perlahan berubah menjadi rindu. Ketika tiba giliran rombongan kami memasuki karpet hijau penanda bahwa kami telah menginjak area Raudhah, saya celingukan sambil mulut masih bersalawat, dimanakah makam itu. Sampai kemudian saya tersadar bahwa seharusnya saya sholat dan berdoa karena waktu yang diberikan tak banyak, bergiliran dengan rombongan lain. Meski ramai, sedikit terdorong dari belakang, tapi saya bisa menuntaskan ibadah dan doa tanpa dihalau oleh petugas. Alhamdulillah.. (tapi sejujurnya meski mulai mengharu biru, ini belum rasa cinta yang sesungguhnya. Saya merasakan jatuh cinta dengab Nabawi, seperti jatuh cinta dengan masjidil Haram Mekah, justru pada kunjungan ke dua tahun 2011, disaat umroh, saat itu saya tak kuasa menghentikan tangis ketika memanjatkan doa ziarah disisi makam Rasullah dan kedua sahabatnya. Cinta yang makin dalam pada kunjungan tahun-tahun berikutnya).
Hari-hari berlalu di Madinah. Jarak 800 meter yang saya lalui dari penginapan ke masjid, dikalikan dua jika pulang pergi, dikalikan lima jika sholat lima waktu mulai menguras energi saya. Tapi lagi-lagi saya menikmatinya. Saya anggap perjalanan pulang pergi dari dan ke masjid dimana kiri dan kanan sepanjang jalan trotoar penuh dengan pedagang kaki lima, sebagai window shopping. Meskipun dari hari ke hari dagangan yang saya lihat hanya itu-itu saja. Saya tak perduli.. tetap saya nikmati. Kedai-kedai makanan dengan menu berjudul sok Indonesia meski rasanya sangat jauh dibawah ekspektasi saya yang sudah merindukan selera Indonesia membuat saya sama sekali tidak melirik untuk membelinya. Terikan promosi pedagang tasbih pun saya jadikan hiburan hingga tak terasa tempat tujuan sudah di depan mata. Bahkan ketika di sebuah sore menjelang waktu ashar, ketika berangkat ke masjid hujan dan badai pasir melanda Madinah. Saya dan suami berjalan bergegas diantara pasir yang beterbangan menerpa wajah. Diiringi koper-koper pajangan beterbangan tertiup badai, dari toko-toko pinggir jalan. Berapa kecepatan angin sehingga koper sebesar itu bisa terbang! Sejenak kami tertegun untuk kemudian sibuk menghindar sana sini agar tak tertabrak koper... itupun kami nikmati.. :D
Hingga akhirnya hari itupun tiba. Hari kepulangan kami ke tanah air setelah 42 hari kami tinggal di kedua tanah suci ini. Setelah tiga hari sebelumnya petugas penimbang koper datang ke penginapan untuk menimbang koper-koper kami agar tidak melebihi berat yang telah ditentukan pihak maskapai, yaitu 32 kg. Hanya rasa rindu keluarga yang membuat saya ingin pulang. Jika tidak memikirkan keluarga, mungkin saya tak punya keinginan untuk pulang... kecuali jika uang telah habis tentunya hehehe...
Dan tak seperti pejalanan berangkat, selama penerbangan pulang ini terasa begitu panjang dan menjemukan. Seperti naik keong rasanya. Ada ruang hati yang hampa. Setiap waktu sholat datang, serasa saya ingin lompat kembali ke masjid.
Belum juga saya menginjakkan kaki di tanah air.. tapi saya mulai merindukan kembali ke tanah suci.. Undanglah kami kembali ke rumahMu ya Allah.. kembali dan kembali...
-
Tulisan yang ini, masih seputaran tentang anak yang meninba ilmu di Boarding School. SMPI Nurul Fikri Boarding School Serang. Kenapa Ci...
-
Ziyan adalah anak kedua kami. Lahir pada 2 Januari 2003, dengan berat 3 koma sekian dan tinggi sekitar 49 atau 50 cm, jamnya sekitar ba...
-
Di salah satu group sosmed, ada postingan lagu yang dibawakan seorang gadis belia. Dengan diiringi petikan gitar dan nada-nada sederhan...
-
Sebagai pengguna jalan aktif, menguasai rute adalah keharusan. Termasuk estimasi waktu, berapa lama akan sampai tujuan jika jalanan lancar d...
-
Di wall facebook saya ramai di penuhi status-status penuh kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang tahun ini merupakan tahun pertaman...
-
Bulan lalu, libur sekolah selama dua minggu kami lalui di Jakarta. Jadwal suami yang lebih banyak bekerja di kantor Jakarta membuat kami me...
-
Pagi hari di rumah saya selalu riuh. Lepas subuhan ritual saya adalah dapur. Skala prioritasnya adalah sarapan pagi dan bekal makan siang d...
-
LANGKAH Ini tahun ke dua langkah kecilmu mengayun Dalam buai dan senandung sayang ibu Mengeja kata dan a ba ta Esok, lusa, dan k...
-
Ketika kelas lima Sekolah Dasar, ada teman yang menawarkan seekor anak kucing untuk saya adopsi, karena induk kucing yang dia miliki melahi...
-
Maksudnya apa? Tetangga di dunia maya? Hehehe bukan, kalau tetangga di dunia maya setidaknya ada interaksi saling sapa, atau saling berba...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar