Rabu, 30 September 2015

Sungguh.. Romantisme BersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang (3)

     Hari-hari di Mekkah sepulang dari Mina berjalan seperti biasa, seperti sebelum armina. Saya lebih santai. Lebih menambah speed target-target ibadah. Jika sebelum armina saya lebih hati-hati menjaga stamina tubuh dan makanan karena kuatir ambruk saat wukuf. Sekarang mulai teledor. Itu makanya suara sempat hilang karena mulai berkuliner bersama suami, terutama menjelajahi jus buah yang warna dan penampilannya melambai-lambai untuk dicoba. Hanya suara yang hilang, alhamdulillah. Sehingga rutinitas ke alHaram berjalan normal. 
     Tak dipungkiri, saya betah disini. Sayangnya datang berita sedih dari ibu saya yang membuat konsentrasi ibadah saya buyar sebuyar-buyarnya. Anak bungsu saya, Nisrina (waktu itu berumur 2 tahun) masuk rumah sakit. Dehidrasi. Malas makan dan minum. Mungkin karena mulai rindu orangtuanya yang membuat dia malas makan-minum. Saya ingin pulang. Andai pesawat bisa di stop semudah menyetop angkot. Andai pesawat bisa dilambai semudah kita melambai ojek....
     Doa demi doa mewarnai hari-hari saya dan suami. Teman-teman serombonganpun mendoakan kesembuhan Nisrina. Di tawaf putaran ke tujuh doa dilantunkan oleh ketua rombongan dan kami aminkan. Tangis saya pecah. Antara terharu atas perhatian mereka dan keinginan memeluk anak.
      Hati saya tak menentu menunggu kabar baik dari ibu. Di pelupuk mata hanya ada wajah anak saya. Handphone pun selalu saya pandangi dengan cemas. Kuatir ada kabar buruk datang. Komunikasi dengan data belum seluas sekarang. Belum ada bbm, whatsapp ataupun line. Semuanya hanya mengandalkan sms dan phone call. Ketika saatnya bertelpon pun anak saya hanya mau mendengar suara saya. Tak hendak menjawab.  Sembilan hari bukan waktu yang pendek untuk batita dehidrasi yang dirawat di rumah sakit. Sembilan hari bukan waktu yang singkat untuk seorang ibu yang berada jauh dari anaknya yang sedang sakit. Sampai akhirnya Alhamdulillah... Nisrina boleh pulang ke rumah. Sujud syukur kaminkepadaMu ya Allah...
     Kesembuhan ini tak lepas dari kekuatan doa. Banyak tempat yang menjanjikan doa-doa makbul disini. Multazam, belakang Maqam Ibrahim, setelah tawaf, Hijr Ismail adalah beberapa yang diantaranya. Itu pula yang membuat teman-teman dan kerabat, sebelum kami berangkat ke tanah suci, pada menitipkan doa untuk dibacakan di tempat-tempat multazam tersebut. Waktu itu sengaja saya tulis di buku satu persatu nama dan doa mereka. Agar tak ada yang terlewatkan ketika saya membacakan doa. Ini terinspirasi ketika kanak-kanak, ibu saya berkunjung ke seorang teman yang akan berhaji. Ibu saya menitip doa  agar bisa berhaji dan teman ibu saya ini mencatatnya. Untuk ukuran perekonomian ayah-ibu saya saat itu, pergi haji hanyalah mimpi yang begitu jauu....h. Dan titipan doa yang dicatat ini melambungkan semangat tersendiri untuk ibu saya. Demikian kuatnya keinginan ibu saya untuk berhaji, waktu itu setiap ada teman yang akan berhaji ibu selalu berkunjung dan menitip doa. Titipan yang dijawab dengan jawaban "Insya Allah, nanti didoakan", atau jawaban "Semuanya pada waktunya akan berangkat haji". Tak salah memang, tapi dengan mencatatnya maka orang yang titip akan lebih bersemangat dan yang dititipin akan berusaha menunaikan amanah dengan lebih baik. That's why.. kenangan masa kecil itu saya simpan di kepala, bahwa suatu saat nanti, jika Allah memberi kesempatan saya untuk berhaji, akan saya catat satu demi satu, saya bacakan di tempat-tempat mustajabah satu demi satu. 
     Dan berbicara tentang tempat mustajabah disini, sungguh, jangan pernah sedikitpun meragukan. Jangankan doa-doa serius yang ingin dipanjatkan. Omongan yang tak seriuspun dalam hitungan waktu yang singkat akan menjadi kenyataan. Dua hal yang saya ingat dan tersenyum sendiri setiap mengenangnya. Suatu pagi sepulang dari alHaram sambil berjalan kaki saya rasan-rasan sama suami kenapa disini ga ada kucing. Ini pertanyaan tidak penting memang. Tapi bagi saya si pemerhati kucing ini, pertanyaan itu terlontar begitu saja. Dan.... sekejap, esoknya hampir setiap hari saya selalu bertemu kucing. Di Masjid depan penginapan, di jalanan, di gerbang alHaram.. dimana-mana, bahkan ada yang menguntit saya atau menggosokkan badannya di kaki saya.. hehehe..
     Tak belajar dari pengalaman pertama, kembali saya berbincang dengan suami bahwa di Mekkah ini, terutama musim haji adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin semua bangsa di dunia. Tapi mengapa saya belum pernah berjumpa bangsa Tiongkok dan Jepang. MasyaAllah.. kembali Allah menunjukkan kuasanya... setelah ucapan itu setiap hari saya bertemu mereka. Di putaran tawaf, di shaf-shaf shalat, di toko-toko makanan.. (oh ya, setelah armina kami memang lebih sering jajan dibanding makanan jatah dari pemerintah. Selain bosan dengan menunya, rasanya belum lengkap kalau tidak mencoba kuliner negara ini). Sampai saya hafal sangat gaya berbusana mereka. Cara mereka berkerudung dan baris berbaris jika tawaf berombongan.. hahaha.. di tempat suci ini rasanya saya harus menyudahi omongan-omongan yang tak perlu. Kuatirnya jika yang keluar dari mulut saya adalah omongan jelek dan Allah mengabulkannya.. Naudzubillaahi min dzalik..
     Tapi... sudah waktunya kami berkemas meninggalkan Mekkah untuk beranjak ke Madinah, masjid Nabawi, menziarahi masjid dan makam Rasulullah SAW. 32 hari telah kami lalui di Mekkah. Sungguh sedih ketika harus mengemas koper. Meninggalkan area favorit saya yaitu lintasan tawaf. Lantai yang saya selalu merasa adem jika bersimpuh diatasnya sambil memandangi Ka'bah setelah sholat sunnah ba'da tawaf di belakang Maqam Ibrahim. Sebersit pertanyaan konyol melintas di kepala saya.. kenapa harus ke Madinah. Kenapa tidak disini saja... tawaf wada' saya jalani sambil menangis. Tak rela berpisah.. berharap sangat untuk kembali..

**bersambung**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar