Selasa, 15 September 2015

Koncoan Yuuuk part 2 (Manusia Selalu Berubah)


    Tulisan ini masih tentang tema pertemanan. Ya, memang pertemanan selalu menarik untuk dijalani.. (atau dibahas?). Dengan berteman maka hidup akan penuh dengan warna. Karakter orang-orang yang berinteraksi dengan kita akan mewarnai hari-hari kita. Dengan latar belakang sosial atau budaya yang berbeda, tentu setiap kejadian dan aneka cara pandang menyikapi kejadian tersebut akan sangat menginspirasi.
     Membaca sebuah buku yang sedang happening dari seorang penulis ternama tentang seekor koala yang sejenak bermigrasi meninggalkan habitatnya, untuk kemudian kembali. Hanya sayangnya habitat dan komunitasnya sudah berubah ketika ia kembali. Hutan menjadi gersang karena pepohonan ditebang.. dan dia termangu melihat segala perubahan itu. Tempat tinggalnya tak lagi sama...
      Saya membaca dengan sepenuh perasaan paragraf itu. Menghayati dengan hati yang basah dan berdesir. Merasakan kehilangan yang sama.
     .........................

     Facebook adalah media sosial pertama yang saya ikuti. Menyenangkn tak terkira bertemu teman-teman lama satu demi satu, setelah lamaaaa tak bertemu, bahkan tak berkabar. Saling menyapa dan saling bercanda mengingat kisah-kisah lucu masa lalu, itu sesuatu yang mewah.
     Nah setelah sosmed mulai mewabah trend reuni dan copy darat pun ikutan mewabah. Postingan kabar dan gambar dari sekedar ketemuan kelompok-kelompok kecil di rumah makan sampai reuni besar-besaran per angkatan menghiasi wall saya. Membuat kami, saya dan teman-teman sekolah terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
     Beberapa reuni berakhir menyenangkan. Seakan kita tetap muda, tetap remaja-remaja khas dengan badung-badung wajarnya (hehehe.. apa pula tuh badung-badung wajar. Tapi iya loh, remaja sekarang badungnya menakutkan. Ga semua sih.. yang berprestasi juga banyak, tapi yang kriminal tak kalah banyak).
     Tapi sedihnya ada reuni yang berakhir hambar. Sebenarnya hambarnya reuni ini sudah terbaca dari hambarnya situasi group di sosial media. Jika group2 lain ramai dengan memori masa sekolah, mengenang pengajar, aktifitas, kekonyolan masa lalu, sharing motivasi, maka group ini seperti hidup segan mati tak mau. Jika ada postingan hampir selalu tak ada yang menanggapi.
     Di acara reuni itu, riang setelah salaman dan saling sapa rindu beberapa saat kemudian berganti suasana dengan kekakuan. Masing-masing memegang gadget dan sibuk mnggerakkan jari jemari untuk melayari dunia lain. Bisu. Beruntung acara di panggung utama cukup bisa membunuh kekakuan dan kebisuan. Menjembatani kami untuk kembali saling lempar celetukan.
     Sepulang dari reuni, yang terbawa hanya foto dan catatan di kepala : "Ya, kita telah reuni". Group sosial media tetap sepi. Postingan dari volunteer yang ingin menghangatkan suasana tetap tak bersambut. 
     Padahal duluuuu keakraban pernah terjalin. Melewati masa sekolah bersama, bercanda bersama, belajar bersama. Kadang juga bolos bersama. Keadaan selepas reuni menampar kesadaran saya betapa seiring bertambahnya usia manusia berangsur berubah. Sesorang yang dulu kita kenal dekat sekarang begitu jauh dan asing. Mungkin memang benar ada ungkapan "People change". Tapi alangkah terkejutnya kita ketika perubahan itu tak seperti yang kita harapkan. Yaaah... mungkin mereka memang berubah. Atau justru saya yang berubah. Atau justru saya yang tidak bisa memahami perubahan manusia.. entahlah..
     That's why ketika saya membaca buku tentang koala tadi, maka saya membacanya dengan sepenuh perasaan. Tak cukup sekali membacanya. Saya ulang dan ulang lagi..Karena sayapun pernah merasakan kehilangan yang serupa. Ketika kembali memijakkan kaki di suatu tempat dan lingkungan yang dulu saya anggap rumah, rumah itu tak lagi sama...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar