Minggu, 20 September 2015

Sungguh.. romantisme bersamaMu Terlalu Indah untuk Tak Dikenang


     Membaca sebuah harian, satu demi satu kelompok terbang haji mulai meninggalkan tanah air. Dengan niat, tujuan dan hati yang sama : panggilan Allah SWT untuk menjadi tamuNya.
     Hati saya selalu biru terharu setiap kali musim haji tiba. Terlebih jika ada keluarga dan teman yang berangkat. Bercanpur antara gembira, envy dan bernostalgia. Membuka lembar demi lembar memori  yang tersimpan rapi. Tak ingin menghapusnya.
     Saya berhaji bersama suami tahun 2009. Meski beberapa kali Allah memberi kesempatan untuk kembali berumrah di tahun-tahun berikutnya, pengalaman berhaji ini tetap menjadi yang teristimewa. Karena itulah kunjungan pertama. Umrah pertama dan haji pertama (pengennya sih nulis semoga akan ada haji-haji berikutnya.. tapi sungkan sama yang sedang waiting list).
     Karena masuk gelombang ke 2, kami langsung menuju Mekkah. Cuaca mulai dingin, tak lagi ekstrem panas seperti bulan-bulan sebelumnya. Mirip-miriplah dengan cuaca Jakarta. Kecuali kelembaban udara yg lebih kering dan jam biologis yang berselisih 4 jam lebih lambat daripada Waktu Indonesia Bagian Barat. Saya membutuhkan waktu 2-3 hari untuk penyesuaian ritme harian tubuh.
     Sembilan jam perjalanan pesawat tak terlalu saya rasakan. Tertutup oleh antusiasme dan keingintahuan yang tinggi seperti apa Mekah, seperti apa Kabah. Pikiran saya melayang timbul tenggelam antara tak sabar untuk mendarat dan galau meninggalkan 3 anak dibawah umur dirumah bersama ibu dan mertua.
      Beberapa saat menjelang miqot (kami miqot selagi masih di pesawat tepatnya di Qarn al Manazil sekitar 90km sebelum memasuki kota Mekah) saya lebih deg-degan. Sampai akhirnya ketua kloter mengumumkan untuk mengucapkan talbiyah tanda kami telah meniatkan melaksanakan umroh dimana telah berlaku syarat dan larangan-larangan umroh, disitu saya merasakan getaran yang blm pernah saya rasakan sebelumnya. Bergetarnya bibir melafadzkan "Labbaik Allahumma Labbaik dan  bergetarnya hati hingga air mata yang tak tertahankan. Jiwa saya melayang seakan berada disuatu tempat yang jauh. Tapi begitu indah...
                                ****
     Proses imigrasi memakan waktu yang panjang dan menjemukan. Antrean panjang, sesekali adegan serobot dan teriakan petugas menambah rasa lelah yang mulai saya rasakan. Rasa lelah yang membuat saya mulai blank. Hingga akhirnya saya berada dipenginapan. 
     Penginapan saya di kawasan Ma'abdah. Karena saya berangkat dengan haji reguler, sekamar kami rame-rame berlima. Ke empat teman sekamar saya sudah memiliki cucu. Kamar saya berada di lantai 4. Dikemudian hari, jika ngantri lift terasa lama, saya akan naik turun menggunakan tangga saja. Jarak antara penginapan dan masjidil haram sekitar 2km. Tersedia bus antar jemput pulang pergi penginapan-alHaram untuk 5 waktu sholat. Hanya saja, jika selesai waktu sholat saya dan suami masih ingin thawaf sunnah, tentu saja bus sudah bye-bye.. ditinggalin.. dan tentu kami harus siap jalan kaki sejauh 2km utk kembali ke penginapan. Capek.. tapi nyatanya setiap pagi saya tetap aja memilih tinggal lebih lama di masjid dan pulang jalan kaki.. :)

  -----Rasa-rasanya judul ini bakalan menjadi postingan yang panjang... cerita saya belum beranjak berpindah hari.....:* ----

    Hanya beberapa jam di penginapan, kami segera ke alHaram. Bersegera menunaikan umrah pertama. Saya celingukan mencari dimana Ka'bah. (Sebenarnya sejak bus yang saya tumpangi dari bandara menuju Mekah sudah memasuki kota Mekah, saya dengan ndesonya sudah tolah toleh di jendela, mencari Ka'bah. Khayalan katro saya membayangkan seakan Ka'bah itu menjulang seperti Monas atau Tugu Pahlawan di Surabaya hehe..). Kemudian celingukan saya berhenti di satu titik ditengah pusaran arus manusia yang begitu rapat dan ritmik. Khusuk dan syahdu... Allahu akbar... terima kasih Alhamdulillah telah Kau beri kesempatan hamba untuk menyaksikan langsung kiblat kami.. lambang persatuan kami...
     Putaran demi putaran tawaf saya jalani dengan derai air mata yang saya tak bisa menjelaskan tangisan apakah gerangan. Menghayati doa demi doa, lambaian tangan dan kecupan sepenuh jiwa ke arah sudut dimana hajar aswad berada... (sampai detik ini, bagi saya jika berada di Mekah, thawaf adalah ibadah favorit saya. Setiap langkah, melewati Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, Multazam, rukun yamani, rukun iraqi.. semua saya resapi keindahannya.. tapi tidak bagi ketiga anak saya. Ibadah favorit mereka adalah sa'i. Karena bisa lari-larian diantara 2 lampu hijau hehehe).
     Umroh pertama telah kami jalani dengan lancar.. Alhamdulillah..
Hari-hari selanjutnya saya lalui dengan ritme yang sama. Jam 2 dini hari ngantri kamar mandi persiapan ke alHaram. Jam 3 berangkat. Jam 10 pagi balik ke penginapan. Duhur-ashar sholat berjamaah di masjid di seberang penginapan. Sore jam 4.30 berangkat ke alHaram untuk sholat maghrib dan isya. Ba'da isya kembali ke penginapan. Rutinitas yang sama tidak membuat saya bosan. Satu-satunya yang membuat saya bosan hanya menu catering yang hanya itu-itu saja. Yang meskipun oleh pihak catering dimasak ala-ala Indonesia, hehheh.. tetap saja rasanya tak sama.  Saya rindu kuliner tanah air :D

**bersambung**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar