Ketika kelas lima Sekolah Dasar, ada teman yang menawarkan seekor anak kucing untuk saya adopsi, karena induk kucing yang dia miliki melahirkan banyak anak kucing. Ibu saya setuju, ketika saya meminta ijin. Jadilah resmi hari itu saya punya teman bermain.
Namanya Catty.
Waktu itu saya belum ngerti jenis-jenis kucing. Justru belakangan ini, di era internet, setelah baca beberapa artikel, melihat ciri fisiknya, baru saya tahu, ada darah siamese mengalir di tubuhnya, kawin campur dengan kucing kampung. Ya, kucing saya indo hahaha.. kalah kasta deh saya...
Sebagai anak bungsu dengan jarak yang cukup jauh dengan dua orang kakak, saya cukup terhibur dan merasa punya teman. Sayangnya si Catty ini, rupanya kurang menjaga pergaulan, sehingga dia hamil tanpa suami 😛.. inilah awal terjadinya kucing saya beranak pinak, bahkan ada satu masa saya mempunyai tujuh ekor kucing sekaligus. Sering juga diwarnai masa-masa hilang-lahir-mati silih berganti.
Waktu itu belum kondang makanan kucing kemasan seperti saat ini, jadi kucing-kucing itu makan nasi yang dicampur ikan/pindang kukus. Tetapi meskipun dokter hewan dan vaksinasi masih belum mudah ditemui, kucing-kucing saya tetap terjadwal vaksinasi satu tahun sekali. Ini karena setiap tahun di komplek perumahan saya ada program dokter hewan keliling kampung, untuk mensosialisasikan pentingnya vaksinasi hewan peliharaan, mencegah rabies dan penyakit lainnya.
Jadilah tanpa harus membayar mahal (karena ini program dari pemerintah kota, maka kami hanya membayar biaya administrasi saja), kucing-kucing saya rutin vaksinasi, lengkap dengan medical record card nya.
Masing-masing kucing punya kebiasaan unik. Boni, suka cuci muka di bawah air kran. Meski dia kemudian berakhir mengenaskan, menderita stress berat setelah hilang dan baru tiga bulan kemudian ditemukan ibu saya di pasar tradisional. Atau Sydney, yang selalu mengikuti ibu saya ke masjid setiap subuh, setia menunggu di teras masjid ketika ibu sholat, dan kembali menguntit pulang ketika sholat usai, hehehe.. kucing sholihah..
Ketika ayah dan ibu saya pergi haji, kakak-kakak saya sudah hidup terpisah di luar daerah dengan keluarganya, dan saya tinggal di luar kota untuk sekolah, ibu saya khusus mendatangkan seorang pesuruh agar sehari tiga kali datang memberi makan para kucing ini.
Segitunya... lagi-lagi saya kalah set..
Nah, sekitar duapuluh-tahunan bersama kucing, akhirnya siklus ini terhenti dengan sendirinya karena saya menikah dan harus pindah ke luar Jawa. Ketika kucing terakhir hilang, ya sudah, tidak ada niatan untuk mengadopsi kucing baru lagi...
Bukan tidak ada keinginan, tapi memang setelah saya berkeluarga, tidak memungkinkan untuk hidup bersama kucing. Kami yang masih berpindah-pindah tempat dan anak-anak yang masih kecil membuat tak terpikir untuk mengadopsi mereka.
Dunia perkucingan kembali menggelitik saya tiga tahun terakhir ini. Seekor baby cat persia kami bawa pulang dari sebuah petshop. Lucu pasti.. Sayangnya selang dua minggu menjadi bagian dari keluarga kami, dia-Bolt, menghilang. Kecil kemungkinan dia menyelinap dari balkon apartemen dan melipir turun ke lantai lainnya, karena akses turun satu-satunya hanya lift. Mana mungkin Bolt menekan tombol pintu lift. Dugaan terbesar adalah dia terpeleset jatuh ke bawah. Meskipun ketika anak saya mencarinya, tak menemukan tanda-tanda kucing jatuh.
Kadung ketagihan, saya mengunjungi web petfinder.my dan mendapatkan anak kucing lucu, jenis domestik tabby. Plus pemberian dadakan dari seorang teman, seekor american short hair, jadilah kembali kucing saya beranak pinak. Total menjadi 5 ekor. Hahaha... Lebih banyak daripada jumlah anak saya.
Hanya sayangnya kali ini tetangga apartemen saya keberatan dengan keberadaan kucing-kucing ini. Dengan berat hati tiga diantaranya, saya iklankan melalui web yang sama seperti ketika saya mendapatkan mereka. Butuh waktu untuk mendapatkan keluarga baru yang saya klik dan yang klik juga dengan kucing-kucing saya.
Pada masa "butuh waktu" ini, tetangga saya kembali complain. Saya tidak ingin masuk sebagai kategori manusia yang mengganggu ketentraman tetangganya. Membuat saya hopeless dan mengambil jalan pintas memindahkan dua anak kucing ke basement, dimana mobil saya diparkir.
Ini adalah pengalaman kami yang paling menyedihkan selama mempunyai kucing.
Jam sepuluh pagi, saya bawa dua anak kucing yang sudah selesai masa menyusu. Saya lepaskan di bawah mobil saya dan memberikan bekal makanan. Harapan saya, dia aman berada disana, dan kami bisa menengok serta mengirim makanan setiap jam makan. Sesekali rencananya, akan kami bawa main ke rumah kami.
Berat rasanya. Ketika saya tinggalkan, saya didera perasaan bersalah yang sangat besar. Mereka hanya mengeong pasrah.
Tapi... sore harinya, saat menjemput anak-anak sekolah, sambil membawakan makanan baru, saya tak menemukan mereka. Antara cemas dan lega. Cemas akan keselamatan mereka dan lega berharap ada yang mengadopsi. Dan malam itu, saya tidur sambil bermimpi tentang kucing-kucing yang berlarian main kesana-kemari.
Sampai kemudian keesokan harinya, pagi-pagi sebelum mengantar anak-anak sekolah tiba-tiba saya melihat mereka kembali. Di kolong mobil saya, tak sedikitpun menjamah makanan yang saya tinggalkan semalam. Berlompatan masuk ketika saya membuka pintu mobil. Mengeong memohon.
Saya keluarkan mereka dan kami berlalu. Saya merasa menjadi Raja Tega sedunia
Setelah mengantar anak-anak sekolah, saya terhenyak melihat mereka. Menunggu di slot parking area saya. Mengeong pedih. Hati saya langsung luruh..
"Ok, kids.. Let's go home..". Saya gendong keduanya dan membawa pulang. Terserahlah tentang complain tetangga. Nanti akan saya pikirkan jalan keluar yang lebih "hewani", sambil saya menggendong mereka, saya bisikkan :
"Kids, nanti.. ketika yaumil hisab tiba, tolong jadilah saksi tentang hari ini, bahwa kami telah memperlakukan kalian dengan baik, dan semoga ini bisa menambah timbangan amal kami...".
Ketika saya menulis ini, kucing saya tinggal dua ekor. Jantan. Tiga yang lain telah berbahagia menemukan keluarga barunya. Ini saya ketahui setelah mendapatkan kiriman foto mereka.
Sayapun sedang mencari informasi bagaimana cara membawa kucing pindah negara, just in case kami pulang kembali ke Jakarta, sangat berharap mereka turut serta, karena mereka tak sekedar peliharaan, tapi mereka adalah keluarga.
Kuala Lumpur, 11 Maret 2017
(Ini adalah penyelesaian terlama dari sebuah judul. Sejak berencana menulis tentang kucing, sekitar dua minggu baru tulisan selesai. Karena panjangnya masa bersama kucing, dan masing-masing kucing punya kisah. Sehingga bingung mana yang akan ditulis, takut nggak adil hehehehe...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar