Sabtu, 19 Mei 2018

Standing Party

Hari ini adalah ramadhan hari ke tiga. Kembali saya menjalani ramadhan di tanah air setelah lima tahun kemarin berada di negara lain. Lingkungan dan suasana yang berbeda. 

Di grup-grup whatsapp mulai berseliweran agenda buka bersama. Mulai dari grup yang well-planned sudah menentukan hari-tanggal-tempat. Sampai grup yang dari tahun ke tahun cuma sebatas wacana, usulan, ajakan atau apalah yang hingga ramadhan berakhir dan lebaran menghampiri, buka puasa bersama tak pernah terwujud. Repeat begitu terus setiap tahun hehehe..

Tentang venue, tergantung grup apa penyelenggaranya. Ketika saya berdosmisili di negara lain, venue biasanya di hall atau function room condo, yang langsung dilanjut dengan shalat tarawih bersama. Multifunction hall sekolah anak-anak juga seringkali dimanfaatkan. Di perumahan kampung halaman masa kecil saya, biasanya ya di musholla. Grup alumni biasanya menyelenggarakan di rumah makan. Semua tempat yang saya sebutkan ini, tentu saja akrab, hangat, tertib dan yang lebih penting : cara makannya santun dan sesuai adab yaitu duduk. Urut-urutan acara juga jelas : ta’jil, sholat maghrib berjamaah, makan, kemuadian sholat teraweh. 

Berbeda sekali dengan suasana di salah satu undangan buka puasa yang saya hadiri yang diselenggarakan oleh suatu perkumpulan. 
Pada saat memasuki ruangan, melihat penataan ruang, saya sudah ada feeling bahwa acara makan akan dilakukan secara standing party. Jumlah kursi yang terbatas dan ditata di pojok-pojok ruangan adalah kode keras bahwa konsepnya memang makan sambil berdiri. Musholla mini muat dua shaf pendek di ujung koridor juga merupakan kode kedua bahwa sholat maghrib dan tarawih bukanlah agenda selanjutnya.
Saya membatin dalam hati, ibadah ramadhan yang bernilai pahala keikhlasan ini, haruskah diakhiri dengan sesuatu yang kurang afdol, berpotensi terlewat sholat maghrib, isya dan teraweh? Sayang sekali.

Standing party ini mengingatkan saya pada kebiasaan acara wedding party di gedung-gedung. Rasanya semua acara kondangan manten sekarang berkonsep standing party. Semua tamu undangan mengantri di booth-booth hidangan, kemudian makan berdiri di sekitaran situ. Meletakkan piring kotor sembarangan (yang tak jarang mubazir karena masih terisi makanan) selanjutnya seliweran hunting lagi makanan yang lain. Begitu seterusnya sampai semua jenis makanan puas dijelajahi kemudian pamit pulang. Saat ini sepertinya hanya acara kondangan manten di rumah-rumah yang masih menyediakan kursi layak duduk sejumlah tamu undangan.

Kalau boleh membandingkan, di Malaysia saya seringkali mendapat undangan wedding party di gedung besar. Juga dinner graduation ceremony anak ke dua saya. Acara manten, tak pandang siang atau malam, konsepnya adalah duduk melingkar di meja-meja besar yang dikelilingi oleh enam sampai delapan kursi. Meja dan kursi bernomor sehingga tamu undangan menempati nomor kursi yang telah ditentukan, tidak sembarangan menempati kursi orang lain.
Jadi teknisnya di kartu undangan yang kita terima tertera contact person yang bisa kita hubungi apakah kita bersedia hadir di kondangan manten tersebut. Konfirmasi kehadiran ini penting sehubungan dengan ketersediaan kursi-kursi tadi.
Nah, pada hari H acara berlangsung, resepsionis penjaga buku tamu akan memberikan nomor kursi pada tamu undangan yang sudah mengkonfirmasi hadir. Misalnya meja A kursi nomor 1, atau meja Z kursi nomor 8, dan sebagainya.

Terus cara makannya gimana? 
Meja yang digunakan adalah meja putar. Sehingga tamu bisa memilih makanan tanpa meninggalkan kursi. Hidangan disajikan bertahap mulai makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup dan snack yang bisa dibawa pulang. Pramusaji berseliweran siap mengangkat piring-piring kotor, mengganti makanan atau mengisi gelas yang kosong dengan teko siap di tangan.
Tidak ada tamu mengantri ambil makanan, tidak ada piring kotor berserakan di meja-meja. Meminimalisir tamu ambil makanan berlebihan yang ujung-ujungnya tak termakan. Semuanya duduk rapi sambil menikmati run down acara yang ditayangkan di screen raksasa di dekat mempelai. Biasanya screen menampilkan slide perjalanan hidup kedua mempelai sejak kecil sampai jodoh mempertemukan mereka, yang dipandu oleh pembawa acara.

Entah kenapa yang seperti ini lebih berkesan buat saya, sama berkesannya dengan acara mantenan jaman dulu di kampung saya ketika tamu leluasa duduk berjejer dan makanan akan dihidangkan di piring, diulurkan dari tangan ke tangan secara estafet. Estafet makanan pembuka, estafet makanan utama kemudian makanan penutup. Sederhana, tidak berlebihan tapi tetap santun.

Jakarta, 19 Mei 2018