" Apakah aku bukan anakmu, ibu, yang boleh tinggal dan belajar di rumah "
"Aku berjanji akan tetap menjadi sholehah dengan tetap belajar di rumah"
" Di boarding tidak ada internet dan tv, makan-mandi harus ngantri"
Dengan suara bening, disana ada nada curhat yang dikemas dengan canda.
Hehehe..saya mendengarkannya sambil merasa geli dan sedikit terbawa perasaan, tertawa tapi dengan hati yang lembab, karena anak sulung saya juga pernah bersekolah di boarding school, sekolah berasrama seperti pesantren tetapi manajemen, sistem pendidikan dan kurikulumnya lebih ringan. Materi agama tidak sekental di pesantren. Nurul Fikri Boarding School namanya. Berlokasi di Serang Banten. Mendengarkan lagu itu membuat saya benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh santri penyanyi itu. Curhat yang dilandasi kerinduan kumpul keluarga, banyaknya hafalan al-Quran, tidak leluasa internetan, antri makan dan mandi. Curhat yang sifatnya sentimentil... hehehe...
Baiklah, sedikit saya akan menulis seperti apa boarding school, sebatas yang saya tahu saja, yaitu di sekolah anak saya. Di sekolah ini kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dari Diknas. Sama seperti sekolah negeri dan swasta lainnya. Buku yang digunakan pun sama. Hanya saja diluar jam sekolah murid disibukkan dengan kegiatan dan muatan lain. Karena sekolah ini adalah sekolah Islam, maka kegiatan lainnya tentulah kegiatan yang islami. Menghafal Quran adalah keutamaan. Selain sholat wajib 5 waktu yang harus didirikan di masjid. Pengajian dan pembinaan dalam kelompok-kelompok kecil juga dilakukan. Beragam ekstra kurikuler mulai robotik, astronomi hingga berbagai cabang olah raga juga difasilitasi. Hampir tidak ada waktu luang. Online di sosmed? Game? Lupakan saja. Hanya bisa dilakukan di hari Minggu jam 10 pagi sampai sebelum adzan Ashar berkumandang. Selebihnya laptop dan jaringan internet hanya sah jika ada tugas sekolah. Handphone boleh digunakan di hari-hari tertentu dan jam-jam tertentu ketika orang tua ingin melepas rindu dengan bertelepon. Televisi? Tentu saja big no. Yang ada juga koran :D
Saya, selaku orang tua merasa sreg menitipkan anak di lingkungan seperti ini. Andai... andai saja pada masa saya dulu sudah menjamur sekolah boarding, sayapun mau bersekolah di lingkungan ini.
Hanya sayangnya, sesuai dengan lirik curol santri tadi, di kalangan masyarakat banyak yang masih punya anggapan bahwa pesantren maupun sekolah berasrama adalah sekolah tempat anak-anak nakal. Tempat anak-anak yang orang tuanya sudah tak sanggup untuk mendidik dan mengasuh. Entah karena sering tawuran, drug, alkohol atau segala macam yang berbau akhlak minus.
Saya sendiri sempat ngobrol dengan seorang teman yang awalnya sih nanya-nanya biaya dan sistem belajar di Nurul Fikri. Lama-lama keluar satu-persatu keluhannya tentang anaknya usia SMP yang sedang bersekolah disuatu sekolah swasta reguler, yang sedang mencari jati diri dan rupa-rupanya sedikit salah menentukan arah. Kemudian mulailah ada nada-nada ancaman kepada sang anak jika tak memperbaiki sikap akan dikirim ke pesantren atau sekolah berasrama karena orang tua sudah tak sanggup menghadapi..
Nah....
Akhirnya saya tahu mungkin dari sinilah awal mula timbul anggapan dari anak dan masyarakat bahwa pesantren adalah tempat buangan anak-anak nakal. Atau anak-anak yang tidak diterima di sekolah favorit. Sebagian juga menganggap pesantren itu kampungan, kaum sarungan, kuno dan semua yang kurang indah didengar.
Mungkin benar adanya ya..mungkin dulu memang seperti itu. Tapi....kondisi sekarang berbeda, pesantren dan boarding bukan tempat buangan untuk anak-anak nakal. Di Nurul Fikri Serang, di tahun anak saya masuk, persaingannya berat lho untuk bisa sekolah disitu. Atau lihatlah Pesantren Modern Gontor, persaingan masuknya lumayan ketat. Boarding school yang lain juga tak kalah hebat. Anak2 pintar berebut porsi untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah boarding yang prestasinya sudah terbukti. Tes masuk dilakukan jauh sebelum sekolah-sekolah negeri yang favorit sekalipun buka pendaftaran. Bahkan sebelum kelulusan. Orang tua pun tak segan membayar biaya yang tidak murah demi anaknya mendapatkan pendidikan paralel antara ilmu dunia dan bekal akhirat.
Saya sendiri memutuskan mengirim sulung saya ke sekolah berasrama ini karena begitu khawatir dengan kondisi jakarta yang sarat lingkungan yang mengkhawatirkan. Tawuran dimana-mana tanpa pilih-pilih siapa lawannya. Belum lagi narkoba dengan bermacam bentuk siap mengancam. Pergaulan lawan jenis anak usia baru gede sungguh menakutkan. Beda jauuuhhh dibanding angkatan saya.
Parameter sekolah yang baik versi saya adalah sekolah yang bisa meluluskan siswa nya dengan akhlak yang baik dan mampu bersaing dengan sekolah lain. Bicara mampu bersaing ini tentu tidak jauh urusannya dengan nilai (ini mau tidak mau, karena ukuran keberhasilan sistem pendidikan kita masih berpatokan pada angka dan nilai). Sekolah yang oke adalah sekolah yang bisa meluluskan siswanya dengan nilai oke pula tanpa bantuan bimbel diluar sekolah, semua pembelajaran murni dari dan oleh guru. Sekolah yang siswanya bisa tembus PTN tanpa bantuan bimbel diluar sekolah. Dan hebatnya kebanyakan sekolah boarding/pesantren mampu melakukannya. Karena sering kali saya dengar ketika seorang anak lulus dengan nilai yang bagus dan diterima di sekolah favorit, pertanyaan pertama yang terdengar adalah : "Ikut bimbel dimana?". Sayapun sempat ragu dengan kesiapan anak saya menjelang kelulusan, tanpa bimbel, bisakah? Dan kemudian ketika hari kelulusan tiba, keraguan saya tidak terbukti. Semua siswa di sekolah anak saya lulus dengan nilai-nilai yang alhamdulillah... :)
Maka tidak berlebihan rasanya jika saya berharap jangan ada lagi anggapan yang salah tentang pesantren dan boarding school. Pesantren dan boarding school adalah tempat untuk menuntut ilmu sama seperti sekolah-sekolah yang lain, seperti sekolah reguler, sekolah full day maupun homeschooling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar