Kamis, 19 November 2015

Drive.... Drive..... Drive....

     Semenjak pindah dan menetap di Kuala Lumpur saya punya ritme harian mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Tiga Anak bersekolah ditempat yang sama memudahkan saya menunaikan tugas ini. Sebetulnya ada sih school bus, tapi jika harus membayar 600 ringgit ( RM 1 kurang lebih Rp 3.300)  per bulan mending uangnya saya tabung untuk membeli smartphone keluaran baru..  hihiihi.. bukan, bukan itu alasannya. 
Tiga anak dengan grade yang berbeda dan aktifitas berbeda kadang jam pulang sekolahnya berbeda pula. Dan school bus hanya menunggu penumpang sampai jam tertentu saja. Jika lewat dari jam yang telah ditentukan, ya bablas.. ujung-ujungnya tetap saya juga yang harus jemput. Lha dari pada udah bayar penuh tapi saya tetap harus jemput mending saya handle sendiri aja mereka.. (nah.. tetep alasannya tak beranjak dari ringgit kan huhuhu...)
     Kami berangkat dari rumah pukul 7.20. Dengan jarak tempuh kurang lebih 30 km rumah-sekolah-rumah dan sore hari menjemput mereka kembali dengan jarak yang sama, cukuplah membuat otot betis saya terlatih tanpa harus workout di gym hehehe... Perjalanan ke sekolah adalah rute melawan arus para pekerja kantoran. Cukuplah saya tempuh dalam waktu 20 menitan. Tapi pas balik lagi ke rumah, saya harus berjibaku menembus padatnya lalu lintas karena searah dengan pusat kota. Kalo sedang apes bisa 50 menitan saya mainan gas rem-gas rem. Itu makanya sebelum berangkat sebisa mungkin saya membatasi asupan cairan yg masuk ke tubuh saya. Pagi hari, setengah gelas perasan jeruk lemon cukuplah sudah. Jika lebih dari itu, sangat tidak nyaman  ditengah macetnya lalu lintas kita menahan pipis dalam mobil.. hahaha...
     Diluar office hour, mengemudi di Kuala Lumpur cukup menyenangkan. Ini jika saya bandingkan dengan Jakarta tentunya. Ruas jalan yang lebih lebar adalah salah satu faktor yang memudahkan. Satu ruas jalan bisa terdiri atas dua atau tiga lajur, bahkan bisa empat atau lima lajur di jalan tol.
     Kalau boleh membandingkan, saya selalu deg-deg plas setiap kali melintasi jalanan Jakarta. Meski duduk di kursi penumpang rasanya mata ikutan jelalatan seakan dua mata yang dimiliki suami sebagai driver masih kurang sehingga saya harus menjadi asistennya ikut komentar "Awas kiri".. "Awas motor mau potong jalan".. dan berbagai kata awas lainnya. Masuk ke jalan raya ibaratnya kita siap memasuki medan pertempuran memperebutkan jalan. Siapa yang berani mepet, siapa yang berani potong, dialah yang menang... ah sudahlah.. kalo dijabarkan semrawutnya lalu lintas Jakarta, bisa panjang kali lebar saya menuliskannya.
     Seperti yang saya tulis diatas, disini, bukan tak ada macet, adaaaaa..... belakangan malah ada pake banget. Tahun 2014-2015 ini kemacetan di jam berangkat dan pulang kantor mulai di tahap macet yang tidak sopan. Dampak dari kemacetan ini, pengendara mobil mulai beralih menjadi pengendara motor. Otomatis motor mulai merajalela. Kalau pada awal kedatangan saya, pertengahan 2012, pemotor hanya satu dua, sebatas penghantar makanan delivery, tukang pos dan profesi sejenis. Sampai-sampai saya yang sewaktu masih di Jakarta suka bermotor ria, sedikit jiper dan terancam kehilangan kesenangan bermotor. Saya pun menduga jangan-jangan disini dilarang menggunakan motor, karena saking jarangnya melihat motor. Tapi sekarang mulai tampak seliweran ibu-ibu belanja ke supermarket  bermotor. Anak-anak diantar orang tuanya ke sekolah menggunakan motor. Dan... sayangnya para pemotor disini mulai menjadi follower pemotor Jakarta. Perilakunya enggak banget.. Mulai dari abai lampu merah sampai meliuk-liuk kiri kanan dengan kecepatan tinggi...ahh, sudahlah.. tak perlu ditulis tentang yang ini. Tidak ada menariknya..
       Mending saya menulis tentang ruas jalan yang lebar, yang membuat kendaraan lebih leluasa melaju. Bahkan dalam kemacetan, jika ada ambulance atau kendaraan emergency melintas meminta jalan, mobil-mobil tinggal sedikit menepi kekiri atau ke kanan, maka ambulance bisa melintas disela-sela mobil yang macet tadi.  
      Ada satu perilaku pengemudi yang menarik saya amati bahkan saya ikuti. Yaitu sopan-santun berkendara. Disini suara klakson hampir tidak terdengar. Orang tidak mengobral klakson hanya untuk meminta jalan, tersinggung dipotong jalan atau pelampiasan uneg-uneg yang lain. Cikgu (red : guru) belajar menyetir saya (yes, saya sempat mengikuti sekolah mengendarai mobil disini) bahkan memberi wejangan bahwa jika kita sedang ujian mendapatkan SIM, jika pada saat praktek jalan raya ada mobil yang mengklakson kita, nilai ujian kita akan jatuh, karena itu berarti cara kita mengendara mobil tidak save bagi orang lain. Terbukti orang lain complain mengklakson.
      Marka jalan benar-benar dipatuhi. Jalanan terbagi menjadi beberapa lajur dan di lajur-lajur itulah kendaraan akan melaju. Tidak ada yang melewati marka jalan. Pun ketika kemacetan melanda, mobil akan teratur di lajur masing-masing. Sabar, antri tanpa klakson. Tidak saling serobot berpindah ke kiri ke kanan seperti layaknya oportunis mencari celah jalur kosong. Tidak ada emosi jiwa. Capek kaki karena mainan rem-gas tidak secapek emosi jiwa bukan.. hihihi 
     Sopan santun lainnya adalah kebiasaan melambaikan tangan tanda terima kasih atau tanda permintaan maaf. Ketika saya ingin berpindah jalur, tentunya saya akan menyalakan lampu sign ... nah jika mobil di sebelah saya melambatkan lajunya untuk memberi saya jalan, maka disitulah saya akan melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih. Juga ketika saya tiba-tiba harus memotong jalan mobil lain karena suatu sebab penting (tentunya bukan sebab yang dibuat-buat ya...) maka saya akan melambaikan tangan tanda permintaan maaf. Pemandangan seperti ini setiap hari saya temui. 
     Dasar saya suka ngelamun... yang ginian pun saya lamunkan andai juga terjadi di Jakarta.. tentu stres menembus kemacetan sedikit berkurang jika dibarengi dengan toleransi dan sopan santun berkendara. Yaa.. siapa tahu ya... suatu saat nanti...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar