Senin, 01 Januari 2018

Create Your Own Mirror

Hampir enam bulan saya berada di Jakarta, dan saya belum juga berlega hati menyopir mobil sendirian. Masih memilih duduk sebagai penumpang saja. Masih memilih menggunakan transportasi online saja. Atau taksi konvensional. Atau mengendarai motor jika pergi tak terlalu jauh.

Jika dulu saya menikmati kegiatan ini sambil mendengar murrotal, atau radio, menikmati hujan dan sesekali membandel memotret langit dan awan -object yang sangat saya sukai, atau sambil mengobrol dengan anak-anak saya. Tapi sekarang, saya tak bisa lagi melakukan kegiatan “sambil” ini.
Menyopir disini membutuhkan konsentrasi tinggi dan kepala yang harus selalu siap menoleh ke tiga penjuru. Spion tengah, kiri dan kanan. Lebih melelahkan secara psikis daripada lelah di kaki dan punggung.
Jejak petualang saya menyopir selama tinggal di Kuala Lumpur hilang tak berbekas. Jam terbang menyopir antar jemput anak sekolah plus kegiatan lain yang sehari berkisar antara 80-100km sirna sudah, ...puffff.

Mengapa?

Pemakai jalan di Jakarta ini ganas-ganas pakai banget. Motor atau mobil, sama saja. Saling berebut jalan seperti tergesa ingin pergi ke toilet.
Garis pembatas jalan, hajar.
Trotoar, libas.
Zebra cross, ga kelihatan tuh.
Yellow box, ah..sudahlah.
Lampu merah, anggap saja hijau semua... 

Seakan semenjak keluar rumah, para pengendara sudah menyiapkan mental untuk saling berebut, bahkan nyali berantem. Adu mulut, minimal. Padahal adu mulut adalah hal yang saya tak pernah siap untuk melakukannya.
Dan semoga tak pernah terjadi.

Seorang teman memberi tips, sejauh tidak mengambil jalan orang, memotong atau menyerobot, aman-aman saja kok..
Ya, betul sih.. bukan tipe saya juga untuk memotong. Tapi masalahnya, saya tidak siap untuk dipotong. Belum lagi terkaget-kagetnya hati jika tiba-tiba ada yang nyelonong melawan arah. Atau gerobak dan tukang jualan yang memakan badan jalan.

Ahh sudahlah, kayanya saya banyak amat mengeluhnya ya nyopir disini..

Akhirnya, demi sedikit mengurangi ketegangan dan keringat yang membulir sebesar jagung, saya lebih memilih untuk mengalah -jika pun terpaksa menyopir- dari kendaraan lain, saya membuka peluang sebesar-besarnya jika ada yang ingin nyelak. Sebisa mungkin untuk istiqomah meneruskan kebiasaan di Kuala Lumpur untuk tidak memencet klakson. Untuk melambaikan tangan pertanda terima kasih jika ada pengendara yang memberi jalan. 
Sebisa mungkin menerapkan hal-hal disana yang saya rasa baik, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya https://yusfianaworld.blogspot.com/2015/11/drive-drive-drive.html dan https://yusfianaworld.blogspot.com/2015/12/drive-drive-drive-part-2-lisence-to.html
Meskipun seringkali niatan saya bertepuk sebelah tangan alias bagaikan gayung tak bersambut. Resiko negatifnya tentu saja saya jadi lebih lama nyampe di tujuan. Lha wong ngalah melulu.. Tapi jangan salah, resiko positifnya juga ada, saya nggak perlu melepas energi negatif berupa kemarahan atau ketegangan. 

Tapi justru dengan niatan yang tadinya hanya ingin mengalah untuk mengurangi stressed, beberapa kali saya malah mendapatkan kemudahan dari orang lain. Tidak harus dibayar kontan saat itu sih, tapi seringkali di kesempatan lain, saat saya berada dalam kesulitan, adaaa saja kebaikan dari orang lain yang mempermudah saya.
Dan ini membuat saya makin meyakini bahwa :
Seperti cermin yang bisa merefleksikan pantulan diri, maka
“Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untukmu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri”
(Al-Isra’ : 7).

Ini juga yang sering saya ceritakan ke anak-anak saya, create your own mirror.

Kembali ke cerita diatas, seorang teman bertanya : dengan beberapa tips diatas, jadi saya sudah mulai enjoy nyopir di Jakarta dong?
Ahahah tetep belum sih...

Jakarta, 1 Januari 2018