Bulan lalu, libur sekolah selama dua minggu kami lalui di Jakarta. Jadwal suami yang lebih banyak bekerja di kantor Jakarta membuat kami memutuskan, saya dan anak-anak saja yang ke Jakarta daripada suami yang pulang pergi Kuala Lumpur-Jakarta.
Tak lupa perlengkapan belajar kami bawa serta, agar anak-anak tetap bisa review pelajaran sekolah, Begitu rencananya, meski kenyataannya buku-buku itu tak tersentuh hehehe...
Hmm... sepertinya semua hal sudah kami persiapkan. Bahkan kucing-kucing yang ditinggal di rumah juga sudah saya titipkan ke mbak ART tetengga apartemen untuk menengok, kasih makan dan bersihkan kotak pasir.
Di Jakarta, kami tidak pulang ke rumah. Melainkan di sebuah apartemen disebelah kantor suami, karena kepentingan pekerjaan.
Nah rupanya persiapan dan perencanaan yang kami rancang big failed disini...
Meskipun menempati apartemen dengan fungsi ruang lengkap sebagaimana layaknya rumah, rupanya perlengkapan dapur tidak terlalu lengkap untuk standar memasak. Kompornya sih lima tungku, lengkap dengan oven dan microwave. Piring, gelas, sendok juga cukup untuk kami berlima. Tapi peralatan masaknya minimalis, Hanya ada satu fry pan kecil, 1 panci kecil, Padahal namanya liburan, anak-anak full di rumah tanpa kegiatan berarti, tentunya kompensasinya adalah cari-cari makanan melulu entah untuk iseng atau beneran pengen makan. Sajen harus tersedia.
Bisa dibayangkan, peralatan standar bisa dipakai masak apa sih, kecuali yang simpel-simpel aja. Jadilah kami menjadi pengunjung dari satu food court ke food court lain di beberapa mall sebelah apartemen.
Dari food court inilah sumber cerita bermula.
Tahu sendiri kan bentuk food court seperti apa? Stall makanan berjejer di tepi hall dari ujung ke ujung, beraneka macam jenis makanan, mulai dari makanan indonesia, tradisional, cina sampai western food, ada disana. Tinggal kitanya aja pengen memilih makan apa.
Sementara meja kursi di tengah area, berderet memanjang tertata rapi. Tinggal kita pengen memilih duduk dimana.
Sementara meja kursi di tengah area, berderet memanjang tertata rapi. Tinggal kita pengen memilih duduk dimana.
Mata saya menjelajah mencari makanan yang paling Indonesia atau yang paling tradisional, yang susah ditemukan di Kuala Lumpur. Dan sampailah di suatu deretan saya melihat beberapa stall yang menjual makanan mengandung babi. Ada tulisan non halal di papan namanya.
Seketika saya ragu untuk makan disana.
Meskipun stallnya berbeda dengan stall makanan yang saya pilih, bayangan saya, mereka kan memakai piring secara bersama. Atau jika piring dibedakan, bagaimana dengan tempat mencucinya?
Karena di agama kami, tak hanya halal-haram makanannya yang harus dicermati, tetapi juga harus memastikan kesucian peralatan makan dengan memperhatikan tata cara dan tempat mencucinya. Untuk memastikan bahwa piring-sendok-gelas yang kami gunakan terbebas dari najis.
Anak-anak sudah lapar dan menemukan makanan pilihannya. Tak susah, karena mereka memilih ayam goreng fast food. Biasanya mereka kami larang atau kami batasi makan junk food. Tapi kali ini saya ijinkan karena penyajiannya pakai piring kardus yang tentunya tanpa dicuci dan hanya satu kali pakai, kemudian dibuang. Jadi saya tidak perlu khawatir dengan pemakaian piring bersama.
Tapi masalahnya saya tidak suka junk food. Maka saya putuskan untuk menghampiri mbak-mbak yang bertugas beresin piring kotor. Biarlah dibilang reseh, yang penting saya mengerti kejelasan cara mencuci piring-piring itu, sebelum saya pakai mewadahi makanan yang akan masuk ke tubuh saya.
Saya mendapatkan jawaban dari si mbak bahwa makanan halal dan non halal dicuci secara terpisah. Lega hati saya, meski sedikit.
Di kesempatan dan tempat yang berbeda, saya mengamati stall-stall yang menjual makanan non halal memakai piring dengan warna yang berbeda. Mungkin untuk memudahkan mbak yang mencuci piring untuk mengelompokkannya.
Saya jadi teringat disini, Kuala Lumpur. Sependek pengetahuan saya menjelajah food court, belum pernah saya melihat stall makanan non halal berbaur dengan makanan halal. Jikapun ada, mereka biasanya mempunyai gerai tersendiri, ada dinding pembatas lengkap dengan meja dan kursinya, layaknya mini restauran tersendiri.
Jumlah penduduk muslim yang besar, membuat pemerintah negara ini memberikan kenyamanan dan jaminan makanan halal yang lebih luas. Sampai-sampai tahun 2015 lalu, di portal berita traveling, saya pernah membaca artikel bahwa Malaysia menjadi salah satu tujuan wisata turis muslim mancanegara karena kenyamanan makanan halalnya.
Di Langkawi, salah satu wilayah Malaysia yang berbatasan dengan Thailand, kami pernah ditolak masuk ke sebuah restoran non halal karena melihat saya berkerudung.
Ini membuata saya teringat dengan somay babi di pusat perbelanjaan Mangga Dua yang beberapa tahun lalu menjadi viral di media sosial. Tanpa beban moral si penjual membiarkan pembeli berkerudung makan disana.
"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang Allah telah berikan kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepadaNya"
(An-Nahl 114).
"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan halalMu, agar aku terhindar dari yang haram. Dan kayakanlah aku dengan karuniaMu, sehingga aku tidak membutuhkan pemberian dari selain Mu"
(HR Tirmidzi)
Berharap, dengan jumlah penduduk muslim yang lebih besar, suatu saat Indonesia pun mempunyai pencapaian yang sama dengan negara tetangganya ini.
Kuala Lumpur, 9 Februari 2017